Neitherland

Neitherland
NEITHERLAND The Last Civilization, Season II Variabel Lain



Holla, untuk si F dan G yang setia baca Neitherland dan memberi apresiasinya, maaf karena baru bisa up. Author lagi dapet ujian, ditinggal sama ponakan kesayangan. Setelah sakit beberapa hari akhirnya dia pergi dengan tenang tapi authornya g bisa konsen nulis. Mohon bantu doanya yaa. Dan, terima kasih banyak setiap kali baca kalian selalu memberi dukungan 😊.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Aera sulit percaya, ketika mendengar penuturan Cyma menyatakan; dirinya telah terbaring dengan sejumlah alat bantu medis sebulan lamanya. Mustahil. Batinnya. Dia sangat yakin perjalanannya ke alam kuantum bahkan tidak lebih dari dua jam. Dia menonton sebuah pertunjukkan menarik sejak masa lalu dan mungkin nanti. Namun, semua itu bahkan tidak lebih dari sejam lamanya.


"Lihatlah jika kau tidak percaya." Cyma menyodorkan smartwatch-nya. Aera terdiam sesaat sebelum akhirnya Gian menyela; memecah keheningan.


"Yang terpenting sekarang kau telah siuman, terima kasih karena tetap hidup," cecarnya terdengar tulus. Aera bisa merasakan kesungguhannya lewat matanya yang teduh. Tetapi kalimat terakhir membuatnya deja vu. Aera menyunggingkan senyum manis. selama beberapa menit ke depan suara Cyma yang mendominasi percakapan. Dia menceritakan semua hal yang Aera lewati.


"Ternyata keluarga kerajaan tidak seburuk yang selama ini kita pikirkan," urainya sembari menyendok yogurt menuju mulut Aera. "Banyak hal yang membuat rambutku rontok, dan syukurlah kini kau telah sadar." Sambungnya lalu membuang napas yang terdengar berat.


"Kau tidak akan pernah menduga, iblis itu sulit dimusnahkan. Tepat seminggu setelah pemakaman mendiang Ratu Sheeron, hal gila akhirnya memecah belah Neitherland."


Kisahnya diintrupsi oleh gerakan Gian yang beralih menuju balkon; menerima panggilan masuk. Cyma menatap punggung sang Raja hingga lenyap ditelan partisi kaca.


"Kau tidak lagi bisa memakinya," dagunya menunjuk ke arah Gian. "Karena sekarang dia adalah raja kita. Dan kau tahu siapa ratunya?" Sejak tadi cerita Cyma seolah merupakan hal yang wajar bagi Aera, sampai ketika pertanyaan tentang sosok ratu keluar, matanya mulai membulat sempurna.


Ratu? Gian langsung memiliki ratu? Aera merasa bingung dan mulai bertanya-tanya apa yang telah terjadi. Sepengetahuannya, di dunia lain, dialah ratunya, dan, ya, memang Aera berniat mengubah jalan ceritanya demi menyelamatkan nyawa Gian. Dia telah berniat menolak lamaran Gian, tetapi kenyataan saat ini berbeda 180 derajat dari yang dia ketahui.


"Aku harap keterkejutanmu tidak akan diikuti dengan rasa patah hati yang mendalam." Cyma menggenggam tangannya seolah memberi kekuatan. "Aku bahkan tidak menyangka jika kalian bisa saling mencintai," tuturnya dengan raut frustasi. Namun, membuat Aera bingung. Siapa yang dimaksud sahabatnya itu?


"Padahal sebelumnya kausangat membenci keluarga kerajaan. Mungkin itulah mengapa ada pepatah yang melarang rasa benci terlalu dalam. Pada akhirnya dia membuatmu jatuh cinta. Tapi bagaimanapun kau tidak bisa mengubah fakta, dia telah memiliki seorang Ratu. Namanya Leony, penasehat kerajaan kita yang juga merangkap sebagai ratu. Eh, sepertinya aku salah." Cyma menutup mulutnya. "Maksudku ratu yang merangkap sebagai penasehat kerajaan," sambungnya sembari menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Lalu menatap Aera dengan cengiran lebar.


"Tunggu, kau baik-baik saja kan? oh, tidak! kenapa Morat sangat lama membawa dokternya!" Cyma mulai menggerutu dengan wajah panik. Dia takut Aera terlalu syok dan tidak mampu berbicara.


Masih dalam rasa bingung, Aera menarik sudut bibirnya sedikit ke atas membentuk seringai tipis.


"Jadi kesimpulannya. Neitherland dibagi menjadi dua. Lalu kita berada di mana? Neitherland Utara atau Selatan?" tanya Aera yang membuat raut Cyma semakin bingung. Pasti sahabatnya itu tidak menduga pertanyaan Aera justru mengarah ke sana. Bukan mengenai Raja dan Ratu mereka.


