Neitherland

Neitherland
Season II, Sebelum Shemu



Swaillyn menatap sekeliling dia tidak menemukan siapapun selain Nefry yang menenangkannya dengan usapan hangat, dan Drepta yang tampak berdiri di sisi kasur dengan kepala menunduk menahan kantuk.


Benarkah semua hanya mimpi buruk?


Kekhawatiran berlebih membuatnya mulai berhalusinasi dan menyamarkan batas antara mimpi dan kenyataan. Kabar buruk yang dia terima membuatnya berharap apa yang dikatakan Nefry benar, dan dia tidak perlu khawatir. Sebuah reaksi alami ketika seseorang tidak bisa menerima suatu keadaan yang dialaminya.


Ya, pasti hanya mimpi!


Swaillyn memberikan sebuah senyum sebelum kembali terpejam dan berulang kali menegaskan pada dirinya sendiri besok akan ada hal baik. Namun, hingga bulan bintang mulai berguguran, dan matahari bersiap merangkak naik. Kondisinya kembali menjadi lebih buruk. Perasaan pusing dan mual menerjang perut dan dadanya.


Makanan yang sempat mampir semalam kini kembali keluar menyisakan rasa perih, pahit dan sakit di dada, tenggorokan dan hidung Swaillyn. Beberapa pelayan sibuk mengganti wadah m.u.n.t.a.hannya, beberapa lagi membersihkan wajahnya dengan air hangat.


"Sangat sakit kah, Yang Mulia?" tanya Nefry prihatin melihat air mata Swaillyn mengalir bagai sungai. Ini kali pertama dia melihat calon Imona menangis. Sebelumnya dia hanya berpura-pura tertidur ketika malam hari tiba dan wanita yang dia ketahui bernama Aera itu menyembunyikan tangisnya di balik selimut.


Swaillyn memejamkan matanya. Sebesar apapun dia mencoba menyangkal, kondisinya yang kian memburuk tiap pagi hari membuatnya teringat oleh Putri Mahkota Dullogh, Yuan Meighdam. Saudara iparnya ketika mengandung keponakannya dulu.


H.a.m.i.l kenapa takdir harus sekejam ini?


Dia tidak pernah membenci ke.h.a.m.i.l.a.n. Setelah melihat saudari iparnya mengandung, dia tahu suatu saat nanti hal yang sama akan terjadi padanya. Entah dia akan bersanding dengan para bangsawan dengan jabatan penting di Dullogh, atau menjadi ratu bagi raja tetangga. Maka kehamilan adalah keniscayaan demi kekokohan sebuah kerajaan.


Dia memang belum mempersiapkan diri sebanyak dan sebaik ibu atau saudari iparnya. Namun, Swaillyn berjanji akan melakukan yang terbaik ketika waktunya tiba. Sayangnya sesuatu yang dipikir memiliki waktu yang cukup lama itu datang begitu cepat dengan cara kejam.


Tidak, aku tidak menginginkan anak monster ini. Aku mohon, aku tidak menginginkan kenistaan itu berulang!


"Yang Mulia, tenanglah, sebentar lagi tabib akan datang."


Kali ini Nefry merengkuh tubuhnya yang kian mengecil. Seolah tersadar, percakapan Rahab dengan Khufu semalam kembali terputar di kepalanya. Saat mendengarnya Swaillyn tidak bisa memahami apapun karena terlalu syok dan kecewa pada keadaan. Namun, kini dia akhirnya mengerti, bukan hanya dirinya yang tidak menginginkan calon anaknya. Tetapi sang tabib dan Monect juga berharap anak itu tidak pernah ada.


Tunggu, anak?


Ya, sesuatu yang kini tumbuh dirahimku perlahan akan membesar dan lahir menjadi seorang anak. Dia bukan monster!


Kini tangisan Swaillyn mereda dengan cara aneh. Tetapi ekspresi wajahnya sulit untuk tidak dikatakan jauh lebih aneh. Siapapun yang melihatnya setuju jika dia adalah makhluk terindah yang pernah ada. Namun, seindah apapun parasnya ekspresi anehnya saat ini sulit dipungkiri.


"Anda baik-baik saja, Yang Mulia?" Nefry mulai khawatir.


Ini kali pertama ucapannya diabaikan untuk kesekian kali oleh Swaillyn.


Bayang keponakannya yang masih bayi pun bermunculan. Matanya kembali mengembun. Lalu bayi kecil yang lucu itu perlahan tumbuh menjadi balita menggemaskan, berjalan, dan berlari lalu berteriak memanggilnya ... ibu?


Dadanya sesak. Sesuatu yang tak kasat mata seolah menghujam jantungnya berkali-kali. Rasa sakitnya kian menyiksa dan membuatnya kembali merebahkan tubuhnya di atas bantal giok. Swaillyn baru menyadari satu hal penting. Anak itu ... tidak! calon anak yang tidak diinginkan semua orang termasuk dirinya; bukan hanya anak Arkham. Sebenci apapun dirinya pada kondisi--malam terkutuk itu, calon anak yang ada di dalam kandungannya tetaplah darah dagingnya. Anaknya. Calon keluarganya.


