Neitherland

Neitherland
Season II, Sebatas Asing



"Apa tujuanmu? jika targetmu adalah aku, kau bisa melepaskan mereka sekarang."


Roschiil meringis, wajahnya tampak menyebalkan. Aera bahkan mengutuk entitas apapun yang membuat dirinya memiliki darah sang Iblis.


"Akan aku pertimbangkan. Sayangnya mereka semua aku butuhkan," jawabnya acuh tak acuh yang membuat Aera kesal bukan main.


"Kau mempermainkan aku?" gumamnya dengan gigi bergemeletuk. Roschiil justru tertawa.


"Belum, sayang, aku akan memulai permainan kurang dari dua puluh empat jam."


Aera mengernyit mencoba memahami ucapan Roschiil. "Kau penasaran mengapa aku memanggilmu kemari?" sambungnya tanpa menatap Aera yang terlihat murka.


Roschiil membuka semua dindingnya, tampak kaca dan membuat mereka seolah berada di dalam ruang cermin. Sebelum Aera melihat senyum Roschiil dari pantulan kaca di hadapannya, semua berganti dengan gambar atau film, Aera hanya bisa menyimak tanpa berani menebak.


Tepat jam sembilan besok, kemungkinan solar storm kembali menyapa bumi. Kesimpulan yang Aera ambil setelah menyimak film dokumenter para ilmuan rahasia Roschiil.


"Kau sudah tahu apa yang akan terjadi besok? yang tidak kau ketahui adalah, kejadian itu serupa jalur cepat bagiku." Senyum menyebalkan itu kembali terbit. "Tidak perlu melewati puluhan tahun lagi untuk sebuah ritual yang melelahkan. Aku hanya butuh satu waktu di mana pintu semua dimensi terbuka secara serempak dan mengorbankan siapa yang layak dikorbankan," ucap Roschiil lebih mirip orang yang sedang membacakan puisi. Wajahnya tampak memuja Aera menduga dia tengah memikirkan alasan yang membuatnya menjadi iblis nomor satu di dunia.


Sulit dipercaya seorang Lucifer menghancurkan sebagian besar wilayah di bumi karena alasan cinta, di mana semua tindak tanduknya bertolak belakang dengan hakikat cinta itu sendiri. Demi kebangkitan sang kekasih, sejumlah ritual dilakukannya. Namun, tadi dia mengatakan tidak perlu ritual lagi mungkinkah solar storm adalah jalur cepat yang dia maksud? lalu siapa yang layak dia korbankan?


Roschiil berbalik menatapnya, lalu tersenyum penuh makna. Di tunjuknya dinding kaca yang berada di samping kanannya, penampakannya berubah menampilkan ruang megah yang mirip ruang bawah tanah dengan beragam ukiran ...


Hieroglif? Aera melangkah lebih dekat. Benar itu Hieroglif. Tampilan pada gambar seolah menyapu bersih semua ruangan.


Makam? dan tepat di depan sebuah altar batu berhias hieroglif sorot kamera itu naik ke atas peti, atasnya tertutup kaca. Kamera naik lebih tinggi dan menyorot bagian atas peti secara keseluruhan. Aera merosot, matanya membulat sempurna. Wanita dalam peti yang tertidur atau mungkin telah mati dengan gaun sutra putih indah, seputih rambutnya yang panjang terlihat persis seperti dirinya.


"Dia bisa dibilang sebagai ibumu, sengaja aku menyelamatkan apa yang tersisa dari dirinya sebelum diawetkan agar bisa membangkitkannya suatu hari nanti."


Omong kosong apa itu? bukankah ibuku adalah Callista putri sulung dari Nyonya Zerah?


Mata Aera menatap layar di hadapannya, wajah cantik yang tengah terpejam itu sulit diingkari. Fakta mereka berhubungan darah sesuatu yang tidak bisa diragukan. Lalu identitasnya selama ini apa? palsu?


"Bukankah kau selalu penasaran mengapa aku tidak pernah membunuhmu sebesar apapun pemberontakanmu?" Sebelah sudut bibir Roschiil menukik tajam. "Karena kau sangat dibutuhkan ketika proses pembangkitannya kelak. Darah yang berasal dari darahnya sendiri akan menjadi suntikan terbaik untuk kebangkitannya." Lengannya terangkat seolah hendak menyentuh wanita cantik yang tengah terpejam di dalam peti.


