
Aiwan menyesal tidak bisa menyusul dan membujuk Zerah. Panggilan darurat memaksanya meninggalkan wanitanya saat itu juga. Dia memasuki ruangan yang langsung disambut dengan lemparan beberapa dokumen. Bersyukur kertas-kertas itu tidak cukup berat untuk bisa meninggalkan memar di wajahnya.
“Lihat apa yang telah dilakukan kekasihmu!” Pria berpangkat marsekal yang memanggul empat bintang itu membentak Aiwan. Dia menghela nafas dalam, lalu mengembuskan dengan kasar. “Jika kau ingin aku tetap memegang janjiku, maka kau harus menyelesaikan satu tugas lagi.” Perintahnya tak ingin dibantah.
“Bersihkan para pengacau itu, satu batu sandungan bisa berubah jadi petaka jika tidak segera disingkirkan.”
Degub jantung Aiwan seolah memberontak. Beberapa layar hologram terpampang jelas di hadapannya. Dia sungguh ingin menolak, tetapi kematian orang-orang yang dia cintai adalah konsekuensinya. Dia tidak menyangka Zerah melakukan hal besar tanpa memberitahunya. Namun, semua telah terjadi. Kini dia hanya perlu melakukan tugas yang diberikan jika masih ingin menemui wanita yang membuatnya merasa hidup benar-benar indah.
“Siap laksanakan!” serunya lantang.
**
Rintih para korban ledakan rudal yang diduga berasal dari pesawat tempur siluman, menjadi iringan musik kesedihan Hamid.
“Ada yang masih hidup!” pekik seorang pria dari arah selatan.
Berbondong-bondong masyarakat yang tersisa menghampirinya. Bahu-membahu mematikan api pada bagian bus DAMRI yang terbakar. Seorang pria renta berhasil ditarik. Setengah kulitnya nyaris terkelupas sebelah matanya mengeluarkan darah. Namun, bibirnya tidak mengadu karena sakit. Dia justru memanggil istrinya yang masih di dalam bus.
Sedikit linglung Hamid berdiri. Menyaksikan kekacauan di hadapannya. Beberapa masih mengingat untuk menyerukan nama tuhan, tetapi tidak sedikit yang telah lupa bahkan tidak tahu seperti apa itu Tuhan. Pandemi yang menyerang dunia sejak lima tahun silam, selain melumpuhkan sektor ekonomi, juga melumpuhkan pendidikan. Pendidikan dasar yang paling pertama memudar adalah iman.
Para orang tua hanya takut anak-anak mereka tidak bisa menulis dan membaca dengan benar. Mereka lupa mengajarkan tentang Tuhan dan Tauhid yang harusnya menjadi pelajaran pertama bahkan sebelum mereka bisa melihat dunia. Fakta yang lebih memprihatinkan adalah, delapan puluh persen masyarakat usia produktif yang saat itu telah mengenal tuhan perlahan lupa karena sibuk memikirkan dunia dan isinya.
Hamid adalah salah satunya. Dalam titik kebingungan akut, ke dua netranya menangkap potret ibunya yang masih menggeliat. Hamid tersentak. Segera mendekat, berlutut dan memeluk sang Ibu, berurai air mata. Ke dua mata senja ibunya menatapnya. Air matanya mengalir.
“Ibu, bertahanlah, kita akan segera ke rumah sakit. Tolong! Ibuku masih hidup!” Teriak Hamid hendak berdiri mengangkat ibunya. Namun, lengannya ditahan. Entah sejak kapan Ukkas berada di dekatnya. Pria itu menatap ibunya yang kini sekarat.
“Kak, tolong ibuku,” Hamid mengiba. Sialnya mata ibunya kembali terpejam,”Tidak, ibu! Tolong bertahanlah.” Hamid kembali berteriak. Dia memeluk ibunya.
Seketika Ukkas berpindah ke sebelah kanan ibunya. Menepis tangan Hamid yang menutup telinga sang Ibu. Tubuhnya kembali bergetar hebat. Ukkas merunduk membisikkan suatu ke telinga ibunya.
Pelan ...,
lama ...,
dan tenang.
Hamid hanya bisa menatapnya dengan berlinang air mata. Sebelum akhirnya seluruh tubuh ibunya menjadi kaku dan dia kembali tersungkur dalam iringan istirja dari bibir Ukkas.
**
Puang Hamid mengusap air yang menggantung disudut matanya. Ingatan tentang peristiwa berdarah itu masih terekam jelas dalam kepalanya. Kepergian ibunya menyisakan luka tak terperihkan baginya. Sembari menghela nafas Aera mengusap tangan keriput Puang Hamid.
