
Istana Wazner yang sekarang tidak jauh berbeda dengan sepuluh tahun akan datang. Perubahan besar tampak pada letak aula kekaisaran. Berada tepat di tengah gedung istana berbentuk huruf U. Juga kubah pelindung yang saat ini tampak sama, kedepannya memiliki fungsi ganda, menambah kemegahan kastil mewah sepanjang peradaban.
Ellie Sukafman dan William Jacksonville yang merupakan arsitek, mengungkapkan keinginan mereka; mengalahkan kemegahan Kastil Salomon. Lantai kastil bagaikan permukaan air danau hijau, langit-langitnya biru bersanding dengan kemegahan matahari di siang hari, dan berganti dengan bulan bintang dimalam hari. Bukankah kini Istana Wazner telah melebihi keindahan itu? Namun, benarkah kemegahan kastil King Salomon hanya sebatas teknologi biilboard 4D hyper?
"Seharusnya kau tidak di sini. Jika terjadi hal yang tidak diinginkan bagaimana aku bisa bertemu dengan Zerah ..." keluh Aiwan ketika mereka sedang mengintai di sekitar istana. Sebelum mereka mengakhiri diskusi panjang mengenai kemungkinan yang terjadi, dan semua rasa penasaran Aiwan tentang masa depan. Malam semakin pekat, mereka telah berpisah menuju kamar untuk merebahkan diri, ketika alarm peringatan Aiwan berdering bising.
Rupanya dia meninggalkan sensor pendeteksi bahaya pada beberapa orang termasuk di antaranya ibu Aera, Callista. Sekalipun masalah Keri dan semua yang tertinggal di masa depan membuatnya terganggu. Mengetahui peringatan bahaya itu berasal dari istana. Tempat di mana Epraim, Gian, Ibrael dan Leah berada. Aera memutuskan untuk ikut berharap bisa membantu.
Dasar bucin! Dia bahkan tidak peduli nenek telah meninggal. Apa dia mengadopsi paham para biksu yang bisa terlahir kembali? Cih, kekanak-kanakan sekali. Harusnya dia sadar ini bukan novel atau dongeng romantis dari abad pertengahan.
Aera mengumpat hanya dalam hati. Baginya mengeluarkan suara harus lebih hemat dibanding uang. Maka untuk kesekian kalinya dia mengabaikan si Mutan Tampan. Titik gerak pada shadow map berhenti kurang lebih 100 meter dari tempat Aera berdiri. Dia mengenali jalan itu sebagai lorong rahasia menuju ruang bawah tanah. Menurut salah satu pelayan di Istana Wazner ketika dia tinggal di sana. Selain menjadi gudang penyimpanan alkohol juga menjadi tempat persediaan gandum dan jelai. Pun beberapa bibit buah dan tanaman.
"Sepertinya kita harus masuk ke dalam. Apa kau mendengarku?"
Aiwan berbicara dengan suara normal saat yakin tidak ada orang di sekitarnya. Hal yang membuat Aera yakin, mantelnya saat ini berbeda dengan di masa depan. Mantel di masa depan bahkan bisa meredam kebisingan mereka keluar dari dalam. Semua perbedaan itu membuatnya kembali berpikir tentang apa yang terjadi. Kapan pertemuan pertama Aiwan dan Keri. Dan siapa yang membuat mereka. Namun, dia ingat dengan pasti. Saat di Gua Antartika Aiwan bercerita tentang pertemuannya dengan Keri. Tepat setelah dia membuka mata dan dia mengenalinya sebagai partner.
"Hhmmm ...." Aera hanya bergumam disusul decakan kesal Aiwan. Pikiran Aera terganggu karena kondisi sepinya istana.
Bukankah di jam seperti ini beberapa pekerja istana masih sibuk dan penjaga keamanan berpatroli? kemana semua orang?
"Segera kesini. Kita harus berteleportasi."
Ya aku tahu. Tanpa bersuara Aera mendekat. Namun, kemudian dia berpikir mengenai portal yang pernah dia ciptakan saat berusia lima tahun. Dia mengutuk tindakan impulsifnya, langsung mengikuti Aiwan tanpa menyiapkan apapun. Seharusnya dia bisa mengaktifkan quantum tunnel di LAB pribadinya. Dengan begitu dia bisa melakukan teleportasi mandiri.
Sesaat setelah tangan Aera menerobos keluar, mereka berpindah ke ruang bawah tanah. Melalui terowongan panjang, tampak tak berujung karena pandangan hilang ditelan gelap. Hanya cahaya merah temaram yang bersinar dari atas langit-langit terowongan. Akhirnya mereka memutuskan menelusuri jalan menuju neraka berharap ujungnya bukan lautan api. Titik dari shadow map menjadi pembakar semangat mereka.
"Tidak bisakah kita langsung berteleportasi menuju lokasi tujuan?" Aera lelah. Peluh telah beranak-pinak di sekitar jidat dan ketiaknya.
"Aku tidak bisa mengimajinasikan lokasinya ...," Aiwan menjeda ucapannya.
Tidak perlu dilanjut aku tahu jawabannya.
Akhirnya dia menghela napas berat, dan Aiwan memutuskan untuk kembali diam. Keinginan untuk mencoba seketika muncul karena rasa bersalah tetapi kembali ditepisnya saat berpikir mungkin saja mereka justru keluar dari jangkauan dan pergi ke tempat lainnya.
Nyaris tiga puluh menit mereka menelusuri terowongan bawah tanah, akhirnya shadow map menunjukkan posisi yang makin dekat dengan titik tujuan. Namun, seketika mereka kembali tenggelam dalam mantel dan melipir ke pinggir dinding ketika beberapa prajurit tampak membopong tubuh remaja yang tidak sadarkan diri. Para prajurit itu bahkan tidak menyadari kehadiran mereka. Aera mengintip dan dia melihat Gian.
