Neitherland

Neitherland
Season II, Keriuhan Di Ruang Kuantum



Sejak pohon-pohon yang kita tanam menggugurkan hijaunya,


dan musim semi disalip musim panas yang ujungnya bermuara di satu luka,


kata-kata manis terbujur kaku seumpama ubin batu yang meraup dinding berdebu,


puisi-puisi yang kaubaca tak lagi semerdu madu,


tapi lahar cair yang memaksaku membisu,


seumpama hujan meteor yang menyisakan luka baru,


dalam, menganga, hangus berbau,


sedangkan siklus hanya membentuk beribu danau,


lalu hutan kabut menyerbu serupa serdadu,


air mata tak ubahnya candu yang mulai beku,


dan cinta menjelma ruang hampa tempat bintang mati berubah debu,


ketika sajakku semakin tak padu,


kau hancurkan rumah yang kita susun kala musim salju,


dengan memar paling batu,


abadi dipeluk rindu.


Henutsen, di antara reruntuhan Dullogh.Hari ke tiga musim dingin.


***


Kedua kelopak Aera terbuka ketika sebuah cengkraman mencekal lengannya, kasar. Lututnya bertekuk paksa, usai dicium ujung boots. Dia mendengus, sekuat hati menghentikan rasa sedih yang menghujam dadanya.


Beberapa jejak air mata yang masih mengaliri wajahnya menjadi bukti tangisnya yang menganak sungai. Kepalanya menengadah, melihat sosok yang menyergapnya seperti seorang narapidana. Prajurit Hitam. Matanya memicing, menatap benci.


"Seret dia ke mobil!" titah sosok berseragam besi dari ujung kepala hingga ujung kaki layaknya Iron Man.


Aera mencibir dalam hati pada pasukan khusus Roschiil. Di lain sisi dia merasa kagum pada dirinya sendiri. Ya, hanya untuk menyergap dirinya; wanita tanpa latar belakang militer, prajurit hitam bahkan harus membuat pemimpinnya menggunakan seragam paling mutakhir. Seolah yang hendak mereka hadapi adalan makhluk luar angkasa yang kekuatannya melampaui Thanos.


Menangis membuat tenaganya terkuras. Tanpa melakukan perlawanan, dia melangkah cepat, mengikuti arus deras para prajurit yang menyeretnya keluar Giza. Semua kenangan wanita yang ternyata adalah ibunya masih hangat dalam benaknya. Mengusik segala ketenangannya, memancing amarahnya--yang kian dekat dengan istana Roschiil, kian membara pula nyalanya.


"Arkham ...!" gumamnya sembari melempar sorot benci ketika dipaksa berlutut tepat di hadapan Roschiil.


Anehnya Roschiil tidak terkejut, kedua alisnya justru menekuk, bingung. Dilihat sekilas antara Arkham dan Roschiil memang serupa, wajah mereka bagai pinang dibelah dua. Namun, mengira mereka orang yang sama bukankah sedikit konyol?


Lalu bagaimana dengan Swaillyn, bukankah dia juga dari zaman yang sama dengan Arkham?


Tetapi hei, dia punya the Art!


The art yang menyelamatkan Swaillyn dari konspirasi Mareskan, dengan membawanya ke masa depan. Masa di mana Roschiil hidup sebagai salah satu jendral yang memimpin peperangan salib pertama yang terjadi di Anatolia. Karena memiliki The art, warisan kakeknya yang merupakan kolektor barang antik dan pusaka peradaban lampau, Roschiil selamat dan terus hidup tanpa berubah menjadi lebih tua.


The Art Swaillyn sendiri merupakan mahar yang Khufu berikan padanya setelah penobatannya sebagai Imona dilaksanakan. Berwarna ungu tua dengan pasangan sedikit muda mendekati lavender. Sebuah benda pusaka yang merekat di kepala Ankh milik raja Cheops. Dua lainnya di tangan Khufu sebagai Imon. Sisanya untuk Swaillyn yang kini menjadi miliknya. Aera menduga, The Art milik Khufu yang berwarna merah dan hitam ada di tangan Roschiil.


Dia mendengus. Kini dia tahu alasan mengapa Roschiil sulit ditaklukkan. Bahkan ketika mereka telah berhasil menyapu bersih istananya kemaren, Roschiil selalu saja selamat dan kembali membangun kerajaannya dengan cepat. The Art adalah jawabannya.


***


Setelah mendeklarasikan perintahnya, Roschiil berlalu. Keinginannya untuk bertanya pada Aera ditelan dalam bimbang. Penasaran sungguh menyiksanya tetapi bertanya tidak akan memberinya jawaban. Dia tahu hanya dengan melihat sorot benci dari mata Aera. Bahkan kata terakhir yang dia lemparkan padanya ...,


Arkham?


entah apa, mungkin serupa umpatan.


Masa bodoh!


Namun, lagi-lagi potret Aera mampu menembus kaca yang menutupi peti Henutsa. Wanita yang dicintainya dan entah mengapa sangat membencinya kembali mengusiknya. Dia tahu The Art memiliki kekuatan magis. Dia telah merasakannya dan melihatnya. Ketika sang Kakek yang masih tampak muda melakukan akad dengan menyatakan The Art telah resmi menjadi miliknya, sedang satunya diberikan pada saudaranya--Piller. Sesaat setelahnya, sang Kakek yang tidak berubah sedikit pun dengan potret mudanya, seketika berubah dengan cepat.


