
Bagi Aiwan ini bukan pertemuan pertamanya bersama pria tampan berbadan bongsor dengan mata dan hidung menjulang. Namun, mungkin bagi pria itu, moment ini merupakan pertemuan pertama mereka. Karena saat itu penampilan Aiwan serupa humanoid.
Aiwan membungkuk memberi salam, sebuah pesan virtual yang tampil ketika suntikan dari robot medis tadi menarik semua kekuatan yang Keri salurkan lewat neuron. Membuatnya harus bisa menampilkan permainan terbaik. Terbayang wajah Aera dan Gian yang tengah di sodorkan pistor. Senjata itu siap meledak ketika dia menolak menampilkan atraksi hebatnya. Menyebalkan memang, tetapi dia tidak bisa menolak dan membahayakan Aera ataupun Gian.
Aiwan mengerutkan dahinya ketika merasakan tatapan Morat serasa dalam. Seolah bercerita tentang kerinduan, kebencian dan semua hal seharusnya tidak pernah ada. Saat ini, kemampuan lensa optiknya yang terhubung menuju big data; tidak dapat diaktifkan. Namun, jauh sebelum hari ini. Tepatnya ketika Gian diserang di suatu malam, dia bisa membaca riwayat Morat sebagai kepala asisten di istana Gian. Dia yang bertanggung jawab atas apapun yang terjadi pada Gian.
Bukankah hal itu jelas menunjukkan mereka tidak memiliki hubungan apapun? Jadi, maksud tatapan Morat itu apa?
***
Lycée Emile Jacqmain, 26 Agustus 2023
Brussel, Belgia.
Sebuah limousine membelah belliardstraat. Langit Belgia tampak berawan tetapi sedikit cerah. Samar-samar bulan menggantung indah di atas sana. Setelah beramah taman dengan para penjaga gerbang yang menjulang nyaris dua meter, Ezra pun diizinkan masuk ke kawasan loepard quarter.
Taman-taman kecil yang tertata rapi di hiasi beberapa pohon langka dengan siraman lampu taman menambah nilai klasik wilayah Lycée Emile Jacqmain. Sebuah gedung bersejarah yang dulunya bekas institut fisiologi Solvay. Ezra menghentikan mobil pinjaman Dubes Israel di area parkir. Dia turun dan berjalan ke arah gedung diadakannya Konferensi Solvay Fisika ke 29.
" aku akan mengikuti Konferensi Solvay Fisika ke 29!" pekik girang suara Zerah dari seberang telepon membuat Ezra tersenyum manis. "Luar biasanya lagi, kali ini konferensinya akan diadakan di Lycée Emile Jacqmain, itu adalah tempat yang sama diadakannya Konferensi Solvay ke lima, dihadiri Einstein dan Niels Bohr dengan subjek Elektron dan Foton. Ini sungguh hal luar biasa!" Zerah terus bercerita tanpa henti, dia terdengar sangat antusias hingga sesekali nafasnya tersengal.
"Hebat, mungkin kedepannya namamu akan menyaingi kepopuleran ilmuan kondang itu," goda Ezra yang ditanggapi gelak bahagia Zerah.
"Aku berharap seperti itu," dia kembali tergelak. Tampaknya suasana hatinya benar-benar bagus, atau mungkin konferensi ini benar-benar hal yang luar biasa baginya. Karena Ezra paling tahu gadis remaja yang masuk dalam deretan orang jenius sedunia itu, paling sulit menemukan hal yang membuatnya tersenyum terlebih tergelak seperti saat ini.
"Jadi, kapan kau akan berangkat ke sana?"
"Tanggal 24 nanti."
Ezra melirik arlojinya, "Minggu depan?" tanyanya memastikan.
"Iya! tapi saat ini aku sudah berdebar-bedar."
Ezra tergelak, jika saja dia berada di Tel Aviv, tentu dia telah menculik gadis itu dan membawanya ke sebuah kedai es krim.
"Jika kau di sana sampai tanggal 26, kita bisa bertemu dan aku akan membawamu berkeliling Brussel," Ezra teringat latihan bersama dengan 20 negara PBB yang juga diadakan di Brussel.
"Benarkah? kami akan membahas mengenai radiasi dan ruang kuantum, sepertinya akan berlangsung hingga tanggal 29 karena dihadiri dari tiga disiplin ilmu berbeda. Fisika, kimia dan biologi jadi dipastikan konferensi kali ini akan menjadi hal luar biasa dan menguras energi, jika bisa diajak berkeliling tentu itu hal yang baik."
Ezra mengembuskan napasnya perlahan. Jika Zerah tahu konferensi itu merupakan salah satu langkah mempersiapkan perang dunia ke tiga, mungkinkah dia masih sebahagia ini?
"Baiklah kalau begitu sampai jumpa di sana, kirimkan rundown acaranya agar aku bisa datang saat sedang break."
"Ok bos, sampai nanti."
"Bonne nuit," sapanya pada pria tambun yang sibuk mengotak atik tabletnya. Namun, niatnya bertanya segera menguap saat sebuah suara merdu menyapanya antusias.
"Salut!"