Aera merasa tengah dibacakan legenda kepercayaan Mesir Kuno. sebuah peradaban yang telah musnah ribuan tahun lalu. Persembahan? Kebangkitan? heh, yang benar saja!


"Omong kosong apa itu!" cibirnya kemudian.


Roschiil berdecak, "Kau akan tahu ini bukan sekedar omong kosong ketika besok gladiusku mencumbuh kulitmu."


Aera mengindik santai, "Jika ingin membunuhku silahkan saja. Kau tidak perlu membual mengenai asal-usulku ataupun tentang kebangkitan. Semua itu terdengar menggelikan."


Roschiil tergelak, lalu menunjuk cermin yang ada di belakangnya. Aera berbalik, ketika kaca itu berubah menjadi gambar yang menampilkan sosok yang sangat dikenalnya.


"Kau berpikir dia adalah ibumu?" Roschiil menunjuk Callista yang duduk di kursi roda dan tengah memeriksa sejumlah gelas kimia.


"Dan yang di sana nenekmu?" Di sudut ruangan ada Zerah yang tampak tetap muda tengah merancang formula dibantu oleh algoritma.


"Pada kenyataan embriomu terbentuk dari sel telurnya!" Telunjuknya mengarah pada layar yang sebelumnya di belakangi; wanita mirip Aera di dalam peti kaca.


"Dan yang membuahinya tentulah aku, ayah biologismu." Senyum setan itu terbit, diiringi tatapan sendu mengarah pada sang Wanita.


Namun, sedrama apapun Roschiil saat ini tidak berarti sedikit pun bagi Aera, selain fakta dia bukan anak dari ibunya dan bukan keluarga yang memberinya kenangan manis selama 30 tahun kehidupannya.


"Kenapa harus berbohong? jika aku benar bukan keluarga Nenek Zerah aku tidak akan mungkin mewarisi kecerdasan mereka." Aera berusaha mengelak.


Satu lagi yang mengganggu pikirannya layar yang ada dihadapannya bukan seperti film dokumenter layaknya layar yang ada di sampingnya. Bukan pula sebuah video lama seperti layar di belakangnya. Gambar itu tampilan dari kamera pengawas yang waktunya jelas menunjukkan hari ini, detik ini, saat ini. Kebohongan apa lagi ini?


"Aku harap kau tidak senaif manusia lainnya yang berpikir CRISPR-CAS 10 yang kau jalani sama dengan lainnya," ucapan Roschiil terdengar mengejek.


Aera tahu ketika membaca laporan untuk setiap tindakan CRISPR-CAS 10. Proses mutasi dan seleksi RNA pun DNA hanya sebatas mencapai kesempurnaan fisik. Jelas berbeda dengan dirinya yang bahkan tidak perlu menanam chip memory untuk semua ilmu pengetahuan. Karena pengetahuan itu sendiri adalah dirinya.


Sejauh ini orang hanya akan berpikir kecerdasan Aera yang luar biasa dikarenakan turunan dari keluarga ilmuan ternama. Tidak akan ada yang menduga proses kelahirannya layaknya humanoid yang tidak menyisakan satu sel saraf melainkan telah melalui proses mutasi genetik.


"Alasan itu juga tidak cukup untuk membuat semua bualanmu tampak lebih nyata."


Pikiran Aera sudah semakin kacau tetapi dia memilih menolak ucapan Roschiil. Mengingkari keluarganya sama dengan mengingkari jati dirinya. Fakta Roschiil adalah ayahnya cukup membuatnya kehilangan akal sehat. Kini fakta lainnya seolah memaksa hidupnya segera berakhir. Tidak! mungkin inilah yang diinginkan Roschiil? Melemahkan mentalnya dan memanipulasi pikirannya agar tidak lagi perlu bertahan untuk hidup yang bahkan tidak memberinya sebuah ketulusan.


Namun, Kenangan kecilnya seketika terlintas, baik Zerah atau Callista memang jarang menemaninya di rumah. Mereka lebih banyak menghabiskan waktu di KF dengan dalil tanggung jawab dan Istana karena keterpaksaan. Yang berarti dibanding bersamanya mereka jelas lebih banyak meluangkan waktu dengan keluarganya yang sesungguhnya. Kepalanya menggeleng bagaimanapun dia harus ingat, Ketika bersama, mereka memberi perhatian dan kasih yang tidak sedikit.


