Neitherland

Neitherland
34: Ries sang Memori Waktu



"Sebentar lagi, mereka akan sadar bom yang meluluh lantakkan target mereka bukan dari mereka." Ries menyeringai, dia merogoh kantongnya dan mengeluarkan lalat hijau.


Aiwan memindai objek yang ada di depannya. Ke dua alisnya mengerut. "Kau mengenali ini bukan? aku telah melihat bagaimana kau merubah mereka menjadi kumpulan debu. Tapi sebelum kalian dikejutkan oleh ledakan, Moana telah berhasil melumpuhkan satu, dan mengirimiku saat itu juga. Dan saat itu aku mencoba membuat hal serupa, untuk di kirim ketika kalian telah berhasil keluar dari sana."


"Jadi bom yang mencabik tubuh menghuni mansion baru kau buat hari ini? dan itu hanya berlangsung dalam beberapa detik?" tanya Aera takjub. Ries memamerkan cengiran anehnya.


"Aku sudah katakan, untuk bagian IT aku dewanya," Ries tergelak ketika Aera mengajaknya bertos ria.


"Kau mengagumkan, aku juga menyukaimu." Aera ikut tergelak.


"Bukankah terlalu cepat bagi kalian untuk tertawa. Bagaimana jika akhirnya dia tahu Charlie mati bukan karena bom darinya?"


"Tujuannya memang membiarkan mereka tahu. Dengan begitu pihak Epraim akan mulai merasa kecolongan, dipermainkan dan kesal bukan kepalang. Selanjutnya mereka akan mulai mencurigai lawan ataupun kawannya, itu adalah titik di mana mereka berada dalam zona waspada."


Gian merengut, "Itu kausebut rencana? Jika mereka waspada lalu bagaimana kami bisa memanfaatkan celah agar bisa menyelinap ke dalam istana?"


"Untuk apa kalian ke istana? bukankah tujuan kalian saat ini untuk bisa menyelamatkan ratu dari persembahan Roschiil yang akan di adakan malam purnama nanti?"


"Bagaiman kau tahu hal itu?" suara Gian terdengar dingin.


"Karena aku juga ingin menghentikan omong kosong itu. Salah satu saudaraku akan menjadi bagian dari persembahan berdasarkan urutan korban yang sudah mereka setujui ketika menerima perlindungan di wilayah Neitherland.


Karena ini adalah persembahan ke empat sejak berdirinya kekaisaran Neitherland. Roschiil sengaja menyiapkan semua dengan sempurna. Bukan di istana bawah tanah seperti sebelumnya. Tetapi di kediamannya sendiri."


**


Malam di Neitherland tampak indah di balik kaca apartemen Ries. Lampu-lampu yang membuat kehidupan tampak memukau akhirnya bisa kembali mereka nikmati. Walaupun harus dalam kondisi bersembunyi.


Aera terkesiap saat mendengar bunyi pintu terbuka, dan menghela napas panjang ketika yang muncul dari balik pintu adalah Ries dengan Hodienya yang besar. Dia kembali memamerkan cengiran aneh sembari mengangkat kantong belanjanya. "Es krim!"


Aera segera menghampirinya dan menarik kantong belanjanya, "Terima kasih," ucapnya lalu duduk di atas kursi tengah. "Ries, kau tahu, aku tidak menyangka kau telah membohongi Neitherland. Bagaimana caranya orang jenius sepertimu tidak terendus di sini? Kau tahu, di sini keberadaan orang sepertimu bagaikan gula bagi semut. Ditutupi pun percuma di sekitarnya tetap akan menimbulkan kerumunan. Tetapi melihat hidupmu yang damai aku yakin kautelah melakukan tipu muslihat."


Ries tergelak, "Terima kasih, Nona aku tersanjung," Aera mengangguk, itu memang pujian. Namun, dia berharap Ries mau menjelaskan padanya panjang lebar.


"Aku hanya diberkati karena mimiliki riwayat kelahiran yang tidak biasa. Tanpa latar belakang dan tanpa pendidikan formal yang bisa dibanggakan." Ya, berbeda dengan Aera yang terlahir sebagai cucuk dan anak dari para ilmuan termahsyur saja sudah cukup membawanya pada popularitas yang menyebalkan.


"Sebongkah emas tidak perlu emas lainnya untuk tetap bersinar." Sahut Aera ketika Ries duduk di dekatnya. Gian dan Aiwan sedang berada di satu ruangan dengan Moana. Sebagai sesama pria mereka harus menyelesaikan sebuah kesalah pahaman, sekalipun bagi Aiwan itu hal yang merepotkan disaat yang sama menyebalkan.


