Neitherland

Neitherland
1 : Kuantum Fox Neitherland



*Ketika maut berjatuhan*


*seumpama hujan*


*alam melepas kutukan*


*serta ampunan*


*bumi berganti warna*


*dan lautan*


*karam selamanya*


*kita yang tersisa*


*terpaksa terpisah*


*di antara bintang*-


*bintang yang tertutup*


*angkara murka*


*dan jilatan mentari*


*semakin menjadi*


*lalu pohon tak lagi*


*melahirkan bunga hati*



**Netherland, 2050**


Puisi ke 102 yang Aera tulis di atas selembar kertas metalik berlapis emas, lalu dimasukkan ke dalam tabung baja anti karat, untuk dikirim ke masa lalu melalui quantum tunnel.


...***...


"Bawakan seorang budak," perintah Prof. Scotth, melalui sambungan telepon berbentuk smartwatch. Gambar pria berbadan tegap di seberang mengangguk sembari memberi hormat.


Aera merasa sesak. Dadanya seolah ditimpa beban berat. Mungkin hampir sama dengan material yang memiliki massa dan energi berlebih, hingga mampu menyisakan lengkungan dalam di sisi ruang dan waktu. Namun, lengkungan dalam pada da-da Aera bagaikan blackhole yang mampu menarik semua kewarasan serta ketenangannya.


Dunia yang dia hidupi kini tidak lebih dari interpretasi neraka bagi manusia di masa lampau.


Kemajuan teknologi?


bulshit! teknologi membuat semua menjadi lebih buruk. Bahkan bumi tidak memiliki ruang untuk bernafas.


Aera menatap benci pada bendera Neitherland dan foto raja dan ratunya. Dia bertekad mengakhiri semua kebodohan moral dan kemiskinan adab yang menganggap kecerdasan jauh lebih mulia dari manusia itu sendiri.


“Jika berhasil, kita bisa menghemat anggaran untuk serum, dan yang lebih penting kekuasaan beralih ke departemen kita,” Prof Scotth berpidato, matanya berbinar serakah. Dia menatap Aera yang sengaja tidak menatapnya kembali. Lalu berbalik melihat Yuuko, tanpa permisi memeluk sekertaris baru yang masih berada di tingkat 5.


“Maaf, Prof, tolong simpan nafsu buasmu hingga berada di luar LAB.”


Wajah Prof Scotth merah padam. Sebelumnya Aera tidak pernah menginterupsi tindakan cabulnya yang semena-mena kepada anggota baru. Sekalipun jelas menunjukkan raut tidak suka, Aera lebih memilih diam. Mungkin karena sekarang posisi mereka berada di strata yang sama.


Setelah tiga tahun gagal menciptakan quantum tunnel, hingga menuai kritikan dari pihak kerajaan. Dengan percaya diri yang kemudian menghancurkan ego Prof Scotth, Aera mengajukan diri untuk mencoba menyempurnakan quantum tunnel sang Profesor.


Tidak lebih dari satu Minggu, Aera berhasil melakukan uji coba pengiriman pena dilengkapi sebuah kamera ke alam kuantum. Yang akhirnya dapat kembali ke bibir quantum tunnel setelah lima menit berlalu. Berkat Aera, mereka tidak hanya memiliki quantum tunnel, tetapi juga mampu melihat alam kuantum, sekalipun hasilnya hanyalah kegelapan.


Prof Scottch melepaskan pelukannya, sedikit geram dia menyeret langkah mendekati Aera, lalu berbisik.


“Mungkin dia bisa menjadi boneka mose di malam Minggu nanti, karena ulah seseorang yang lupa pada kulitnya.” Prof Scottch meringis, melihat ekspresi Aera.


Dia tahu betul gadis itu sangat benci dan mengutuk kebiasaan para bangsawan di malam Minggu yang menjadikan gadis-gadis belia sebagai boneka mose—budak nafsu. Yang lebih membuatnya muak, kegiatan itu dilegalkan dalam hukum kerajaan Neitherland.


“Lakukan sesukamu, jika kau yakin tetap bisa menjadi kepala departemen.” Suara Aera terdengar lirih dan dingin. Tiap ucapannya adalah ancaman. Prof Scotth tahu Aera bersungguh-sungguh. Seketika rahangnya mengeras, nyaris beku dan pecah jika saja tubuhnya adalah sebuah kaca.