Swaillyn kembali menangis. Kabar baiknya dia tidak lagi muntah. Namun, tubuh ringkihnya yang meringkuk memeluk dirinya sendiri sembari menangis pilu membuat siapapun terenyuh termasuk Rahab dan Khufu yang kini berada di depan pintu kamarnya.


***


Setelah meminum ramuan yang diberikan oleh Rahab, kondisi Swaillyn mulai membaik. Dia tidak lagi memuntahkan makanannya walaupun rasa mual itu tidak juga hilang, setidaknya perutnya tidak lagi menjadi kosong. Kini, diapun mulai memakan apapun yang diberikan padanya. Tidak, nafsu makannya belum kembali normal. Beberapa makanan masih membuatnya mual, bahkan jika dipaksakan dia kembali muntah. Namun, Swaillyn berusaha untuk tetap makan karena itu baik untuk kesehatannya dan juga janinnya.


"Ada apa? Anda kembali merasa mual?" tanya Nefry melihat tangan Swaillyn mengambang tepat di depan wajahnya.


Swaillyn tersadar, dia melepaskan sebuah senyuman indah, lalu menggeleng lemah. Dia hanya tersadar pada keputusannya yang ingin makan karena memikirkan kesehatan calon anaknya. Bukankah itu sangat lucu? ketika dia tahu cepat atau lambat ramuan yang akan membuat janinnya gugur pasti akan datang, dia justru memikirkan kesehatan si calon anak yang seharusnya tidak berarti apa-apa.


Rupanya ke.h.a.m.i.l.a.n benar-benar memporak-porandakan emosinya. Dalam sekejap dia bisa merasa senang dan bersemangat, dan sejurus kemudian dia kembali bersedih. Tanpa sadar tangan kirinya yang bersih dari makanan memegang perutnya yang masih rata. Matanya terpejam.


Kenangan ketika dia masih menjadi putri Dullogh saling tindih dengan ingatannya melalui waktu nyaris dua purnama belakangan. Bukankah takdirnya tidak terlalu buruk? Tangannya kembali mengelus perutnya dengan lembut. Selain calon anaknya dia tidak lagi memiliki siapapun. Bahkan ketika nanti dia menikah bukankah Khufu telah menegaskan lebih dulu perasaannya dan posisi dirinya seperti apa? Namun, meminta nyawa anaknya untuk bisa diselamatkan dengan konsekuensi kelak akan menjadi penerus tahta juga merupakan hal serakah dan tidak tahu diri.


Jadi, benarkah menggugurkannya adalah sebuah keniscayaan? Perasaan sedih kembali menyergapnya. Mencabik hati dan emosinya. D.a.d.anya bahkan naik-turun karena sesak dan rasa sakit yang coba dia sembunyikan. Tidak mudah, karena dia juga tidak ingin menangis. Toh, menangis tidak akan mengubah fakta apapun baik tentang dirinya, calon anaknya dan takdir buruk yang mengikat mereka.


Perasaan sedih itu bertambah besar ketika dia menyadari telah lebih dari seminggu setelah malam berita buruk itu terdengar, Khufu tak lagi pernah datang mengunjunginya.


Dia kecewa? dia marah? atau jijik?


Pada akhirnya Swaillyn khawatir mengenai perasaan Khufu. Dia sudah sangat bersyukur Khufu mau menerimanya sekalipun telah hancur dan kotor. Namun, kini ditambah dengan fakta dia mengandung anak si Iblis b.i.a.d.a.b ... dia bahkan merasa jijik pada dirinya sendiri. Swaillyn lupa semua itu berada di luar kendalinya.


Ketika Swaillyn masih bergelut dengan sejumlah pemikirannya yang menyedihkan, beberapa pelayan berasal dari istana utama masuk membawa banyak barang. Drepta yang tengah duduk di lantai seketika berdiri karena terkejut. Sedangkan Nefry yang mengenali mereka sebagai pelayan raja menunduk hormat.


Mnejeh sang kepala pelayan masuk dan berdiri di antara yang lain, "Salam hormat untuk calon Imona Kekaisaran Cheops." Tangan kanannya berada tepat di dada kirinya. Punggungnya sedikit membungkuk.


"Kami datang mengantarkan mahar dan segala kelengkapan pernikahan. Izinkan hamba membantu yang mulia untuk berganti pakaian."


Swaillyn dan Nefry saling pandang. Mereka kebingungan. Setahu mereka pernikahan akan dilaksanakan ketika musim Shemu atau tepat ketika para petani memanen hasil ladang dengan sejumlah ritual. Namun, sekarang Mnejeh datang mebawa mahar dan membantunya mengganti pakaian?


"Oh, yang mulia belum katakan?" Mnejeh bertanya setelah melihat raut bingung di wajah Swaillyn dan para pelayannya. "Pernikahan akan dimajukan. Upacara sakralnya akan diadakan malam nanti. Jadi, ketika musim Shemu tiba, ritual panen bisa dipimpin oleh Imon dan Imona Cheops."