Neitherland

Neitherland
48 : Kronis



Salut! (Hai!)


Kalau temen-temen beneran suka baca Neitherland dan ngerasa Neitherland adalah bacaan yang layak, tolong dukung dengan berikan ❤️, 👍, vote dan jangan lupa beri lima 🌟 nya yaa🙏😊🙏


Mersi. (terima kasih)




Serupa mantra yang ketika dilafalkan berulang-ulang efeknya akan mujarab. Gian kini melakukan hal yang sama. Otaknya terus mengingat teknik menembak yang benar. Mulai dari fokus mata dominannya, menyelaraskan posisi titik bidik, hingga menyugesti dirinya sendiri bahwa targetnya telah terkunci, sebelum akhirnya fokus; berharap bidikan ke dua tepat mengenai sasaran. Namun, belum sempat dia menarik pelatuk karena lafal mantra yang terlampau panjang. Bunyi tembakan lain terdengar dari arah berlawanan.



Gian berlari berpacu dengan jantungnya yang nyaris menggila ketika melihat sang prajurit terjatuh bersama Aera di sampingnya. Darah yang menggenangi lantai seolah menjadi belati yang mengiris hatinya. *Kumohon, jangan mati*! pekiknya ketika langkahnya semakin liar tetapi jarak seolah semakin menjauh.



\*\*\*



"Berapa jumlah prajurit yang harus dihadapi Morat?" tanya Aiwan sebelum puluhan tembakan menyerangnya.



"Tadi dia telah berhasil mengatasi sebelas prajurit di pintu masuk pertama. Tapi, karena dia menyerang mereka dengan desert eagle, yang ledakannya terasa ke dalam koloseum. Kini puluhan prajurit yang berjaga di pintu dalam koloseum berjalan keluar mengejarnya."



Saat itu pula tembakan itu menghujaninya. Aiwan yang merasa khawatir segera menyelesaikan semua dengan cepat. Dia menahan laju puluhan amunisi dan kembali melemparnya hingga meledakkan pistol dan penggunanya sendiri. Tidak ingin berlama-lama, Aiwan mengunci gerak para prajurit dan mengurung mereka di dalam Medan magnetik yang kuat.



Sang Mutan berlari lebih dekat menuju istana utama sebelum akhirnya berteleportasi tepat di samping Morat. Pria itu tengah kewalahan menghadapi tembakan dari berbagai arah. Melihat Aiwan berada di sampingnya sedikit membuatnya merasa lega. Namun, belum sempat Aiwan melakukan serangan balik suara Keri kembali bergema.



"Cepat pegang Morat, aku akan membawa kalian ke dekat Aera."



Di saat bunyi tembakan masih terus terdengar saling sahut dari dua kubu yang sama. Aiwan langsung merengkuh bahu Morat. Dalam sekejap mereka berada di sebuah koridor yang lantai, dinding bahkan langit-langitnya tampak serupa.



*Dooorrr* !



Bunyi tembakan menyambut mereka. Aiwan dan Morat saling pandang. Mereka mengintip di ujung koridor dan melihat Aera tengah tercekik di antara lengan besi sang prajurit. Kedua tangan gadis itu terangkat. Darah segar menutupi telapaknya. Aiwan teperanjat. Namun, ketika dia hendak meledakkan sang prajurit dengan sinar gammanya. Lebih dulu Morat mengangkat senapannya dan menembak tepat di antara ke dua mata sang prajurit.



Aiwan kembali memegang bahu Morat. Dalam sekejap mereka berada di hadapan Aera. Gadis itu tampak memucat. Dia kehilangan banyak darah. Kulitnya yang putih kini tampak seperti kapas--tanpa aliran darah.



Dengan cepat Morat meluruskan tubuhnya, merobek bajunya hinggah menampakkan baju dalamnya yang tadinya putih berubah warnah menjadi merah. Sebuah sobekan terlihat di bagian perut bawah kiri.



