
“Kau sudah menemukan orang yang tepat?” tanya Roschiil pada pelayan pribadinya. Tatapannya tertuju pada layar yang menunjukkan proses operasi bagian kepala Morat. Sebuah chip dimasukkan ke kepala bagian belakangnya—alat mata-mata dan pengendali tubuh prajurit yang berada di pihaknya.
Sang pelayan—Abil, melirik pergelangan tangannya, “Sudah tuan, mungkin dia telah tiba di bawah,” jelasnya gemulai dengan tingkat sopan santun yang membuat Roschiil mengerutkan dahi, walau sebenarnya sikap itu selalu Abil tunjukkan sejak resmi melayaninya, tepatnya sejak lima bulan yang lalu.
Roschiil mengangguk, merasa puas pada kinerja Abil yang ternyata bisa menjalankan tugas dengan baik.“ Suruh dia ke ruanganku sekarang juga.” Dengan cekatan Abil menelepon dan berlari menyusul Roschiil yang telah berjalan menuju ruangannya.
“Selamat siang menjelang sore sebelum malam,” sapa pria bersetelan aneh saat berdiri di hadapan Roschiil. Dia menyengir terlalu lebar hingga gusinya yang berwarna pink menyembul bersama giginya yang tertata rapi. “Perkenalkan nama saya Aserka, akronim dari Asia Eropa dan Afrika. Karena orang tua saya berasal dari ke tiga benua itu,” jelasnya dengan senyuman yang sama.
“Ibunya terkenal di kalangan pejabat dan menjadi 'gadis panggilan' terpopuler sepanjang sejarah Neitherland,” bisik Abil dari belakang.
“Mengingat semua benua itu kini telah tiada, ada yang terpecah belah seperti hati saat ditinggal kekasih. Ada pula yang hilang tenggelam ke dasar lautan dan tidak pernah muncul lagi, tapi sebagian besar justru menjadi bagian Neitherland yang luar biasa ini. Maka, tuan bisa memanggilku dengan nama Ries, dari kata ‘me-mo-ri-es’.”
Roschiil memijat keningnya, dengan gigi bergeretak dia bergumam, “Ini menurutmu yang terbaik?”
“Aku sudah pastikan, dia yang memiliki IQ tertinggi di Neitherland. Saat tes IQ untuk para pelajar, robot IQ sampai rusak karena tidak menemukan nilai yang cocok untuk IQ-nya.” Abil meyakinkan dengan mata berbinar.
Roschiil menghela nafas panjang. “Baiklah, karena sudah di sini cepat selesaikan tugasmu. Tapi kau tahu konsekuensi yang akan kau hadapi jika ternyata kau tidak mampu memecahkan persoalan yang dibebankan padamu?” tanya Roschiil mengintimidasi.
Ries justru mengedipkan sebelah matanya, dan membuat Roschiil membeliak dengan ke dua alis mengerut. “Jangan khawatir, Ries akan mengatasi masalah tanpa masalah.” Ke dua jempolnya terangkat dan menari-nari.
Abil membalas dengan mengacungkan sebuah jempol. Lalu berjalan menuju lemari dan membuka pintunya. Layar selebar dinding terlihat di sana. “Periksa gambar ini dengan seksama dan berikan laporannya pada tuan.”
Rekaman yang menunjukkan aksi seseorang melawan tiga prajurit terlatih membuat Ries terkesima. “Daebak! Apa dia Scarlet Witch?” komentar Ries yang membuat Roschiil bertambah geram.
“Bukankah dia sangat cerdas tuan? Sudah berapa banyak pengamat yang datang, tidak ada yang bisa menebak siapa mutan itu.”
Abil tidak melihat ekspresi Roschiil. Dia berkomentar takjub seolah baru menemukan harta karun.
“Benar sekali. Dia adalah jenis mutan terbaik di abad ini. Kemampuannya memadukan antara kekuatan sains dan sihir. Luar biasa!”
“Sebagai orang yang cerdas kau ingin mengatakan, sihir itu benar-benar ada?” sindir Roschiil.
“Lalu adakah bukti sains yang mengatakan sihir hanyalah imajinasi para novelis dan film fantasi seperti 'Lord Of the Rings', mungkin? Siapapun tahu sihir sudah ada bahkan saat sains sendiri belum terlahir ke dunia. Mulai dari bangsa Sumeria, Babilonia, Yunani bahkan Romawi kuno semua tidak lepas dari sihir saat membangun peradaban mereka. Jadi alasan apa yang membuatku berpikir sihir hanya angan belaka?”
Kali ini Roschiil yang terdiam dan Abil tersenyum puas.
“Wow, super!” Ries kembali berkomentar dengan gaya lebay saat menyaksikan adegan sang Mutan berhasil melumpuhkan semua tentara dengan energi yang dahsyat hanya dengan menggerakkan tangannya seolah memainkan sihir.
“Lihatlah! Pria dan wanita itu tidak ikut terjatuh!” serunya heboh menunjuk ke layar pada pria dan wanita yang diduga sebagai penghuni apartemen Kyosi. Mereka keluar dari lift, berjalan santai sambil tertawa sebelum akhirnya terhenti karena bingung menyaksikan para prajurit yang terbaring karena tekanan energi yang kuat.
“Binggo! Dia pasti pemilik the art. Hanya pemilik the art yang mampu memadukan kekuatan sains dan sihir dengan sempurna seumpama takaran yang pas antara tepung dan daging giling hingga menghasilkan Pattie yang lezat. Wah, bahas masalah Pattie seketika perutku bergejolak dahsyat.”
Roschiil menatas Ries yang sedang memegang perutnya, “Apa katamu?” tanyanya datar. Mimiknya dingin tak terbaca.
“Perutku bergejolak dahsyat,” Ries menyengir lebar “Tapi jangan khawatir aku tidak berniat meminta makan ...,”
“Bukan soal itu,” potong Roschiil. “Yang kau katakan sebelumnya apa kauyakin soal itu?”
Ke dua mata Ries berputar ke atas, amigdala mencoba membantunya menyusun kembali ucapannya yang sialnya terlalu panjang. “Ya, aku sangat yakin. Jika komposisi antara daging giling dan tepung sesuai takaran tentu pettienya akan menjadi sangat lezat.”
“Bukan itu bod*h! Aku bertanya mengenai the art! Kau yakin dia memilikinya?”
Mulut Ries membentuk huruf O yang panjang, sambil membelalak ngeri oleh reaksi Roschiil, kepalanya mengangguk-angguk.