Neitherland

Neitherland
3 : Penyusup



_________________________________________


Kepada


Siapapun kau, yang merasa bisa menjawab pertanyaanku.


Aku mohon, jawablah.


Aku hanya seorang anak berusia 12 tahun di sebuah daratan, di mana sains adalah tuhan semesta alam. Yang menciptakan dan menghancurkan dunia lewat hukumnya yang mereka sebut kebetulan. Namun, jika hukum dan tuhan ada karena penamaan, mungkinkah manusia jauh lebih berdaulat daripada Tuhan dan sejumlah hukum sainsnya?


Bukankah Tuhan dan segenap hukumnya harusnya telah ada entah manusia memberinya nama atau tidak. Menyadari kehadiratnya atau tidak. Dan jika, sains itu adalah tuhan yang sesungguhnya, bagaimana dengan peradaban lampau yang jauh dari sains? Apakah itu berarti manusia lampau hidup tanpa kehadirat Tuhan? Aku rasa itu mustahil.


Dan sekarang, apa bedanya tuhan sains, tuhan api, dan tuhan matahari yang ditemukan manusia dan diberi label tuhan? Mereka semua ada walau tanpa embel-embel tuhan tetapi itu menunjukkan mereka bertiga pun hanyalah sebagian dari hukum Tuhan sesungguhnya. Hukum, bukan Tuhan. Lalu, siapa Tuhan?


Aera


Neitherland, 01 Mei 2062


__________________________________________


Lorong panjang dihiasi pilar emas raksasa kiri kanannya, merupakan penghubung antara istana utama dan kediaman pangeran. Penampakannya seumpama jalan yang lahir dari hentakan tongkat nabi Musa. Dua sisi tv terpasang di setiap ujung lorong. Sebuah lift transparan, dan mini bar adalah arena yang harus dilewati menuju kamar sang Calon Putra Mahkota.


Seorang pria berseragam penjaga istana tampak mengintai.


“Jalur clear, operasi deal,” bisiknya lewat earphone nirkabel yang disembunyikan dibalik helm jaganya.


**


Mandi dan makan tidak lantas menyulap suasana hati Aera membaik, maka menatap wajah ibunya adalah solusinya.


Beberapa foto lawas terpasung manis dalam pigura. Sesuatu yang tidak lagi dilakukan oleh generasi saat ini. Aera menatap lekat foto paling kiri.


“Ini Kakek dan ini Nenek, ini paman dan bibimu,” jelas ibu saat Aera bertanya mengapa gambar itu harus disimpan di dalam pigura.


“Apa maksudnya?” tanyanya saat itu.


Bagi Aera yang tidak memiliki saudara dan ayah tidak mampu memahami silsilah keluarga yang sangat manusiawi di masa lalu. Namun, kini semua itu seolah menjadi hal tabu.


“Suatu hari Kakek dan nenek menikah, dan semua proses reproduksi terjadi ditubuh Nenek,” ibu mengawali penjelasannya.


Karena dalam memori Aera kecil yang masih berusia empat tahun enam bulan, proses reproduksi bisa terjadi dengan penyuntikkan sp*rm* ke dalam ovum yang telah siap dibuahi. Kemudian akan dipindahkan ke dalam sebuah tabung steril anti radiasi. Jika si pemilik zigot seorang bangsawan atau memiliki tabungan cukup untuk membayar, selanjutnya zigot tersebut akan di bawah ke LAB untuk melakukan rekayasa genetika dengan teknologi CRISPR-CAS10.


Itulah mengapa generasi yang lahir setelah sepuluh tahun kerajaan Neitherland berdiri, tepatnya setalah teknologi berkembang pesat. Para bangsawan memiliki tampang rupawan, fisik kuat dan kecerdasan yang melebihi manusia normal serta memiliki loyalitas tertinggi pada kerajaan serupa robot yang didesain untuk bekerja dan patuh pada tuannya.


Khusus untuk Aera yang proses seleksi DNA-nya dilakukan langsung oleh ibunya. Aera adalah anak yang diciptakan dengan membeli sp*rm* kualitas terbaik, dengan tidak menghilangkan sifat-sifat manusiawi selain serakah. Mungkin itulah sebabnya Aera tumbuh menjadi warga Neitherland yang terlalu kritis hingga membenci dirinya sendiri.


“Setelah sembilan bulan janin di dalam rahim nenek, lahirlah Ibu. Begitu pula paman dan bibimu.” Tulunjuk Ibu berotasi di antara dua saudaranya. “Anak-anak yang terlahir dari rahim yang sama di sebut saudara kandung.”


Aera beralih menatap foto sebelah kanan. Sebuah foto yang tampak lebih baru tanpa bekas lipatan atau noda apapun. Gambar sebuah bayi yang meringkuk dalam tabung kacang almond. Fotonya sejak masih dalam tabung hingga menetas dan menjelang umur lima tahun. Semua diabadikan oleh ibunya.