"Kau bisa melihat posisi pelurunya?" tanya Morat mencoba untuk tenang.



Aiwan melihat tangan pria itu telah gemetaran. Entah karena lelah atau karena takut dan emosi berlebih.



"*huuftt*, Ba-bagaimana kondisinya? *huft*, dia baik-baik saja 'kan?" Gian yang masih terengah-engah segera membungkuk menatap Aera.



Bunyi nafasnya yang saling berkejaran sedikit mengganggu fokus Aiwan. Sekalipun berusaha tenang Aiwan tidak bisa menyembunyikan rasa khawatirnya ketika melihat peluru menyobek hati Aera. Dia segera berjongkok di depan Morat. Matanya fokus pada luka tembak yang menembus hinggah ke hati. Tangan Morat yang mencoba menekan pendarahannya kini tampak basah oleh darah.




"Dia bunuh diri?" tanya seorang di antara mereka setelah mendekat.



"Jika kau tidak mampu membeli chip, setidaknya kau harus menggunakan otakmu. Jika bunuh diri, luka tembaknya pasti berada di pelipis kanan. Lihat, lukanya berada di depan bisa dipastikan dia diserang."



"Jadi mitos yang mengatakan penyerangan di malam ritual itu benar?"



"*Cih*, jika benar itu bukan mitos! Pasti kau bisa masuk ke sini karena uang!" Sarkas prajurit satunya karena terlalu sebal menanggapi kebodohan temannya. Ke dua prajurit itu masih terus berdebat hingga tiba di pos jaga dan melapor pada atasannya.



\*\*\*


Aera merasa tubuhnya di angkat oleh Morat, Dia juga masih bisa melihat Aiwan mengancam beberapa dokter bahkan telah membunuh salah satu di antaranya dengan cahaya biru dari jarinya. Tiga dokter yang ketakutan dengan segera menghampirinya. Sengaja Aera tidak berbicara karena dia tahu luka tembaknya sangat fatal. Kini pendengarannya mulai menurun. Penglihatannya terkadang normal terkadang buram. Dia merasa hidupnya berada di ujung tanduk. Sebelum akhirnya dia terpikir sebuah teknologi penyembuhan yang berharap bisa dia dapatkan.



"Jika dia tidak selamat, kalian semua akan mati!" Suara terakhir yang bisa Aera tangkap sebelum kesadarannya benar-benar menghilang.



\*\*\*



"Kalian semua minggir biar aku yang menanganinya." Seorang dokter cantik tiba-tiba masuk dan menyiapkan segalanya.



"Jangan khawatir, dia adalah AI medis terbaik spesialis bedah dan penyakit dalam." Suara Keri kembali bergema.



"AI? Apa kita bisa percaya padanya?" Aiwan sangsi. Dia paling tahu AI adalah spasies paling loyal pada tuannya.



"Aku masuk dalam sistem, jadi serahkan padaku. Saat ini tugas kalian harusnya menghentikan ritual setan itu jika tidak, Ratu mungkin akan berakhir di atas altar terkutuk." Aiwan menengadah, purnama nyaris sempurna.



Dia menatap Gian, tatapannya tampak kosong. Dia pasti sedang bingung dan merasa bersalah.



"Baiklah, aku percayakan Aera padamu. Dia menepuk bahu Morat. Kita akan menerobos kuil, kau siap?"



Morat yang sejak tadi menyimak perkataan Keri sepertinya mulai paham siapa yang berbicara padanya. Sedikit ragu dia mengangguk lalu menatap pintu, di mana Aera tengah di operasi oleh AI terbaik Neitherland.



"Jangan khawatir, dia pasti selamat." ucap Aiwan lebih pada dirinya sendiri.



Dia menarik sebuah senjata dari kantong celana Morat dan memberikannya pada Gian.



"Tembak mereka jika membawa kabar buruk."