Ezra segera mengangkat kepalanya yang sedikit merunduk. Pandangannya tertubruk pada wanita cantik bermata hijau dengan rambut pirang sebahu. Alexandra Lorphelin. Dokter spesialis penyakit dalam yang ikut serta sebagai relawan dalam perang Israel dan Gaza. Wanita itu langsung merengkuhnya dan memberi kecupan di pipi kanan dan kirinya.
"Comment vas-tu Alexa?" tanya Ezra setelah berhasil menguasai keterkejutannya; bertemu dengan seseorang yang juga dikenalnya selain Zerah di negara asing cukup membuatnya hilang kendali. Terakhir kali mereka bertemu adalah dua tahun yang lalu karena ibu Alexa meninggal dunia setelah dinyatakan positif covid-19. Sejak saat itu Alexa kembali ke Paris--negara kelahirannya.
"Ca va bien," jawab Alexa mengangkat tangannya hingga pinggang seolah menunjukkan dia benar-benar dalam keadaan baik.
"Je suis heureuse de I'entendre." Ezra tersenyum manis dan membuat sang Dokter tersipu. Seorang teman yang berjalan disampingnya berbisik sesuatu yang membuatnya meririk jam lalu menjerit.
"Oh, non ! Il faut que j'y aille." Alexa menepuk jidadnya dan segera menyusul temannya yang lebih dulu pergi. Dia berbalik; berjalan mundur, "Au fait, quand j’étais à la bibliothèque, j’ai rencontré Zerah. Il était en train d'attendre son ami qui priait.
Si tu veux , tu pourrais t'asseoir là en l'attendant." Suara Alexa kian membesar seiring langkahnya yang kian menjauh. Telunjuknya mengarah pada bangku yang berjajar di samping pria berseragam hitam yang sejak tadi sibuk dengan tabletnya.
"Merci!" sahut Ezra setengah berteriak yang hanya dibalas oleh lambaian tangan. Tampaknya dia benar terburu-buru. Pria itu memutuskan mengikuti saran Alexa untuk duduk sembari menunggu Zerah keluar.
Kurang dari lima menit yang ditunggu akhirnya tiba. Namun, gadis itu tidak menyadari kehadiran Ezra. Dia memang datang tanpa menelpon karena handphone Zerah sejak sore sulit dihubungi. Morat yakin gadis itu sedang tidak membawa gawainya, hal yang sering terjadi karena sesuatu yang sangat mainstream pada seorang Zerah; lupa. Pandangannya lurus ke arah gerbang dan sesekali memandangi temannya yang sibuk bercerita.
Baru saja Ezra hendak memanggil Zerah, ketika gadis itu justru tersenyum manis dan melambai ke arah parkiran. Ezra mengikuti arah pandang Zerah. Perasaan aneh mengusik hatinya, perasaan itu semakin berkecamuk ketika sang pria semakin jelas mendekat, menghampiri Zerah dan temannya yang berhijab lalu merangkul gadis itu dengan mesra.
"Zerah!" pelukan mereka terurai. Zerah celingak-celinguk mencari sumber suara yang sangat dikenalinya. Sejurus kemudian pandangan mereka bertemu.
"Ezra!" pekiknya sumringah dan berlari memeluk pria itu. "Wah, sudah sangat lama, aku merindukanmu," gumamnya dalam pelukan Ezra.
Mendengar ucapan Zerah pria itu tersipu, senyumannya melebar. Namun, dia kembali terkejut ketika menyadari pria yang tadi memeluk Zerah adalah Aiwan. Seorang prajurit AU dari Indonesia yang kamarnya bersebelahan dengan dirinya.
"Ezra! jadi kau juga mengenal Zerah?" tanya Aiwan dengan wajah bingung, tetapi di mata Ezra pria itu jelas cemburu padanya. Zerah mengurai pelukannya tetapi tetap menggandeng tangan Ezra. Seperti anak kecil yang takut terlepas dari ibunya di tengah keramaian pasar.
"Bukan hanya kenal, tapi dia ini sudah seperti kakakku," tutur Zerah yang membuat Ezra kembali tersipu. "Oh, jangan-jangan kalian di sini dalam acara yang sama? menakjubkan! Aiwan kenalkan dia saudaraku. Dan, Ezra dia Aiwan."
"Aku tahu, kamarnya tepat di sebelahku."
"Ya, bahkan pagi tadi kita sarapan bersama," Aiwan menimpali, senyumnya masih setia bersemi.
"Baguslah kalau begitu, kalian harus lebih dekat bagaimana kalau kita lanjutkan dengan makan malam bersama?" tawar Zerah.
Sebenarnya Ezra jelas menolak ide konyol itu. Dia hanya ingin berdua dan tidak ingin diganggu. Namun, melihat wajah kecewa Aiwan dia akhirnya setuju. menyenangkan melihat pria itu kesal.
"Oh, ya, kenalkan ini kembaranku namanya Zahro." Aera melepas genggaman tangannya di lengan Ezra dan beralih memeluk tangan Zahro. Wanita berhijab itu terlihat tidak nyaman dan menolak berjabat tangan. Ezra tahu dia pasti wanita religius. Setidaknya perasaannya lega karena Zerah mendapat teman yang baik.