
Apartemen Aera
"Bukankah sangat di sayangkan, ilmuan cerdas dan berbakat sepertinya harus dikorbankan," suara seorang wanita yang entah siapa menyelinap masuk ke ruang kuantum.
Ries dan yang lain saling bertatapan.
"Dan aku sudah mendengar itu tiap kali kita mengecek apartemen yang berbeda. Rasanya ... eemm ... seperti memakan makanan yang sama 56 kali selama 168 jam, ya! Itu sangat memuakkan."
Suara seorang pria terdengar menimpali. "Well, kau sungguh membosankan."
"Dan kau menyebalkan!"
"Wah, lihat lubang hidungmu yang mengembang dan mengempis sesuka hati, sulit dipercaya aku harus bekerja bersama dengan makhluk aneh sepertimu."
"Diamlah! jika ingin bicara lakukan dari radius lima kilometer agar tidak mengganggu gelombang kuantum dari karbon waktunya!"
Pertengkaran ganjil yang membuat Ries dan lainnya mengerutkan kening seketika menjadi hening. Mendengar karbon waktu di sebut dalam dialog akhirnya, Antonius dan Ries menatap layar dari jarak dekat. Mereka membuka kamera mengawas di semua sisi apartemen termasuk di pintu masuk. Ternyata mereka berada di luar ruangan. Berdiri tepat di depan pintu.
"Wah alat deteksi mereka sungguh luar biasa," Antonius bergumam. Ries hanya mengangguk. Dia sibuk mengingat nama wanita yang kini posisinya mendekati lift dengan wajah mengerut kesal. Sedang yang lain sibuk bertanya pada Aera sejak komunikasi mereka kembali sukses terhubung.
Dua bola kecil metalik tampak beterbangan dalam satu garis lurus di depan pintu apartemen. Medan magnet dari ke duanya membentuk belah ketupat dengan garis merah, perlahan semakin terang.
Bom!
Bola itu meledak, serbuk karbonnya beterbangan membentuk cahaya biru dan
berubah wujud menjadi sosok ....
"Oh, tidak! itu Morat!" Sejak dua hari terakhir yang berkeliaran keluar masuk apartemen hanya Morat. Selain meminimalisir kecurigaan, juga hanya dia yang bebas menggunakan kendaraan pribadi. Masalahnya penyusupan di istana Roschiil kurang dari dua puluh empat jam lalu, membongkar kedok mereka.
Bagaikan sihir, serbuk biru bagai cahaya bintang itu menyerupai sosok Morat dan berjalan membuka apartemen.
"Baiklah, mereka di sini!" ucap sang pria yang Stego tahu bernama Omeldo. Salah satu ilmuan Elit di bawah pengawasan Joylim, tangan kanan Roschiil.
"Mereka tidak mungkin bisa menemukan ruang kuantum 'kan?" Ries bertanya pada dirinya sendiri. Melihat betapa hebat teknologi karbon waktu mereka tadi, mengumpulkan jutaan nano atom yang sebelumnya merekat karena medan magnet dari tubuh anak adam--di sekitar pintu, dan semua itu terjadi lebih dari 24 jam lamanya. Namun, gambaran yang terbentuk tidak sedikitpun menyimpang. Siapapun bisa langsung mengenali sosok cahaya biru yang merupakan potret Mentri Pertahanan NU, Morat Cordogan.
"Seketika aku merasa paling bodoh," Antonius berkomentar. Pandangannya masih terpukau pada teknologi yang memanjakan matanya. Tadinya dia terkagum-kagum pada ruang kuantum Aera dan kini di sajikan pula dengan karbon waktu yang sempurna. Bahkan kini dia merasa bisa saja menyerahkan dirinya kepada Roschiil dengan senyum indah.
"Ooh, diamlah! pikiranmu sungguh bodoh!" Yuuki mengutuk. Sejak tadi memang saluran komunikasi--mindlink mereka terbuka, tetapi semua berdiskusi mengenai kondisi di istana Roschiil.
Semua mengangguk kecuali Ries. Dia tidak bisa menerima jika semua pergi selain dia dan Antonius karena alasan bantuan mereka dari jauh lebih dibutuhkan. Dia telah belajar sedikitnya lima jenis bela diri dan ahli dalam menggunakan pistol.
"Jika aku yang tinggal di sini, kita semua akan mati. Aku bahkan tidak mengerti membaca semua coding aneh itu. Tapi kalian bisa. Bukan hanya mengubah, bahkan kalian bisa mengacaukan keamanan istana dengan keahlian kalian."
Moana mengangguk. Aku juga merasa lega jika kau tetap di sini.