Suhu ruangan seketika panas. Para junior yang berada di kubu Aera merasa puas, hingga bisa mati bahagia saat itu juga, melihat wajah Profesor yang memiliki hobi cabul mampu terintimidasi oleh senior favorit mereka. Ceko, Ilmuan Fisika tingkat empat menatap Aera, ujung garis bibir kanannya membentuk lengkungan. Samar.


***


*Breaking News*!



**Neitherland, 20 April 2065**


Kelompok Ilmuan departemen fisika akhirnya berhasil menciptakan mesin lorong waktu!


“Dengan sedikit kerja keras dan tekad kuat, saya optimis kita akan mampu melakukan wisata menuju dimensi lain,” ucap Profesor Scotth kepala departemen Fisika LAB Kuantum Fox Neitherland, dengan bibir tersenyum dan mata berbinar bangga. Saat ditemui di istana Kamis petang usai peresmian mesin waktu yang disebut *quantum tunnel*.



“Hei! Kenapa kau membacakan berita omong kosong seperti itu! Cari yang terbaru dan masuk akal.”


“Kau bahkan belum mendengar hingga selesai!” Keri menggerutu tapi tetap mengikuti instruksi Aiwan.


Halusih.co.id


Pangeran Mencari Cinta atau Penyebar Hoaks?


Warga negara Neitherland dihebohkan dengan hastag pangeran Mencari cinta, yang tengah viral sejak sebulan terakhir. Tidak sedikit wanita-wanita cantik yang tergerak ingin mengikuti kontes tujuh hari enam malam di aula istana. Sayangnya, pihak istana menegaskan berita yang tengah viral di kalangan masyarakat saat ini, hanyalah berita hoaks yang akan ditindak lanjuti demi kedamaian bersama.



“Kami telah menerima sejumlah keluhan, terkait penyebar berita hoaks yang mengandung unsur PHP di kalangan wanita, hingga mengakibatkan gangguan pencernaan dan nafsu makan berkepanjangan. Perlu kami tegaskan, pangeran telah memiliki calon putri mahkota sejak lima tahun lalu.



Jadi kami berjanji akan segera menemukan pelaku penyebaran berita tersebut dan akan menghukumnya karena melanggar pasal 1, 2, 3 undang-undang ITE tentang penyalahgunaan teknologi yang mengakibatkan patah hati massal,” jelas sekertaris kerajaan panjang lebar saat ditemui Senin pagi di kediamannya.



“Kau sengaja membacakan itu?” Aiwan semakin kesal.


“Apa ini? Kau telah bangun? Oh syukurlah!” Gian menerobos masuk dan melompat dalam pelukan Aiwan.


“Hei! Lepaskan aku kunyuk!” Aiwan protes tapi Gian terus memeluknya tanpa mengindahkan keluhan temannya.


“Kau akan dirajam lalu dipenjara selama 7 tahun 8 bulan karena menghina keluarga kerajaan,” Keri mengingatkan.


Gian terkejut, tangannya melepas pelukan lalu berbalik ke sumber suara. Tubuhnya berputar-putar dan matanya mengitari seisi ruangan.


“Hei, kau tadi dengar itukan?” tanya Gian pada Aiwan. “Aku selalu yakin di sini ada orang lain, tiap kali aku mengantar makanan atau melihat kondisimu, ruangannya selalu lebih bersih dan rapi, ternyata dugaanku benar. Hei, keluarlah! Tunjukkan dirimu!”


Hening.


Aiwan terdiam—bingung.


Gian menatapnya, “Apa kau menyembunyikannya? Bukankah tadi kalian sedang berbincang-bincang?”


“Omong kosong! aku tidak menyembunyikannya.”


“Lantas?” Gian menuntut.


Aiwan mengangkat bahu, “Dia terlalu malu karena hidungnya pesek.”


Kedua alis Gian berkerut, sejurus kemudian dia tertawa, “Aku tahu kau tidak pandai berbohong, tapi alasanmu sangat payah.”


“Aku tidak bohong! Hei pesek, keluarlah, perlihatkan wujudmu yang menawan.”


“Salah satu sifat buruk yang tidak bisa ditolerir adalah menghina sesama makhluk.”


Tampaknya Keri memiliki hobi yang terlalu manusiawi—protes, protes dan protes.