Kenapa si Bodoh itu pingsan?.
Ingatannya kembali pada pertemuan pertama mereka. Tepatnya ketika dia pulang dari KF dan Gian menawari tumpangan.
Jadi karena itu, wajahnya terasa familiar?
Mereka berlari mengikuti panduan shadow map. Tepat ketika titik merah itu berkelap-kelip, semakin melemah nyaris redup dan musnah. Suara gemuruh bagai dengungan lebah menampar pendengaran mereka. Bau anyir menyeruak masuk ke dalam indra penciuman mereka. Di atas podium berbentuk batu segitiga. Roschiil berdiri dengan jubahnya. Gladiusnya bersinar ditutupi darah. Putri Cecil telah merenggang nyawa. Di antara ke tujuh wanita yang juga menjadi kurban, ada ibunya yang juga menutup mata.
***
Hari ke tujuh musim panas yang indah tahun pertama pemerintahan Imon Khnumkufu dari dinasti ke empat kekaisaran Hor-Aha.
Tepat setelah pemberian gelar Mut-Nesut (ibu raja) Ibu .menduduki kursi kebesarannya tepat di seberangku. Rambutnya diurai bagaikan selendang emas, berkilau di bawah lampu pijar. Senyumnya tak henti-hentinya bersinar.
Ibu bahagia dengan penobatan ini, tapi fakta kau masih hidup dan bisa memegang tahta seperti harapan mendiang Imon membuat ibu jauh lebih bahagia.
Ucapnya sehari sebelum acara penobatan dilangsungkan. Namun, kemegahan dihadapanku tidak membuatku lupa pada semua yang terjadi. Peperangan dengan Aswan yang membuatku berakhir berpindah masa. Perebutan kekuasaan Djeff yang menyebabkan kematian ayah tiriku; Imon Sneferu. Dan upayah pembunuhan yang didalangi oleh Helmet-nesut Mesekh II karena kecemburuannya dan keinginannya menempatkan anaknya sebagai menerus tahta.
Belum lagi semua yang harus aku tinggalkan di Neitherland. Nyaris tiga bulan aku di tubuh Epraim. Pangeran itu jelas membenci Aera. Jika sekarang aku kembali bagaimana dengan Epraim? mungkinkah dia juga kembali? lalu bagaimana dengar pertunangan mereka? bisakah dia mencintai Aera? jika tidak aku berharap setidaknya dia tidak menyakitinya.
Kepalaku sakit, tentu saja. Selain tidak memiliki waktu yang cukup untuk istirahat, kepalaku juga tidak pernah berhenti berpikir. Masalah internal masih banyak yang belum teratasi. Terlepas mendesaknya penobatan raja demi mengisi kekosongan tahta, ancaman serangan di timur Rift harus segera bereskan.
"Yang Mulia, anda menikmati persembahanku?" Suara Imona Menesehk III saat menghampiriku menambah sakit kepala. Senyumnya secerah lampu-lampu pijar yang benderang membuatku pening. Sebutir peluh tampak menghiasi permukaan jidatnya. Tanpa canggung dia menjatuhkan tubuhnya dipangkuanku.
Yang benar saja! apa dia pikir dia anak anjing? sepertinya dia tidak tahu aku suka kucing.
Para Mentri yang tengah menikmati tarian para dayang seketika bersuil. Ini memuakkan. Ingin rasanya aku mencengkram lehernya yang basah dan melemparnya seperti kain basah. Menyebalkan.
Kedua tangannya menggerayangi dadaku. Mungkin saat ini wajahku telah berkerut, karena wajahnya yang tadi tampak bersemangat seketika berubah sedikit takut. Dia harusnya berpikir tubuh seorang Imon lebih berharga dari harga dirinya yang hanya bergantung pada gelar. Bahkan gerakan tangannya tidak punya tatakrama perlahan berubah lebih jinak. Mataku menyorot tajam seolah bisa saja mencabik semua kulitnya yang berkeringat.
"Jika kau tidak bisa duduk dikursi, maka turunlah ke lantai." Bisikku tanpa senyum. "Tanganmu, rasanya seperti serangga yang ingin aku basmi. Jangan pernah menyentuhku jika tidak ingin tubuhmu terpisah menjadi beberapa bagian." Aku tersenyum manis ketika wajahnya berubah pias.
Perlahan tubuhnya terangkat dan duduk di sampingku. Sedikit bergetar tangannya bersembunyi dibalik gaunnya yang berkilau. Bukankah dia tahu gara-gara siapa aku nyaris merenggang nyawa sepuluh tahun yang lalu. Dan, juga mengenai perang dengan Aswan yang berakhir dengan kesepakatan merugikan karena isu aku mati di medan perang. Bahkan jika ayahnya menjadi jendral sejak Imon Sneferu berkuasa, semua itu tidak cukup menebus dosa kakaknya yang terlalu tamak.
Gemerincing gelang kaki dan tangan para dayang yang menari semakin berisik. Dari singgasananya Ibu menatap seolah berkata; Kau-harus-lebih-baik, karena-dia-telah-menjadi-istrimu. Sebuah fakta yang membuatku berpikir alangkah baiknya jika Aera bisa kembali menemuiku di sini. Aku menarik panas perlahan dan memejam.
Khnum*
Segala kekacauan dan kejayaan seolah berlarian di balik pelupuk mataku. Masa depan yang mendebarkan di saat yang sama menakutkan.
##
*khnum adalah nama Dewa pencipta alam semesta. Satu-satunya dewa yang disembah sebelum kesesatan menyebar dan muncul beragam dewa