Kulit-kulitnya yang putih dan kencang, bagai balon kehilangan udara. Melorot dan keriput. Bahkan posturnya yang tegap seperti Kapten Amerika, seketika menciut, mengecil dan membungkuk.


"Aku bermimpi kalian akan menjadi penguasa dunia. Gunakan pusaka ini, taklukkan semua peperangan dunia, dan bangun kerajaan yang megah di mana kebebasan tidak lagi seharga nyawa," tutur sang kakek kala itu.


Senyumnya terukir pada wajah rentanya. Ada kepedihan di matanya yang beberapa detik lalu berubah terlampau tua dari sebelumnya. Tampaknya dia teringat istrinya yang merupakan seorang budak.


Dari kakeknya pula dia tahu, The Art hanya akan memberi manfaat pada tuannya. Dan tetap menjadi permata indah tanpa bisa memberi manfaat ketika ditangan orang lain. Akad yang diiringi mantra lama adalah kunci kepemilikannya. Kecuali sang tuan mati dan tepat setelahnya tuan baru datang menjadi pewarisnya. The Art pada Aera pun harusnya begitu. Karena sejak ditangannya atau Zerah batu itu hanya berupa perhiasan semata. Namun, Aera bahkan tidak tahu mantra akadnya lalu bagaimana?


Ya, karena bagian diri Henutsa ada padanya!


Akhirnya Roschiil menyimpulkan dan mulai berpikir the Art hanyalah seonggok batu yang diberkahi kekuatan super. Namun, tidak bisa membedakan mana tuan sesungguhnya dan mana hasil kloningan. Toh, batu tidak mempunyai akal.


Roschiil lalu mendengus, berpikir tentang sikap Aera dan cara menundukkannya lantas membuatnya jadi idiot. Bagaimana mungkin dia membuang waktu untuk segala hal yang tidak perlu. Langkahnya seketika menjadi cepat. Pengawal yang mengikutinya menjadi lebih siaga.


Tapi, sial! apa yang dia lihat hingga membuatnya menangis? mungkinkah alasan yang membuat Henutsa sangat membenciku?


Memikirkan seperti itu lantas membuatnya berhenti seketika. Beberapa pengawal di belakang yang terkejut ikut mengerem langkahnya. Namun, sialnya beberapa di belakangnya tidak sesiaga yang ada di depan. mereka saling bertabrakan dan ambruk ke depan. Persis seperti susunan balok yang berbaris dan jatuh dengan kompak.


Sebelum para prajurit menimpa Roschiil masih sibuk dengan pikirannya, tiba-tiba langkahnya kembali mengayun. Prajurit yang berada di baris paling depan jatuh mencium dinginnya marmer bening. Entah dia harus bersyukur karena tidak menyentuh Tuannya, ataukah justru merutuk karena wajah tampannya lecet, butuh perawatan.


***


Di ruang kuantum milik Aera


Ries sedang berjalan mondar-mandir tanpa lelah. Hal yang sama terjadi pada Yuuko. Bedanya gadis bermata sipit itu sembaki menggigiti kukunya yang disapu kuteks.


"Apa tidak ada jalan keluar dari sini?" Morat bertanya untuk kesekian kali.


Antonius hanya mendengus. Terbuai ekspektasi sukses mereka lupa bertanya cara keluar dari ruang kuantum. Bola itu hanya membawa mereka kembali. Sekali pakai, dan tidak ada lagi. Sepelit itu Aera memfasilitasi mereka. Namun, yang menjadi kekhawatiran mereka semua bukan cara keluarnya. Melainkan posisi Aera yang rupanya berpindah ke Istana Roschiil tidak kembali seperti yang lain. Juga, posisi Aiwan yang tetiba hilang dari radar. Ada apa dengan mereka? apa bolanya didesain berbeda hingga bisa pergi kemanapun seperti pintu Doraemon atau mereka yang memang tidak tahu dan hanya berpikir untuk kembali?


"Ah, aku bisa gila jika begini!"


Stego mengeluh. Rambutnya dijambak kasar. Mereka berhasil 'kan? Antonius dan Moana telah membebaskan para budak, bahkan mereka menghancurkan kontrol budak membuat mereka bebas dari siksa neraka menggunakan formula XY. Ries melumpuhkan ruang kontrol senjata bererta para robot perang. Dan Aera-Yuuko telah melenyapkan hidup dua orang pemimpin NU. Hanya misi The Art yang terbengkalai.


"Sepenting itukah The Art hingga membuatnya berani memasuki sarang harimau seorang diri?" sarkas Yuuko dengan pandangan jauh menembus gelapnya semesta.


"Aku bahkan tidak tahu apa itu The Art. Yang pasti ketika dia gagal dan berakhir mati kita pasti terbebas dari ruangan ini."


Antonius yang menjawab tanpa pikir panjang mendapat sorotan dari semua orang.


"Dan jika itu terjadi kau akan menyusulnya!" Ries balas dengan sedikit mendelik.