Neitherland

Neitherland
20 : Kisah Aiwan



"Ya, aku bertemu dengannya setelah semua mimpi buruk itu berlalu dan membuatku ingin menyerah untuk tetap hidup."


Aiwan memulai kisahnya.


"Kalian tahu, apa yang menyebabkan sebagian besar bumi dikelilingi radiasi? Perang dunia ke tiga mungkin alasan yang tidak salah, tapi mereka jelas tidak berniat meledakkan wilayah mereka sendiri. Dalam sejarah yang mereka tulis semua itu merupakan latar belakang dilarangnya penggunaan teknologi quantum stealth, yang mana menjadi sebab para ******* mengambil alih kendali dan meledakkan semua kota. Itu omong kosong. Mereka hanya malu mengakui semua itu terjadi karena ketamakan dan keteledoran mereka sendiri. Maka Tuhan membuat mereka merasakan kehancuran Pompeii."


"Semua Nuklir yang mereka simpan di gudang-gudang militer, seketika meledak. Pesawat-pesawat tempur dengan tekhnologi paling mutakhir terjatuh. Listrik padam. Letusan, kebakaran dan kehancuran di mana-mana. Baik di negara yang ingin dihancurkan ataupun di tempat yang sengaja diselamatkan. Tuhan membuatnya adil dengan mengirimkan Solar Storm terhebat sepanjang sejarah umat manusia."


"Hanya beberapa wilayah yang aman untuk ditinggali. Karena mereka adalah wilayah gurun pasir yang tidak memiliki kehidupan, ataupun wilayah kutub yang diselimuti es tebal. Kalian tahu setelah itu apa yang terjadi. Empat tahun setelahnya kutub bumi berputar, dan kehidupan mulai bersemi di daerah-daerah yang dulunya tidak tersentuh tangan manusia."


"Dan pertemuanku dengan para predator biadab itu, setahun sebelum Sahara berubah menjadi cikal bakal Neitherland. Karena Solar Storm Pesawatku terjatuh, dan aku yang kehilangan kesadaran tiba-tiba terbangun di sebuah lembah."


"Aku diselamatkan oleh pemuka agama yang telah sepuh. Seperti yang terjadi di Indonesia dan semua negara manapun di dunia. Posko para terdidik dan masyarakat awam berbeda tempat. Sedangkan bagi masyarakat Pasthun yang telah terlibat perang sejak puluhan tahun yang lalu, pendidikan mereka memang jauh tertinggal. Tidak satupun orang yang bisa membuat mesin listrik sederhana. Tidak ada yang bisa merakit kembali motor-motor dan mobil apalagi android. saat itu peradaban kembali bermula dari titik satu. Tidak ada listrik. Tidak ada pesawat terbang. Tapi beberapa senjata masih bisa digunakan."


"Sebenarnya itu adalah kota yang indah. Sungai Jihan, zaman kuno disebut sabagai sungai Oxus. Sekalipun Airnya tidak lagi bisa digunakan, dia tetap mengalir seolah tidak peduli kekacauan yang terjadi. Belum lagi pemandangan di sekitar lembah atau pun dari bahu-bahu gunung Hindu Kush. Sayangnya, semua ke indahan itu kini berganti dengan hal yang sangat mengerikan."


"Setelah beberapa hari memulihkan diri akhirnya aku tahu, berada di wilayah Hairatan. Itu adalah tempat di mana aku dan Zerah pertama kali bertemu. Kota indah yang menjadi perbatasan bagian Utara Afganistan dengan Uzbekistan. Demi mengenang itu aku memaksakan diri berjalan menuju jembatan perdamaian yang dibangun Uni Soviet ketika dulu mereka menginvasi Afganistan dan mengirim pasukannya lewat jalur darat."


"Jembatan itu nyaris musnah. Jangankan mobil, kudapun akan sulit melewatinya. Ketika aku merasa hubunganku dan Zerah pun akan segera hancur seperti jembatan itu, seorang gadis muda menyapaku. Dia mengenalkan dirinya. Kalian tahu siapa namanya?"


"Malala Yousafzai?" celutuk Keri. Dia yakin betul aktifis berkebangsaan Palestina itu berasal dari lembah.


Aiwan tersenyum menggeleng.


"Dia tidak bersungguh-sungguh bertanya. Kau tidak perlu menyela," ketus Aera. Sedangkan Gian hanya bisa menepuk jidadnya. Koreksi Aera jelas menambah jeda.


"Namanya Zerah. Kejutannya lagi, ternyata dia cucuk dari kakek yang menolongku. Dia yang selama ini membantu kakeknya merawatku. Ibu dan Kakaknya meninggal saat rudal tentara Amerika menyerang daerah sekitar lembah. Hanya tersisa Ayah dan Adik laki-lakinya berumur tujuh tahun."


