Neitherland

Neitherland
Season II, Upaya Penyelamatan



"Aku tahu namamu, Aera, 'kan? Aku Leah," ucap Leah dengan senyum manis.


Aku tahu. Aera membatin dengan wajah datarnya.


Setelah melihat Zerah memasuki istana, buru-buru dia menarik Ibrael menyusup keluar istana barat. Setiap Minggu di hari Sabtu Zerah selalu berkunjung ke istana, dan Ke dua anak itu baru tahu Aera selalu ikut dan menunggu di kuil timur. Setelah pertemuan terakhir mereka yang bahkan belum sempat saling bertukar nama, akhirnya kesempatan untuk kembali bertemu tiba. Tentu itu hal yang sangat menyenangkan bagi Leah dan Ibrael. Namun, tidak dengan Aera.


Gaya berbusana Aera masih sama seperti Minggu kemarin. Bedanya hanya terletak di lengan kemejanya dan celananya yang kali ini berwarna dongker. "Hai adik kecil, kau bisa memanggilku Amun," Ibrael mengedip jahil.


Leah memutar ke dua matanya. menggandeng lengan Aera dan menariknya ke bawah pohon akasia, " Abaikan saja dia. Dia memang selalu begitu, merasa tampan dan hebat seperti Tutankhamun. Bay the way, aku punya kejutan. Ta daaa!"


Sebelah tangannya yang tadi memeluk lengan Aera terlepas dan merentang, wajahnya berseri indah. "Hadiah pertemanan kita!" ucapnya melihat ayunan yang berada tepat di bawah pohon akasia.


Sudut bibir Aera terangkat dua senti. Tidak buruk. Tapi sejak kapan aku bilang ingin berteman dengannya?


"Mulai saat ini kita akan terus bertemu di sini, menghabiskan waktu dan berbagi hal menarik. Tepat ulang tahunmu yang ke lima nanti, kita akan mengadakan pesta di sini!"


"Setujuuu!" seru Ibrael. Sedangkan Aera masih setia bungkam. Ke dua mata birunya hanya menatap ke dua sahabatnya; bergantian. Tanpa kata, tanpa senyum ataupun tawa.


***


Akhirnya tiba hari di mana ke tiga anak itu akan merayakan ulang tahun Aera. Selama enam bulan itu pula mereka selalu bertemu dan bermain bersama di hari Sabtu. Berkat mantel yang diberikan oleh Aera, Leah dan Ibrael yang mengenalkan diri sebagai Amun bisa keluar masuk istana tanpa takut tertangkap. Mereka berdua pula orang pertama yang mencoba masker dan lensa buatan Aera. Sebaliknya, Aera akan mendapatkan aneka camilan yang tidak pernah dia temukan sebelumnya.


Aera yang awalnya bagaikan boneka tanpa ekspresi perlahan mulai terlihat hidup. Dia tersenyum lebih lebar, bahkan sewaktu-waktu tertawa hingga Leah dan Ibrael merasa perlu mengabadikannya. Sebuah kemajuan yang luar biasa dan membuat mereka yakin Aera benar manusia. Namun, Aera sedikit ragu hari ini dia bisa bertemu dengan kedua sahabat yang mendeklarasikan diri sebagai kakaknya. Sejak Minggu kemaren mereka tidak pergi ke istana. Nenek dan ibunya bahkan terlihat kusut, wajahnya bagai dipayungi awan mendung.


Ada yang tidak beres. Akhirnya Aera menangkap kejanggalan setelah berminggu-minggu hidup acuh berfokus pada temuan luar biasanya. Melalui ruang obrolan pribadi khusus dia, Leah dan Amun, Aera mengabarkan kegiatannya. Mereka juga bersemangat untuk mencoba petualangan menyenangkan. Namun, kini setelah Aera mengirim lebih dari sepuluh pesan tidak satupun dari mereka yang menjawab.


Apa mungkin kemurungan Nenek dan Ibu berhubungan dengan Istana?


Tidak ingin berlarut dalam rasa penasaran, Aera memasuki LAB pribadi keluarganya. Berkat Neneknya mereka tinggal di sebuah mansion mewah yang dibangun dengan teknologi tinggi. Aera mengenakan mantelnya, menyalakan penerang ruangan dan masuk ke ruang kontrol. Di sana dia membuka cloud data dengan menggunakan metode parasit IP. Mencomot asal IP yang tengah aktif dan menjadikan mereka sebagai identitas palsunya sebelum akhirnya mengobrak-abrik big data.


Aku harus ke istana!


