
“Tolong minggir, kau sangat berat,” bisik Gian ke telinga Aera. Senyum jenakanya kembali bersemi. “Auuhhh!” Gian meringis kesakitan saat dengan sengaja Aera mengangkat badannya lalu menghempaskannya, seumpama di atas kasur.
“Maaf, karena tubuhku yang langsing tetap terasa berat.”
Lega, telah memberi Gian pelajaran, Aera berbalik ke arah pintu.
Gian masih meringis menahan sakit, wajahnya sengaja dilebih-lebihkan. Rasa sakit tidak membuatnya jerah menggoda Aera.
“Rasanya tulang pahaku retak. Masa berduka ini sebaiknya kau gunakan untuk diet.”
Kesal karena Gian masih membahas berat badan, Aera kembali ingin menyabetnya dengan guling. Belum sempat tangannya meraih guling yang disampirkan di bahu jendela, bunyi gaduh di luar menghentikannya. Matanya tertuju pada pintu yang terbuka. Aiwan dan Keri berdiri di sana.
Mutan tampan itu tampak lelah. Dia menatap Gian dan Aera bergantian.
“Kalian, baru tiba?”
“Iya, baru beberapa menit. Jadi jangan khawatir, kami bahkan tidak melihat adegan yang nyaris romantis tapi rupanya berakhir tragis. Kalian sangat lihai membuat plot twits dan mengecewakan penonton,” tukas Keri sebelum kembali menutup diri di balik mantelnya.
“Jangan pedulikan dia,” bujuk Aiwan saat melihat wajah Aera memerah. “Lebih baik temani aku mengunjungi pusara Hamid.”
“Bisa aku bertanya?”
Aiwan menatap Gian seolah bertanya, ada apa?
“Bagaimana kau selalu tahu segala hal?”
“Benar, aku juga selalu penasaran, kau bahkan selalu menemukan kami dengan mudah seolah kau telah meletakkan GPS di tubuh kami. Oh, iya! Bukankah hutangmu menjelaskan bagaimana kau tahu isi lemariku masih belum terbayar hingga kini?” Mode penasaran Aera berada di posisi ON.
Ini gawat untuk Aiwan, karena dia belum bisa menjelaskannya saat ini dan tidak memiliki alasan tepat untuk menghindarinya seperti sebelum-sebelumnya.
Ekspresi Gian jelas menanti jawaban seolah hutang itu menyangkut dirinya.
“Ceritanya panjang, masalahnya kita tidak memiliki waktu cukup untuk menjelaskannya sekarang. Karena para alien itu ternyata pekerja Neitherland. Mereka menambang kekayaan alam hampir semua belahan bumi hanya untuk menemukan the art.”
“Itu gila. Menambang semua belahan bumi? Jangan katakan alasannya mengumpulkan semua orang di Neitherland hanya karena the art?”
“Tetapi hal itu justru semakin masuk akal sekarang,” lirih, Gian mengangguk sendiri.
Aera menatapnya, “Tampaknya kau tahu apa itu the art?”
“Menurut catatan lama yang ditemukan dalam koleksi perpustakaan kerajaan. Ada sebuah batu yang seolah turun dari lapisan langit. Bagian atasnya memiliki kekuatan magis yang bisa memengaruhi pola pikir dan ketenangan batin orang di sekitarnya. Bagian atasnya memiliki massa dan energi yang jauh lebih kuat daripada ledakan hidrogen. Itulah the art.”
Aiwan mengangguk setuju dan Aera terbengong. Seolah berkata yang benar saja!
“Dan kabar buruk lainnya, Roschiil yang kalian ceritakan kemungkinan besar bukan keturunan Serik, sang Kaisar kegelapan. Pemimpin di atas pemimpin—shadow govermant.”
“Maksudmu ada bedebah lainnya?” desak Aera tidak sabaran.
Gian terperanga dan Aera menutup mulutnya. Mungkin dalam benaknya Aera mulai bertanya siapa lagi manusia abadi yang menghiasi bumi tua ini?
“Untuk memastikannya, sebaiknya kita hadiri undangannya. Tapi sebelum itu, kita harus pastikan anjing-anjing Neitherland tidak lagi menyentuh Pare, seperti janji kalian pada Hamid.”
