
Aiwan terpukau. Untuk sesaat dia lupa mungkin nyawanya kembali dalam bahaya. Waktu seolah menggeretnya ke masa terindah—saat bersama Zeera. Namun, Aera terlalu tinggi untuk Zeeranya yang hanya sebatas dada.
“Sedang apa kau di sini?”
Aiwan kembali dihempas ke alam sadarnya. Imajinasi tentang Zeera pun seketika sirna oleh suara cempreng Aera.
“Baiklah, terima kasih membiarkanku masuk.” Gian menerobos ke dalam dan menutup pintu.
“Aku mempelajari hal baru,” bisik Keri. Dia tengah menyindir sikap Gian yang dalam norma adab sebagai tamu jelas melenceng.
“Diamlah pesek!” sergah Aiwan sebal. Baginya Keri patut dipersalahkan atas kekacauan yang terjadi hari ini. Dia bersungguh-sungguh saat mengatakan pada Aera dia tidak berharap bertemu saat ini juga. Mereka akan bertemu—bukan hari ini. Namun, semua berantakan karena keteledoran Keri.
Yang benar saja, teledor? cibir Aiwan dalam hati. AI tercanggih yang sudah mampu menyadari eksistensinya dan berlagak layaknya manusia, kini bermetamorfosis menjadi ceroboh dan semakin menyebalkan. Mungkin Keri perlu di riset seperti sedia kala. Pikirnya sebal.
Gian hendak berjalan menuju tv yang masih menyala, tetapi segera berbalik saat melihat Aiwan dan Keri duduk di kursi makan. Calon putra mahkota Neitherland itu, terlihat kusut dan gelap. Sejumlah roti merek ternama dan aneka jus sehat berserakan dari dalam kantong belanjanya.
Tadinya Aiwan ingin mengungkapkan suatu rahasia pada Gian, tapi kini dia tidak yakin bisa mengatakannya saat Aera sendiri ada di sini.
Aiwan mengamati gestur Gian, tampak jelas dia berharap mendapat penjelasan. Sayang ini bukan waktu yang tepat. Menurut persepsi Aiwan tentunya. Aiwan bahkan bisa merasakan perubahan emosi Gian yang mendadak sebal, dan berusaha melampiaskannya pada tumpukan roti dan jus dihadapannya.
“Aku sungguh butuh mereka untuk menghadapi kalian,” ucap Gian ambigu.
Lalu melahap roti-roti itu dengan rakus, dan menyikat beberapa botol jus dengan tambahan bubuk gula, pikir Aiwan.
**
Alunan musik yang berdentam-dentam nyaris memekakan terdengar kala pintu terkuak. Morat terus berjalan, melewati gadis-gadis berpakaian minim, yang berlenggang ke segala arah karena dorongan alkohol. Kondisi ruangan yang gelap dihiasi lampu yang berkelap-kelip seperti bintang kesurupan adalah pemandangan lainnya yang sempurna membuat kepala pusing tujuh keliling.
“Morat! Ayo gabung.” Panggil seorang pria dari balik partisi kayu yang berukir heksagon.
Tangannya melambai, badannya terhuyung-huyung. Ajaib dia masih mengenali sosok Morat. Namun, yang dipanggil hanya mengangguk lalu berjalan lurus menuju lift dan terus ke lantai dasar—ruang bawah tanah.
“Kau sudah datang.” Sebuah suara khas pemilik kursi goyang senilai jutaan bitegolden menyambut kedatangan Morat.
“Selamat malam, Tuan,” sapa Morat hormat.
“Kabar apa yang kau bawa?”
“Seperti dugaan Tuan, mereka telah berusaha keras.”
Terdengar tawanya dari balik kursi.
“Bahkan Mentri Kim, dan Kiyosaki tadi mengirimkan armada ke tiga. Menurut informasi kali ini awaknya hanya tiga termasuk pilot.”
Seolah semua yang Morat katakan adalah hal lucu, tawa sang pemilik kursi goyang mewah itu menanjak—sulit mereda. “Ya sudah, biarkan saja orang-orang bodoh itu. Tapi, apa kau tahu kabar para utusan mereka sebelumnya?”
“Pesawatnya mengalami kerusakan, karena mereka pasukan terlatih kemungkinan untuk selamat sekitar 70% tapi akan sangat mustahil untuk kembali ke Neitherland.”
Sang Tuan mengangguk puas, kursi dibalik menghadap Morat. Dengan sopan wajah Morat menunduk mahfum.
“Kondisi di luar bagaimana?”
“Tidak ada yang perlu dikhawatirkan.”
Sang Tuan mengangguk.
“Tapi, sampai saat ini masih ada yang mempertahankan agama mereka.”
Dia lantas menyeringai, “Itu manusiawi, bagaimana peradaban mereka?”
“Beberapa tumbuh pesat hingga berhasil membangun pembangkit listrik tenaga surya, beberapa lagi masih bertahan dengan lampu minyak. Tapi ...,” penjelasan Morat terpenggal ragu. Sang Tuan menatap—menunggu kisah selanjutnya.
“Ada laporan, salah satu wilayah di bagian Timur terdeteksi mengirimkan sinyal.”
“Sekitar mereka?”
“Aman,” jawab Morat kukuh.
“Selain mereka?”
“Sejauh ini belum ditemukan.”
“Baiklah, kau bisa pergi.”