“Maafkan aku, sungguh maafkan aku,” tutur Aiwan nyaris tak terdengar.
Semua orang menoleh padanya. Pria itu merunduk dengan bahu bergetar. Gian tampaknya bisa menduga sesuatu. Aera yang juga telah tahu asal usul Aiwan seketika menutup mulutnya.
“Tidak apa-apa, nak, kalian hanya bertanya karena tidak tahu. Mungkin aku tidak seharusnya menceritakan kisah itu tapi aku pikir itu hal yang penting kalian ketahui. Karena penyerangan itu terjadi jauh di luar agenda perang. Itu adalah tindak ******* yang sampai saat ini aku masih tidak mengerti mengapa pemerintah rela menjual negara dan rakyatnya bahkan dengan senang hati menutupinya sebagai sebuah kecelakaan militer," ungkap Puang Hamid.
“Jika memang mereka masih terus melakukannya hingga kini, sudah tugas kita semua untuk dapat melakukan sesuatu sebagai usaha untuk menghentikannya atas dasar keadilan dan kemanusiaan.” Puang Hamid menghirup udara dengan cepat. Sedikit panik Aera bangkit dari duduknya dan memanggil salah satu anaknya.
“Bapak, kalau sudah capek memang begitu. Jadi sebaiknya Bapak istirahat dulu, ya,” jelas Kak Ros—perempuan paruh baya berusia empat puluh lima tahun. Namun, wajahnya terlihat jauh lebih tua dari usianya.
Hampir semua penduduk Pare mangalami masalah pernafasan. Diduga karena radiasi nuklir saat perang dunia ke tiga terjadi.
Kini Aera dan teman-temannya kembali ke rumah khusus tamu. Dia menatap Aiwan yang sejak tadi tampak gelap. Seolah mendung yang ada di luar telah berpindah ke wajahnya yang tampan.
“Kau yakin, kau yang menjatuhkan rudal itu? Bukankah kalian sangat banyak. Mungkin saja kau bertugas di daerah lain.” Kalimat Aera terhenti saat melihat Aiwan menatapnya—datar. “Yah, maksudku, bukankah dulu wilayah di bumi ini begitu banyak dan luas? Bagaimana kau tahu bahwa kau yang menjatuhkan bom dan menewaskan ibu Puang Hamid.” Aera bermaksud menghibur Aiwan.
“Apa kau tahu, siapa yang dia maksud sebagai ilmuan ternama yang membocorkan informasi agenda genosida itu?”
“Hmmm ... Zerah?” Gian menimpali.
“Ya, berarti peluang kau yang menjatuhkan rudal di tempat Puang Hamid sekitar lima persen.” Aera menyatukan jari telunjuk dan jempolnya, sambil tersenyum aneh.
“Aku tahu karena itu adalah tanah kelahiranku. Daerah asalku. Dan aku sendiri yang harus menghancurkannya, itu harga yang harus aku bayar untuk menyelamatkan wanita yang kucintai,” tutur Aiwan tanpa ekspresi.
**
Gian menghalau langkah Aera yang berniat mengejar Aiwan.
“Biarkan saja, dia butuh waktu sendiri.”
Aera menatapnya dengan mata berkaca, “Menurutmu dia ke mana?”
Gian mengindik, “Tapi kita tidak perlu khawatir, Keri pasti mengikutinya.”
Aera mengangguk malas. Dia memikirkan Keri yang sejak berada di Pare selalu menggunakan mantelnya dan tidak ingin terlihat. Alasannya, takut dijadikan makanan. Namun, Aera tahu, itu hanya alasan klise. Mungkin AI menggemaskan itu lebih takut dituduh makhluk sihir atau dedemit. Tuduhan yang pasti melukai harga dirinya. Aera terkikik dalam hati memikirkan alasan Keri.
“Kau tersenyum?” Gian bertanya bingung. Mungkin dia berpikir Aera ikut sedih karena Aiwan.
Aera menggeleng.
“Aku lebih suka kau tersenyum, karena kalau wanita normal menangis akan kelihatan cantik, tapi jika itu kau akan sangat jelek.” Mendengar ucapan Gian, seketika Aera merengut.
Gian menarik tangannya, dan menggenggamnya erat, “Yuk, kita ke pantai,” ajaknya tanpa permisi.
