
Bunyi benturan bersahutan dengan bunyi gemerincing pertemuan kaca dan keramik adalah hal pertama yang menyambut Epraim, tepat setelah pintu kamar rawat Ibrael terkuak. Segera dia masuk, menyibak tirai, mendapati Aera berdiri membelakangi Ibrael. Mata gadis itu menatap tajam pada kumpulan beling dari gelas dan piring yang berserakan di dekat meja kaca yang kini terbalik. Sirop berbahan dasar susu bercampur cokelat; menutupi permukaan puding dan potongan buah adalah kerusuhan lainnya yang menghiasi permukaan lantai.
Sedikit bingung bercampur khawatir, Epraim bertanya tetapi gadis itu abai. Dia justru menarik keluar sebuah revolver dari saku mantelnya. Memuntahkan sarkasmenya--lirih. Sesuatu yang teramat membangongkan bagi Epraim. Dia mengacuhkanku?
Menarik napas lalu mengembuskan dengan gusar, sebelum kembali bertanya.
"Apa yang telah kau lakukan?" akhirnya Epraim menarik atensi Aera. Dia tahu gadis itu kini menatapnya. Sorotnya yang tajam terasa menusuk dan membuatnya gerah. Namun, dia sulit membalas tatapannya, ketika sebuah beling terangkat perlahan dan terayun ke arah wanita itu. Sialan, apa-apaan itu!
Dengan tanggap dia berlari menghampiri Aera. Menarik wanita itu kedalam pelukannya dan menghalau beling yang melayang dengan lengannya. Penyusup!
Tepat ketika dia berhasil menjawab pertanyaan mengenai kekacauan yang ada, sepotong beling berhasil menembus tuxedonya dan menggores lengannya. Hembusan hangat di lehernya memecah fokusnya. Pandangannya jatuh tepat di manik safir milik Aera. Sesaat mereka maling mengunci, menenggelamkan dan menghanyutkan hingga ketitik semua kekacauan yang ada terasa hening. Sebelum akhirnya Epraim kembali mendengar dentingan kaca yang saling bergesekan.
Kepalanya berputar empat puluh lima derajat, mendapati sebuah beling kembali melayang. Dengan gesit Epraim menangkal dengan tendangannya.
"Sialan, berhenti kau ricin!" Pekik Aera mengejar sesuatu yang Epraim tak yakin berbentuk seperti apa. Wanita itu berlari cepat dan melompat gesit melewati pecahan yang berserakan dilantai setelah berhasil melepaskan diri dari pelukannya.
Sejak kapan dia mahir ilmu bela diri? dan juga, sepelik apa kehidupan yang dia hadapi hingga membawa senjata bahkan saat bertemu anggota keluarga kerajaan?
Semua pertanyaan itu masih harus bersabar dalam benaknya karena kondisi yang lebih genting. Disusulnya Aera menuju balkon kamar rawat. Sebelum akhirnya dia menyadari apa yang terjadi Aera telah melompat ke arahnya dan membuat mereka terhuyung. Tangan gadis itu membekap mulutnya, langkahnya seolah mendorongnya kembali masuk dan menutup pintu menuju balkon. Kini jarak mereka bahkan jauh lebih dekat dari sebelumnya. Pandangan mereka kembali saling mengunci.
Slaashhh ....
Getaran kuat dan cepat itu mengintrupsi keintiman mereka. Aera segera berpaling. Matanya fokus menembus kepulan asap. Tangannya yang berada di mulut Epraim ditarik keras beralih meninju udara.
"Sial memang, bahkan suntiknya tidak berhasil aku rebut," sesalnya sembari menghela napas gusar.
Ragu-ragu Epraim bertanya, "K-kau b-baik-baik saja, bukan?"
Aera yang masih menatap keluar beralih menatanya. Gadis itu kembali mendekat dan meraih tangannya, mengangkat lengan kanan dan membolak-balik seperti jemuran bantal, dan beralih ke tangan kiri.
"Hei apa yang ...," kalimat Epraim terputus ketika Aera menatapnya.
"Kau terluka. Terima kasih sudah menyelamatkanku dari beling sialan tadi."
Seketika tenggorokan Epraim terasa kering. Dia berdehem pelan melumasi kerongkongannya tetapi matanya tidak luput dari gerakan Aera yang kini merengsek masuk dan membuka tirai.
Entah sejak kapan para pengawal itu sibuk membereskan ruangan, juga para suster dengan wajah pucat membenahi infus yang tadi terlepas.
"Kami sungguh tidak mengerti apa yang terjadi, dan harus bertanggung jawab seperti apa, tetapi kamera pengawas di bagian balkon tidak bisa menangkap apapun selain kepulan asap dan getaran dahsyat yang juga dirasakan penghuni kamar sekitar."
"Tidak masalah, aku yakin bahkan pangeran juga bingung karena tidak melihat apapun. Itu wajar, jadi jangan terlalu merasa bersalah," ucap Aera datar. Kalimat yang membuat semua orang terpukau. Bukan hanya karena terlampau bijaksana. Namun, terlalu aneh untuk diucapkan oleh seorang Aera.
