
Aera tersentak, saat merasakan tamparan halus dipipi kirinya. Matanya terbuka. Gian masih berada di posisi yang sama. Namun, tangannya yang tadi menyentuh pipi lainnya kini menggenggam hewan kecil tanpa nyawa. Tubuhnya mengeluarkan darah. Seketika wajah Aera bersemu karena malu.
Gian tersenyum jenaka, “Kenapa kau menutup mata dan begini ....” Dia memonyongkan bibirnya seperti yang dilakukan Aera.
Tidak kuasa menahan malu, Aera merutuki dirinya dalam hati dan berharap dapat lenyap seketika.
“Pasti kau berharap aku melakukan sesuatu. Benar 'kan?” Gian masih betah menggodanya.
“Apa kau pikir aku sudah gila?” Suara Aera meninggi menyaingi gelombang. Raut wajahnya merah karena malu bercampur marah.
“Ya, kaugila karena aku.” Aera berlagak muntah mendengar penuturan Gian.
“Ayo ulangi,” pinta Gian dengan cara jenaka. Aera menatapnya bingung.
“Ulangi sekali lagi.” Gian menutup mata sambil memonyongkan bibirnya. “Kali ini aku akan melakukannya.”
“Dasar ... menyebalkan!” Aera berlagak merajuk. Dengan menghentakkan kaki dia berlari meninggalkan Gian.
“Whahaahaahaa ....” Tawa Gian membahana. Saling sahut dengan deru ombak yang menggila.
Aera telah menuruni tebing, tanpa sekalipun berbalik, Aera menyeret langkahnya menjauh. Dengan perasaan bercampur aduk, dia menyusuri pantai.
“Aera!” teriak Gian dari belakang. Suaranya berasal dari atas tebing.
“Aera!” panggilnya lagi terasa mendekat.
“Aera cantik! Tunggu!” suaranya kian dekat.
Sambil menahan kesal Aera kembali berlari, sialnya kakinya tertanam di pasir dan memperlambat langkahnya. Lelah berlari, Aera berhenti sejenak, lalu berbalik karena sejak tadi panggilan Gian tidak lagi terdengar.
“Aaahh!” teriak Aera karena terkejut, saat berbalik dan mendapati Gian tepat di belakangnya.
Aera terjatuh dan Gian kembali tertawa. Namun, tawanya segera terhenti saat Aera menariknya dan ikut tersungkur di atas pasir putih.
“Rasakan ini!” seru Aera sembari melempari Gian dengan pasir. Sejurus kemudian mereka saling menyirami pasir seperti anak kecil dan saling tertawa tanpa peduli hujan yang sebentar lagi ingin menyapa.
**
“Kelihatannya masa kecil kalian kurang bahagia.”
Aera dan Gian yang sedang terlentang di atas pasir, sambil merentang dan mengatupkan tangan—membuat gundukan pasir, seketika tersentak. Mereka bangkit dan menoleh ke belakang—arah hutan kelapa. Aiwan dan Keri sedang berjalan ke arah mereka.
Dengan wajah berseri Aera berdiri dan berlari, “Keriiiiii!” serunya lalu berlutut memeluk Keri. Drama yang menggelitik dan membuat Aiwan dan Gian ingin terkikik.
“Haaahh ... Keriii ... Aku sangat merindukanmu!” tutur Aera. Selama ini Keri memang bersama mereka. Namun, serupa makhluk astral yang hanya menunjukkan suara tanpa wujudnya yang menggemaskan.
“Ouh, apa itu berarti aku lebih tampan dari ke dua pria itu?” tanya Keri.
Aera melepas pelukannya. Dia melihat telunjuk sang AI mengarah pada Aiwan dan Gian.
“Mau aku beri cermin? Sepertinya kau terlalu lama tidak bercermin sampai lupa potretmu yang sesungguhnya,” ucap Aiwan datar.
Aera terperangah. Akhirnya dia tahu, dari siapa Keri belajar semua kalimat sarkas yang selama ini dia dengarkan.
“Tenanglah Keri, bagiku kau seperti pangeran buruk rupa yang terkena kutukan. Dan aku akan menjadi putri cantik yang mencintaimu tanpa syarat.” Aera mengedipkan matanya tiga kali.
“Kalimatnya membuatku merinding,” ucap Gian.
Keri mengindik. Lalu meraba dadanya. “Menurut Makloepedia kekuatan sihir hanya bisa dimusnakan dengan cinta sejati. Dan masih menurut sumber yang sama, cara mendeteksi adanya cinta bisa dirasakan dari debaran kuat tepat di sini,” tuturnya. Tangan kanannya memegang dada kirinya.
