
Hari yang di nanti telah tiba. Tepat pukul sembilan pagi tadi, acara pelantikan presiden pertama Neitherland Selatan disiarkan secara langsung. Kini, berlanjut dengan perayaan peralihan kekaisaran NS menuju pemerintahan republik federal semipresidensial bersistem multi partai. Tamu undangan berasal dari para pejabat pemerintahan di masa kekaisaran, Raja dan Ratu NU, bangsawan, artis terkenal dan tentunya para ilmuan Kuantum Fox.
Gaun hitam selutut karya desainer ternama, melekat indah di tubuh Aera. Neck line bergaya drape neck dengan aksen lipid yang membuatnya tampil seksi dan memukau menarik pandangan siapapun yang berada disekitarnya. Antonius bahkan sempat bersiul sebelum meninggalkan apartemen.
Sebelumnya Aera tidak pernah menggunakan high heels, tetapi demi kesempurnaan penampilannya dia tidak keberatan menggunakan heels 20 cm dan itu bukanlah sesuatu yang sulit baginya. Clutch bag limited edition berada dalam genggamannya., membuatnya tampak serupa maha karya paling sempurna yang keluar dari sebuah lukisan ternama.
Ries menyempurnakan tampilan Aera dengan sapuan make up look. Tidak lupa tatanan rambut sampingnya ditarik kebelakang, bagian bawah dibuat curly ditambah highlight pada bagian tertentu. Dilengkapi aksesoris berupa anting berlian yang menjuntai hingga nyaris menyentuh bahu putihnya. Sejak dulu Aera memang selalu tampil percaya diri, begitupun hari ini. Bedanya, jika dulu wajahnya datar bahkan dingin seolah membuat orang yang memandang menjadi beku, saat ini wajah cantiknya dihiasi senyum indah yang sulit diabaikan.
"Alfa Romeo, kendalikan nafsumu. Atur jarak dalam batas wajar," suara Ries bergema dalam kepalanya. Aera mendengus, mengapa panggilan akhirnya harus dengan nama Romeo? Nama pria yang paling dibencinya karena menjadi budak cinta. Ah, tampaknya Ries memiliki dendam padanya, jika tidak dia tidak akan mengusiknya dengan nama panggilan paling menggelikan seperti itu.
Aera hanya berdehem lalu berbalik. Pasti gadis itu melihat aksi Aera yang memilih duduk di bangku ke dua dari depan tepat di hadapan podium. Aera kembali tersenyum, kali ini kepada anak para mentri duduk dibarisan ke dua menatapnya memuja. Seiring senyumnya yang makin melebar, matanya berkedip perlahan. Kepalanya berputar kebelakang, seolah mencari kursi kosong, beberapa artis papan atas yang duduk di baris ke empat seketika melambai dan memberinya tempat duduk.
Aera kembali tersenyum ramah, matanya kembali terpejam. Seolah senyumnya benar-benar membuat matanya tertutup. Padahal semua itu hanyalah kamuflase untuk menutupi gerakan mengaktifkan lensa optiknya dan tidak terdeteksi oleh IA yang sejak tadi berkeliling mendeteksi gelagat mencurigakan. Hal yang menjadi alasan mengapa lensa supernya tidak langsung di aktifkan, demi bisa melewati pemeriksaan ketat sebelum memasuki aula istana.
Aera memilih duduk di baris bangku keempat. Deret para ilmuan berada. Selain beberapa petinggi termasuk Prof. Scott, yang saat ini telah menjabat sebagai direktur KF. Pria botak itu duduk di baris terdepan bersama jajaran para Mentri.
"Kerja bagus Alfa omega," puji Ries sesaat ketika belakangnya telah bersandar nyaman di sebuah kursi hangat. Dia kembali memanggil sesuka hati. "Wah, akhirnya tiba juga masanya aku mengontrol pergerakan seorang Alfa." Kemudian Ries tertawa jahat.
Tawa yang membuat Aera berdecak tetapi membuatnya tergelitik geli. Seorang Alfa. yang benar saja! apa dia berpikir sedang berada di dunia serigala.
***
Di menara Istana Wazner yang jaraknya kurang 200 meter dari aula. Yuuko telah menyelesaikan semua penjaga dengan cara paling cantik. Kini dia menyiapkan dua Laras panjang miliknya ke arah berbeda satu ke tempat presiden nantinya akan berdiri dan berpidato dan satunya ke arah Dimitry Fredkov.
"Clear," ucapnya seraya merunduk membenahi arah senapannya. Misi mereka kali ini memang untuk memberantas semua hama. Dua nyawa anjing Roschiil tidak berarti apa-apa jika dibandingkan dengan hajat hidup ribuan orang yang ada di NS.
***
Antonius sedang asyik menghabiskan susu botolnya ketika beberapa penjaga lainnya datang dan nyaris mematahkan leher Moana.
"Sialan! susuku yang berharga terpaksa menjadi korban," sesalnya setelah mengubah sifat susu ke bentuk gas membuat semua penjaga yang terkena seketika tewas dengan kulit melepuh. Moana menatapnya datar. Dia bahkan tidak tahu harus kesal karena sejak tadi Antonius terlalu santai, atau mengucap terima kasih karena telah menolongnya. Namun, sebelum Moana memutuskan melakukan apa, Antonius kembali buka suara.