Mendengar suara yang sama, Gian berbalik dan mendapati makhluk paling lucu yang tingginya sekitar 55 cm dengan tubuh dihiasi bulu coklat terang yang halus dan panjang. Seketika dia jatuh cinta.


**


Sengaja hari ini Aera memilih berjalan kaki, bukannya Naik kereta layang yang nampak seperti gerbong roller coaster—yang melayang tanpa rel seperti kereta api atau listrik pada umumnya.


Kereta layang di Neitherland beroperasi menggunakan prinsip pesawat terbang. Namun, dengan jarak terbang yang relatif rendah, dan suara bising yang minim bersahabat. Berbanding terbalik dengan tingkat resikonya yang teramat tinggi.


Karena yang dihancurkan saat adanya kecelakaan tidak hanya penumpang dan keretanya, tetapi hampir sebagian Neitherland, dan semoga itu tidak pernah terjadi. Pikir Aera. sekalipun kebenciannya pada Neitherland terlalu besar, tetapi dia tidak ingin kehancuran negerinya, buminya, dan dunianya. Namun, benarkah belahan bumi yang tersisa hanya Neitherland semata?


Bola mata Aera yang tampak coklat seperti kacang hazel—berkaca-kaca. Kepalanya menengadah menatap langit biru. Sedikit memicing dan melayangkan tatap benci seumpama roket hidrogen.


“Sempurna,” gumamnya nyaris tenggelam oleh riuh para Artificial Intelligence (AI) baik yang bertugas sebagai angkutan umum, pembersih jalan, ataupun pembersih udara di saat bersamaan penghasil udara.


Kekesalannya pada Prof Scotth, pada pemerintah Neitherland, dan pada semua peraturan konyolnya, memengaruhi penilaiannya terhadap semua yang ada disekitarnya. Bahkan kubah pelindung Neitherland yang telah ada sejak puluhan tahun, tepatnya sejak meletusnya perang dunia ke tiga 2025 lampau. Sekaligus menjadi teknologi paling berjasa bagi rakyat Neitherland yang hingga kini lestari, dan luar biasanya lagi, kubah itu kini beralih fungsi menjadi langit yang cahayanya menentramkan dan menyejukkan. Menjadi sasaran empuk kalimat satire Aera.


Gadis berusia hampir 30 tahun itu mempercepat langkahnya. Sekalipun cahaya matahari tidak lagi mengancam karena kubah raksasa, tetapi udara yang tercemar nafas AI sangat tidak baik untuk dikonsumsi. Karena terlalu kesal dia lupa mengisi tabung oksigennya, dan itu membuatnya bertambah kesal.


Bunyi alarm akan diturunkan hujan terdengar seperti ejekan Prof Scotth.


“Aaah, sialan!” Aera menatap smartwatch yang menunjukkan kurang lebih 170 KM lagi hingga tiba di apartemennya. Setengah frustasi dia hendak berlari, tetapi terhenti ketika sebuah mobil sport listrik menghampiri. Sebuah kemewahan yang hanya bisa dimiliki oleh keluarga kerajaan.


Aera tertegun.


"Hai, cantik, masuklah, aku akan mengantarmu." Kaca mobil diturunkan. Tampak seorang pria rupawan dengan rambut hitam legam berada di balik kemudi.


Aera bergeming. Mencoba mengingat siapa pria di depannya.


"Apa kau ingin tetap berada di situ, sampai AI pembersih mengangkutmu ke kantor kedisiplinan?"


"Bagaimana kau akan mengantarku?"


Pria itu tersenyum, "Kau pemilik kamar no 935, di apartemen Kyosi 3, naiklah sebelum hujan benar-benar turun."


Aera membuka pintu mobil dan masuk tanpa ragu, "Kau penguntit?" tanyanya memasang sabuk pengaman.


Pria itu tersenyum manis dan menggeleng mengagumi keberanian Aera. Mobil melaju. "Aku yakin kau tahu, tapi tetap berani mengucapkan kalimat seperti itu," ucapnya setengah menyindir.


Aera mengangkat bahu, "Karena aku tidak yakin, mengantar ilmuan dari departemen fisika pun merupakan salah satu tugas pangeran."


"Hei aku bukan pangeran biasa," ucap Gian tersenyum tampan, sambil mengalihkan wajahnya dari jalanan yang terlalu lenggang, dan mengedip genit pada Aera yang tengah menatapnya dengan penuh tanya.