"Dia yang menemaniku mengisi kekosongan hidup selama di Hairatan. Dia sangat baik dan periang. Berkat senyumnya aku tidak lagi murung mengingat Zerahku. Tapi tetap saja, dia bukan Zerah yang ada dalam hatiku. Terkadang aku menyesali hal itu. Aku sungguh berharap mampu membalas semua kebaikan termasuk perasaannya, tapi semua telah berlalu dan aku berharap dia mendapatkan balasan yang jauh lebih baik dari Tuhan."


"Butuh waktu tiga tahun untuk menyembuhkan tanganku yang patah, dan kalian tahu, selama tiga tahun di Hairatan. Aku melihat begitu banyak rasa sakit, kemiskinan, kelaparan dan kematian. Kekeringan melanda semua penjuru kota, bahkan negeri-negeri tetangga. Anak-anak perlahan mati seperti tanaman kering karena haus tiada Tara. Sedalam apapun kami menggali, Air tak juga menampakkan diri. Bahkan sungai Jihan yang mereka sebut dari surga kehilangan pesonanya."


"Beberapa bulan berlalu dan perang terhebat setelah ketiadaan listrik dan makanan meletus. Hujan kembali turun. Sungai Jihan yang awalnya menjadi gurun batu kembali dialiri air bersih. satu dua rumput mulai menghijau. Dan harapanku untuk dapat pergi menemukan Zerah kembali bersemi.


"Tepat di pertengahan tahun, aku menemukan seekor kuda dan berniat meninggalkan Hairatan menuju ke daerah yang mungkin menjadi tempat disembunyikannya para ilmuan. Tapi, sebelum berangkat Zerah menahanku. Berharap aku bisa ikut dalam perayaan hari keagamaan yang baru bisa mereka rayakan dengan banyak makanan di tahun ini.


Kini gantian, Aiwan yang menghela napas. Panjang.


Dalam.


"Di tengah-tengah perayaan yang berlangsung. Dari puncak Tirich Mir mungkin pula Noshaq, para bedebah itu berdatangan bagai air bah. Mereka berseru, berlari sambil mengayunkan pedang."


Suara Aiwan tertahan, matanya berkaca. Sedangkan Aera menggigit bibir bawahnya. Dia bisa membayangkan hal mengerikan yang saat itu menyerang rakyat Pasthun.


"Di tengah kebingungan yang melanda, beberapa orang dengan sigap berlari mengambil senjata, tapi tidak sedikit yang telah mati dibantai tanpa bisa melakukan perlawanan."


"Ayah Zerah menarikku menjauh, untuk bersembunyi. 'Merekalah yang telah dinubuatkan sebagai bangsa penghancur yang memburu semua manusia yang mereka temui. Kita tidak bisa melawannya, mereka terlalu kuat lebih baik bersembunyi.' heh, itu ucapan ayah Zerah yang membuatku kesal. Bagaimana mungkin seorang Mujahidin yang telah menang dalam perang besar memilih bersembunyi saat suara dari anak-anak yang ditangkap lalu kepalanya diputar seperti roda mobil mainan, seolah kejadian itu adalah hal lucu dan menyenangkan--terus menjadi teror di luar."


"Belum lagi suara para perempuan yang menjerit dan menangis, saat melindungi anak mereka. Atau saat kesucian mereka dinistakan dengan melucuti semua pakaian, lalu tubuhnya dibelah sama rata dan mereka bagi ke sesama mereka, seperti berbagi kue lezat yang membuat para bedebah itu tertawa kegirangan."


"Beberapa yang mengangkat senjata memang benar mati percuma. Tubuh mereka bagaikan baja. Senjata itu justru terpelanting. Sedangkan yang menyerang menggunakan panah sisa perang besar, membuat mereka semakin brutal. Tidak bisa diam lebih lama, aku berniat keluar dan mengabaikan Ayah Zerah. Namun dia kembali menyuruhku diam, karena keluar berarti mati."


"Saat itulah pandanganku bertemu dengan Zerah yang entah bagaimana ditemukan oleh mereka. Tubuhnya diangkat di udara. Tapi bukannya takut dan bersedih, dia justru menatapku dan menggeleng, menyuruhku bersembunyi, menyelamatkan diri. Dan, saat melihat kehormatannya pun telah dilucuti, aku tidak lagi mampu bertahan. Segera bangkit dan beranjak keluar. Di saat yang sama mereka telah merobohkan bangunan kayu itu dan hingga beberapa penyangganya menimpaku dan membuatku kembali tersungkur. Hal terakhir yang aku ingat adalah kondisi Zerah yang telah berlumur darah."


Keri menepuk pundak Aiwan, "Tidak apa-apa kawan, itu sudar tersurat. Semua itu bukan salahmu. Setidaknya kau sudah berhasil menceritakan kegelisahanmu. Semoga mimpi buruk itu tidak lagi mengikutimu."


Aiwan merunduk, dia mengangguk. Sebelum lehernya kembali tegap, Aira merangkulnya. Erat. Hangat. Tanpa mengucapkan apapun. Hanya sebuah rangkulan yang nyaman dan hangat.