Seketika, bayangan tentang ibunya yang tersenyum. Suaranya yang merdu bahkan saat bercerita, dan mata ibu yang sangat dia sukai, menghilang dalam kenyataan.


“Jika saja ibu bisa menikah seperti kakek dan nenek, mungkin hidupku terasa lebih ramai dengan beberapa saudara.” Digigitnya bibir bawahnya agar rasa sakit dalam dadanya dapat beralih menuju fisiknya yang terlihat jelas. Kini rindunya semakin mengusik. Namun, saat ingin merebahkan tubuhnya di lantai, potongan kejadian di LAB kembali bermunculan.


Pria paruh baya di atas kursi roda. Sorotnya yang takut dan pasrah, tatapannya yang memohon dan frustasi, dan gerakan bibirnya yang menjerit di detik akhir hidupnya.


“Aaahhhh!” Aera berteriak sekuat tenaga. Gema suaranya terpantul bagai bola pingpong, yang menyisakan dengung pada telinganya.


Air matanya mengalir deras. Pesan ibunya untuk bisa menjadi pelindung bagi mereka yang lemah kembali terngiang. Sesegukan Aera memeluk foto ibunya. Namun sekali lagi pria di atas kursi roda, tatapannya yang memohon, ketakutannya yang tak berdaya, jeritnya yang tidak terdengar.


Semua terus berputar menyiksanya seperti cambuk yang membuatnya kejang hingga membiru.


“Maaf, kumohon maafkan aku ...,” rintihnya, lirih.


Lalu segala penyesalan itu berganti dengan ingatan wajah Prof Scotth. Wajah yang tak pernah menyesal selain karena temuannya kembali gagal. Bukan karena sebuah nyawa yang dikorbankan dengan paksa, seolah hal itu bukanlah apa-apa. Brengsek memang. Aera kembali berteriak dan memaki di antara tangisnya yang kian membara.


**


“Wajahmu terlihat seperti ingin memasuki rumah hantu.” Suara Aiwan bergema di dalam kepala Gian.


“Kau! Apa kau memata-mataiku?” Tubuh Gian yang sedang berdiri didepan cermin berputar ke kanan dan ke kiri. Mencari kamera atau mungkin Aiwan itu sendiri, bukankah dia memiliki jubah kamuflase yang sangat canggih seumpama kubah langit Neitherland.


“Kau pikir aku apa? Aku hanya menyimpan kamera pengawas dan GPS di dalam tubuhmu untuk berjaga-jaga. Bukankah seminggu lagi kau akan dilantik menjadi putra mahkota?” Suara Aiwan kembali bergema. Gian teringat permintaannya. Dia berharap Aiwan dapat ikut sebagai ajudan yang bisa melindunginya.


Jawaban Aiwan membuat Gian sedikit lebih tenang. Mungkin, dia memang harus percaya pada Aiwan dan mulai berhenti berspekulasi mengenai motif Aiwan sesungguhnya. Toh, sejauh ini yang selalu membutuhkan pertolongan adalah dirinya.


“Aku tidak tahu kau sangat perhatian. Terima kasih.”


Suara Aiwan tidak lagi terdengar. Gian terdiam. Dia semakin mengagumi semua tekhnologi yang digunakan Aiwan. Gian meraba telinganya. Tidak ada apapun di sana. Dia teringat stiker yang Aiwan tempelkan di belakang telinganya. Tubuhnya berbalik mengarah ke cermin. Telinganya di tekuk. Stiker itu tidak ada. Namun, ketika jari telunjuknya mendarat di sana, dia bisa merasakan ada sesuatu dan itu membuat Gian tersenyum.


Lewat smartwatch-nya dia memanggil Morat, bersiap menuju Aula.


**


Dalam sebuah dunia politik, kata-kata adalah sesuatu yang harus selalu menarik. Dan janji adalah hal yang pasti diingkari. Jika kau menemukan orang yang lewat katanya mampu menelanjangi semua kesombongan dan kesalahanmu, memojokanmu hingga mendesakmu untuk memohon ampun, tanpa kehilangan etika dan tatakramanya sebagai seorang pelayan negara. Maka, dialah sosok teladan dan yang layak dijadikan panutan dalam dunia pelik—politik.


Dalam langkahnya menuju Aula biru, pesan bijak ayahnya, raja Neitherland menggema.


Pintu terkuak, ruang panjang bernuansa kayu yang dihiasi ornamen berwarna abu tua tersaji apik. Semua kursi dewan sayap kanan telah terisi, Gian masuk mengambil tempat paling ujung. Di atasnya bendera yang didampingi foto raja dan ratu membingkai permukaan dinding.


“Silahkan pak.” Morat, sekertaris kepercayaannya memberikan remot kontrol. Semua orang yang berada dalam ruangan, tampak menggunakan kacamata dan memegang remote yang sama.


Gian hanya mengangguk, memasang kacamata 4D, yang mungkin saja bisa mengurangi tingkat stres yang dia rasakan. Lalu mengatur suasana ruangan sesuai keinginannya. Pantai, pegunungan, hutan, atau bahkan dalam laut dekat altar suku Astect yang tenggelam di dasar Atlantik.


