
Morat menatap lurus ke depan. Dia mencoba bersikap setenang mungkin. Saat pintu dibuka ketegangannya sedikit memudar. Roschiil—sang Tuan tengah berhadapan dengan Pangeran Ephraim.
Sesaat keterkejutan melintas di mata Pangeran ketika melihat Morat memasuki ruangan. Sejurus kemudian dia tersenyum licik.
“Kau menjaga Gian atau justru memata-matainya?” sindirnya menatap Morat.
Roschiil menyeringai. Dia menyukai keberanian Ephraim. Sejak dulu Morat tahu keunggulan Ephraim, dia hanya tidak tahu mengapa Ephraim terus bertahan di balik punggung kakaknya yang tidak bisa melakukan apa-apa—Pangeran Ibrael.
“Tergantung perintah,” tegas Morat.
“Bagaimana jika sekarang kau memata-matainya. Sebentar lagi dia tidak akan berguna. Bukankah begitu Tuan?”
Roschiil mengindik, “Berguna atau tidak aku yang putuskan.”
“Aku kira kau setuju dengan penawaranku?” Morat mengagumi sikap tenang yang ditunjukkan Ephraim saat berhadapan dengan Roschiil. Sebuah sikap yang mungkin tidak akan dimiliki Gian.
Sekalipun tahu, Roschiil lebih memilih Gian, dengan percaya diri dia datang memberi penawaran, sayang Morat hadir terlambat. Dia tidak tahu penawaran seperti apa yang disuguhkannya.
“Harusnya kau tahu, itu bukan segalanya untukku,” sanggah Roschiil.
Morat menyeringai—tipis. Dia tahu Roschiil terlalu tamak untuk Ephraim yang perhitungan.
“Sayang sekali, padahal aku ingin memberikan informasi mengenai the Art sebagai hadiahnya—jika saja kau setuju.” Ephraim berlagak kecewa, tetapi dia tahu, Morat yang merasa tak tenang pun tahu. Pangeran Ephraim akan mendapatkan keinginannya.
The Art, adalah alasan Roschiil mewujudkan rencana gilanya, tentang agenda pemusnahan massal 2025 lewat perang dunia ke tiga, tentang menyatukan semua ras manusia dengan kualitas gen terbaik di Neitherland, dan tentang menciptakan dunia sesuai keinginan kekasihnya. Ya, pada akhirnya semesta mengaminkan semuanya kecuali penemuan the Art.
**
Dering telepon menginterupsi rasa penasaran Morat. Stego menatap smartwatch-nya. Sekilas melirik Morat yang tengah berusaha menahan pertanyaan selanjutnya.
Sembari menghela nafas, Stego menerima panggilan tersebut. Sebuah layar hologram muncul di hadapannya. Morat dapat melihat dari belakang, hologram humanoid wanita itu bergoyang seumpama orang yang sedang berpidato.
“Baiklah,” ujar Stego datar. “Ok,” tandasnya sebelum hologram humanoid tersebut melebur bersama angin malam.
Saat itu pula, dobrakan pintu dari luar menyentak rasa penasaran Morat. Dia berbalik dan menemukan 3 buah AI keamanan, menerobos masuk.
Ke dua matanya memindai informasi.
“Morat. Pelayan setia tuan. Kondisi, dalam masa transisi. Menyembunyikan fakta yang harusnya diungkapkan dan menanam benih pengkhianatan pada tuan. Solusi, Butuh riset memory dan program.” Suara khas robotik menggema dalam ruangan. Sebelum Morat sempat bereaksi, sebuah sinar merah dilesakkan tepat di antara ke dua matanya. Morat jatuh tak sadarkan diri.
**
AI keamanan kembali memindai Stego, “Stego, detektif swasta yang bekerja sebagai mata dan telinga bagi tuan. Kondisi normal dan baik.”
Dua AI lainnya telah mengantongi tubuh Morat mengangkutnya menuju LAB. Sedangkan yang satu sibuk memeriksa ruang kerja Stego. Setelah memastikan semua baik-baik saja, barulah Stego mendapat privasi dan menenangkan diri.
Sorotnya setajam silet yang seolah mampu merusak kamera pembaca pikiran—kamera yang bisa menggambarkan keinginan seseorang, lewat gambar yang tertangkap dari retinanya.
“Aku tidak akan bisa kau baca seenaknya layaknya majalah yang menemani gelas kopimu hingga akhir. Mungkin nanti, kau bisa membacaku—ketika waktumu berakhir,” batinnya penuh amarah.
Duplikat USB kembali ditukarnya. Informasi berupa ingatan Morat yang melihat Aera mendatangi rumah Cyma dengan cara berteleportasi, serta informasi yang menyuruh Gian bersembunyi. Sebelum tombol on kembali ditekan. USB itu lebih dulu disematkan dalam kantong jaketnya.