Aera yang mendapat serangan tiba-tiba hanya melihat tangan kirinya yang kini berada dalam genggaman Gian. Dia tidak berniat menariknya dan terus mengikuti langkah pria berbadan tegap itu, “Kau yakin kita akan ke pantai ... sekarang?” tanyanya saat mereka menuruni lereng gunung. Mungkin Aera ragu, karena Pare tengah diselimuti kelabu.
Mereka hanya perlu kembali melewati satu bukit kecil, dan sebuah sawah yang luas, lalu masuk hutan kelapa. Setelah berjalan lurus mereka akan bertemu hamparan pasir putih yang bersanding dengan birunya laut. Namun, saat ini cuaca tengah mendung. Mungkin sebentar lagi hujan mengguyur pulau yang baru terbentuk sejak lima puluh tahun lalu.
“Sekarang saat yang tepat untuk menikmati keindahan pantai.”
Aera melihat sekelilingnya, lalu mengendik, ‘terserahlah’ mungkin begitu pikirnya. Saat melewati kubangan becek yang cukup lebar di tengah sawah. Sengaja Gian melepas genggamannya. Dia melompat gagah, lalu berbalik mengulurkan tangannya—ingin membantu Aera. Namun, dia dibuat membeliak saat melihat Aera melompat sendiri dan lompatannya lebih jauh dan keren ketimbang dirinya yang nyaris terpeleset.
“Kau sungguh luar biasa,” sarkasnya kembali menarik tangannya. Padahal dia selalu melihat para wanita di Pare sampai harus membawa sebilah kayu panjang untuk dijadikan jembatan.
“Kau baru sadar? inilah keunggulan orang Neitherland,” ucapnya bangga. Namun, ekspresinya seketika berubah saat menyadari Gian terdiam dan tidak berniat menimpali ucapannya. Pria itu berjalan lurus dan dengan cepat melewati barisan pohon kelapa. Sebelum akhirnya berlari menuju tebing, dan memanjat agar dapat naik ke atas.
Sekali lagi Aera mengikutinya dengan mudah tanpa kesulitan sedikitpun. Rekayasa genetika telah membuatnya menjadi wanita tangguh yang bisa segalanya. Langit tampak semakin kelabu. Ombak meraung-raung. Pukulannya pada bebatuan yang menjulang—di mana Aera dan Gian duduk terdengar garang.
Aera menatap pemuda yang usianya hanya terpaut dua tahun lebih tua darinya. “Kau merindukan Raja dan Ratu?” tanyanya lembut. Kontras dengan kebrutalan angin pantai yang tengah menyeruduk wajahnya tanpa jeda.
“Kau pikir aku anak kecil,” elak Gian tanpa mengalihkan pandangannya ke laut lepas.
“Bodoh! Rindu itu tidak butuh usia.”
“Bagaimana denganmu?” Gian mengalihkan pandangannya pada Aera. Gadis itu tengah memperhatikan gulungan ombak yang berkejaran meraih garis pantai. Matanya menyipit karena keriuhan angin. Rambutnya tergerai indah dan beterbangan bagaikan chiffon—lembut, hitam dan menentramkan.
Gian selalu suka melihat potret Aera yang tenang seperti saat ini. Wujudnya lebih indah dibanding lukisan manapun.
“Aku tidak memiliki keluarga. Jika ada yang paling aku rindukan, itu adalah kasurku yang nyaman,” paparnya sambil memeluk dirinya sendiri. “Kasur yang empuk luar biasa, hangat saat musim dingin dan sejuk saat musim panas.” Senyuman indah tersungging dari bibirnya. Anehnya senyuman itu menulari Gian.
Merasa diperhatikan, Aera beralih menatap Gian. Pandangan mereka bertemu. Untuk beberapa saat mereka tenggelam dalam isyarat yang tak terkatakan. Seolah mengikuti intuisi wajah Gian sedikit demi sedikit mendekat, memangkas jarak yang tadinya nyaris selangkah orang dewasa. Seolah memahami situasi, angin yang tadinya merusuh berubah menjadi lebih tentram.
Kini Aera bisa melihat jelas wajah Gian yang jaraknya tak lebih dari sejengkal. Degub jantung Aera berpacu. Dia seperti es krim yang terlepas dari cone-nya dan kini nyaris mencair karena kepanasan. Rupanya ketampanan Gian tidak kalah dengan Aiwan. Tangan pemuda itu menyentuh pipinya. Dalam benak Aera, adegan romantis yang pernah Cyma perankan kembali terngiang.
Aera menutup mata, memonyongkan bibirnya lima senti. Gian yang sejak tadi melihatnya semakin mendekat.
Tup!