“Masalahnya aku tidak merasakan debaran yang gila saat melihatmu. Jadi, itu bukan cinta.”
Aera memutar bola matanya, “Terserahlah.” Aera berdiri, dan berjalan menjauh. Namun, dia terhenti. Berbalik ke belakang di mana Keri dan ke dua pria itu menatapnya. Kepalanya menengadah. Langit biru nampak memukau. Aera kembali berbalik. Dia mengintip keluar, bunyi ombak yang kegirangan saling sahut dengan seruan hujan yang turun karena tak mampu menahan rindu.
“Bay the way anyway, sejak kapan kau memasang kubah ini?" tanya Aera menunjuk ke atas.
Hembusan angin menyelinap masuk. Membuat mereka merasakan dinginnya hujan yang menghujam di tepi pantai.
“Bukan aku, tapi dia.” Keri menunjuk Aiwan.
“Hmm... Bisakah sekarang kita duduk dulu?” Aiwan kembali membuka suara. Lantas dia mengajak Gian duduk lalu memanggil Aera dan Keri—mendekat.
Mereka kembali melakukan rutinitas yang biasa mereka lakukan sejak di Pare. Keri memberi masing-masing satu layar hologram di hadapan mereka.
‘Sulit dipercaya, mereka benar-benar mengirimiku surel!” seru Aera. Kedua tangannya menutup mulutnya.
Gian mengangguk, “Aku juga.”
Aera menatapnya, “Benarkah?” tanyanya.
“Bagaimana kau bisa tahu dia akan mengirimi kami surel?” tanya Aera pada Aiwan.
Pria itu mengalihkan perhatiannya, dari layar hologram, menuju Aera dan Gian—bergantian. “Karena sejak awal aku berusaha menduga tujuannya. Dan karena benar sepertinya aku tahu, apa yang dia cari.”
“Tujuannya? Bukankah itu, mengkudeta keluarga kerajaan seperti yang selalu dia lakukan untuk menciptakan stabilitas kekuasaannya?”
Gian menggeleng. “Untuk mendapat kekuasaan dari kerajaan dia tidak perlu melakukan hal sejauh itu. Sesungguhnya aku juga penasaran dengan tujuannya. Tapi aku tidak mengerti apa hubungannya denganmu?” Gian manatap Aiwan. “Dugaanku tidak mungkinkan?”
“Kenapa tidak? Tapi yang paling penting saat ini adalah keluargamu.”
“Hei, apa yang kalian bicarakan? Kalian selalu membicarakan hal yang ambigu, dan yang paling menyebalkan fakta seolah kalian bisa saling membaca pikiran. Tapi kenapa kalian tidak mengajakku? Aku merasa diabaikan!” keluh Aera panjang lebar. Hari ini dia bersikap tidak biasa, dan itu membuat semua yang ada terdiam cukup lama.
“Aku tidak menduga kau memiliki sisi imut seperti ini,” ungkap Gian dengan raut anomali.
“Kau persis sepertinya saat sedang merajuk.” Aiwan menimpali.
Keri menyela tidak setuju, "Kau harus berhati-hati," ucapnya pada Gian. "Ketika orang menyebalkan berubah menjadi imut, itu pertanda bahaya." Ke dua tangannya yang penuh bulu membentuk huruf 'X' tepat di depan dadanya.
Aera memutar kedua bola matanya. “Aku tidak sedang ingin digoda apalagi disandingkan dengan nenek-nenek. Dan, kau, pesek, percaya atau tidak kau jauh lebih menyebalkan. Hmm ... daripada itu, aku hanya berharap kalian bisa berbagi informasi denganku, mungkin aku bisa memikirkan solusi yang tepat, tidak hanya menunggu dan bingung sendiri.”
Keri mengindik, “Buka videonya,” titahnya.
Aera terdiam. Dia menatap dengan seribu tanda tanya.
“Kau ingin tahu mereka membicarakan apa ‘kan? Buka videonya. Semoga kau benar memiliki solusi yang tepat.”
**
Gelap pekat menyelimuti Pare. Tidak satupun cahaya yang berpijar selain cahaya yang berasal dari rembulan dan bintang. Sayangnya kanopi pepohonan membuatnya sulit menembus Pare.
Sebuah pembangkit listrik memang telah berhasil dibangun. Namun, keterbatasan bahan seperti plastik, besi, kawat dan komponen lainnya, maka satu-satunya tempat yang disinari cahaya listrik hanyalah ruang makan bersama yang berasal di tengah-tengah rumah pohon masyarakat Pare. Sejauh ini mereka masih mengandalkan mesin dan lampu gas.