"Ya, sama-sama sudah kewajibanku menolongmu." Dia berlalu dengan langkah pasti menelusuri koridor bernuansa platinum. Semakin panjang jalan yang mereka lewati semakin sempit diameter koridornya. Antonius yang tahu kondisi di sini telah menyiapkan sepatu berbahan karet dengan teknologi mutakhir. Tidak hanya aman bagi mereka karena menjaga agar tetap hening dan nyaris tanpa suara selain deru napas mereka sendiri. Sepatu yang mereka gunakan pun mampu mencengkram dinding, plafon sekaligus melewati air dan api.
Antonius tersenyum lebar ketika mereka berhasil menghindari puluhan pisau yang menyerang karena adanya sensor suara. Sedangkan Moana langsung menatapnya lekat seolah berkata, jangan berani mengulang tingkah konyolmu! alih-alih mengangguk patuh Antonius justru mengindik dengan cara menyebalkan.
***
Beralih ke istana mewah milik Roschiil.
Berkat bantuan Ries, Morat dan Stego kini berhasil masuk ke dalam Istana sang Apophis Modern. Dua penjaga berbaju zirah lengkap telah berhasil mereka bius dan kini dipasangi topeng wajah mereka. Selanjutnya mereka berjalan terus mencari ruang pribadi sang Apophis berharap dapat menemukan potongan The Art lainnya.
***
Sedangkan di Mansion Tuan Piller, semua berjalan terlalu tenang, terlalu biasa, dan terlalu damai seperti hari-hari sebelumnya. Semua pelayan dan IA pembersih hilir mudik dengan teratur seolah tidak ada yang terjadi. Tidak satupun dari mereka menyadari kehadiran seorang penyusup di sana.
Sejak tadi Aiwan terus berteleportasi dari satu ruangan ke ruangan lainnya. Para penghuni rumah termasuk tuan Piller sedang menghadiri acara perayaan presiden pertama NS. Hanya ada pelayan dan beberapa prajurit pribadi yang bertugas menjaga mansion.
Aiwan tiba di sebuah ruang rahasia berukuran dua kali tiga. Sebuah brangkas raksasa terpampang jelas dihadapannya. Aiwan menajamkan penglihatannya. Mencoba fokus menembus lapisan baja bercampur besi dan tembaga yang tidak akan hancur walau di terjang nuklir dan tidak akan cair walau dibakar api. Material istimewa dan kuat yang tentu untuk menyimpan sesuatu yang sangat berharga.
Aiwan tersenyum menyadari material brangkas yang ada dihadapannya. Matanya terpejam lalu kembali terbuka. Sorot tajamnya mengarah pada brangkas. Perlahan, lapisan-lapisan tebal itu seolah berlari dan menjauh hingga akhirnya membawa pandangannya ke dalam ruang redup berwarna merah. Sebuah benda berbentuk oval tergeletak manja di atas sebuah bantal kecil. Aiwan terus menatap tanpa berkedip.
Detik berikutnya bagian permukaan benda itu seolah bergerak. Aiwan yang menyadari perubahan massa ruang karena sebuah gerakan kembali menatap fokus. Namun, sial dia seketika melonjak dan membentur dinding belakang hingga melahirkan kegaduhan dan menyalahkan alarm, ketika benda berbentuk oval itu terbuka dan menatapnya tajam. Itu sebuah mata, the eye!
Sebelum dia tersadar, para prajurit telah mengepungnya di luar ruangan dan mencoba menerobos masuk. Dengan santai Aiwan menghancurkan bagian brangkas dengan laser.
"Cobalah, kau percaya padaku 'kan?" ucapan Aera yang meyakinkan dirinya untuk bisa menggunakan tembakan laser sekalipun tanpa kehadiran Keri. Setengah percaya, dia melakukannya dan terkejut ketika bagian brangkas itu benar hancur dan menampilkan The Eye, yang menatapnya tanpa berkedip.
Aiwan menutupnya dengan sebuah sutra yang menjadi alas bantal lalu berniat pergi dengan berteleportasi seiring suara gaduh dari arah luar semakin menjadi. Namun, hak tak terduga kembali terjadi. Tadi dia bahkan bisa mengeluarkan tembakan laser tanpa kehadiran Keri, tetapi mengapa sekarang dia tidak bisa berteleportasi? sesuatu yang bisa dia lakukan sendiri di saat genting justru gagal.
"Cepat, cepat! ada penyusup di dalam ruang brangkas Tuan!"
Aiwan tersentak, bahkan kini suara mereka terdengar jelas dari dalam, hanya menunggu hitungan detik dia akan tertangkap. Sekali lagi, dia mencoba fokus dengan menutup mata. Hingga tidak menyadari The Eye yang berada dalam genggamannya mengeluarkan cahaya merah. Matanya terbuka, teleportasinya gagal. Pintu ruang brangkas didobrak, para prajurit menyerbu masuk sambil menodongkan Laras panjang. Aiwan mengembus gusar.