Neitherland

Neitherland
Season II, Konyol Kuadrat



"Kali pertama?" Hanya kening kirinya yang terangkat seolah mengatakan, ya! kemudian Aiwan tertegun, sejenak.


"Kenapa? kau bahkan tidak mencintaiku," gumamnya seperti wanita.


"Kau sendiri juga tidak mencintaiku." Aera masih menatapnya dengan h.a.s.r.a.t membara. Balasannya terdengar acuh tak acuh. Kemeja yang tadi menutupi tubuhnya telah tersingkap memamerkan tank top yang membuatnya tampak semakin menggoda.


Cinta ...


Dulu kata itu sangat akrab, dia juga tahu sinonim untuk cinta selalu Zerah. Namun, seiring berjalannya waktu. Mungkin pula sejak petualangannya bersama Aera dimulai, perasaan itu semakin jauh, memudar dan nyaris hilang.


Kini dia bahkan bingung jika ditanya soal cinta. Satu-satunya wanita dalam benaknya yang masih hangat dalam ingatannya adalah Zerah. Namun, mengakui cinta yang dulu membara hingga kini masih menyala sulit dibuktikan kebenarannya.


Seperti Aera, perlahan pengetahuannya tentang cinta bagai imajinasi belaka. Satu hal yang dia yakini, baginya Aera jauh lebih penting dari hidupnya sendiri. Ditatapnya wajah cantik itu, h.a.s.r.a.tnya ingin melakukan lebih seperti keinginan Aera tak bisa dipungkiri.


"Aku tidak peduli kau mencintai siapa. Toh, bagiku cinta itu sekedar kata buta. Setidaknya selama kehidupanku yang aneh ini, aku pernah menyerahkan diriku pada sosok yang tepat." Aera meringis. Bibir bawahnya digigit s.e.n.s.u.a l.


"Tidak, itu hanya alasan. Aku ingin membalas wanita tua itu dengan meniduri kekasihnya." Tekadnya terlihat kuat. Cahaya matanya yang tadi diliputi n.a.f.s.u berganti amarah. Aiwan akhirnya tahu, dia mengatakan yang sebenarnya. Meski sedikit kecewa, tetapi dia tidak bisa melewatkan kesempatan ini 'kan? toh mereka telah bertindak lebih jauh hingga ke titik, keinginan yang lama tertidur dalam dirinya terbangun dan membuatnya kembali menjadi sosok pria sejati.


"Aku akan mengisi benakmu dengan semua tentangku hingga kau tidak lagi memiliki tempat untuknya. Aku ...," belum tuntas Aera mengakui dosanya, mulutnya kembali dibungkam.


Aiwan mencecap setiap jengkal bibir wanita itu dengan lembut sembari menarik kepala Aera merapat. Wanita itu bahkan tidak tahu cara berciuman yang benar, tetapi dia tahu. Dan hari ini dia akan mengajari sesuatu yang jauh lebih panas, dan nikmat melebihi ciuman.


Dia memulai petualangan serunya dari atas hingga bagian terendah, membuat Ilmuan cantik yang bibirnya akrab dengan kalimat sarkas terus m.e.n.d.e.s.a.h. Detik berikutnya tubuh mereka telah merekat dengan semua potongan kain yang bertebaran di sekitar tempat tidur. Permainan yang benar-benar panjang, panas, dengan tempo waktu berirama ganda.


***


Aku pasti sudah gila!


Kalimat itu berulang seperti kaset rusak.


Ya, benar-benar gila!


Aera berbalik. Wajah tampan Aiwan yang tertidur dengan keringat dingin menghias dahi hingga d.a.d.a, terpampang di hadapannya. Adegan panas beberapa menit lalu yang mereka peragakan kembali terlintas. Dia meringis, memejam, terlalu malu. Namun, sedetik kemudian senyumannya terbit.


Tapi tidak buruk.


Aera bangkit dan mulai memunguti pakaiannya yang berserakan di lantai kamar. Kembali mengenakannya lalu keluar dari dalam mantel.


"Bahkan setelah The Art tidak lagi di tanganmu, kau masih bisa berpindah dimensi? ataukah itu sihir dengan mantra sakti?"


Ya, sejak keluar Giza, memanfaatkan ketidak berdayaan Aera yang tampak terpukul, Roschiil melucuti the Art dari lehernya. Sesuatu yang Aera sadari tepat beberapa detik lalu. Lewat pengakuan sang Lucifer.


Sial aku kecolongan!


Dia mengumpat bagai respon yang terprogram. Karena nyatanya perasaannya tidak sedikitpun merasa kehilangan, kalah atau kurang. Tidak ada emosi yang berarti mendengar ucapan Roschiil. Entah karena the Art baginya tidak cukup penting, ataukah Dopamin masih terlalu meriah dalam tubuhnya hingga membuatnya gila.


Siapa pun yang melihatnya tadi melangkah keluar dari dalam mantel, terlihat bagai terlahir dari udara. Kini Roschiil mendekat dan meraba daerah sekitar tempat Aera seketika muncul. Pria tua yang masih tampak muda itu terhenyak melihat senyum Aera. Kedua alisnya melengkung, mungkin menerka sesuatu mungkin pula mencela, entah.