Juga, Zerah ataupun Callista tidak akan mengasuhnya jika dia bukan bagian dari keluarga mereka! Pemikiran itu setidaknya membuatnya merasa lebih baik.


"Kau ingin mencari pembenaran? Bagaimana jika aku katakan kau merupakan jaminan mereka hidup layak dan bebas dari tekanan apapun? Dengan mendesain sosokmu yang sempurna dan memberimu kehidupan normal maka mereka akan mendapat kekuasaan di KF dan di istana. Itu alasan yang cukup untuk menampungmu hidup bersama mereka seolah benar terikat dalam satu keluarga." Roschiil mengindik santai, dia berjalan menuju singgasana dan duduk bak seorang raja.


Aera mengamati gerakan Roschiil dengan ekor matanya. Dia kembali menekuni layar, ke dua wanita yang ada di sana saling melempar senyum lalu bersama keluar meninggalkan ruangan. Sorot berganti ke ruang makan, mereka menikmati hidangan mewah sembari bertukar cerita. Kehidupan yang hangat. Di saat dia merasa sendiri dan merasa sepi.


"Aku tidak peduli dengan alasan mereka hidup bersamaku dulu." Ya! beginilah seharusnya seorang Aera berpikir. Dia tidak pernah menanggapi drama kehidupan selain yang perlu ditanggapi.


"Aku hanya ingin memastikan, layar itu tidak sedang berbohong." Telunjuknya mengarah pada Zerah dan Callista yang tengah menikmati camilan di sore hari.


Roschiil melakukan panggilan kuantum. Dari layar Aera bisa melihat hologram yang membentuk sosok Roschiil muncul dihadapan ibu dan anak itu. Mereka serempak menatap hormat. Tepat ketika ucapan Roschiil selesai, ke dua wanita itu mengangguk.


Hal yang cukup membuat Aera merasa terpukul. Seolah ucapan Roschiil yang mengatakan mereka membawanya hidup bersama demi sebuah kehidupan yang lebih baik tidak lagi bisa dipungkiri. Ketika rasa tidak nyaman itu tak lagi bisa ditolerir mereka pun melepasnya. Seolah berpura-pura mati jauh lebih baik dari pada serumah dengan dirinya. Mungkin mereka terlalu muak berakting lebih lama lagi, bahkan tidak tahan bernapas di ruang yang sama dengan orang asing sepertinya, hingga bersembunyi dan hidup dalam hening jauh lebih baik.


Aera menghirup napas terburu-buru. Mulutnya terbuka lebar seolah kedua celah hidungnya tak cukup memberinya pasokan oksigen. Dadanya sesak menahan tangis. Tidak ada lagi yang tersisa dalam hidupnya. Seketika emosi melahap habis kewarasannya. Namun, masih ada yang mengganjal dalam hatinya.


"Kematian mereka?" Bahkan kini ucapannya hanya terdengar seperti gumaman orang yang tengah putus asa. Bersyukur Roschiil mampu menangkap maksudnya.


"Itu hanya kamuflase untuk membantu menghapus data diri mereka dan hidup bebas. Oh, iya malam itu kau melihatnya bukan? yang mati saat itu bukan Callista, tetapi selir raja." Ruangan dipenuhi gelak tawa Roschiil. Aera memejam, dadanya sesak luar biasa. Sebutir air matanya meluncur cepat dan menghilang di balik gaunnya. Luka tembak di lengannya tak lagi terasa perih. Kenapa kehidupannya lebih rumit dari belitan kuantum?


Fakta dua orang penting dalam hidupnya belum mati jauh lebih menyedihkan dibanding kematian mereka. Setidaknya ketika informasi mengenai kematian mereka menyapanya, dia masih keluarga terdekat dan merasa dicintai dan dikasihi. Namun, kini dia menjadi asing yang ingin dihindari dan tak pernah diinginkan orang mereka. Fakta pendamping yang membuatnya mampu merasakan emosi layaknya manusia normal. Sakit hati, kecewa, dan frustasi.