**
“Sekalipun di sini, sepertinya masalah kerajaan tidak benar-benar luput dari ingatanmu,” cecar Aera, menghampiri Gian yang tengah duduk di atas bebatuan. Suara ombak yang memukul bagian bawah bebatuan terdengar bagai alunan musik alam.
Gian berbalik, senyumnya tersungging. pandangannya kembali ke arah birunya ombak yang bergulung. Menerawang jauh hingga ujung laut lepas. “Aku merasa sebagai pengecut. Bukankah seharusnya aku tidak boleh lari?”
“Jika begitu, kau akan menjadi orang bodoh yang dengan tololnya menyerahkan nyawamu tanpa perlawanan apapun,” sanggah Aera. Bokongnya didaratkan tepat di sebelah Gian.
Gian menatapnya, “Eh, sepertinya tidak sampai di situ.” Aera tampak berpikir. Ke dua alisnya berkerut, nyaris menyatu. “Bisa jadi mereka pun akan melimpahkan semua kesalahan padamu. Semua sampah dan penyakit pemerintah akan dijatuhkan ke pangkuanmu, seolah kau yang harus bertanggung jawab. Kematianmu diiringi kutukan dan cemohan dari seluruh rakyat Neitherland. Begitukah keinginanmu?”
Pandangan mereka bertemu, membuat Gian tersadar dan sedikit salah tingkah.
“Ya, mungkin akan seperti itu ....” Gian menerawang, “Tapi lari sejauh ini tidak menyelesaikan apapun. Entahlah.” Gian menangkup wajahnya, memejam lama dan menghela nafas frustasi.
Usai badai berlalu, mereka kembali ke Neitherland. Namun, bukan ke rumah Aera atau Istana tetapi ke rumah Cyma. Awalnya mereka baik-baik saja, Aera bahkan berencana kembali ke apartemennya. Sebelum Gian disergap dalam perjalanan. Bersyukur Morat tiba lebih cepat, dan memberi kabar—Aiwan segera datang menyelamatkan Gian yang tertembak di lengan kirinya sebelum tubuhnya hendak di masukkan ke dalam mobil yang remnya sengaja di tiadakan.
Percobaan pembunuhan Gian yang transparan, telah menunjukkan keberpihakan Roschiil berada di kubu mana. Hal itu membuat Gian semakin terpuruk dan tenggelam dalam ketakutan. Sejak kakaknya meninggal dalam upaya kudeta yang juga melibatkan Roschiil, kehidupan normal Gian seketika terenggut dan terganti dengan segala tekanan yang dibalut ketakutan terhadap kekuasaan Roschiil.
Mendengar kisah hidup Gian yang memprihatinkan membuat Aera semakin merasa bersalah atas semua sikap buruknya dahulu kala. Namun, Aera yang tidak mengerti sedikit pun mengenai politik masih tidak dapat memahami, mengapa keluarga kerajaan yang punya kekuasaan dan disebut sebagai pemilik Neitherland bisa terintimidasi oleh sosok Roschiil?
Siapa sebenarnya Roschiil yang pengaruhnya jauh lebih hebat dibanding raja? Jika dia sekuat yang diceritakan Gian, lantas mengapa bukan dia saja yang menjadi raja? Dan, mengapa menjadi raja jika tidak bisa menaklukkan satu orang yang berkuasa tapi justru mengorbankan kesejahteraan jutaan nyawa rakyat yang bergantung di bawah kuasa kerajaan? Jadi sebenarnya, apa makna raja jika tanpa kekuasaan?
Sayang semua pertanyaan itu, hanya bisa Aera telan bulat-bulat. Seperti pil pahit yang enggan masuk, menanti jawaban sesegera mungkin. Karena, kondisi Gian yang jauh dari kata baik hanya butuh support bukan pertanyaan yang menyudutkan seperti itu.
Aera memeluk pundaknya, “Tenanglah, ada kami bersamamu,” pungkasnya meyakinkan. Berharap Gian menjadi lebih kuat. “Apa kau lupa, kita punya Aiwan, manusia abadi itu, jika tidak bisa mengalahkan Roschiil kita bisa mengutuknya menjadi beruang kutub.”
Mereka tergelak bersama. Gian kembali menatap Aera.
“Ra, aku mengatakan ini karena aku peduli padamu ....”
Aera yang tengah menatap laut biru—berpaling. Mereka saling tatap.
“Jangan mencintai Aiwan. Baginya kau hanyalah keturunan dari wanita yang dia cintai.”
Aera meneguk salivanya, yang entah mengapa terasa lebih pahit. Dia tersenyum kecut, lalu bergumam, “Kau menyebalkan!”
**