
Morat dan Stego baru saja tiba di depan sebuah pintu raksasa yang berukir kepala Hydra (ular berkepala sembilan) ketika lampu ruangan berubah menjadi merah dan alarm bahaya terdengar di seluruh istana Roschiil.
"Sialan! kau menyentuh sesuatu?" tuduh Stego dari balik helmnya.
"Kau pikir aku bodoh!" Morat tentu tidak terima disalahkan. Jadi, mengapa alarmnya berbunyi? sebuah layar hologram muncul di hadapan mereka. Roschiil tersenyum biadab.
"Selamat datang para tikus kecil," ucapnya diikuti senyum meremehkan. Seharusnya mereka sadar, istana Roschiil bukan tempat yang mudah ditaklukan tanpa izin dari sang Penguasa. Kini mereka merasa kesal karena telah dipermainkan dan dianggap terlalu bodoh. Jelas The Art tidak ada di sini.
"Pulang sekarang!" suara Ries bergema di dalam kepala mereka.
***
Di dalam ruang kontrol penjara para budak, Antonius sedang memainkan jari-jemarinya di atas tuts komputer untuk melepaskan setiap gerbong budak dengan aman. Sedang di sekitarnya, ada Moana yang tengah berjuang melawan monster berbadan batu, sekujur tubuhnya berwarna merah terang persis seperti ruby tetapi tidak memiliki sedikit pun keindahan.
Moana akhirnya menggunakan jam tangannya. Perisai berbahan nano teknologi seketika membungkus tangan hingga siku. Sepanjang lengannya sebuah pisau menghunus tajam. Kepalannya berubah menjadi godam terberat yang langsung meruntuhkan dinding ketika tinjunya meleset.
"Woow, Amazing!" komentar Antonius saat berbalik sekejap, melontarkan jempol lalu kembali fokus mengobrak-abrik coding gerbong budak. Kini dia pun penasaran akan mendapat kekuatan apa jika menggunakan jamnya.
Dinding sebelah kembali melengkung, Antonius tak lagi mengintip, seolah yakin benturan itu karena Moana. Dia hanya mengangguk dan tersenyum takjub. Benar saja, dinding itu nyaris ambruk karena Moana, tapi bukan karena serangannya. Melainkan benturan tubuhnya yang dilempar oleh Stone Man, mencoba bertahan dengan tangannya.
Moana telah melakukan serangan dahsyat. Pukulan tanpa henti di sekujur tubuh Stone Man, sayangnya semua itu tidak berarti apa-apa selain Moana yang kehabisan tenaga. Pukulan terakhir mendarat tepat di mata kanan Stone Man, itu yang membuatnya murka dan meraung ganas. Dalam sekali tangkap tubuh Moana diputar membelah udara lalu dilempar ke sembarang arah.
Masih sedikit pusing karena putaran tadi, Moana belum sempat menenangkan kepalanya, cengkraman di bahunya mengangkat seluruh tubuhnya. Lengan batu itu meraup lehernya. Udara seolah menghilang disekitarnya, kulit wajahnya berubah gelap. Antonius yang iseng mengintip dibuat kaget.
Di ruang kuantum Ries terlonjak mendengar pikiran Moana, "Gunakan bolamu bodoh! persetan dengan misi!" teriak Ries dalam kalut bercampur takut. Dia baru menyadari terancamnya nyawa Moana bisa membuatnya uring-uringan menyebalkan begini.
Berkat ucapannya yang belum menutup semua saluran komunikasi, fokus Aera terganggu. Sejenak dia termangu memikirkan apa yang terjadi, naas ketidak fokusnya membawa timah panas menembus kulitnya. Lengannya terasa terbakar. Darah memercik mengotori kulitnya yang putih.
Secepat tembakan melesat mengoyak lengannya, secepat itu pula kondisi buruk menghimpit dan membatasi langkahnya. Padahal Kurang dari lima langkah, ruang yang menyimpan bola kuantumnya bisa diraih. Lewat lensa optik miliknya, hyper seeing technology, dia bisa melihat benda itu berada di baris pertama sebuah loker makanan.
Tiga prajurit dan dua AI pengawas tengah mendekat ke arahnya. Di belakang mereka puluhan bahkan mungkin ratusan yang tengah bersiaga dengan senapan tertuju padanya. Di saat semua menjadi buntu, dan peningkatan detak jantungnya mulai bersinergi dengan The Art, tiba-tiba ledakan hebat menyapu bersih para prajurit yang berada di barisan terakhir dekat pintu masuk. Beberapa warga sipil mungkin terluka.
