Neitherland

Neitherland
Season II, Di Balik Tirai



Wangi kopi menguar dari smart air freshener yang tersalib tepat di antara jam dan layar hologram: menampilkan siaran dari salah satu tv swasta. Ruang rawat yang lebih tampak seperti ruang keluarga hangat nan megah itu hanya diisi oleh bunyi monitor. Aera menduga berada di balik tirai putih. Posisinya bersebelahan dengan sofa berwarna abu-abu lava. Sedang suara tv digital yang ditampilkan lewat layar hologram? langsung masuk ke pemilik kamar dan orang-orang yang mengaktifkan bluetooth airpods-nya.


Aera menatap Epraim yang kini berjalan mendahuluinya, dia membuka tirai dan mengintip ke dalam. Kelakuannya membuat Aera mengerutkan dahi dan bergidik geli.


"Sepertinya kita datang terlalu cepat," gumamnya sembari memutus jarak dengan Aera. "Maukah kau menunggu sebentar di sini? aku harus menemui dokter, hanya sebentar," pintanya lebih terdengar menuntut dan itu membuat Aera tersenyum sinis lalu beranjak menuju sofa.


"Selagi aku dipersilahkan duduk nyaman dan menikmati hidangan yang ada, aku pikir tidak masalah." Tatapannya tertuju pada aneka hidangan yang ada di atas meja kaca.


Epraim tersenyum, sedikit berdehem menyembunyikan tawanya yang nyaris meledak. Cukup kembali menarik perhatian Aera dari beberapa hidangan yang menggugah seleranya. Aera merasa aneh, pria di depannya sangat jauh dari kata dingin seperti berita yang selama ini menghiasi media elektronik. Sejak tadi dia lebih terlihat seperti orang yang hangat dan mudah tertawa. Menanggapi pemikirannya yang seketika menuju Epraim, gadis itu hanya mengindik malas.


"Ya, Nona, silahkan membuat dirimu nyaman dan selamat menikmati hidangan istimewa," tuturnya dengan senyum tipis menawan yang berhasil membuat Aera terpana. "Aku akan segera kembali," tandasnya sebelum berlalu dan menutup pintu dengan lembut.


Aera tersadar dari keterpukauannya, mengedip dan merutuki tingkahnya. Dia memilih duduk--menyamankan diri. Meraup beberapa almond dan membuka botol air mineral. Tatapannya mengarah tepat pada siaran di layar hologram. Matanya memindai seisi ruangan hingga menemukan sebuah nakas yang menghiasi sudut ruangan--di samping kirinya. Di atasnya sebuah mangkuk keramik safir dengan tutup berbentuk heksagon menarik perhatiannya. Dihampirinya dan dibuka mangkuk keramik itu. Beberapa airpods dia temukan bergumul di sana.


Diraihnya salah satu, lalu diselipkan di antara daun telinga bagian bawah. Tepat saat airpods-nya telah aktif, suara penyiar berita menampar telinga yang berhias lima tindikan tanpa aksesoris.


"Mungkinkah kabar burung yang selama ini beredar mengenai keluarga kerajaan bukan sekedar gosip?" suara penyiar pria yang merupakan humanoid media cetak tertampan bergema dalam telinganya.


"Bicara tentang keluarga kerajaan, saudara kandung kita bukankah juga sedang dipimpin oleh keluarga kerajaan yang sama?" humanoid wanita menimpali


"Benar sekali Berta, lalu apa mungkin penyakit mereka terwariskan dan menjadi pengikat takdir kutukan bagi Neitherland Raya?"


Humanoid wanita seolah terkejut, tampak dari dahinya yang berkerut. Keterkejutan itu tidak sampai pada matanya. Di sinilah perbedaan teknologi Neitherland dan Keri yang entah dibuat oleh siapa. Ah, memikirkan Keri, Seketika Aera merindukan monyet pesek yang menyebalkan itu.


"Robert, sepertinya Anda lupa Neitherland Raya telah tertinggal di masa lalu. Kini hanya ada NS Dan NU." Sarkasme mereka bahkan tidak mengandung emosi. Sebuah senyum tanpa ruh terukir di wajah ke dua humanoid itu.


Heh, yang benar saja! Bukannya membahas solusi dari krisis yang dihadapi, malah bergosip ria mengenai keluarga kerajaan.


Aera akhirnya mengerti mengapa dulu dia sangat membenci kerajaan Neitherland. Merasa tidak mendapatkan manfaat, Aera melepas airpods-nya yang langsung disambut oleh suara desisan dari balik tirai.


Kewaspadaannya meningkat, masuk dalam level waspada. Fokusnya kembali pada beraneka suara yang lahir dengan ketukan teramat pelan, seolah sengaja menyembunyikan diri dibalik gelombang suara mesin yang meraung sendiri. Jika tidak memiliki kepekaan berlebih terhadap semua indra termasuk pendengarannya, Aera tidak akan mampu menangkap pergerakan halus yang berada di balik sana.