Aera menyipit, "Kau bahkan tahu apa yang kami katakan, tidak mungkin bukan, Jika kau bukan makhluk mitologi yang bertugas sebagai asisten Ellia, maka pasti kau telah memasang kamera pengawas!" Saat itu pula Aera sibuk memeriksa dirinya sendiri.
Gelagat anehnya terhenti ketika diinterupsi oleh Keri. Mengingatkan mereka segera berkemas. menemui anak-anak Puang Hamid. Berpamitan. Lalu menuju taman makam Pare yang tampak seperti kebun bunga. Sebelum akhirnya kembali ke Neitherland dengan berteleportasi.
"Terima kasih sudah menjamu kami nyaris sebulan lamanya," tutur Aiwan di hadapan nisan Puang Hamid.
Aera dan Gian disuru berdiri agak jauh. Begitupun dengan Keri. Namun, tidak ada yang bisa menghalangi gelombang suara itu menuju telinga sang AI. Keri mulai berhitung dengan jarinya. Lalu merengut.
"Kita menumpang di Pare hanya tiga Minggu, tidak sampai sebulan."
"Apa maksudmu? memang siapa yang mengatakan sebulan?"
Keri mengindik.
"Dengan tulus aku meminta maaf atas kejadian 50 tahun lalu. Mereka menyabotase alat pengendaliku. Mereka yang mengunci target, aku tidak bisa mengubahnya. Tapi jangan khawatir tentang Pare. Dulu aku tidak bisa melakukan apapun, tapi sekarang aku akan berusaha semampuku."
Batu nisan itu tetap diam. Hanya suara angin yang berembus dari dahan Kamboja menuju ke segala rerumputan liar. Aiwan mengangguk takzim. Berbalik dan melangkah pergi bersama Keri, Gian dan Aera.
Dalam sekejap mereka kembali ke Antartika. tepat di depan gua menetaskan quantum tunnel-nya.
"Berdiri di sini mengingatkanku kepada ke dua bedebah itu," kenang Gian sembari bergidik. "Mungkinkah mereka pun seperti masyarakat Pare? tapi mereka terlalu liar untuk ukuran manusia."
"Mereka layak dimusnahkan."
Aera menatap wajah Aiwan yang seketika kelabu saat membahas dua makhluk Antartika yang sebelumnya menyerang mereka.
"Mungkin sebelumnya kau pernah bertemu mereka? hmm ... sebangsa mereka, mungkin?"
Aiwan mengangguk. Tentu dia pernah bertemu dengan mereka, dan itu masa terkelam yang bisa dia ingat setelah puluhan ledakan nuklir yang membuatnya mengutuk semua penguasa. Pertemuan dengan para predator manusia itu adalah ke sialan ke dua setelah kelahiran para shadow government. Aiwan bahkan tidak mengerti mengapa species mereka harus menghiasi dunia.
Pertanyaan Aera membawanya kembali ke hari itu. Hari di mana Aiwan berada di sebuah kota yang nyaris hangus tanpa sisa tepatnya di kaki gunung Hindu Kush, lembah Amu Darya.
"Sebelum kita ke Neitherland, bagaimana jika kau bercerita tentang pertemuanmu itu? sesungguhnya aku juga penasaran." tawar Keri saat mengamati waktu dan kondisi di Neitherland. Mereka memilih datang ketika aktifitas masyarakat mulai berkurang, dan waktu istirahat telah tiba.
"Apa itu berarti kau lebih dulu bertemu dengan mereka dibandingkan dengan si pesek itu?" dagu Aeera menunjuk Keri.
"Apa-apaan itu, selama di Pare kau memanggilku sayang. Tapi sekarang, kita bahkan belum sampe ke Neitherland kau kembali meledekku. Sungguh gadis labil!" Keri bersungut-sungut.
Tidak ada yang menanggapi kicauan Keri setelah melihat Aiwan mengangguk. Mereka semua justru memilih duduk bersandar di dinding gua, mencari posisi ternyaman selama menunggu Aiwan memulai ceritanya.