Tepat ketika kobaran api masih mengacaukan penjagaan mereka, Yuuko masuk dengan bergantung pada seutas tali. Dia meluncur sambil melepas tembakan beruntun. Menarik Aera dan bersama memasuki ruang di mana bola kuantumnya tergeletak cantik. Aera bahkan tidak tahu harus merasa senang atau marah, sikap keras kepala Yuuko yang membahayakan nyawanya justru menyelamatkannya.
Kembali ke ruang kontrol gerbong budak. Moana dengan segala pesan terakhirnya, nyaris kehilangan nyawa, sebelum akhirnya terlepas dan melahap udara dengan rakus. Kepalanya menengadah saat mendengar ucapan Antonius.
Pria tanpa akhlak itu melengos, meneruskan pekerjaannya yang sempat tertunda, "Yes, nyaris selesai!" gumamnya senang melihat proses yang terpampang di layar.
Sementara Moana masih berusaha mencerna maksud ucapan partner-nya, pandangannya beralih menatap Stone Man. Monster itu terdiam bagai robot rongsokan. Pandangannya kosong menatap ubin marmer yang dingin. Ketika tersadar, umpatan yang ingin dia layangkan terwakilkan oleh Ries.
"Bangs*d! kalau bisa kontrol kenapa tidak sejak tadi!" jika berhadapan langsung wajah putih Ries pasti telah memerah terbakar amarah.
"I miss you to sayang," jawaban Antonius membuat Moana mendengus dan Ries kembali mengumpat.
***
Sementara di mansion Piller, kekacauan tampak di mana-mana. Darah berceceran di sepanjang lantai, tangga utara mansion bahkan hancur tak berbentuk. Beberapa kepala pelayan dan prajurit pribadi tuan Piller terpisah dari badannya. Aiwan berlari menuju ruang bawah tanah. Napasnya tersengal, rautnya tampak cemas. Tangannya berlumuran darah banyak orang.
Apa yang telah aku lakukan?
Tanyanya bingung dia terus berlari menghindari siapapun. Khawatir kembali membunuh penuh nafsu layaknya iblis haus darah. Anehnya dia bahkan tidak mampu menahan hasrat membunuh tanpa sebab.
Masih terbayang wajah pelayan tua yang terkejut melihatnya. Tanpa ba bi bu, lengannya terjulur dan memutar kepala sang wanita tua, menarik paksa hingga terlepas dari tubuhnya dan melempar ke sembarang arah. Tanpa sengaja matanya mengarah pada bungkusan The Eye, sinar merah darah itu terlihat menyalak.
Sepertinya keputusan membawa The Eye bersamanya sesuatu yang salah. Semakin jauh Aiwan menelusuri tangga, menjauhi semua orang yang ada di mansion, semakin sesak dadanya menahan hasrat iblis haus darah yang entah sejak kapan menggerogoti jiwanya.
Aiwan merasa tubuhnya nyaris hancur terbakar amarah jika dia tidak segera kembali dan menumpahkan darah. Ditutupnya jalur komunikasi dengan Reis, dia tidak ingin Aera tahu dan menjadi khawatir. Ketika keinginan iblis itu semakin memberatkan langkahnya, di pejamkan matanya. Cahaya terang dari The Eye perlahan meredup.
***
"Selamat datang putriku tercinta," ucap Roschiil dengan senyum mengejek.
Aera menatap sang Lucifer dengan berbagai macam rasa kontradiksi yang saling menindih. Ketika dia dan Yuuko berhasil meraih bola kuantum. Secara bersama mereka melempar kode kembali. Yuuko yang percaya langsung melepas bolanya, hingga pecah membentur lantai dan menghilang bersama kepulan asap. Sedang Aera yang memastikan Yuuko telah pergi, berbalik memastikan penglihatannya. Sebuah layar hologram menampakkan sosok Cyma yang tengah ditawan dengan mulut dibekap dan mata tertutup, entah tidur atau dibius agar tidak sadar.
Selanjutnya adalah gambar Gian dan Leony serta tuan Piller yang kesemuanya terikat rantai dalam kondisi sama seperti Cyma.
"Selamat misimu sukses, kita harus merayakannya, aku akan menunggumu semoga mereka tidak perlu menjadi tumbal karena penolakanmu." ucap Roschiil kala itu yang membuat Aera memutuskan untuk pergi ke istana sang Lucifer alih-alih kembali ke apartemennya.