Neitherland

Neitherland
Season II, Ruang Interogasi



Satu alasan kuat mengapa Aera menggoda Aiwan adalah untuk menghancurkan ritual setan yang kembali digelar ketika purnama tiba. Tidak seperti ritual lainnya, harus menunggu sepuluh tahun setelah darah perawan sebelumnya mengering. Dengan bantuan the Art, ritual itu bahkan bisa menjadi terakhir kalinya. Juga, karena ritual sebelumnya tidak bisa dikatakan sempurna.


Sayangnya kebahagiaan Aera yang merasa yakin, ritual itu kembali kacau bahkan mungkin gagal, seketika hancur karena fakta mencengangkan yang diutarakan Aiwan.


"Aku akan menikahimu."


Tanpa kalimat pembuka, ucapan itu yang langsung terlontar tepat ketika Roschiil meninggalkan ruangan. Wajah Aera menjadi aneh, keningnya melengkung membentuk gelombang. Kemudian gumaman konyol terdengar bodoh.


"Kenapa?" Aera tahu itu pertanyaan paling bodoh tetapi dia tidak memiliki ide lain. Pernyataan Aiwan membuatnya terkejut hingga mampu menendang otaknya keluar dari kata logis.


"Visual yang kau tangkap ... bukankah terasa menyenangkan? dan itu akan menjadi nyata hingga berhenti membuatku tersiksa ketika kita bisa menikah."


Sejenak, waktu seolah terhenti. Harusnya itu ucapan yang manis, tetapi ada yang aneh dan mengganggu benak Aera. Visual ... menjadi nyata ...?


"Maksudmu ...." Aera bahkan ragu menyempurnakan kalimatnya karena terlalu takut pada kemungkinan yang membuat harga dirinya terluka. Lebih dari itu, ya, ini bukan sekedar harga diri tetapi juga hidup dan mati.


Dia jelas tahu kemampuan Aiwan paling mutakhir, setelah perubahannya terakhir kali adalah mampu mengirimkan pesan bahkan tanpa bantuan elektroda.


"Sekalipun cinta benar-benar musnah, tetapi aku tidak bisa mengotorinya dengan mengikuti budaya saat ini."


Aera mulai jengah kebiasaan Aiwan dalam mengutarakan maksudnya, dengan cara paling sulit tidak pernah berubah. Alih-alih menjawab, dia justru berbicara mengenai cinta yang mungkin memiliki benang merah setipis siratalmustakim. Jembatan dari legenda zaman lampau.


"Pernikahan adalah jalan memuliakanmu dan menghormati cinta yang masih menjadi anugerah."


Omong kosong apa itu? Aera menatap Aiwan seolah menuntut penjelasan lebih.


"Karena itu aku tidak bisa melakukannya ...," tuturnya ragu dan itulah intinya.


Kini Aera telah tahu apa yang terjadi. Mutan sialan itu membuatnya tertidur dan mengirim pesan yang ada dalam benaknya menuju lobus oksipital. Dia melihat dan menikmati adegan panas yang menjadi angan Aiwan seolah mereka benar melakukannya. Sialnya lagi dia bahkan benar-benar melucuti pakaiannya. Maka kebodohan mana lagi yang dia dustakan?


Wajahnya memerah menahan malu dan marah. Namun, sekuat tenaga dia tetap bertahan menatap sang Mutan yang entah mengapa sekarang pun tampak merasa malu? menyesal? marah? entah, dia tidak peduli.


Sebelum Aera sempat mengutarakan amarahnya, Aiwan kembali bersuara. "Sejujurnya setelah Keri menghilang, aku tidak lagi bisa membaca pikiranmu. Tapi barusan, semua terdengar jelas. Aku sungguh minta maaf. Bagaimana jika kita menikah sekarang dan melakukannya?"


Kini Aera bahkan tidak tahu harus marah atau tertawa. Ucapan Aiwan terdengar konyol dan membuatnya merasa seperti maniak ****. Harusnya dia memperjelas ucapannya, tidak setengah-setengah begitu dan membuat orang lain menjadi salah paham.


"Lupakan saja. Mungkin memang belum waktunya." Aera mengembuskan napas frustasi.


"Tapi ritualnya?"


"Kau tidak akan membiarkan hal itu terjadi," jawabnya santai seolah tidak ada yang perlu dikhawatirkan.


Pembicaraan mereka diinterupsi oleh kehadiran prajurit hitam yang menerobos masuk.


"Tolong jangan khawatir. aku sama sekali tidak melihatnya. Saat itu aku menutup mata. Jika aku melihatmu mungkin aku tidak sanggup menahan diri," jelasnya meyakinkan dengan tempo sesingkat-singkatnya.


