Neitherland

Neitherland
Season II, Pertemuan Pertama



Senja telah menggantung di langit Neitherland Selatan. Berkat kubah pelindung, jingga tampak jauh lebih menawan. Semilir angin Sahara berembus seolah membawa kerinduan Nil pada peradaban lampau. Peradaban yang jauh dari kata sempurna tetapi tidak menyembunyikan distopia di tiap helai waktu yang berlalu.


Ini, istana NS? kenapa terasa familiar?


Aera menatap bingung pada beberapa pohon zaitun yang posisinya membentuk crescent, di tengahnya berdiri gagah pohon akasia. Ke dua matanya menyapu semua bangunan sekitarnya. Banyak hal yang berubah, tetapi dia yakin halaman tengah; di mana berdiri pohon-pohon dan ayunan besi membuatnya yakin dulu tempat ini menjadi bagian manis masa kecilnya.


"Apa kau ingat, dulu kita sering bermain di sini?"


Suara Ibrael menyentak kebingungan Aera. Tanpa bisa dicegah, akhirnya dia bertanya.


"Sebenarnya ini di mana? tidak, sebenarnya kau siapa? atau mungkin aku yang siapa?"


Ibrael tersenyum hangat. Senyuman yang akhirnya berhasil membawa kenangan manis kembali menyapa Aera.


***


"Hai, gadis kecil, kau mau bergabung dengan kami?" tanya seorang anak laki-laki berusia sekitar lima belas tahun. Mata birunya tampak berkilau. Kemeja putih yang membungkus badan tegapnya dilapisi rompi biru kotak-kotak. Rambutnya yang ikal disisir rapi ke samping. Hidung mancungnya tampak seperti pahatan ketika tubuhnya membungkuk dan wajahnya mendekat.


Apa-apaan ini kenapa wajahnya makin mendekat, tapi syukurlah penampakannya tidak buruk.


Gadis kecil yang memakai kaus putih dan blazer lengan panjang berwarna senada menatapnya datar. Celana hitam panjangnya terlihat cocok dipadukan dengan boots yang membungkus kakinya hinggah sejengkal dari lutut. Sebuah syal hitam yang melingkar di lehernya, menjadi pemanis karena kontras dengan baju dan kulit wajahnya yang putih. Anak laki-laki itu semakin mendekatkan wajahnya. Namun, si Gadis Kecil tetap bergeming. Matanya menatap tajam tanpa berkedip.


"Wah, matamu indah, biru yang lembut. Leah ke sinilah, jangan bersembunyi di belakang terus. Wajah kalian mirip, kalian pasti bisa menjadi teman."


Cihh, alasan konyol apa itu? wajah mirip bisa menjadi teman? Sepertinya dia belum membaca buku psikologi tingkat akhir.


Gadis kecil itu kembali merutuk dalam hati.


Malu-malu, gadis berkuncir dua dengan gaun berwarna dusty itu keluar dari balik punggung si Anak Laki-laki. Cardigan rajutnya tampak kebesaran. Bagi si Gadis Kecil, anak perempuan itu seperti boneka yang saat terkena angin ribut langsung roboh karena terlihat terlalu kurus, mungkin pula terlalu lemah. Entah.


Gadis berkunci tersenyum ramah, dia mengulurkan tangan, "Adik cantik, mau bermain bersama?"


Adik? apa wajahku bisa menunjukkan umurku? padahal tinggi kami hampir setara.


Si gadis kecil hanya menatap datar, menilai entah berdasar apa. Sebelum akhirnya suara gaduh dari balik tembok terdengar. Si Anak Laki-laki mengendap dan mengintip dari jendela.


"Gawat? Leah mereka di sini!"


Gadis berkuncir dua yang dipanggil Leah langsung menarik tangan si Gadis Kecil mereka berlari dan bersembunyi di balik pohon akasia. Refleks yang cukup mengagumkan jika dibanding dengan kondisi fisiknya yang lemah.


"Kenapa kita bersembunyi?" tanya si Gadis Kecil masih dengan wajah datarnya.