Ries langsung menyorotnya tajam. Pria yang suaranya nyaris tidak pernah terdengar itu sampai merunduk canggung.
"Ya, di sana selalu ada yang lebih kuat tetapi sedikit yang juga mampu mengobrak abrik teknologi seperti kalian."
Ries menghela napas, dia meringis menyaksikan Yuuko sibuk dengan pistol kuantum yang bentuknya setipis lagi elastis bagai kain.
Salah satu senjata yang dimodifikasi oleh Antonius dan Aera. Cukup diselipkan di lengan baju. Permukaannya yang lembut secara otomatis akan mengirimkan sinyal aktif pada lensa bidik, ketika lebih dari tiga menit kulit bersentuhan dengan material pistolnya. Daya ledak yang dihasilkan setara dengan tembakan foton yang mampu menghancurkan sasaran bidik hingga menjadi abu. Ries ingin mencobanya, tetapi ya, mungkin di lain waktu.
Lantas dia mengangguk membenarkan ucapan Morat dan yang lainnya. "Baiklah, selamat berjuang. Jangan lupa kembali dengan selamat." Dia sengaja tidak mengucapkan kata menang. Mengingat pengalaman pertama kemarin--menang hanya untuk mereka yang punya segalanya. Sedangkan mereka akan selalu menjadi pemberontak.
Begitulah dunia bekerja, dan dia tidak lagi ingin mengubah apapun selain sebagian kecil yang memang harus diubah. Ries melepas senyum kecut, lalu memeluk rekannya satu persatu.
Morat, orang pertama yang dia peluk, tertawa hambar. Tangannya mengusap tengkuk Ries, lembut seolah berkata--jangan-khawatirkan-kami. "Kau tentara yang baik," bisik Morat di sela tawanya. Ries tahu itu bukan pujian, juga bukan kalimat sarkas. Lebih kepada--lawakan--oh, mungkin intermeso ketika tidak ada lagi kata yang bisa diucapkan untuk sekedar berbasa-basi karena semua terlalu ganjil.
"Oh, ayolah, di KF tidak ada hal seperti ini," tutur Antonius, dia meringis konyol. "Aku tidak bisa memeluk pria, tapi aku tidak keberatan mencium Yuuko." Kedua tangannya terbuka lebar, persis seperti senyumnya menatap Yuuko, lalu bibirnya beranjak maju.
Stego segera mencegahnya dengan pelukan kuat, "Jangan pernah memeluk wanita di sini. Terlebih jika mereka tidak sudi, lengah sedikit kau bisa meledak ... boowmm!" bisiknya lalu meringis.
Di saat yang sama, Ries telah memeluk semua orang termasuk Moana yang seakan enggan melepasnya. Bergegas membuka folder dengan nama fortress, seperti arahan Aera. Benar saja, miniatur mereka semua ada di sana. Rupanya ruang kuantum ini di desain sebagai benteng pertahanan bagi tim mereka. Tidak akan ada yang bisa masuk atau keluar kecuali dengan izin sistem.
Selain dirinya dan Antonius, Ries membuka cover pelindung para miniatur rekannya. lalu mengangguk yang semua orang tahu berupa perintah masuk ke dalam tabung secara teratur. Kurang dari lima menit setelah Ries memastikan lewat kamera pengintai, rekan-rekannya telah berada di apartemen seolah sedang tidur, sebagian lainnya justru menonton tv, pintu terbuka.
Akting mereka sungguh buruk, tetapi berhasil membuat para pesuruh Roschiil keluar tanpa berusaha mengecek ruang kuantum yang sekalipun tidak bisa diterobos tapi pasti bisa ditemukan letaknya di mana, dan itu berarti kekalahan telak bagi pihak Aera. Sebisa mungkin mereka harus melindungi benteng. Segala bukti kejahatan pihak lawan ada di sana, mungkin tidak sekarang tetapi nanti, semua itu akan berguna.
Setelah melakukan perlawanan ala kadarnya. Ries menyaksikan rekan-rekannya di seret keluar dan meninggalkan apartemen dengan kondisi kacau balau dan pintu terbuka lebar.
"Jika mereka tidak bisa kembali, sebaiknya kita menikah saja," gumam Antonius dengan wajah tanpa dosa. Ries menatap dengan sorot; sulit percaya. Antonius berbalik, dan kini mereka saling bertatapan. Pria paling kacau dari sudut pandang Ries itu tersenyum konyol.
"Kita harus melanjutkan garis keturunan, dan menjaga dunia tetap stabil dengan mencetak generasi anti Roschiil ...," ucapannya terputus. Dengan cepat Ries mencium jidatnya menggunakan kepala. Sebuah terobosan yang membuat Antonius terbaring dengan benjolan merah yang indah.