"Hmmm... ya, kita berada di Neitherland Utara, dengan Dia sebagai Rajanya. Tapi yang jadi masalah kuantum Fox departemen fisika milik Neitherland Selatan di bawah Raja Ibrael."


Ke dua alis Aera nyaris menyatu. Wajahnya syarat dengan kebingungan, "Siapa Ibrael? Bukankah rajanya bernama Epraim?"


"Mungkinkah selama koma kau melihat semua yang terjadi dengan mata batinmu?" Cara Cyma bertanya sudah mirip dengan gaya detektif Konan, karakter animasi yang lahir jauh sebelum Neitherland terbentuk, tetapi hingga kini masih memiliki banyak peminat.


Aera menghela napas frustasi, batu saja dia memuji sahabatnya dalam hati. Namun, sepertinya dia harus kembali meneguk kenyataan sahabatnya itu masih belum bisa berpikir jernih.


"Bisa dibilang berdasar pengamatan. Selama ini hanya ada dua nama pangeran yang selalu menghiasi media e-koran. Jadi, jika NU dipimpin Gian tentulah NS dipimpin oleh pangeran satunya." jelas Aera terlampau pelan. Berbicara dengan cara normal seperti sebelumnya membuat Aera sulit bernapas, mungkin karena pengaruh luka dan kondisinya yang masih lemah setelah terbaring sebulan lamanya.


Cyma menggeleng mengerti, dia tersenyum manis, " Tidak salah mereka menginginkanmu kembali. Kecerdasanmu mungkin bisa menyelamatkan dunia dari ujian hidup yang rumusnya tidak pernah terpecahkan." Ucapan Cyma membuat Aera ingin tergelak.


"Aku heran kau mengenal Epraim, tapi tidak dengan Ibrael. Apa mungkin karena dia telah beristri?" Cyma mencoba menggodanya. Namun, Aera tidak menggubris dengan tetap setia memasang wajah datar. Menyadari sahabatnya itu tidak akan terprovokasi, Cyma kembali melanjutkan ceritanya.


"Ibrael itu, Anak pertama mendiang Raja Yoesep Graim. Jika tidak ada kudeta lima belas tahun yang lalu tentu dia akan menjadi putra mahkota. Tetapi dia di dampingi oleh Pangeran Epraim sebagai penasehat."


Aera mengangguk, sebelum dia sempat; ingin kembali menuntaskan rasa penasarannya lewat pertanyaan lainnya, terburu-buru, Gian membuka kaca yang menghubungkan antara balkon dan kamar Aera.


"Aku akan segera kembali. Sekarang ada beberapa hal yang harus aku selesaikan di istana. Jadi tolong jaga kesehatanmu," tutur Gian memberi pesan akhirnya. Mengelus pucuk kepala Aera lalu beralih menatap Cyma, "Kau tidak perlu keluar, aku sudah menyuruh pelayan istana berbelanja. Mungkin sebentar lagi dia akan datang membawa sejumlah makanan." Cyma mengangguk kaku. "Aku pergi," ucapnya menatap Aera.


Setelah memastikan Gian tidak lagi di dalam apartemen Aera, Cyma kembali menuangkan unek-uneknya.


"Sejujurnya aku bahagia melihat, Yang Mulia sangat mencintaimu ...," ucap Cyma lalu menarik napas panjang . "Tapi aku khawatir pada keselamatanmu. Kau tahu, Ratu, dia tipe wanita yang walaupun wajahnya cantik dan sikapnya lemah lembut jika di depan kamera, entah mengapa aku sangat yakin, ketika melihat tatapan kebenciannya saat mengunjungimu yang masih koma, membuatku yakin dia tipe wanita yang tidak segan menjambak rambutmu dan menendang perutmu di depan para dewan jika yang mulia masih terus meninggalkannya sendiri di malam hari."


Aera tersentak, "Dia, maksudku Ratu. Pernah menjengukku?"


Cyma mengangguk, "Bukan cuma dia, bahkan Pangeran tampan Epraim pun pernah ke sini."


"Gian membawanya ke sini?" tanya Aera yang tidak peduli pada informasi luar biasa; dirinya dibesuk oleh seorang Pangeran Epraim.


Cyma menggeleng dengan wajah masam. Dia kesal melihat reaksi Aera yang tampak acuh mendengar kenyataan menggemparkan; seorang Epraim pernah datang menengoknya. "Dia datang bersama pamannya tuan Piller. Oh. iya aku sampai lupa, Tuan Piller memberimu hadiah, katanya setelah bangun kau akan bersemangat untuk segera sembuh jika melihat hadiahnya."


Aera mengangkat sebilah alisnya seolah bertanya hadiah apa? Cyma yang memahami isyarat sahabatnya, berbalik menghadap rak yang berada di depan kasurnya. Telunjuknya mengarah pada buku antik yang tadinya mengusik rasa penasarannya. Sebelum akhirnya Cyma beranjak dari kursinya dan meraih hadiah yang dimaksud.