
Mohon maaf atas keterlambatan updatenya, Author sedang dalam kondisi kurang sehat. Mungkin untuk selanjutnya menunggu Author benar-benar pulih dan kembali sehat. Mohon bantuan dukungannya yaa, terima kasih🙏
*************************
Usai berendam air hangat yang dicampur sari bunga mawar dan susu domba, Aera keluar kamar sembari bersuil riang. Wajahnya berseri seolah baru memenangkan lotere. Ternyata dia bisa merasa sebahagia ini walau tidak berada di LAB dan bercengkrama dengan sejumlah komponen atom.
Aroma hummus kawarma dan tahiti seketika menyerobot masuk ke dalam Indra penciumannya, setelah sekian lama akhirnya dia bisa kembali menikmati makanan rumahan yang lama dia rindukan.
"Dia yang menyiapkan semua hidangan ini?" tanyanya pada Gian. Melihat Aiwan masih menggunakan celemek dan menyajikan tiga piring shakshuka, makanan yang biasanya disajikan di waktu sarapan, karena berbahan dasar telur ceplok bercampur aneka saos, bawang dan sayur.
Gian mengangguk sembari tersenyum, "Jika rencana kita berhasil, aku ingin merekrutnya menjadi kepala chef istana."
Aera mencomot sepotong daging domba yang menggugah selera dan mengunyahnya perlahan, "Jangan mimpi, dia hanya akan menjadi chef di apartemenku."
"Kenapa tidak tinggal di istana saja bersamaku?" goda Gian.
Aera melayangkan tatapan tajam, belum sempat dia menimpali ucapan sang Pangeran, Aiwan mendekat dengan membawa dua piring shakshuka. "Kalian melihat Moana?" tanyanya.
"Tadi dia bilang ingin mengecek anti kamera di sekitar mansion," jawab Keri yang tiba-tiba keluar dari dalam mantel. Menarik satu piring shakshuka, sepotong hummus dan tiga sendok tahiti. "Terima kasih makanannya," ucapnya dengan cengiran lebar sebelum kembali masuk ke dalam mantel.
Beberapa saat setelah berada dalam mansion Ries, Gian menyerang tuan rumah; menuduh Ries sebagai penipu. Dia tidak yakin mansion mewah ini hanya ditinggali oleh Ries seorang. Namun, perdebatan itu seketika diakhiri oleh Aera.
Sikap Aera yang begitu mudah percaya pada Ries berbanding terbalik, saat pertama bertemu baik dengan Gian ataupun Aiwan. Gian tampak berpikir, lamat-lamat dia menatap Aera.
"Kau ingin mengatakan sesuatu?" Aera tahu betul maksud tatapan itu, dan di meja makan dia tidak ingin berbasa-basi.
"Hmm, sebenarnya aku ingin bertanya." Aera sudah menduga itu, dia hanya mengangguk dan mulai menarik kursi agar bisa segera makan.
"Bagaimana kau begitu yakin, Ries tidak menjebak kita? apa mungkin ada alasan khusus kau bisa percaya padanya?"
"Tentu saja." Aera menjawab tanpa ragu. Tangannya mulai memindahkan beberapa potong hummus dan mulai memakannya.
Lewat ekor matanya, Aera tahu Gian sangat tidak puas dengan jawabannya. Dia tidak peduli. Yang dia tahu, ini waktunya makan dan dia tidak ingin diganggu.
"Setelah makan, aku harap ada alasan yang lebih melegakan dibanding dengan kata 'tentu saja-mu' itu," Gian menimpali sebelum meneguk segelas jus jeruk yang baru diperas oleh Aiwan.
"Hei, itu untuk Aera." Aiwan merebut gelas yang tengah diteguk Gian. Beberapa tumpah dan mengenai bajunya.
"Haiiisszz! yang benar saja! kau tahu aku juga suka jus, kenapa hanya buat untuk dia!" gerutu Gian sembari membersihkan bajunya yang terkena tumpahan jus.
Gian dan Aera terperanjat untuk sesaat. Untuk kali pertama mereka mendengar nyinyiran Aiwan. Suasana hati si Mutan tampan itu jelas dalam kondisi buruk. Aera tidak tahu mengapa, tetapi dia cukup terhibur. Dia bisa melihat sisi lain dari Aiwan.
"Mungkinkah dia sedang PMS?" tanya Gian pada Aera.
Sambil tertawa Aera menoyor kepala Gian, lalu menarik segelas jus yang tadi Aiwan pindahkan ke gelas baru. Lalu meminumnya "Hhmmm ... ini enak, segar. Terima kasih," Aera tersenyum manis.
