
Ezra menyelesaikan simulasi peperangan jarak dekat dalam waktu lima belas menit. Waktu paling cepat dan paling gila mengingat Medan yang dilalui tidak mudah. Aksinya yang nekat memutus parasit ketika jaraknya masih puluhan meter agar jatuh lebih cepat, berhasil di atasinya tanpa masalah. Belum jagi adegan menyeberangi dua jurang yang dibawahnya terdapat sebuah sungai keruh.
Baginya, bayangan wajah Zerah yang tersenyum manis dan hangat ketika memandang Aiwan adalah masalah tersulit untuk dihadapi. Belum lagi permintaannya malam itu untuk segera pergi; untuk memberinya kesempatan berdua dengan Aiwan.
"Kau menyukainya?" tanyanya was-was setelah diseret menjauhi toilet pria. Zerah tampak terkejut.
"Terlalu jelas, ya? oh, tidak, apa dia juga menyadarinya!" Gadis itu justru panik memikirkan tanggapan Aiwan. Kekecewaan Ezra luput dari perhatiannya. Dia segera menyusul Ezra yang berniat membasuh wajahnya di toilet hanya untuk memintanya segera pulang agar dia bisa berdua dengan Aiwan. Gadis menyebalkan.
Akhirnya dengan hati remuk redam, Ezra meninggalkan mereka yang memilih bertahan di restoran hotel tempat Zerah dan peserta konferensi menginap selama di Brussel. Zahro, wanita berhijab yang dia kenalkan sebagai kembarannya, sudah naik lebih dulu sejak makanannya telah habis.Tidak ada alasan bagi Ezra mengganggu mereka.
Keesokan harinya, pesan dari Zerah membuatnya kehilangan semangat hidup.
Ezra, akhirnya dia memintaku menjadi kekasihnya! cinta pertamaku bersambut baik. Aku menyayangimu!
Sambil meringis dia membayangkan wajah bahagia Zerah. Ketika senang dia selalu bertindak ekspresif dengan menyatakan perasaan sayang atau memeluknya hangat. Selama ini Ezra bahkan salah paham pada semua sikap manis itu, dan kini dia merasa dikhianati dan dikecewakan.
Puluhan bulir peluh merayapi tubuhnya. Namun, tenaganya seolah tak habis-habis. Segera setelah tiba di arena dia maju beradu tanding sekaligus melatih kemampuan bela dirinya tanpa memberi jedah untuk beristirahat barang sejenak. Melihat Aiwan pun telah tiba dan menyelesaikan latihannya, Ezra berdecak kesal tetapi sejurus kemudian dia tersenyum joker. Tampaknya kini dia menemukan penyaluran yang tepat untuk emosinya yang kian menyala.
***
Koloseum Neitherland, 2075
Lampu hijau pertandingan sudah menyala sejak dua menit yang lalu, tetapi dua gladiator itu masih asyik maling tatap layaknya dua sejoli yang dilanda prahara. Aiwan bisa melihat pria itu akhirnya berjalan mendekat.
"Dulu kita berada dalam arena pertarungan untuk sebuah latihan, tapi kini kita bertemu lagi untuk sebuah kemenangan. Aku hanya ingin mengingatkan, tidak akan berbelas kasih jadi maksimalkan kemampuanmu."
Aiwan mengerutkan alisnya, dulu katanya? apa dulu mereka saling mengenal? kapan? dan di mana? pertanyaan itu benpendar di benaknya, tetapi segera ditepis ketika sebuah serangan meluncur ke arah wajahnya. Morat, pria itu nyaris menghancurkan wajah tampannya.
Jadi dia tidak sedang bergurau? Aiwan membatin. Dia tidak memiliki cukup alasan untuk menghabisi Morat, tetapi dia juga tidak bisa sekedar menghindar. Permainan buruknya bisa membawa Aera merenggang nyawa dan itu cukup untuk memulai penyerangan. Aiwan meloncat mundur sebelum kepalan Morat menghantam udara tempatnya berpijak beberapa detik yang lalu.
Baiklah, mari kita bertarung! Dia melihat pergerakan Morat yang cepat dan penuh perhitungan tetapi tetap tenang dan akurat. Aiwan mengagumi kemampuannya yang luar biasa. Setelah menguatkan kuda-kuda, Aiwan menyerang dengan tangan kanannya. Pukulannya ditepis dengan baik bahkan langsung diserang balik. Kini tulang lengannya terasa nyaris patah.
Dia Mutan atau AI? Aiwan mulai ragu jika lawannya seorang manusia di saat pukulannya jauh lebih dahsyat dari sapaan sepotong baja berat. Aiwan kembali melompat mundur. Sedang koloseum seketika berada dalam mode silent. Tampaknya para penonton menikmati pertunjukan mereka hingga semua keriuhan tadi teredam dengan perasaan takjub.
Aiwan kembali mengokohkan kuda-kudanya, ketika Morat berlari dan melayangkan tendangan putar. Dengan sigap Aiwan menangkis dengan kedua lengannya.
krakk ....
Sebuah retakan halus terasa di tulangnya yang sebenarnya lima kali lebih kuat dibanding manusia biasa. Aiwan menyeringai. Tubuhnya tetap kokoh; tidak terhuyung walau tendangan Morat terasa bagai dobrakan seratus prajurit biasa. Aiwan membungkuk ketika tonjokan yang kembali menyasar wajahnya terlontar, bersamaan dengan kaki kanannya yang mengangkat--melakukan serangan balik.
Morat seolah bisa membaca gerakannya kepalanya langsung menghindar Dangan seringai tipis dibibirnya.
"Aku tidak akan terkena untuk ke dua kalinya," gumamnya, membuat Aiwan berpikir keras mengenai pertandingan mereka sebelumnya.
Melihat cela yang baik, Aiwan mengurungkan niatnya untuk kembali mengenang sesuatu yang tidak ada dalam brangkas ingatannya. Dengan cepat tubuhnya mencengkram tubuh Morat, lalu mengangkatnya dengan sedikit melompat. Morat yang tersadar akan diajak melakukan atraksi putar segera mengayunkan tangannya. Namun, gerakan Aiwan jauh lebih cepat mengangkatnya ke udara. Mereka berputar seperti lalu mendarat di lantai yang dingin dan keras dengan posisi Morat sebagai alas.
Uuuggghh ....
Bersamaan mereka mengadu ketika dengan sekuat tenaga, Morat melayangkan bogeman maut ke arah dadanya tetapi ditangkap dengan cepat oleh ke dua telapak Aiwan. Dia menarik tangan Morat lalu diplintir. Namun, tendangan kakinya berhasil mendarat tepat di pundak Aiwan. Dia tidak menyangka, serangan Morat tetap maksimal ketika punggungnya pasti terasa remuk setelah mendarat dengan membawa beban Aiwan di atasnya.
Aiwan semakin memelintir lengan kanan Morat, bahkan tubuhnya ikut bekerja sama menjadi beban agar tangan bernasib malang itu tidak mampu lepas dari jeratnya. Sedang Morat tampak menahan rasa sakit itu dengan berusaha mencengkram leher Aiwan dengan tangan kirinya. Proses saling menjatuhkan-- berlangsung nyaris tiga menit yang kembali membuat para penonton berteriak memberi suara, dan merubah kondisi koloseum menjadi hidup.