Surel dari Roschiil yang menjadikan Ibunya sebagai ancaman rupanya mengusik Gian. Malam ini dia kembali bermimpi kejadian delapan tahun silam. Kejadian terkelam yang mirisnya terus terulang dalam jeda waktu yang sama sejak berdirinya kekaisaran Neitherland sejak 40 tahun lampau.
Mimpi buruk itu kembali terulang. Tangis, jeritan yang menyayat, darah, dan sejumlah ritual yang membuatnya mual. Nafasnya memburu. Dia melihatnya, sejumlah gadis perawan yang di salib dan membentuk lingkaran. Gian berontak ingin mendekat, sekali lagi kakinya ditahan. Dia berteriak sekuat tenaga hingga bulir-bulir keringatnya berubah menjadi darah.
“Gian!”
Jeritan, tangisan dan kutukan membaur dan saling sahut.
“Gian!”
Ratapan pilu mengiringi nyanyian setan yang membuat hatinya terluka, tetapi kedua tangan dan kakinya tak mampu bergerak. Kini air matanya semakin tercurah. Darah nyaris membanjiri gua yang membuatnya sesak napas. Suaranya nyaris meledak.
“Gian!” dengan napas tersengal Gian membuka matanya. Tubuhnya basah dibanjiri keringat. Sebuah senter LED yang bisa mereka nyalakan hanya di saat genting telah menyinari ruangan. Gian melihat Aera tengah menggenggam tangannya dengan wajah panik. Gian menatap seisi ruangan. Rumah pohon yang hanya terdiri dari satu ruangan tanpa sekat itu terlihat jelas. Namun, dia tidak menemukan Aiwan ataupun Keri.
“Kau mimpi buruk?” tanya Aera.
“Di mana Aiwan?” dia mengabaikan pertanyaan gadis yang sejak stadi memanggil namanya dengan raut cemas.
“Dia berpatroli, ingin memastikan alien yang diceritakan oleh masyarakat Pare. Kau baik-baik saja?”
Gian mengangguk, “Kenapa lampunya menyala?” tanyanya lagi.
“Itu karenamu bodoh! Harusnya kau tidur yang tenang, tidak membuat orang lain khawatir,” Aera mendumel. Tangannya meraih senter dan mematikannya. “Semoga tidak ada yang terbangun dan melihat cahayanya,” sambungnya ingin bangkit dan kembali ke tempat tidurnya.
“Ra ....” Gian menggenggam tangan Aera yang hendak berdiri. “Tolong tetap di sini, setidaknya sampai aku tertidur lagi,” pintanya sembari memejam. Kedua tangannya menarik Aera kembali di dekatnya.
“Apa kau anak kecil?” Aera mendengus. Namun, dia seketika terdiam dengan wajah merona dan tangan melayang karena terkejut, saat Gian mendaratkan kepalanya yang berat di pahanya, lalu memeluk pinggangnya.
“Sebentar saja,” gumamnya nyaris tak terdengar.
“Hei, kau sudah tidur?” tanya Aera.
Gian bergeming.
“Hei!” Gian merasa gadis itu tengah menusuk kepalanya. Dia hanya tidak menyangka, memeluk Aera terasa hangat dan menentramkan seperti saat memeluk ibunya.
“Dasar menyebalkan, dia pikir hanya dia yang ingin tidur. Aku juga mengantuk bodoh,” keluh Aera.
Sebenarnya Gian selalu kesal saat dikatakan bodoh dia tidak tahu mengapa gadis itu senang memanggilnya dengan kata itu. Dia tidak menyadari, dialah yang menyebalkan. Pikir Gian. Namun, dia berpikir mungkin Aera benar-benar mengantuk, dia juga tidak tahu sejak kapan gadis itu terjaga karena mimpi buruknya sangat mengganggu.
Akhirnya dia memutuskan berpura-pura tidur. Pelukannya sengaja dilonggarkan.
“Apa kau kembali pulas?” tanya Aera. Dia mendorong kepala Gian dengan kekuatan penuh. Gian yang tidak melakukan pertahanan apapun terjatuh dari pangkuan Aera dengan cara paling keji. Gian ingin meringis, tapi takut ketahuan belum tidur.
“Wah, dia kembali pulas.” Aera mengangkat kepala Gian. Meletakkan di atas bantal kapuk yang dilapisi kulit kerbau. “Tidurlah yang nyenyak, jangan khawatirkan apapun,” bisik Aera sembari mengelus kepala Gian.