Pandangan para prajurit mengitari seisi ruang. Mungkin mereka sempat mendengar suara Aiwan yang ujungnya masih bergema ketika mereka membuka pintu. Lalu menggiring Aera menuju ruang interogasi. Ruang di mana Tuan Piller, Gian, dan Leony terduduk dengan tangan dan kaki di pasung oleh material quantum stealth. Aiwan telah hendak memberontak, tetapi kembali diam ketika mendengar larangan dari Aera.


Karena itu, di sinilah dia akhirnya. Duduk dengan wajah kusut memikirkan tingkahnya yang memalukan di bawah kendali Aiwan. Sesekali matanya melirik orang-orang yang juga di pasung dalam posisi duduk sepertinya. Mereka tampak terlelap atau mungkin dipaksa lelap.


Roschiil masuk sembari menjentikkan jari. Namun, tidak melenyapkan setengah dari penduduk Neitherland. Bunyi petikan jarinya sebagai alarm untuk membangunkan para tawanan, dan membuat mereka menyambut kedatangannya. Aera mendengus sembari memutar kedua bola matanya ketika Roschiil menyapanya dengan sebutan anak.


"Aera!" seru Gian ketika pertama terbangun dan mendapati Aera menjadi bagian dari mereka.


Aera menatap gadis cantik yang ada di sebelah sang Raja NU. Leony. Sang Ratu hanya menatapnya datar tanpa ekspresi berarti. Alih-alih membalas sapaan Gian, Aera justru bertanya.


"Kapan tepatnya purnama di bulan ini?"


"Kau terlalu terburu-buru sayang," Roschiil meledek dengan seringai licik.


"Mungkin besok atau lusa," jawab Gian setelah berpikir cukup lama. Leony mengangguk samar, ternyata dia juga memikirkannya. Sedang Tuan Piller, lupakan saja. Dia tetap diam bagaikan dinding dan ubin, meski sesekali menatap Aera.


"Kalian sudah berbagi malam panas?" tanyanya lagi yang bahkan membuat Roschiil membentuk raut aneh.


"Jika belum kau pasti tidak normal!" dia menghakimi Gian yang hanya dibalas tatapan bingung bercampur bodoh dari sang Raja. "Tapi jika sudah, seharusnya Ratu NU bisa dibebaskan toh dia tidak lagi berguna?" Kali ini dia menatap Roschiil seolah meminta persetujuan.


"Lebih baik kau pikirkan saja tugasmu, sayang," Roschiil membalas acuh tak acuh. Bukannya Aera tidak tahu, jika sejak dulu Roschiil selalu mengambil tumbal pengiring dari keluarga kerajaan. Namun, fakta bahwa dia pula yang menghancurkan keluarga kerajaan menjadi alasan kuat tumbal pengiring bisa saja dari kalangan luar.


"Salah satu tugasku memastikan mereka tidak perlu ikut menjadi bagian ritual bodohmu!"


Roschiil berdecak, "Kau sungguh lancang, sayang. Bagaimana mungkin kebangkitan ibumu disandingkan dengan kata bodoh."


Ucapan itu terdengar logis. Bagi Aera, ibunya tidak layak disandingkan dengan kata bodoh. Itu murni untuknya--Roschiil--seorang. Dan juga, terlalu banyak tawanan membuatnya sulit menjadi penyelamat. Aiwan jelas tidak memiliki kemampuan Keri yang bisa membawa banyak orang untuk berteleportasi. Dan, the Art ... oh dia bahkan lupa benda itu telah dicuri darinya.


Kesimpulannya dia membutuhkan sebuah rencana matang dengan sedikit nyawa yang perlu di selamatkan. Maka, mengirim Leony, Gian atau Tuan Piller keluar dari istana Roschiil menjadi jalan pertama yang hendak ditempunya.


Aku bisa menghancurkan mereka dengan fotonku.


Aera menghela napas dalam, panjang.


Baiklah mungkin hanya perlu sinar X-ray?


Lalu menyorot Ayahnya tajam. Dia mencoba mengabaikan suara Aiwan yang terus bergema dalam kepalanya. Entah apa yang terjadi. Apakah Keri telah kembali, atau Ries berhasil masuk di antara mereka. Dia hanya berharap apapun itu semua terjadi beberapa detik yang lalu. Tidak ketika dia masih di ruang pribadi.


"Kau! dan semua rencanamu yang bodoh!"


plakk


Panas dan sakit memeluk pipi kirinya, nyaris membuat giginya meluruh semua. Sedangkan kegaduhan di dalam kepalanya membuat dia meringis, lalu mengumpat.


Diamlah! satu pukulan tidak akan membuatku mati!