
"Aku hanya sendiri bangs*t!" suara teriakan Gian disusul bunyi pukulan keras yang kemudian memicu pekikan dari para wanita muda. Aera berbalik, dilihatnya Gian telah tersungkur dengan darah segar yang menghiasi sudut bibirnya.
Dipegangnya kursi roda Aiwan, tatapannya kembali bertabrakan dengan Ries yang kini tampak bersedih. Dia tersenyum menenangkan dan melemparkan kode agar mereka tetap bersembunyi.
"Aku berharap bisa menolong kalian," ucap Ries, matanya tampak berkaca-kaca.
"Kau bisa kembali menolong kami seperti pagi tadi, tapi saat ini kalian harus menyelamatkan diri kalian lebih dulu. Aku tidak bisa menjamin kehidupan kalian jika saat ini kita tertangkap semua." Aera mencoba meyakinkan. Dengan pelan dia mendorong lembut Ries dan Moana.
"Kalian harus selamat, agar aku tidak putus asa menanti pertolongan datang," Aera tergelak hambar menanggapi omongannya sendiri. Dia menunduk memberi salam perpisahan sebelum akhirnya mendorong kursi roda Aiwan keluar kerumunan.
Diberbagai sisi para prajurit telah merengsek, menembus kerumunan. Memeriksa dengan todongan Laras panjang, serupa preman pasar. Beberapa warga yang ditodong karena tampak bersembunyi berteriak histeris, beberapa di antaranya tetap tenang dengan tatapan membunuh. Aera terus maju, kepalanya tegak, dan wajahnya tampak dingin. Tepat di dekat seorang prajurit tanpa senjata, langkahnya terhenti.
Gian yang kini diborgol dengan lebam di sekitar wajahnya menyadari kehadirannya. Matanya melebar, kepalanya menggeleng. Aera hanya mendengus, jika ada jalan lain tentu saja dia memilih kabur. Namun, dia harus melindungi orang-orang yang bisa saja terluka karenanya. Menyerahkan diri tidak terlalu buruk, toh dia juga merasa lelah. Sampai detik ini dia bahkan tidak mengerti mengapa dia harus lari, dan mengapa mereka mengejarnya. Dia tidak pernah melakukan kesalahan. Namun, jika menyembunyikan sejumlah temuannya disebut sebagai kesalahan maka dia akan mengutuk orang yang menangkapnya.
Yang benar saja, aku tidak salah. Sebagai inventor aku memiliki hak, terlebih karena penemuanku menggunakan biaya sendiri, bukan biaya dari negara ataupun swasta. Jadi kenapa harus takut?
"Heh, lihatlah, bukankah ini si cantik yang selama ini membuat kita hidup bagaikan di neraka?" Arkdom mendengus, saat melihat kedatangan Aera dia langsung mendekat dan memastikan tidak lagi salah orang.
Aera menatapnya tajam, Arkdom tergelak penuh kemenangan. "Ternyata benar dia ada di sini!" serunya penuh kemenangan. Dia akhirnya bisa tidur nyenyak dan mengakhiri penderitaannya sejak beberapa Minggu belakangan. Sejak menghilangnya Aera bersama Gian dari Neitherland prajurit hitam tidak lagi mengenal kata istirahat. Makan pun apa adanya, mungkin karena itu gula darah mereka turun drastis, emosinya tidak stabil. Senggol sedikit amunisinya meletup.
Melihat prajurit bertampang sangar itu tergelak puas, seperti kepuasan seekor citah ketika melihat buruannya tak berdaya, Aera melayangkan tendangan dengan lututnya tepat di ************ Arkdom. Tawa yang tadinya membahana berubah menjadi pekikan mencekam.
...
..
Arkdom meringis, kepalanya menengadah seolah mampu menelan Aera hidup-hidup. Wajahnya yang memerah seperti larva, cukup menunjukkan kondisi masa depannya yang mungkin telah binasa. Dengan wajah datar tanpa rasa takut dan bersalah barang sedikit, Aera menatap balik, lalu meringis tipis.
"Aku hanya ingin memastikan, kalian manusia atau robot," jelasnya tanpa ekspresi lalu berjalan maju mendorong kursi roda.
"Aarrrrrggghhh ...!" teriakan geram Arkdom yang kesal setengah mati ketika ingin menghajar Aera tetapi segera ditahan oleh anak buahnya sambil mengingatkan pesan Roschiil yang tidak ingin gadis itu terluka sedikitpun.
Aera berbalik dan mendengus, ternyata badannya saja yang besar, wajahnya sangat tap mentalnya sekelas banci kaleng, karena lelaki sejati harusnya tidak akan menyerang dari belakang. Pikirnya sembari menggeleng.
"Lewat sini Nona." Seorang prajurit lainnya langsung menuntunnya keluar gedung stasiun. Matanya tak lepas dari sosok Aiwan yang wajarnya ditutupi masker. "Biarkan aku membantumu membawanya," tawarnya lagi ketika mereka hampir sampai di dekat mobil SUV hitam. Aera hanya menatapnya tajam seolah berkata, urus-urusanmu sendiri.
"Aera, kau baik-baik saja 'kan?" teriak Gian di seberang sana. Bahunya didorong agar segera memasuki mobil. Mereka dibawah secara terpisah. Aera mendengus, Dasar bodoh, dia harusnya mengkhawatirkan dirinya sendiri. wajah Gian tampak lebam di mana-mana.
"Bantu Nona mengangkat kursi roda itu naik ke mobil." Sebuah suara mengintrupsi kekhawatiran Aera pada Gian, dan membiarkan beberapa prajurit menarik Aiwan untuk di masukkan ke dalam mobil. "Silahkan masuk, Nona." Suara yang sama terdengar ketika ke dua prajurit jadi turun setelah berhasil menempatkan Aiwan di bangku tengah.
Tanpa menoleh Aera memasuki mobil dan membanting pintunya. Dia diperlakukan dengan baik, hal itu cukup membuatnya lega. Berbeda dengan Gian yang langsung babak belur. Mungkin itu pertanda bahwa dirinya memang masih dibutuhkan oleh seseorang yang ia tahu sebagai Roschiil. Namun, kekhawatirannya kepada sang pangeran bodoh itu sulit membuatnya tenang. Ditambah dengan kondisi Aiwan yang tidak juga menunjukkan tanda akan segera sadar. Dia baru tahu seperti ini payahnya ketika seorang mutan tertidur. Ya, sejak tiga Minggu belakangan bersamanya Aera memang tidak pernah melihatnya tidur. Namun, benarkah Aiwan hanya tertidur?