Sesaat Leah terperangah seolah berkata, rupanya kau bisa bicara? tetapi pada akhirnya dia hanya menyelipkan telunjuknya di tengah bibirnya. Ujung jarinya tepat mengenai ujung hidungnya yang lancip, "Sttttt ..., kita bisa ketahuan kalau kau berbicara keras begitu," bisiknya. Ke dua mata sayunya mengawasi gerbang kuil. Sebelah tangannya meremas dadanya. Keringat mulai bercucuran di dahinya. Si Gadis Kecil ikut mengintip setelah mendengar hentakan sepatu dari balik dinding batu.


Penjaga keamanan?


"O, tidak ...," jerit si Kuncir Dua tertahan. Wajahnya berubah pasi. Si Gadis Kecil menatap malas, tadinya dia ingin abai, tetapi melihat ketakutan si Kuncir Dua membuatnya sedikit iba.


Ini sebabnya aku benci berurusan dengan orang bodoh, sangat merepotkan.


Dengan santai dia berjalan keluar lalu memungguti beberapa buah zaitun yang mengering di atas tanah menggunakan plastik yang membungkus tangannya. Sebuah benda wajib ada disaku celananya. Kehadirannya menarik atensi ke tiga penjaga.


"Siapa itu?" tanya salah seorang di antara penjaga.


"Jangan diganggu dia datang bersama Nyonya Zerah," yang lainnya menimpali.


Mendengar nama neneknya disebut, Aera berdiri tegak, tatapannya menghujam ke tiga prajurit.


"Gila, sih, masih bocil udah ahli mengintimidasi orang," gerutu prajurit terpendek di antara ketiganya. Harga dirinya tersentil melihat tatapan si Gadis Kecil.


"Kalian tahu, Grandma Zerah? Baguslah, aku bisa titip pesan. Katakan padanya jangan meninggalkanku terlalu lama di sini tanpa makanan dan minuman."


Mendengar ucapan gadis kecil berwajah dingin, ke tiga prajurit itu melongo, seolah berkata yang benar saja!


Gadis kecil itu mengangkat lengannya, memencet sebuah tombol yang berada pada gelangnya. Layar hologram menampilkan video permintaannya dengan gambar ke tiga prajurit.


"Jika kalian tidak melakukan seperti yang aku katakan, dan membuatku kelaparan, aku akan menunjukkan ini pada Grandma. Maka kalian ...." Tangan kanan sang Gadis Kecil membentuk pisau yang mengiris lehernya.


Tanpa ba bi bu ketiga prajurit itu berlari meninggalkan kuil. Bukan takut mati seperti ancaman gadis kecil itu tentunya. Mereka hanya takut pada konsekuensi yang harus mereka hadapi jika gadis kecil itu benar-benar melapor.


Tepuk tangan dari si Anak Lelaki dan Gadis Berkuncir Dua, terdengar pelan tetapi penuh semangat.


"Hebat, bagaimana gadis kecil sepertimu memiliki kemampuan pengendali seperti itu?"


"Jantungku tadi hampir melorot melihatmu melangkah keluar, tetapi rasanya aku seperti terbang kesenangan melihat kau berhasil memukul mundur mereka."


"Ya, kan? Aku juga takjub melihat aksinya. Bay the way, Bagaimana kau bisa berpikir menggunakan nama Nyonya Zerah?" si Anak Lelaki tampak penasaran. Setelah mengintip dan merasa aman dia kembali mendekat dan duduk di bawah pohon.


"Itu mudah. Mendengar ucapan mereka yang ingin menjaga jarak denganku karena alasan Grandma menunjukkan posisinya penting di mata para penjaga keamanan. Dan juga, kita berada di titik di mana ilmuan adalah orang terpenting yang memiliki kekuasaan absolut setelah raja. Tidak seorangpun yang mampu mengalahkan kecerdasan Grandma, maka dia adalah perisai terbaik untuk menyingkirkan serangga."


Si Anak Lelaki nyaris melongo, ke dua bibirnya terbuka lebar. Dia takjub dan kehabisan kata.


"Jadi kau benar-benar cucu Nyonya Zerah? tunggu, umur, berapa umurmu?"


"Jika dilihat dari posturnya dia terlihat seumuran denganku, tetapi dari wajahnya dia jelas berumur empat atau lima tahun."


Wajah si Gadis Kecil masih tetap datar. Bolak-balik dia menatap ke dua anak yang berada di hadapannya. "Enam bulan tiga belas hari lagi, umurku genap lima tahun."