
Aera terkejut saat suara Keri dan Aiwan bersahutan dalam kepalanya. Dia melirik Roschiil lalu berpindah pada para anak buahnya. Mereka semua terfokus menatap layar. Aera menarik napas dalam lalu mengembuskan perlahan. Berusaha menenangkan diri agar terlihat santai dan tidak menarik perhatian.
Mendengar ucapan Keri dia yakin AI itu tahu kondisinya yang tidak mungkin mengucapkan sembarang kata karena berada di dekat Lucifer. Namun, dia belum bisa menebak tujuan Keri membuatnya mendengar percakapan mereka.
Mungkin dia hanya ingin menghibur? tebak Aera yang berpikir Keri ingin menenangkannya agar tidak khawatir. Dia tersenyum memikirkan AI menyebalkan itu bisa bersikap manis padanya, mengingat sebelumnya mereka lebih sering berdebat dan saling memaki. Namun, seketika Aera tersadar ketika menyimak pembicaraan mereka.
Aera tahu di dalam tubuhnya sebuah nanobot yang entah Keri atau Aiwan yang bidik; memberi mereka informasi mengenai apapun yang bisa dilihatnya. Dia pernah membaca proposal mengenai pengembangan teknologi nanobot yang dipusatkan pada saraf optik. Itu menjadi project terakhir ibunya, yang dia tahu hingga kini belum usai karena lebih dulu meninggal dunia.
Aera mengangguk, ya, semua ilmuan milik Roschiil, itu ada dalam pasal perjanjian kerajaan dengan para shadow government. Aiwan ataupun Gian pernah membicarakan hal ini ketika mereka di Pare. Jika kini project nanobot itu telah rampung, bukan tidak mungkin karena proposal yang sama pasti telah jatuh di tangan Roschiil.
Fokusnya kembali ke inti pembicaraan tentang Roschiil. Aera berpikir mungkin Keri berharap bisa mendapatkan informasi mengenai ruangan tempatnya berada. Meski Aera agak sangsi terhadap spekulasi Keri yang menganggap mereka berada di dalam ruang kontrol, tetapi dia tetap berharap hal itu benar adanya.
Aera mengalihkan perhatian Roschiil dengan sindiran pedas. Dia menatap seisi ruangan yang memang memiliki desain unik. Seorang prajurit berjalan mendekati sisi kiri dinding. Menempelkan telapaknya kepermukaan dinding yang tidak rata Aera menatapnya setelah memastikan Roschiil menatap ke arah berbeda. Sang prajurit menekan sesuatu yang menempel di balik telinganya. Aera menduga itu adalah tombol kontrol smart optics, sekaligus menguatkan spekulasi Aera bahwa di situ ada akses virtual yang hanya dapat dilihat dengan smart optics.
Sudah kuduga! Desisnya dalam hati, ketika tangan sang Prajurit berpindah ke sisi lain dan langsung menarik permukaan dinding yang ternyata berfungsi sebagai pintu. Dia menarik dua lembar material berwarna hitam, menekan beberapa angka yang berada pada permukaan lalu meletakkannya sebelum semua berubah menjadi kursi yang nyaman untuk diduduki.
Aera mengangkat sebelah keningnya. Dia tidak terlalu takjub dengan teknologi kursi yang di simpan dalam bentuk lembaran kain hitam. Baginya tombol yang membuatnya berubah bentuk terlalu kuno.
"Heh, kau sedang mencibir kursi kebanggaanku?" Suara Roschiil cukup mengejutkan Aera. Manusia misterius itu terlalu menakutkan karena bisa membaca setiap gerak dan pikiran Aera. Kini dia khawatir, dalam tubuhnya pun terdapat nanobot yang memata-matainya.
"Ya, bagi seseorang sekelas denganmu, kursi itu terlalu kuno." Aera berusaha terlihat normal dan biasa.
Roschiil tergelak, "Aku pikir kau seseorang yang teguh, ternyata sedikit plin-plan. Bukankah sebelumnya menyangsikan statusku, tetapi kini kau mengakui kedudukan ku yang tinggi."
