Neitherland

Neitherland
Season II, Akhir dari Permainan



Tiga Jam Sebelumnya


Ries sedang berusaha menerobos data kamera pengawas di istana Roschiil, ketika sebuah sistem asing masuk dan memberinya akses dengan mudah.


"Ada apa?" tanya Antonius yang menyaksikan perubahan wajah Ries.


"Sepertinya mereka baik-baik saja," jawab Ries dengan sebuah senyuman cerah.


Bukan tanpa alasan dia menjawab seperti itu. Kejadian serupa juga pernah dia alami ketika mereka melakukan perlawanan dan berhasil mengusir Roschiil dari sebuah istana megah menuju istananya saat ini. Sekalipun ada banyak hal yang mereka korbankan, tetapi kekalahan tidak sepenuhnya berpihak pada mereka.


Kedua alis Antonius terangkat. Ekspresi yang menunjukkan jika dia berpikir sesuatu seperti--bagaimana-mungkin?


Saat itu pula sebuah pesan rahasia muncul bersama beberapa formula. Antonius yang juga ikut membaca seketika bahagia seolah mendapat jackpot. Dengan semangat mereka mulai meracik senjata terdahsyat yang sebelumnya tidak satupun dari mereka memikirkannya.


"Luar biasa! apa ini dari Aera?"


tanya Antonius ketika mereka melakukan adegan simulasi lewat kotak dialog daring. "Sepertinya begitu." Ries tidak pernah mempermasalahkan siapa informan sekaligus guideline mereka. Yang dia tahu tugas untuknya harus segera rampung dan bisa berjalan tepat waktu.


Nyaris tiga jam berlalu, drone yang membawa sekumpulan serangga mirip nyamuk dengan ukuran jauh lebih kecil menghiasi langit Neitherland. Sibuk membuka jalan untuk Drone, Ries dan Antonius tidak mempermasalahkan adegan kamera pengawas yang jelas hanya sebuah rekaman ulang.


Seperti sebelumnya, Medan pelindung istana telah terbuka, drone masuk dengan mudah. Rutenya mengikuti alamat yang diberikan dalam formula sebelumnya. tepat di ruangan gelap drone menetas. Ribuan nyamuk berukuran nano keluar dan menyerbu bagai haus darah. Ries dan Antonius terperanjat melihat rekaman dari para nyamuknya.


Rekan-rekan mereka berada diujung maut. Morat telah nyaris kehilangan nyawa, ketika sebuah nyamuk berukuran mikro masuk ke dalam telinga Arkdom. Dengan cepat memindai pembuluh darahnya lalu melepaskan sejumlah zat botulinum toxin. Satu nyamuk menyusul rekannya dia masuk melalui lu-bang hidung.


Kurang dari satu menit. Otot-otot Arkdom melemah. Cengkramannya pada Morat mengendur. Tapi Ries tidak melihat Mentri pertahanan NU itu balik melawan. Dia masih terdiam seperti sebelumnya.


Sedangkan Arkdom mulai kebingungan. Paralisis telah menyerang anggota tubuhnya. Detik berikutnya dia ambruk dengan raut cemas. Itu adalah waktu ketika semua pernafasannya mulai sesak dan tubuhnya perlahan lumpuh. Detik akhirnya kedua matanya melebar marah dengan tangan seolah mencekik lehernya sendiri.


Hal yang sama terjadi pada yang lainnya. Antonius dan Ries berbagi tugas mengawasi rekan-rekannya. Setiap nyamuk telah memiliki target berdasarkan gen sebagian pula berupa DNA. Jika tidak mati di tengah pertempuran para pengikut Roschiil akan mati karena suntikan botulinum toxin.


Yang menakutkan bagi Ries adalah praduga mereka tiba terlalu lambat hingga relan-rekannya tidak lagi bisa terselamatkan. Jantungnya mulai berpacu ketika masih menyaksikan Morat mematung degan posisi tengkurap. Di bagian lainnya dia melihat Moana bersimbah darah. Satu tusukan terakhir nyaris menembus jantungnya sebelum akhirnya pria yang menyerang Moana terdiam kaku dan jatuh karena lemas.


"Oh, tidak! itu Yuuko!" suara Antonius membuat Ries berpaling dan mengikuti telunjuknya. Gadis cantik bermata minimalis itu tampak lemas. Kedua matanya memerah. Sedang wanita yang ada di depannya mulai merasa aneh. Namun, sebelum dia terjatuh pisau yang berada di lengannya kembali meruncing; keluar dari sarangnya.


Yuuko yang masih lemas, setengah sadar tak kuasa menghindari serangan Joylim. Matanya melebar seiring dalamnya pisau menusuk jantungnya. Joylim melemas, dadanya sesak. Dia terjatuh di atas Yuuko yang memuntahkan darah.