Gian berdehem, dengan raut kesal dia bangkit menuju lemari pendingin--hendak membuat jus sendiri.
"Jika kau memang berterima kasih, bukankah kau harus menjelaskan alasan, mengapa kau sangat percaya pada Ries?" tutur Aiwan. Dia mulai mengunyah makanannya.
Jadi karena itu ... Aera tersenyum sendiri melihat tingkah Aiwan. "Baiklah, anggap ini sebagai ucapan terima kasih karena sudah memasak." Aera meneguk segelas elektrolit biru hingga tandas; tak bersisa.
"Kalian lihat topeng silikon yang dia gunakan? kenapa menurutmu dia hanya membuka sebatas wajahnya lalu kembali menggunakannya. Kenapa tidak sekalian dibuka saja, dan hal itu yang membuat kalian berpikir negatif.
Topeng itu memiliki mesin kontrol. Dirancang full sampai ke bagian kepala. Beberapa serat optik menutup ubun-ubunnya. Untuk bisa membuka keseluruhan, dia harus mengaturnya lewat mesin kontrol. Kenapa? agar data yang tersimpan lewat kamera yang ada pada retinanya, tersimpan dengan aman.
Kenapa aku tahu? karena itu salah satu penemuan terbaikku. Sebenarnya pihak kerajaan telah mengeluarkan larangan proses produksinya. Bagi mereka topeng itu terlalu berbahaya. Tapi aku sudah membuat tiga buah. Satu aku gunakan sendiri dan duanya berpindah ke tangan penguasa Neitherland. Dan sepertinya Ries adalah anak seorang Mentri.
Lalu bagaimana aku bisa sangat percaya padanya? karena dia menggunakan topengku." Aera menyeringai. Dia berbalik menyisir ruangan dengan pandangannya yang tajam. Setelah yakin Moana tidak berada di sana, dia kembali bercerita.
"Bagi Ries topeng itu selain bisa melindungi wajahnya dan membuat penyamarannya sempurna, juga bisa menjadi alternatif perawatan wajah aslinya. Kulitnya akan terasa lebih lembut dan lembab. Luar biasa bukan! Selain itu juga bisa mendetoksifikasi semua racun dalam kulit wajahnya.
Fungsi yang tidak kalah menarik, adalah alasan kenapa dia selalu menatap Aiwan. Ketika dia melihat ke arahku atau Gian, informasi mengenai kami akan muncul dalam kotak informasi yang dipancarkan dari pupil matanya. Namun, ketika dia menatap Aiwan, dia tidak bisa menemukan informasi apapun. Karena itu dia terus menatapmu." Aera menatap Aiwan yang kini kembali memasang raut datar.
"Tapi ada satu fungsi yang tidak mereka ketahui. Sebagai inventor aku menanamkan sensor tuan pada semua temuanku. Ketika dia menatapku, serat optik yang merambat di atas ubun-ubunnya menganfirmasi sebagai tuannya. Lewat sensor mataku informasi mengenai Ries terpampang jelas. Aku akan memberitahu kalian rahasia lainnya." Aera mengecilkan suaranya. Badannya sedikit condong ke depan, telunjuknya bergerak maju-mundur--mengajak Aiwan dan Gian mendekat.
Fungsi serat optik pada ubun-ubunnya, untuk bisa menampilkan skema kerja frontal lobe. Ketika sensor tuan telah mengkonfirmasi kehadiranku, maka gelombang statistik kejujuran dan kebohongan akan muncul. Karena itu aku tahu dia sedang berbohong atau tidak." Aera tersenyum puas, sedangkan Gian terkesima dan langsung bertepuk tangan. Aiwan? seperti biasa. Dia hanya akan mengangguk dan memasang wajah datar. Sikap yang selalu membuat Aera kesal.
"Apa sebagai pengguna dia tahu, fungsi rahasia itu?"
"Tentu saja tidak. Jika tahu tidak akan ada yang mau menggunakannya." jawab Aera santai, seolah yang dia lakukan hanya bertanya prihal nama, tanpa perlu merasa menyesal karena telah menelanjangi kehidupan seseorang tanpa izin.
Aera masih tersenyum puas dan bangga pada dirinya sendiri. Sebelum akhirnya sebuah ledakan menghancurkan dinding kaca mansion mewah Ries.
"Merunduk!" Teriak Aiwan saat sebuah ledakan lainnya menghancurkan ruang tengah tepat berada di depan meja makan--di mana mereka duduk santai.