
Ini mungkin pernikahan politik, banyak harapan yang lahir dari kalian, tapi percayalah aku berharap kalian benar-benar bisa saling melindungi dan mengasihi sebagaimana pasangan sesungguhnya.
Ucapan Ibrael usai rapat kembali terngiang saat Aera melihat Epraim duduk sendiri di lobby Istana Wazner. Dia hendak mengecek sesuatu di Kuantum Fox, sekaligus melihat sejauh mana pembelajaran berlangsung selama beberapa bulan belakangan tanpa kehadirannya.
Saling mengasihi itu tidak seperti saling mencintai 'kan? Jika cinta itu hal paling omong kosong, mungkin kasih sayang adalah hal paling manusiawi yang lahir dari hati. Ya, seperti keinginan melindungi sesuatu karena terlihat rapuh.
Kesimpulan yang akhirnya dia tarik sebelum menghampiri Epraim. Sejak keluar dari ruang rapat, pangeran yang sering bertingkah gila itu tampak terlalu diam. Hal yang mengganggu bagi Aera, karena baginya orang itu berada dalam kondisi normal jika melakukan hal gila. Beban menemukan si Parasit di antara puluhan Mentri dalam satu hari mungkin adalah penyebabnya, duga Aera.
Haruskah aku memintanya mengantarku?
Aera masih sibuk memikirkan apa yang harus dia lakukan untuk mengembalikan kegilaan Epraim, ketika sebuah suara terdengar menampar telinganya dan tepat mengenai hatinya.
"Reim ...," Panggil sebuah suara yang membuat Aera menengadah dan menatap lurus ke depan. Seorang wanita cantik dengan gaun abu-abu beraksen pleats di bagian bawahnya, sosoknya bagaikan ratu Ingris dengan bunga matahari hitam yang dihias di sekitar garis lehernya. Menampakkan kulit putih membalut tulang selangkanya.
Rambutnyanya yang hitam ke coklatan ditata apik dengan gaya wavy. Sebuah fascinator merekat di kepalanya bagaikan bunga. Menambah kecantikan pemiliknya. Aera mengerutkan alisnya. Mencoba mengingat siapa sosok indah yang berdiri di hadapannya.
Pangeran Epraim yang tadinya duduk bersandar bagai kehilangan gairah hidup, tampak berdiri tergesa. Bibirnya bergumam,
"Shopia?"
Sophia? Miss Neitherland? Apa-apaan ini.
Anehnya Aera merasa kesal setelah tahu siapa wanita cantik itu.
Wanita bernama Shopia menatap Epraim dengan penuh kerinduan, "Aku turut berduka," tuturnya sebelum memangkas jarak di antara mereka dan memeluk Epraim dengan mesra.
Satu-satunya wanita yang pernah sedekat ini denganku hanya seseorang yang juga menjadi calon istriku.
Suara Epraim malam itu terngiang.
Cih, omong kosong! Sia-sia aku khawatir padanya.
Aera berbalik hendak pergi, tetapi sial sesuatu yang terasa basah menembus kulitnya. Disusul bunyi riuh dari gelas kaca yang saling membentur. Tanpa sengaja pelayan yang tengah membawa minuman menabraknya dan kini bajunya di penuhi aroma jeruk. Yang menyebalkannya lagi, karena saat ini dia tengah menggunakan kemeja putih yang langsung menampakkan pakaian dalamnya ketika basah.
"Maaf, tolong maafkan aku yang mulia." palayan itu tampak ketakutan. Sepertinya dia tengah asyik memelototi drama romantis yang dimainkan oleh Miss Neitherland dan Pangeran yang kemarin telah resmi bertunangan.
Aera menarik napas dalam dan menghembuskan perlahan.
"Jika anda berkenan, saya akan segera mengambil pakaian ganti," tawar sang Pelayan masih dalam kondisi menunduk.
Tanpa mengucapkan apapun Aera meninggalkan sang Pelayan, tetapi tangannya dicekal dan langkahnya terhenti. Sesuatu yang membuatnya teringat pada seseorang. Sebelum dia berbalik sebuah jas telah menutupi tubuhnya.
"Kau baik-baik saja?" Epraim berdiri disampingnya dan merangkulnya dari samping.
"Apa yang kau lakukan?" gumamnya menahan kesal.
