
Setelah bunyi alarm menampar pendengaran Aera, dia terbangun bagai orang linglung. Ingatan mengenai gelapnya Nil, dan dinginnya arus yang menyeret tubuhnya keluar dari dalam mobil masih terasa hangat dalam benaknya. Diamati semua kulit lengannya.
Tidak terluka? Padahal dia ingat betul bagaimana pecahan kaya menyayatnya tanpa perasaan. Diangkatnya ke dua tangannya. Tidak ada selang yang merekat. Aku tidak diinfus? Hal aneh lainnya yang dia temui adalah ruangan tempatnya terbaring bukanlah kamar rawat disalah satu rumah sakit. Juga bukan kamarnya di Istana Wazner, ataupun Kamar di apartemennya bersama Cyma. Namun, kamar ini jelas familiar baginya.
Langit-langitnya yang berbentuk kubah terang karena dilapisi batu safir yang lembut. Pilar yang menjulang di hadapan tempat tidurnya yang berlapis kaca berhias batu amber. Sekitar sepuluh langkah dari tempatnya tidur, sebuah meja hias yang di kiri-kanannya berdiri Romanov Easter Eggs. Satunya berasal dari tahun 1887, hadiah dari Kaisar Alexander III untuk sang istri Maria Feodorovna.
Sebuah telur paskah yang terbuat dari emas berlapis berlian dan safir. Memiliki dudukan warna kuning dengan tiga kaki berbentuk cakar singa. Faberge milik Nenek Zerah yang dia dapatkan dari seorang bangsawan setelah menukarkan karyanya yang luar biasa. Melihat Romanov Easter Eggs yang sangat dikagumi sang Nenek berada dalam ruangan ini membuatnya yakin dia berada di kamarnya. Kamar yang berada di mansion mewah sang nenek.
Bagaimana mungkin?
Pandangannya membentur nakas kecil yang berada tepat di samping kasur, diraihnya sebuah smartwatch yang tergeletak pasrah di sana.
...05:00 AM....
...Sun, 01-10-2065....
Sesaat waktu terasa terhenti. Bumi tidak lagi berputar. Gravitasi seolah menghilang. Apa aku sedang bermimpi? Aku kembali ke sepuluh tahun sebelumnya?
Aera kembali melirik jamnya, lalu berusaha mencari jam analog yang biasanya membayang di dinding kamarnya. Di antara jendela, dia menemukan angka yang sama.
...05:00 AM....
...Sun, 01-10-2065....
Kedua matanya terpejam, apa-apaan ini! tangannya menggamit kepalanya yang nyaris pecah. Pintu kamarnya terbuka perlahan.
"Sudah bangun sayang?" Ibu! Wanita cantik itu dengan tenang menekan tuas kursi rodanya hingga tiba tepat di samping kasur Aera. Tangan putih pucatnya terulur, "Syukurlah demammu sudah turun. Ibu sudah katakan jangan berenang dengan perut kenyang ...," ucapan ibunya terputus karena kedatangan AI yang membawa sarapan.
"Bersyukur Mr. Rock telah siuman, dia menarikmu dari dalam kolam. Baiklah, sekarang kau makan dulu," ucap ibu panjang lebar. Mr. Rock yang ibu maksud adalah AI yang bertugas sebagai asisten rumah tangga. Baik Ibu ataupun nenek tidak ada yang suka jika ada orang asing yang tinggal di antara mereka. Jadi mansion ini dipenuhi robot yang mampu mengerjakan segala pekerjaan rumah tangga. Beberapa dilengkapi dengan AI dan diprogram untuk bisa bentindak layaknya keluarga.
Mata sang Ibu melirik pergelangan tangan. "Oh, ibu harus ke suatu tempat. Dua jam empat puluh menit ke depan kau sudah harus sarapan dan tampil menawan, ok? karena kita akan bersenang-senang." Ibu tersenyum dan mengusap kepala Aera. Kecupan hangat tepat di pipi menyusul, di akhiri dengan rengkuhan lembut.
"Ibu pergi."
Aera terdiam. Memori dimasa sebelumnya berputar cepat. Dia ingat waktu bersenang-senang yang dijanjikan ibunya tidak akan pernah datang. Seharusnya ibu tidak boleh pergi 'kan? tapi sebenarnya apa yang terjadi? ini nyata ataukah mimpi?
"Ibu ...," panggil Aera lirih.
Kursi roda sang Ibu berhenti beberapa langkah dekat pintu. Dengan lihai berputar memasang wajah tanya seolah berkata--ada-apa-sayang?
"Ibu ingat apa yang kita lakukan sepuluh hari yang lalu?" Jika ini mimpi, harusnya ada variabel lain yang muncul seolah hal itu adalah yang sebenarnya 'kan?
Kedua alis ibunya mengerut, "Maksudmu saat kita merayakan pergantian tahun dengan quantum tunnelmu?" Aera terperangah. Jawaban ibunya tepat padahal dia berharap mendengar hal lain yang jelas salah.
"Apa ibu mengenal keluarga kerajaan?" Sengaja dia memancing dengan keluarga kerajaan. Jika waktunya tepat, tentu mereka berada dalam mode benci yang teramat sangat.
Raut ibunya tidak mungkin lagi bertambah bingung setelah dua pertanyaan random yang aneh untuk dilontarkan.
"Ada apa sayang? apa kau bermimpi sesuatu hal yang buruk?" Aera menghela napas gusar. Jawaban ibunya membuatnya yakin semua ini nyata, bukan sekedar mimpi. Namun bagaimana mungkin?
