
Keri menyadap saluran telepon militer Neitherland. Lalu mengaktifkan sound system-nya mendengarkan kepada semua.
"Bagaimana mungkin!" Aera tidak percaya lokasi Pare ditemukan.
"Padahal kami telah menggunakan akun parasit yang kau berikan."
Aera mengangguk setuju. Mereka tahu betul konsekuensinya jika langsung masuk mengakses email. Dengan akun parasit yang Keri buat, mereka bisa meng-hacker semua pesan masuk, tanpa takut terlacak keberadaannya.
"Ya, hanya masalah waktu, tapi aku tidak menyangka akan secepat ini," gumam Aiwan.
"Kau sudah menduganya?"
"Ayolah, kalian orang Neitherland pasti tahu teknologi maju yang kalian miliki, dengan kondisi bumi yang masih terlalu tertinggal dibanding kalian, akan sangat mudah menangkap sinyal dariku."
"Ya, setidaknya kita punya beberapa jam sebelum mereka tiba di sana." Aiwan terdiam saat suara para tentara itu kembali mengudara.
Hei, bukankah dia yang melumpuhkan tentara pribadi Edward? Menurutmu kita bisa menangkapnya?
Tentu saja, kita punya strategi penyekapan terbaik. Sebaiknya kalian bersiap-siap karena tim Alfa telah meluncur memeriksa lokasi.
Untuk apa? di sana hanya pulau kosong 'kan?
Kemungkinan besar begitu, tapi jika ternyata berpenghuni---mereka adalah target pancing lainnya. Lagi pula stok budak untuk uji coba Kuantum Fox mulai menipis mereka bisa mengisi posisi di sana, tuan pasti akan menghadiahi kita bonus.
Tawa mereka terdengar saling sahut.
Aera dan Gian yang ikut mendengar perkataan itu manjadi geram.
"Kabar baiknya mereka belum mengetahui keberadaan masyarakat Pare," tutur Aiwan. "Dan kabar buruknya kita tidak tahu sejak kapan tim Alfa yang mereka maksud bertolak belakang menuju Pare. Yang pasti mereka menggunakan jet tempur terbaik bukan jet pribadi apalagi wisata. Jadi kita hanya bisa memperkirakan kemungkinan waktu yang tersisa untuk mencegah mereka."
Gian mengangguk, "Apa kau tahu jarak antara Neitherland dengan Pare?"
Aiwan tidak langsung mengiyakan. Jika itu jarak sebelum perang dunia terjadi, tentu saja Aiwan tahu. Dia hafal di luar kepala jarak satu negara dengan negara lainnya. Namun, kutub bumi berubah. Perang dan bencana menghancurkan kota dan merubah jarak dari satu pulau ke pulau lainnya. Negara ke negara lainnya. Dia perlu perhitungan akurat agar tidak salah.
"Jika diambil dari titik terdekat sekitar 9.800 km/jam," jelas Keri.
Sangking paniknya, mereka sampai lupa ada Keri, si AI menggemaskan yang tentu bisa tahu segala hal tersulit.
"Berapa kecepatan jet tempur Neitherland?" tanya Aera panik.
"Itu buruk kemungkinan kita tidak memiliki waktu bahkan satu jam untuk mempersiapkan diri menghadapi mereka."
"Aku yakin pada kemampuan kalian, dan mungkin ini saatnya kita mewujudkan janji yang kalian buat pada Hamid. Masalahnya kalian butuh senjata."
Aera menatap Keri, "Dibalik bulu halusmu, mungkin kau menyembunyikan roket ataupun revorver?"
"Tolong jangan samakan aku dengan robot kucing dari Jepang!"
"Tentu tidak, dia menggemaskan dan kau menyebalkan. Dia luar biasa dengan kantong ajaibnya, sedangkan kau merepotkan dengan hidungmu yang pesek."
"Astaga! Kau sungguh membuatku kesal di waktu yang tidak tepat," Keri bersungut-sungut.
"Bisakah kalian diam sejenak? omong kosong kalian mempertaruhkan nasib Pare yang nyaris berada di ujung tanduk. Jika tidak bisa memberi solusi sebaiknya diam."
Aera menunduk, wajahnya merengut persis seperti anak kecil yang diomeli ibunya karena pulang dengan tubuh dan baju berlumur lumpur. Sedangkan Keri, AI lucu itu tampak tidak peduli.
Gian berdehem, "Sepertinya aku tahu, kita bisa mendapatkan senjata di mana."
Ketika semua pandangan tertuju padanya, dia menyebut sebuah nama, "Kediaman Tuan Piller."
"Kau yakin tidak sedang menyebutkan kandang harimau?"
Gian mengangguk pasti. Dia tahu betul kesetiaan Piller padanya, mentri sayap kanan yang usianya lebih dari setengah abad. Sekaligus orang yang dengan terang-terangan menentang Roschiil, tetapi entah mengapa wujud nyata iblis di dunia itu masih membiarkannya hidup.
Setelah beberapa menit mencoba mencari keberadaan pria tua itu, lewat kamera pengawas yang terpasang di mansion mewahnya. Akhirnya mereka berhasil menemukan dia yang tengah duduk menatap layar hologram. Keri mengambil alih kendali. mengirim pesan yang tercatat di layar hologram miliknya.
Tuan, saya Gian. Apakah di sekitarmu ada orang lain? Jika aman untuk bisa menemuimu di sana, saat ini juga. Tolong anggukan kepalamu dua kali.
Mereka bisa melihat pria tua itu, yang masih tetap tegap dan gagah--menatap layar dan mengangguk dua kali.
"Baiklah, sekarang kita bagi tugas. Kalian bertiga menemuinya dan aku akan ke Pare. Kita tidak bisa mengevakuasi mereka semua, tetapi kita bisa menyembunyikan mereka di daerahnya sendiri. Sebaiknya kita bergerak sekarang, dan kalian selesaikan apapun itu dengan cepat."
"Kau yakin akan berpisah denganku?" tanya Keri dramatis.
"Mereka membutuhkanmu untuk bisa berteleportasi. Tapi temui aku secepat mungkin."
Tepat di penghujung kalimatnya, Aiwan berbalik dan menghilang. Disusul uluran tangan Keri yang disambut oleh Gian dan Aera.