"Itu bukan sihir." Aera teringat kenangan Swaillyn. Saat di mana Khufu memberinya the Art dan dia tahu kekuatan sihir the Art tidaklah kecil. Matanya kembali menatap Roschiil.


Aera menelan kembali ucapannya ketika melihat Roschiil mendekat dan mencoba meraba udara tepat di mana tadi dia keluar. Dia meringis, lalu menggeleng.


Apa dia pikir ruang kuantum dapat di pegang? konyol sekali.


"Kasur dan kursi di sini pun kau curi?" gumam Roschiil bagai terkagum-kagum. Dia melangkah terus hingga menembus tembok sebelah kemudian mengangguk. Entah maksudnya apa, Aera tidak peduli.


"Hmmm ... aku bahkan punya yang jauh lebih nyaman. Tenang saja, kasur itu akan kembali diwaktu yang tepat. Tadi aku pinjam hanya karena tidak ingin tidur di bawa kamera pengintai."


Roschiil berbalik, wajahnya semakin aneh. "Bukan kau yang merusak kamera itu?" Dagunya menunjuk sudut kanan atas, letak kamera pengawas.


Rusak?


Aera tidak memikirkan ini sebelumnya. Jika ada Keri, hal itu menjadi lumrah karena Aiwan bisa melakukannya dengan bantuan Keri. Namun, sekarang pun rusak? itu berarti Ries yang melakukannya ... Ries tahu Aiwan menemuinya, atau mereka telah berdiskusi lalu mengirim Aiwan ke sini, entah yang mana yang benar yang pasti kini dia khawatir.


Adegan demi adegan panas, beberapa menit lalu membuat tubuhnya terbakar dalam hasrat membara memang tidak terlihat siapapun. Namun, di ketahui oleh beberapa orang bahkan mungkin semua temannya, merupakan sebuah keniscayaan yang terlahir dari variabel baru. Sialnya dia bahkan tidak memikirkan dan mengantisipasi hal itu.


"Ada apa dengan wajahmu? apa sekarang pendingin ruangannya juga rusak?" tanya Roschiil bingung melihat wajah Aera berubah warna menjadi merah.


***


Dalam Ruang Kuantum Milik Aera


Ries menatap layar tanpa berkedip. Tepat di sampingnya Morat memicing lalu mendengus. Dia terus seperti itu sejak beberapa menit yang lalu. Tepatnya setelah Ries bersorak, Aiwan telah ditemukan! dan entah itu kabar baik atau buruk dia justru bertemu Aera yang artinya kemunculannya pun di istana Roschiil.


Antonius, duduk sembari bersandar. Biji anggur beserta kulitnya berserakan di sekitarnya. Matanya nyaris terpejam. Kekenyangan membuatnya ingin terlelap.


Sedangkan Moana duduk di sudut. Posisi favorit, yang selalu membuatnya bebas menatap Ries tanpa terlihat oleh siapapun. Yuuko dan Stego berada di belakang. Entah memikirkan apa.


"Kenapa mereka lama sekali? tidak bisakah dia langsung membawa Aera ke sini?" pertanyaan Morat kembali terdengar. Seperti sebelumnya tidak ada yang menanggapi. Semua sibuk dengan pikiran masing-masing.


"Eh," suara Ries terdengar bingung. Semua yang tadi terdiam kini bangkit dan mendekat. Di layar, signal dari Aiwan dan Aera seolah menyatu. Bahkan terkadang yang terlihat hanya satu.


"Aku sungguh tidak mengerti, bagaimana caranya melihat keberadaan mereka," keluh Yuuko. Itu hak yang wajar karena titik merah di layar memang tidak hanya satu tetapi ratusan. Namun, Aiwan dan Aera memiliki ciri tersendiri yang bisa dibaca oleh ahlinya seperti Ries, Antonius dan Stego. Yuuko, Moana dan Morat hanya bisa memandang tanpa bisa membaca informasi yang ada. Seperti melihat huruf paku atau sejenisnya.


Ketika Ries mulai menerka apa yang terjadi hingga wajahnya berubah menjadi merah. Stego memilih bersiul dan berdehem panjang. Menjauhi layar dan meraih air mineral.


"Ada apa dengan kalian?" tanya Yuuko bingung.


Ries diam, dia mulai salah tingkah melihat tatapan licik Antonius, berbalik membelakangi layar lalu mengipas wajahnya.


"Yuuko," panggil Antonius.


Yuuko balas menatapnya seolah bertanya, ada-apa?


"Bukankah kau satu divisi dengan Aera?" Yuuko mengangguk. "Jadi, kapan terakhir kali kau bercinta?"


"Dasar, cecunguk si*l*n!" Ries akhirnya mengumpat tetapi hanya dibalas gelak tawa oleh Antonius dan Stego, konyol kuadrat yang mulai berpikir malam-malam panas sebelum terkurung dalam tim Aera.