Aera kembali menarik napas dan mengembuskannya gusar. Sejak tadi dia berusaha menahan kesal yang datang entah karena apa. Diduga pemicunya adalah ucapan Epraim yang tidak sesuai dengan fakta. Juga, egonya yang tersentil saat mengingat Epraim tidak menyetujui ucapannya yang dengan percaya diri mengatakan lebih cantik dibanding Shopia. Semua itu membuat jiwa kompetitifnya bangkit dan merasa terintimidasi saat melihat sosok Sophia sesungguhnya.
Jika dia memang menganggap gadis itu cantik seharusnya dia meminta Ibrael menjodohkan dengannya saja!
Tangan kanan Epraim yang memeluk lengannya dicengkram dan diputar sebelum dihempaskan bersama dengan tendangan kuat di tulang kering sang Pangeran.
Pekikan Epraim memenuhi lobby Istana Wazner. "K-kau!" jeritnya tertahan dengan wajah merah menahan sakit. Tendangan Aera bukan sesuatu yang bisa diremehkan.
"Lalu menurutmu siapa angsanya? sialan!" Ternyata candaan Epraim yang menyebutnya bebek membuat Aera kehilangan kendali. "Jika tidak ingin kehilangan tanganmu sebaiknya jangan mendekatiku!" ancamnya mengacungkan jari tengah.
***
Epraim melongo melihat keliaran Aera. Dia sudah menyaksikan rekaman ketika Aera melumpuhkan prajurit Roschiil. Namun, mengalami kebengisan itu secara langsung cukup membuatnya ngeri membayangkan kehidupan rumah tangganya di masa depan.
"Kau terluka?" Shopia menghampirinya dengan raut khawatir. "Bukankah dia Aera? Jika sebelumnya aku tidak tahu siapa dia, mungkin aku telah berpikir jika otaknya bermasalah. Namun, dia cukup terkenal aku rasa aku bisa mengerti sikapnya tadi. Bukankah yang mulia terlalu gegabah memutuskan perjodohan diantara kalian?"
Apa-apaan wanita manja ini.
"Aku tahu yang mulia tidak sehat. Pikirannya juga tidak. Tetapi sebagai kakaknya bukankah dia harus mempertimbangkan perasaanmu? Menjodohkanmu dengan wanita yang bahkan tidak percaya cinta itu tidak masuk akal."
Cih, jauh lebih tidak masuk akal, aku berdiri di sini mendengarmu membicarakan hal aneh.
"Reim, kau mau ke mana?" tanya Shopia menghentikan langkah Epraim.
"Ke mana pun itu selagi tidak ada kau."
Tiba-tiba Shopia menggenggam tangannya. Epraim berbalik dan menatap seolah berkata Lepaskan! Yang diartikan berbeda oleh Shopia. Dia tersenyum lembut.
"Aku tahu, kau masih menginginkanku. Jika kau mau aku akan meminta ayahku bicara pada yang mulia--"
"Lepaskan!" Epraim memotong ucapan Shopia.
"Reim?" Epraim mendengus sebal dan menarik paksa tangannya hingga terlepas.
"Berhenti mengikuti panggilan Ibrael padaku karena kita tidak sedekat itu. Dan juga, jika kau masih ada urusan di sini silahkan lanjutkan tapi jangan mengganggu aku." tandasnya sebelum berbalik.
Epraim kesal, tentu saja. Dia sudah muak dan tidak lagi sanggup berpura-pura bersikap manis. Sebenarnya sejak tadi Epraim bisa melihat Aera dari kaca yang berada di depannya. Lebih dari lima belas menit anak itu terus menatapnya khawatir, Epraim menduga apa yang dikatakan oleh Ibrael setelah rapat penyebabnya. Bukannya menyapa Aera dia justru menikmati kekhawatiran Aera yang jarang tampak olehnya. Dia bahkan tahu ketika calon istrinya mendekat dan hendak menyapanya. Namun, semua berantakan karena kehadiran Shopia.
"Ada apa denganmu? apa bahkan kau sampai lupa siapa aku?" tanya Shopia dengan raut bingung. Dia seolah tidak percaya pangeran yang dipujanya membuatnya malu di depan banyak orang.
"Memang kau siapa? Oh, aku ingat kau adalah gadis yang tadi sok kenal dan sok dekat lalu berbicara hal buruk tentang keluargaku. Apa tadi katamu? Aera tidak percaya cinta? Sikap kasarnya wajar? Kau bahkan mengatakan hal aneh pada orang yang tidak kau kenali. Bahkan jika itu benar, aku akan membuatnya jatuh cinta. Jadi berhenti berbicara padaku dengan cara menyebalkan!"