Aera mengamati objek yang berada dibalik tirai. Sebuah kerangka hidup tergeletak di atas kasur, kursi, nakas. Menakjubkan, ternyata ruang di balik tirai ini begitu luas! sebuah sofa panjang dan meja bundar membuatnya termangu. Bukan karena sofanya yang bahan dan warnanya tidak terlihat jelas, tetapi karena objek yang berada di baliknya.


Manusia?


Perlahan Aera menyingkap tirai, langkahnya menyeretnya jauh dari dekat tirai. Sebuah kasur rawat tampak mewah menarik fokusnya dari sang target. Matanya tertuju pada sosok yang terbaring tenang di atas kasur. Sejumlah selang telah menghiasi permukaan kulit dan menutupi wajahnya. Pandangannya teralihkan ketika sosok yang berada di balik sofa itu keluar, dan mungkin tertegun melihat kehadirannya. Aera menajamkan fokus pada matanya. Buram. Berlapis-lapis material quantum stealth membuatnya sulit mendeteksi sosok tersebut lewat matanya. Namun Aera yakin sosok itu kini tengah menatapnya.


Setelah memastikan tidak ada senjata tajam yang bercokol ditubuhnya, selain sebuah suntik yang tampak berisi virus aktif, Aera memutuskan menghampiri sang penyusup. Tampak terkejut menyadari langkah Aera mendekati dirinya, Aera melihat sang penyusup justru mundur beberapa langkah secara perlahan sebelum akhirnya berhenti. Aera menyeringai.


Heh, dia pasti lupa sedang menggunakan APD bermaterial quantum stealth. Tepat setelah Aera mencibir sang Penyusup dalam hati, sosok itu justru maju. Dengan langkah ragu, dua, tiga langkah dia menjauhi sudut sofa. Kurang dari satu langkah Aera berhenti di hadapannya. Si Penyusup kembali tertegun dan ikut berhenti. Pasti sangat menyenangkan jika bisa melihat ekspresinya yang bodoh.


Kurang dari satu menit dalam kebingungan sosok itu memutuskan mengambil langkah lebar. Mendekati kasur pasien dan menarik suntik yang berada di balik kantong jubahnya. Tidak tinggal diam, Aera yang merasa suntik itu bertujuan buruk seketika mengejar dan merangkul pundaknya. Kelima jari lentiknya menari dan meremas hingga mampu membuat si empunya beraksi setelah merasa sakit.


Sang penyusup berbalik sembari menepis, sayangnya usahanya tak cukup kuat untuk melerai cengkraman Aera yang terasa semakin menguat bagaikan lintah kehausan darah. "Kau tahu, aku paling benci dua jenis orang. Pertama, orang yang meremehkanku. Ke dua, seorang pengecut."


Aera merasakan pukulan kuat pada lengannya. Gerakan kasar yang terasa ceroboh, membuatnya sadar, sang Penyusup mungkin hanya seorang perawat gila yang tidak tahu seni bela diri. Tanpa berlama-lama, dia melayangkan tendangan tepat ke arah rusuknya. Membuat sang Penyusup membungkuk sembilan puluh derajat dan kembali menendang kepalanya dengan gerakan memutar. Tubuh sang Penyusup terhempas dan membentur meja. Bunyi benturan tubuhnya dengan permukaan meja terdengar memekik, disusul ricuhnya segala hal yang berjatuhan dari atas meja menuju lantai.


"Apa yang kau lakukan?" Suara Epraim adalah kebisingan berikutnya yang memenuhi seisi ruang rawat. Di banding bertanya, pangeran itu lebih terdengar geram dan kesal. Aera tidak peduli. Perhatiannya fokus pada sang penyusup yang tampak kesulitan bangkit.


Tanpa menjawab pertanyaan Epraim, Aera Menyeret langkahnya menuju sang Penyusup yang tidak bereaksi melihat kedatangannya. Mungkin pula dia benar tidak melihat Aera tengah berjalan menghampirinya. Tangannya meraih kepala sang Penyusup, tetapi ditepis dengan gerakan panik. Aera menyeringai, lawannya bukan orang yang perlu diwaspadai. Segera di lemparnya tubuh yang masih berbalut mantel tembus pandang. Menarik senjata keluar dari kantongnya.


"Kau harusnya tahu, bahwa kau memenuhi ke dua kriteria itu. Percayalah, jika dengan mata telanjang aku bisa menyadari keberadaanmu, maka pistolku bisa menembus mantelmu yang tidak berguna." lirihnya yang seketika membuat sang Penyusup bergidik dan mematung.


"Apa yang kau lakukan!" bentakan Epraim kembali terdengar. Kali ini sedikit tidak sabar.


Aera mengeram kesal, menatap sang Pangeran dengan sorot tajam menikam. Pistolnya masih setia membidik sang Penyusup yang terlentang di atas dinginnya lantai berkeramik putih. Jika dia cerdas, alih-alih menggangguku dengan pertanyaan bodoh seharusnya dia segera memanggil petugas keamanan.


***