Morat memberi salam hormat. Bersamaan dengan bunyi notif dari smartwatch-nya—sejumlah uang dengan mata uang bitegolden memenuhi e-wallet-nya. Diliriknya sekilas,
“Terima kasih banyak Tuan.”
“Selamat beristirahat, Tuan.” Morat pamit.
Kurang selangkah dari bibir pintu, Morat mendengar suara Tuannya.
“El,” panggilnya yang Morat tahu sebagai AI sang Tuan.
“Aku cinta padamu, Yang Mulia.”
“Tampilkan gambar anak-anakku.”
“Siap laksanakan Yang Mulia,
Mengambil data ...,
selesai.
Silahkan Yang Mulia.”
Morat tergoda ingin melihat, berbalik kebelakang dan mengintip layar. Namun, segera diurungkannya dan terus melangkah meninggalkan ruangan.
**
“Hei, stop. Aku bersumpah kau sangat menyebalkan!”
Suara Gian terdengar sangat dekat. Aera segera membersihkan wajahnya dari busa sabun, dan terkejut saat pintu WC dibuka paksa.
“Apa kau gila!”
“Maaf tapi aku tahu kau tidak sedang dalam kondisi yang perlu disembunyikan karena pintunya tidak terkunci.” Aiwan membela diri dan itu cukup membuat Aera naik pitam.
“Kau!”
“Aera, tolong simpan emosimu untuk nanti. Kalian dalam keadaan genting.” Tiba-tiba Keri yang bertubuh mungil entah bagaimana menyeret Gian untuk masuk dan menampilkan layar hologram kamera pengawas disekitar apartemen Aera.
Tampak tiga mobil sport utility vehicle (SUV) berwarna abu-abu dengan simbol yang sama—simbol lama. Dikenal sebagai lambang dari gagasan yang diusung tokoh komunis pendiri Uni Soviet, Vladimir Lenin.
Beberapa saat kemudian, puluhan prajurit berseragam hitam legam, turun dengan membawa senjata lengkap.
“Apa yang sedang mereka lakukan?” tanya Gian yang masih belum sepenuhnya sadar dari tidurnya.
“Saat ini istana telah diblokade. Sebagai calon pewaris tahta menurutmu mereka sedang apa di gedung ini?”
Aera tertawa sarkas. “Akhirnya para petani dan buru Neitherland punya nyali, aku sungguh menantikan hari bersejarah ini,” ucapnya sambil menatap layar. Dia tersenyum antusias.
“Kau bersemangat untuk kematianmu?” Keri meledek
“Apa maksudmu dengan kematianmu?”
“Hentikan! Ini bukan waktu tepat untuk berdebat. Mereka telah tiba di bawah, bahkan mungkin sudah ada yang naik. Kalian berdua harus segera pergi. Gunakan quantum tunnel-mu.”
Aiwan terdiam saat melihat sebuah layar menunjukkan seseorang telah berada di depan pintu. Sedangkan Aera terkejut karena Aiwan tahu segalanya. Bukan hanya sandi rumahnya tetapi menemuan rahasianya yang tidak seorang oung yang tahu.
“Tidak ada waktu. Ayo!” seru Aiwan menarik lengan Aera dan Gian menuju lemari ajaib Aera.
“Hei kau berutang penjelasan padaku,” bisik Aera yang mungkin terdengar oleh Gian, saat mereka berdiri di depan komputer analognya. “Kami harus pergi kemana? Tunggu, kenapa aku harus pergi? Yang bermasalahkan dia!” Aera menunjuk sebal pada Gian.
“Kau tidak membaca berita? Orang-orang mungkin berpikir kaulah putri mahkotanya, dan itu cukup menjadi alasan untuk melenyapkanmu.”
Aera menatap Gian. Pria itu tengah sibuk dengan pikirannya sendiri. Mungkin pula dia mengkhawatirkan Raja dan Ratu di istana. Meski Aera berharap kudeta kali ini sukses agar rakyat tak lagi sengsara, dia tahu kensekuensinya mungkin adalah hal buruk bagi Gian dan keluarganya. Jika saja dia tidak mengenal Gian, hal itu tentu bukan masalah. Namun, sekarang sedikit berbeda.
“Jadi, kami harus kemana?” Aera mengulang pertanyaannnya saat komputer analognya telah siap dan gelombang cahaya pada lorong teleportasinya menyala sempurna.
“Kalian bisa bersembunyi ke tempat kau sering mengirim surat.”
Aera terperangah. Namun, dia tidak sempat bertanya saat mendengar bunyi krusuk dari pintu apartemennya yang sedang dibuka paksa.
“Kau harus ikut. Mereka berbahaya.” Gian menarik tangan Aiwan.
“Harus ada yang mematikan alat ini agar mereka tidak menyusul.” Aiwan menunjuk komputer. “Pergilah, sekarang!” desak Aiwan ditengah dobrakan pintu yang kian menggila.
“Hancurkan saja komputernya. Hancurkan semuanya, agar mereka tidak bisa merakitnya lagi.” Tatapan Aera cukup menegaskan permintaannya sebagai sesuatu yang wajib dilakukan. “Jika cahayanya telah redup, kau bisa menghancurkan semuanya.” Aera mengatur frekuensi pada komputer analognya. Lalu mengunci lokasi tujuan. “Aku akan menunggumu di sana untuk bisa menjelaskan semuanya,” ucap Aera menatap Aiwan dan Keri bergantian. “Kalian harus menyusul.”
Pesannya sebelum memencet angka lima detik dan menekan 'enter' pada keybord.