Aera kecil bangkit dan masuk ke dalam ruang penyimpanan arc reactor. Dia membuka brangkas yang dikhususkan untuknya. Meraih sebuah arc reactor kecil. Di tengahnya sebuah batu indah terpenjara; The Art. Dengan langkah pasti, Aera kecil memasuki ruang medan magnet. Batu indah dalam genggamannya bereaksi. Dalam sebuah ruang tertutup di kelilingi kaca, tiba-tiba berembus angin kencang. Sebuah pusaran terbentuk dan membuka portal menuju istana.


Aera keluar dari dalam portal dan melihat dia berada di bagian belakang kuil. Gerbang utaranya tampak jelas dari tepi sungai. Sebelum aliran Nil menarik atensinya, Aera mencoba mengingatkan fokus perjalanannya ke sini untuk menemui Leah dan Amun. Setelah mengaktifkan map pada lensa optiknya, Aera menjauhi tepi sungai dengan dua buah batu besar menyembul bagai penjaga kuil. Berjalan lurus menuju selatan, melewati kuil dan berhenti sejenak melihat ayunan mereka. Hiasan lampu dan bulu angsa telah merekat di dahan akasia dan tiang ayunan.


Mereka sempat ke sini, semoga mereka baik-baik saja.


Aera terus berlari keluar kuil untuk kali pertama. Mengikuti map berdasar sinyal akhir lensa kontak Leah dan Amun. Sepanjang jalan Aera melihat beberapa jalan yang hancur. Semakin jauh ke barat semakin berantakan gedung dan jalan istana yang dia temui. Rasa takut mulai menyusup di dalam hatinya. Beberapa mayat penjaga ke amanan juga terlihat mengenaskan.


Traaattttt ... traaatttt ... trraraaattt ...


Bunyi tembakan membuat langkahnya terhenti. Apa yang harus aku lakukan? Mantel yang dia gunakan hanya bisa melindunginya dari pandangan, tetapi tidak dari tembakan. Dalam keadaan bingung, telingannya menangkap jerit tangis dan degup jantung ketakutan. Aera memejam, mencoba memfokuskan telinganya pada suara tangis, bukan pada bunyi tembakan, teriakan, atau makian.


Leah? dia tahu itu suara Leah


"Bangun, hiks ... Bangun ... bodoh! jangan tinggalkan aku sendiri. Kau harus bangun! kita harus merayakan ulah tahun Aera. Bangun! kataku bangun!" gumamnya yang terdengar jelas oleh Aera. Isak tangisnya adalah keributan selanjutnya yang mendominasi pendengaran Aera.


Sambil berlari mengikuti gelombang suara Leah, Aera terus bertanya apa yang telah terjadi, mengapa dia menyuru seseorang bangun. Mereka harus merayakan ulang tahunnya? Apakah dia Amun? lalu apa yang terjadi padanya? tertembak? pemikiran itu menghentikan langkahnya. Seketika dadanya berdenyut nyeri. Bagaimana jika dia tiba di balik tembok itu dan melihat sesuatu yang mengerikan? Seperti Leah dan Amun yang terbaring penuh darah?


Aera bergidik. Ke dua matanya kini telah di hiasi kristal bening yang nyaris retak. Kepalanya menggeleng. Mencoba berpikir positif. Langkahnya dipaksa menuju arah suara Leah yang semakin melemah.


Mereka baik-baik saja, dan aku akan menyelamatkan mereka. Sugesti yang dia buat untuk menenangkan dirinya dan menguatkan langkahnya. Namun, jarak antara dirinya dengan sebuah tembok yang tampak mengepul masih kurang sepuluh langkah, ledakan dahsyat membakar dan meruntuhkan yang tersisa. Aera yang berdiri tak jauh dari sana hanya melihat kobaran api yang semakin berkobar. Anehnya rasa panasnya tidak sedikitpun menyentuh kulitnya. Bahkan getaran dahsyat yang lahir dari ledakan itu tidak berhasil membuatnya terdorong jatuh ke tanah.


Gambaran api yang berkobar di ke dua irisnya perlahan memudar. Langit terang berselimut asap berganti dengan gelap malam penuh bintang. Bintang? sejak kapan langit Neitherland menampilkan benda langit yang maha indah itu? Aera kembali menengadah, bukan hanya bintang tapi rembulan yang tampaknya berada di ujung purnama serta beberapa rasi bintang membentuk konstelasi memukau.


Tidak sempat mengagumi pemandangan langit malam indah terlalu lama, Aera mendengar bunyi gemericik rumput dan gesekan benda tajam serta tumpul yang terasa terburu-buru. Seperti gesekan pedang yang dicabut dari sarungnya. Pedang?! Sebelumnya dia yakin hanya mendengar bunyi tembakan dan rudal. Namun, mengapa sekarang ada pedang?