"Aku harap juga aku bermimpi," gumamnya sembari menunduk lesuh tetapi segera kembali menatap sang ibu dengan senyum penuh makna. "Satu hal yang paling aku syukuri adalah kembali bertemu denganmu."
Ibunya tertawa kikuk, kepalanya menggeleng. Jelas dia merasa Aera membicarakan hal aneh dan menjadi aneh karenanya. "Kau ingin ibu melakukan sesuatu?" tawar ibu yang membuat Aera kembali bersemangat.
Dengan cepat dia mengangguk, "Tidak bisakah ibu menunggu sebentar, 30 menit? aku ingin memastikan sesuatu."
"Baiklah dua puluh menit."
Aera bangkit dan berlari menuju meja hiasnya.
"Hati-hati, kau bisa terjatuh," keluh ibu khawatir melihat Aera yang berlari terlampau cepat.
Diraihnya Romanov Easter Eggs generasi pertama. Dibuka perlahan, sebuah ayam emas tampak bersinar, ribuan waktu berlalu tak mampu mengikis keindahan ukirannya. Dengan perlahan Aera memutar tubuhnya. Dalam benaknya berharap ke dua batu itu masih berada di sama. Setelah terbuka, Aera kembali menarik napas dalam--panjang.
Perut ayam itu hanya berisi Rubi berhias berlian. The Art, batu itu tidak ada di sana.
***
Musim dingin, 2050
(Tiga bulan sebelum ulang tahun Aera yang ke-5)
Zerah masuk ke kamar Aera. Gadis kecil itu tengah fokus menggambar mesin quantum tunnelnya.
"Rara," panggilan sayang Zerah berhasil mengambil atensi Aera. Kepalanya menengadah menemukan dua benda indah ditangan sang nenek. "Kau tahu ini apa?"
Aera mengangguk, "Faberge, di buat oleh kerajinan emas Rusia Peter Carl Faberge. Di sebelah kanan Nenek merupakan Faberge pertama dari 50 Faberge kekaisaran Rusia yang dinyatakan sebagai kekayaan negara, pesanan Tsar Alexander III untuk istrinya Maria Feodorovna. Dan, sebelah kiri merupakan Faberge yang di pesan oleh Tsar Nicholas II sebagai hadiah penobatan untuk istrinya Alexandra."
Zerah tersenyum, lalu berpura-pura manyun, "Kau menggunakan lensamu, itu curang!"
"Menggunakan teknologi sesuai fungsinya tidak bisa disebut sebagai hal yang curang," Aera kecil membela diri dan membuat Zerah terpingkal.
"Baiklah sayang," ucapnya lalu ikut duduk disamping Aera. Kedua telur paskah itu dia letakkan di hadapannya. Dibukanya satu persatu. "Ini adalah harta berhargaku, sekarang jadi milikmu." Tepat saat ayam emas yang tengah berdiri di jerami emas dipelintir. Perutnya menampakkan bongkahan batu super indah yang terang dan berkilau. "Jika kau harus keluar rumah dan berpikir akan mengalami hal yang menakutkan, bawa kalung ini bersamamu."
Aera mengangguk, ekspresinya tidak bisa lebih dari datar. Namun, itu tidak menghentikan tangan Zerah mencubit pipinya karena merasa gemas bercampur geli. Ekspresi Aera yang jauh lebih dewasa dibanding usianya membuat Zerah merasa bersalah. Mungkin seharusnya dia tidak perlu menyempurnakan proses CRISPR-CAS 10 dan merenggut masa kecil Aera yang berharga.
"Yang satu isinya apa?" tanya Aera yang tidak sabar karena merasa Zerah terlalu lama menggenggam batu indah yang dia sebut the art. Zerah kembali meletakkan batu ke dalam perut ayam dan memasukkannya ke dalam telur paskah. Beralih membuka telur satunya. Sebuah miniatur kereta dari abad ke-18 terukir dengan apik. Zerah membalik kereta dan menarik dua batang emas serupa kunci.
"Ini adalah kunci harta Karun Neitherland. Dan kau harus menjaganya."
Kedua alis Aera berkerut, "Mungkinkah ada bajak laut yang ingin mengambilnya?"
Zerah tersenyum lalu mengidikkan bahunya, "Tidak ada yang tahu selain kita berdua, karena itu disebut harta karun. Ini kunci SGSV (Svalbard global seed vault)*" Kedua mata Aera melebar, Zerah tersenyum dia tahu pasti anak kecil itu sangat antusias. "Sedangkan yang ini, dia menunjuk kunci satunya. Ini adalah kunci ruangan harta karun Tsar Ivan IV Vasilyevich."
"Wuuuaaahh ..., Ivan the terrible! kumpulan manuskrip kuno?" tanya Aera tidak percaya.
Zerah mengangguk, "Tapi semua ini tidak berarti karena kau tidak tahu tempatnya bukan?"
Cahaya dari mata Aera meredup, wajah datarnya terdiam sedih. Zerah menepuk pundaknya.
"Jangan khawatir, batu ini akan membawamu pada mereka, jadi jaga baik-baik."
***
Aera mendapati kembali ingatannya tentang kalung yang dia gunakan sebelum pergi ke istana menyelamatkan Leah dan Ibrael. Dipegangnya kalung yang melingkar di lehernya yang jenjang. Ujung permatanya berbentuk limas, berada tepat di dadanya. Diraih dan dibukanya, dua buah batu itu ada di sana.
*SGSV adalah brangkas penyimpanan benih semua jenis tanaman yang berada di bagian kutub utara. Ketika Neitherland telah eksis berubah menjadi kutub selatan.