“Sepertinya orang-orang yang berada di pihak pangeran Ibrael mulai bergerak,” Gian sedikit penasaran. Ingin melihat apa yang ditampilkan dalam gambar 4D milik mentri pertahanan yang kehilangan sebagian rambut atasnya. Sejak tadi wajahnya selalu tersenyum lebar. Menakjubkannya hal itu tidak membuat dia kehilangan fokus dalam rapat.


“Apa maksudmu dengan membawa-bawa dia? Kita seharusnya mengevaluasi kesiapan calon putra mahkota.”


“Ya, dan tidak lupa mengikat perjanjian kerja,” sahut Mentri pariwisata, matanya memicing seolah berada di ruang terik tetapi kepalanya sesekali bergoyang ke kanan ke kiri.


Pada dasarnya Mentri sayap kanan adalah pendukung raja, yang juga mendukung pilihan calon putra mahkotanya. Namun, kebanyakan mereka terlalu pengecut untuk menunjukkan taringnya jika sudah bersinggungan dengan gerak lawan. Pihak yang didaulat sebagai pemegang kekuasaan tertinggi di atas raja. Penguasa di atas penguasa. Penguasa yang menentukan siapa rajanya dan siapa rakyat jelatanya. Seperti Jacques de Molay, atau yang lebih modern—Robert S Mueller. Ah, mungkin pula lebih dari itu.


“Kita di sini bukan untuk hal sepele yang bisa diwakilkan atau dikerjakan bahkan dari rumah sekalipun.” Tuan Piller tampaknya tidak cukup sabar menegaskan topik rapat mereka.


Edwin Jacob, Mentri perekonomian melepas kacamatanya. “Lantas, apa kita harus saling meledakkan nuklir dan benar-benar memusnahkan peradaban terakhir umat manusia?”


“Silahkan lakukan itu, tapi jangan di sini. Kalian bisa kembali berperang di benua asal kalian.” Mr. Kim mentri kelautan yang selalu merasa raja Neitherland tidak berhak memimpin dan juga tidak menyukai pihak lawan. Karena baginya Neitherland lebih berhak bagi mereka yang berasal dari Asia. Bukan Eropa yang sok berkuasa.


Muak dengan semua perdebatan yang tak akan memberi solusi dan manfaat sedikit pun, Gian berdiri. Hal itu cukup membuat para Mentri mengalihkan atensi padanya.


“Yang percaya aku bisa menjadi Putra Mahkota untuk kesejahteraan rakyat Neitherland, lepas kacamata kalian. Dan untuk yang tidak percaya tapi berharap kekuasaan itu tidak jatuh ke Tuan Roschiil tidak perlu melepas kaca mata.”


**


Aera bangkit setelah lelah menangis. Dia baru ingat, hari ini saatnya mengirim surat. Usai merapikan dirinya yang tampak kusut, dia masuk ke dalam lemari yang menghubungkan dengan ruang rahasia tempatnya menyembunyikan mahakaryanya yang luar biasa.


“Bereksperimenlah tanpa batas, temukan apa yang belum orang temukan. Tapi ingat, untuk membagikannya ke publik pastikan semua aman. Jangan menjadi Einstein dan Opponheimer yang akhirnya menyesal karena membuat bom atom, lalu menjadi monster terkejam di dunia.” petuah ibunya sejak dia masih sangat muda.


Itu pula alasan mengapa dia membatasi quantum tunnel di LAB, dengan tetap bergantung pada serum. Karena mungkin Aera tidak akan sanggup menanggung konsekuensi yang akan dia tanggung, jika para makhluk serakah itu memutuskan untuk bermigrasi ke dimensi yang lebih hijau dan akhirnya merusak dunia di sana.


Setelah beberapa lama merakit komputer analog yang menjadi GPS sekaligus remote kontrol teleportasi, seketika Aera menghentikan aktifitasnya. Samar-samar dia mendengar sesuatu dari luar. Bunyi keras tarikan penutup sandinya. Selanjutnya diikuti bunyi tombol yang langsung terkonfirmasi sebagai data yang benar. Bulu kuduknya merenggang. Seseorang telah meretas keamanan apartemennya.


Belum sempat Aera berpikir siapa yang kiranya berhasil masuk tanpa permisi ke dalam apartemennya? Tiba-tiba bunyi pintu terbuka terdengar jelas. Setengah bergetar menahan debaran jantungnya yang menggila, Aera berjalan pelan. Menarik AK-47 milik kakeknya yang telah lama tergantung dengan sejumlah debu di dinding.


Mengendap-ngendap meninggalkan ruang rahasia. Berusaha sekuat mungkin meminimalisir bunyi yang berasal dari pintu lemari ataupun langkahnya sendiri dan mengintip dari balik kamarnya.


Sepi. Tidak lagi ada suara, tetapi sebuah gelas berisi air putih tersaji di atas meja depan tv.