***


Aera baru saja hendak memasrahkan dirinya di bawah tebasan Gladius Roschiil, tetapi bunyi gesekan antara baja dan titanium terdengar membuatnya kembali membuka mata.


Di depannya sosok Aiwan menghadang dengan sebelah tangannya yang telah berubah menjadi senjata.


Ada kelegaan yang berembus karena dia tahu Keri telah kembali. Yang sesungguhnya dia memang tidak pernah pergi. Sejak kegagalan pertama mereka, Keri terus berada di dekat Roschiil. Mengenali segala kelemahan dan kekuatannya. Mengawasinya dari dekat hingga sinyal darinya terasa wajar dan menyatu dengan energi the Art milik sang Iblis.


Mungkin bagi Aera dan timnya kejatuhan Roschiil adalah kemerdekaan perbudakan Neitherland. Tetapi bagi Keri, jatuh saja tidak cukup. Roschiil harus musnah dengan begitu misi penciptaannya tercapai. Tujuan hidupnya terealisasikan dengan baik. Yang berarti programnya sukses. ******* dari penciptaan sesosok Keri dan selesainya misi sebagai AI.


Aera kembali dilanda takut ketika sebelah lengan Aiwan yang memanjang dan menajam membentuk shotel justru patah setelah beradu dengan Gladius Roschiil. Sedang perisai dari Medan magnet yang berada di tangan kanannya nyaris diterobos oleh tangan Roschiil lainnya. Sungguh kekuatan iblis yang luar biasa.


Mencoba mengabaikan rasa sakit pada sekujur tubuhnya Aera bangkit. Mengambil potongan Altar yang berujung tajam. Lalu melangkah menuju belakang Roschiil. Dengan menarik napas Aera mengangkat potongan Altar yang terbuat dari batu mulia berumur ribuan tahun. Membenturnya tepat di belakang kepala Roschiil.


Erangan sang iblis membawa sejumlah energi yang cukup mendorong Aera kebelakang dan terkejut. Aiwan yang sejak tadi kesulitan menahan energi sang Lucifer seketika terpental dan memuntahkan darah. Angin yang entah berasal dari mana memenuhi ruangan. Beberapa benda yang semuanya berasal dari batu mulai melayang. Memasung tangan dan kaki Aiwan.


Roschiil berbalik, kepalanya meneteskan darah. Matanya gelap oleh amarah. Aera yang seketika merasa terintimidasi tak mampu menjauh walau selangkah. Tangan besi sang Dewa Neraka melayang, mendarat di pipi pucat Aera. Gadis ringkih itu terhempas untuk kesekian kalinya. Tubuhnya menyentuh dinding yang berada tepat di dekat peti Swaillyn.


Aera mencoba membuka matanya. Semua terlihat buram. Telinganya berdengung, mulutnya terasa kebas dan rasa asin membuatnya memuntahkan sejumlah cairan darah merah pekat. Aiwan bisa saja menembak Roschiil dengan sinarnya. Tetapi radiasinya bisa memicu ledakan hebat dan mungkin kiamat benar akan terjadi lebih cepat.


Aiwan berteriak mengerahkan sekuat tenaga melepas diri. Di satu sisi Roschiil telah berada di hadapan Aera. Dia menarik The Art miliknya keluar dan mengangkatnya sejengkal dari atas kepala.


"Kau akan tahu, hebatnya hukuman bagi pembangkang yang mencoba melawan keinginanku."


Roschiil menyeringai, dan mulai melafalkan mantra. Semakin lama semakin kencang angin berputar, semakin banyak barang yang beterbangan. Beberapa bahkan menabrak Aera dan Aiwan dengan brutal. Ketika the Art Merah milik Roschiil menyala terang, Aera membeliak. Keri muncul dalam wujud yang sebenarnya. Tidak melalui hologram seperti biasanya.


"Jika aku tidak kembali maka misiku sukses," ucapnya sembari mengedipkan mata lalu menutupi sekeliling Roschiil dengan mantelnya. Kini The Art milik Aera yang menyala. Tidak kuasa menahan panas dengan cepat Aera melepas kalungnya. Telapaknya melepuh begitupun kulit sekitar lehernya.


Beberapa menit berlalu setelah energi kuat dari kedua the Art yang menyala membuat dada terasa sesak. Aera jatuh memuntahkan banyak darah. Puluhan patung batu berjatuhan. Sebagian besar menimbun Aera. Dengan cepat Aiwan bangkit. Hendak menyelamatkan Aera.


Langkahnya terhenti ketika dia menyadari tubuhnya perlahan menghilang. Kakinya, pahanya, dan kini kedua tangannya yang terangkat ikut bersinar, memburam lalu menghilang. Kini, pandangannya menatap Aera yang tidak sadarkan diri di antara reruntuhan batu. Kedua matanya berkaca-kaca.


Maaf.