Kali ini Aera tertawa. Lebih tepatnya berusaha meniru tawa Roschiil yang justru terdengar mengejek. "Aku tahu anda sudah sepuh. Sekalipun teknologi bisa menghambat penuaan dan menjaga fisik tetap sehat bugar tetapi tidak bisa mencegah pikiran yang semakin lamban. Tadi aku jelas menyatakan status anda yang bukan anggota kerajaan dan tidak layak disebut Yang Mulia. Untuk kekuasaan aku sudah mengakui itu sejak awal. Anda hanya perlu tahu kekuasaan tidak berbanding lurus dengan kemuliaan. Anda mungkin berkuasa tapi tidak layak mendapat kemuliaan."
Aera terdiam ketika prajurit yang ada di sekitarnya memandangnya dengan tatapan hendak membunuh. Dia tahu ucapannya keterlaluan, tetapi semuanya adalah hal yang benar. Lagi pula tidak ada alasan baginya beramah tamah dengan seorang Lucifer. Dia bahkan sudah pasrah jika beberapa detik kemudian tubuhnya diseret ke dalam tahanan. Namun, dia menjadi bingung ketika Roschiil kembali tergelak.
"Kita semakin mirip dan itu membuatku semakin menyukaimu," tutur Roschiil, lalu tergelak lagi sambil mengatur posisi duduk yang nyaman agar bisa menonton pertunjukan. Namun, Aera merasa terganggu dengan kata "Suka" yang dia ucapkan. Dia menatap jijik punggung Roschiil.
Ke dua tangan sang tuan terlipat di dada. Punggungnya bersandar di kursi. Seketika cahaya ruangan berubah redup. Mereka seolah menonton pertunjukan dalam sebuah bioskop pribadi. Aera berdesis, mencemoh apa yang dia saksikan.
"Ini seperti konsultasi penggunaan teknologi dalam ruang pribadi. Aku tidak akan memberitahu jika tidak mendapat imbalan," tolak Aera.
"Sialan!" Gumam seorang prajurit yang langsung terdiam menatap sorot mata tuannya. "Tuan, tidakkah nona ini terlalu melewati batas?"
"Disebut melewati batas jika ada batasan yang memang diberlakukan dan sengaja dilanggar." Aera mengelak tanpa menatap sang Prajurit yang sudah terlalu kesal menatapnya. Dan lagi, Roschiil tergelak. Dia mengangguk.
"Ini bukan urusanmu. Khusus untuknya tidak ada batasan yang bisa mengekangnya," ucapnya lalu kembali tergelak. "Baiklah, karena tadi kau meminta upah. Jadi kau mau dibayar berapa untuk konsultasimu yang sangat berharga." sarkas Roschiil masih dengan tawanya yang mulai mereda.
"Jika begini aku percaya kau benar-benar penguasa, karena memiliki sisi bijak yang mengagumkan. Kalau begitu aku minta makanan."
Roschiil seolah tidak percaya dengan apa yang baru saja di dengarnya. Dia bahkan memalingkan pandangannya dari layar dan menatap Aera, "Makanan?" ulangnya sangsi. Aera mengangguk dengan ekspresinya yang datar.
"Saat di bawah ke sini aku belum sempat makan. Jadi aku minta makanan yang lezat tanpa racun atau kandungan nanobot di dalamnya."
Roschiil kembali tergelak. Kali ini dia bahkan sampai memegang perutnya. Aera menatapnya bingung, dia tidak percaya seorang Lucifer masih memiliki hasrat untuk tergelak bebas. Mungkinkah di depannya ini hanyalah Roschiil imitasi? jika begitu di mana Roschiil yang asli? tetapi mustahil pengawalnya sebanyak ini jika yang ada di hadapannya hanya sebuah replika yang di balut AI. Aera tidak ingin ambil pusing. Yang penting sekarang dia bisa segera mendapat makanannya.
"Baiklah, kau bisa meminta makanan apa yang kau inginkan." Roschiil akhirnya bisa menghentikan tawanya melihat tampilan di layar yang mulai menyorot para gladiator.
"Berikan Elektrolit, dan air mineral. Potongan buah dan pancake coklat."
"Kalian sudah memesannya?" tanyanya pada prajurit yang tadi bertugas mengambil kursi yang hanya di jawab dengan anggukan kepala.
Mereka mengirimkan pesan suaraku? Aera menatap sang Prajurit. Dia berharap orang itu kembali melakukan aksi seperti mencari kontrol virtual dan lainnya tetapi sayangnya hal itu tidak terjadi. Pada akhirnya dia benar yakin, mungkin saja ucapan Keri yang menyatakan mereka berada dalam ruang kendali pusat benar adanya.