Sebelumnya mereka bahkan bersiteru ketika Aera memilih tidur bersama Ries. Aiwan dan Gian adalah orang pertama yang melakukan protes keras. Mereka tidak menduga, tuan rumah mereka yang selama ini hobi memamerkan cengiran aneh merupakan seorang wanita. Dan ketika fakta mengejutkan itu sampai ke telinga mereka, wajah mereka masing-masing berubah lebih aneh.


"Anda terlalu rendah hati, Nona. Tapi, apa aku boleh bertanya sesuatu?"


"Tentu saja." Aera mengubah posisi duduknya yang lurus menatap tv sedikit lebih miring ke arah Ries.


Aera tersenyum samar, "Dari topeng yang kau gunakan."


"Apa? bagaimana Anda tahu aku menggunakan topeng?" Ries sedikit terkejut. Selama ini dia hidup dengan wajah itu. Bahkan pelayan di mansion orang tuanya mengingatnya dengan wajah aneh ini.


"Kau benar-benar menanyakan hal itu? Hmm... Bagaimana jika aku katakan topeng itu dalah hasil penemuanku. Aku yang merancang dan mengatur komponen fungsinya."


Ries tersenyum jenaka, "Bagaimana mungkin? Setahuku pembuat topeng ini adalah seorang pria bernama Lyhas."


Aera tertawa, "Sejak berusia lima tahun dan memiliki karya yang bisa dipatenkan, aku selalu menggunakan akronim nama. Tapi ketika usiaku memasuki 14 tahun, akhirnya aku baru menggunakan nama Aera. Lyhas Itu akronim namaku: Lyosh Aera Svetlanav."


Ries menutup mulutnya. "Bay the way, Nona, anda mematenkan topeng ini saat umur berapa?"


"Sembilan tahun."


Ries menepuk jidadnya. "Anda tahu, ada dua inventor yang selalu aku kagumi. Pertama Anda, ke dua Lyhas yang aku kira seorang pria tua yang kini telah meninggal dunia karena sejak 16 tahun yang lalu namanya tidak lagi mengisi daftar inventor terbaik di Neitherland."


Aera tergelak, "Baiklah karena kau sudah tahu rahasia kecilku, sekarang aku ingin mendengar bagaimana taktik jitu yang kau permainkan di hadapan Roschiil hingga dia percaya kau hanyalah orang biasa?"


"Baiklah, sejujurnya tidak ada taktik apapun. Aku hanya tidak pernah menunjukkan kemampuanku dan lebih sering hidup sembarangan seperti image ibuku. Tapi ada saat di mana aku butuh uang mereka, karena itu harus muncul dihadapan mereka.


Beberapa kali aku harus berurusan dengan Roschiil. Dia juga memberiku banyak hadiah selain uang, tentunya," Ries menekankan kata banyak hadiah. Aera tahu, hadiah yang Ries maksud pasti sangat merepotkan karena itu berarti berupa pengawasan tersembunyi lewat kamera dan sejenisnya.


"Karena itu aku punya lima apartemen. Tiga terekspor dan dua lainnya hanya aku dan kalian yang tahu."


"Untuk apa apartemen sebanyak itu?"


"Untuk menjaga privasiku," tutur Ries santai. "Bagi mereka hari ini aku tengah berada di apartemen dekat LAB. Bermain game sambil menikmati coklat panas. Tidak ada yang tahu, aku sedang menyeruput es krim bersama Nona Aera."


Aera terkesiap, sesaat dia mencoba berpikir tekhnik yang Ries gunakan, lalu akhirnya dia mengangguk sembari tersenyum puas. "Kau memanipulasi kamera mereka?"


"Itu lebih ke program dasar dengan memanfaatkan efek kimiawi dari kamera yang mereka kirim. Nona tahu, ruang dan waktu memiliki memori yang jauh lebih kuat dibanding ingatan manusia. Proses kimiawi yang terjadi di lensa kamera pengawas mereka, di dukung dengan kondisinya yang gelap membantuku kembali mengulang memori itu dengan hasil yang membuat mereka berpikir gambar yang tertangkap dan terperangkap dalam data mereka benar-benar diriku saat ini." Ries tergelak.


"Ya, itu memang aku, tapi mereka lupa cahaya lurus yang terpantul ke segala arah tidak terikat ruang dan waktu. Jadi mereka bahkan tidak tahu yang mereka lihat hanyalah kenanganku tiga bahkan lima tahun yang lalu."


Aera menggeleng, "Sains memang selalu menggelikan disaat yang sama mengagumkan. Apa sekarang kita bisa membentuk aliansi untuk dapat mengambil alih kekuasaan Neitherland?"


"Aku tidak tertarik dengan kekuasaan aku hanya tidak suka jika kebebasanku dibatasi."


Aera mengangguk, dia pun seperti itu. "Baiklah mari kita berjuang demi kebebasan yang lebih manusiawi, untuk semua orang!" serunya mengacungkan es krimnya yang nyaris seperempat.