"Kalian semua orang biasa." Sebilah alisnya terangkat, "Penyusup itu menggunakan material yang mampu membelokkan cahaya dan membuatnya tampak tembus pandang. Jika bukan orang hebat, cerdas dan luar biasa sepertiku, tidak akan ada yang mampu melihatnya."
"Karena itu, jika kalian benar merasa menyesal atas kejadian ini dan bersungguh-sungguh ingin membantu, berikan daftar suntik yang digunakan dirumah sakit ini."
Epraim selalu mengagumi kepercayaan diri Aera yang terlalu tinggi. Tanpa canggung dia menyuarakan asumsinya dan bertindak tanpa peduli rules yang harusnya dilewati. Dia hidup dan berpikir bebas tanpa peduli apapun. Terlalu polos untuk ilmuan cerdas berprestasi sepertinya.
"Mungkin Nona bisa melihat apa yang tidak bisa kami lihat, tapi itu tidak cukup memberi Nona kewenangan untuk dapat mengintip privasi kami."
Aera mengindik santai, "Aku hanya mengatakannya agar kalian menyiapkannya dari sekarang. Yang akan memintanya tentu yang berwenang melakukannya, bukan begitu?" tatapannya menyorot Epraim.
"Tentu saja. Jika kalian masih ingin bekerja di sini sebaiknya bertindak kooperatif saat penyelidikan nanti. Prajurit Kedrik!"
"Siap, Yang Mulia!"
"Kau tahu apa yang harus dilakukan, 'kan?" tanya Epraim sembari menatap Aera. Gadis itu menyeringai--tipis.
"Gugatan telah diterima oleh pengadilan kerajaan. Tim penyidik yang bertugas telah dikirim menuju TKP."
Seketika ucapan Kedrik menampar kesadaran para dokter dan petinggi rumah sakit yang kini berdiri di dalam ruang rawat Ibrael. Wajah mereka pias mendengar pengadilan kerajaan. Mereka bahkan tidak melalui kepolisian NS, tetapi langsung diseret ke pengadilan kerajaan yang otoritasnya di bawah kendali penuh keluarga kerajaan. Bagaikan sebuah komando rahasia, ketika Dokter Remon berlutut, semua staf rumah sakit yang ada di dalam ruangan ikut berlutut.
"Tcih ..., aku benci drama penuh kepalsuan," sarkas Aera tanpa rasa bersalah. Dia berbalik dan berlalu keluar ruangan. Epraim tersenyum sebelum akhirnya kembali menatap dingin pada semua orang yang kini berlutut dengan raut kalut.
***
Tanpa berkedip Aera menatap raja NS: Ibrael. Setelah terbangun karena efek obat yang mulai memudar ditambah kondisi ruangan yang gaduh, Ibrael akhirnya dibawah kembali ke istana. Bersama Epraim dan empat orang bodyguard berseragam hitam, mereka melewati lift menuju jalan bawah tanah. Memasuki kereta listrik dengan desain termewah yang membawa mereka menuju istana tanpa seorangpun yang melihat.
Rupanya seperti ini perjalanan sang Raja menuju rumah sakit.
Akhirnya Aera mengerti mengapa isu kesehatan sang Raja menjadi hal paling menarik. Perjalanan pulang-pergi rumah sakit yang bersifat rahasia, dan kondisi sang Raja yang misterius adalah umpan paling sempurna untuk membangkitkan rasa penasaran manusia. Setelah lelah berusaha mencari informasi akurat akhirnya mereka memilih memancing kebenaran dengan menayangkan kebohongan. Strategi kotor berunsur semangat pantang menyerah.
Ke dua mata abu-abu itu menyapanya lekat, dia tersenyum. Senyuman yang membuat Aera merasa tenang dan hangat. Senyuman yang terasa dekat dan membuatnya rindu pada satu masa. Masa di mana hidup benar-benar menarik dan membuatnya bersemangat.
"Aku ingat kau sangat menyukai coklat, jadi semoga kau menikmatinya."
Sorot teduh yang bersahabat dan senyuman hangat itu terasa familiar. Sejak pertama beradu pandang, Aera tahu sebelumnya dia dan sang Raja pernah bertemu, tetapi kapan dan di mana Aera tidak bisa mengingatnya.
Siapa kau sebenarnya?
Aera tampak mengangguk dan tersenyum. Pikirannya menahan semua kata agar tidak terucap dan mencoba tetap bersikap santun di depan Raja NS. Sebelum tangannya kembali menyendok cake coklat yang lembut dan lumer. Tanpa sengaja pandangannya bertabrakan dengan Epraim. Pangeran itu terlihat kesulitan menahan tawa melihat tingkah Aera yang tadinya liar berubah menjadi jinak ketika tahu ada seorang Raja NS di hadapannya.
Sialan, dia mengejekku!