Neitherland

Neitherland
Season II, Peluang



Swaillyn menangkap bau kemenyan yang sangat kuat. Matanya yang terpejam sejak empat belas hari lamanya, bergetar. Kelopaknya perlahan terbuka. Ukiran gambar bercampur garis memenuhi seisi ruangan.


Perlahan ingatannya kembali seiring kesadarannya terjaga lebih lama. Setelah sebelumnya terbangun dan melihat cuneiform, kini dia melihat hieroglif. Penerangan temaram dan patung Amun yang berdiri tepat di hadapannya adalah bukti kuat dia berada di tangan orang yang berbeda.


Swaillyn menatap ke arah kakinya, saat merasa ada gerakan halus yang mungkin berasal dari seseorang. Benar saja, dia menangkap seorang budak, tampak jelas dari pakaiannya yang kasar--berasal dari karung goni. Wanita paruh baya dengan kulit gelap itu sedang mengatur pelembab sekaligus pewangi ruangan.


Ketika sang Budak hendak membersihkan tubuhnya dengan lap basah. Pupilnya melebar, menyadari tuan yang dijaganya selama ini akhirnya tersadar. Sang Budak mengucap syukur pada dewa dan berlari keluar tenda.


"Yang mulia! yang mulia! nona Aera telah sadar," teriak sang Budak yang terdengar jelas oleh Swaillyn.


Aera? kini dia yakin nama itu ditujukan padanya. Swaillyn ingin bangkit dari tidurnya setelah mengangkat tangan dan mengenali telapak tangan kirinya yang dibubuhi tanda lahir berbentuk bintang.


Benar, dia Swaillyn putri Dullogh tetapi ada apa dengan nama Aera? dua mengaduh dan kembali terbaring ketika rasa sakit bercampur panas di sekitar perutnya seketika menjalar ke leher dan kakinya. Seperti ya pisau yang dia gunakan untuk mengakhiri hidupnya adalah pisau bertuah. Beruntung dia kembali hidup.


Pikirannya seketika terpecah ketika pintu tenda tersibak dan langkah kaki seseorang terdengar menyeruak masuk dengan tergesa. Swaillyn mengalihkan pandangannya ke arah samping, Wajah pria berkulit gelap. Alis tebal maskulin, garis rahang kuat dan mata hitam pekat membuatnya terpana untuk sesaat.


Putra Mahkota Cheops


Dia mengenalinya dari lukisan yang diperlihatkan sang Kakak sebelum kabur dari Hittie.


"Aera," pria itu mendesah lega ketika Swaillyn mengedip perlahan. Tangannya meraih jari-jemari Swaillyn dan membawanya ke dada. Didekap dengan sepenuh jiwa. "Syukurlah kau selamat," ucapnya, matanya berkaca-kaca.


Kenapa namaku menjadi Aera?


"Siapa kau?" tanya Swaillyn dengan bahasa Dullogh.


Dia ingin memastikan sosok di hadapannya benar putra mahkota Cheops, sahabat kakaknya. Jika benar, tentu dia mengerti bahasa Dullogh. Setidaknya panggilan Aera atau apapun itu bukan hal yang penting lagi. Toh, dirinya tetaplah Swaillyn. Putri kerajaan Dullogh yang kini telah hancur. Dan sosok yang menyelamatkannya adalah orang yang dipercaya keluarganya untuk menjaganya. Semua fakta itu cukup untuk membuatnya kembali memulai merajut harapan hidupnya.


Swaillyn bisa melihat keterkejutan dari mata sang Putra Mahkota. Respon yang sedikit membingungkan baginya karena di luar ekspektasinya.


"Kau tidak bisa melihat persamaan wajahku dengan Epraim?" Kali ini Swaillyn mengerutkan alisnya. Setelah nama Aera muncul kini Epraim. Dia hanya tahu nama sang Putra Mahkota Cheops, Khufu.


Karena berpikir masalah ini mungkin tidak sederhana dan takut salah kata, Swaillyn memilih diam. Hanya matanya yang terus melekat pada wajah Khufu dan sedikit membuat sang Pangeran salah tingkah.


"Monect, lakukan seperti apa yang aku katakan sebelumnya, juga bawa yang lain keluar tenda."


Tanpa mengucapkan apapun, prajurit yang dipanggil Monect membawa dua tabib dan budak yang tadi berlari, keluar tenda. Dia tahu apa hak penting yang ingin dipastikan oleh Rajanya sekaligus sahabat kecilnya.


"Jadi benar kau bukan Aera?" kali ini suara Khufu bagai berbisik. Belum sempat Swaillyn menjawab setelah memutuskan untuk berkata jujur, Khufu kembali bertanya, "Kau tidak mengenaliku?"


Jika aku Aera mungkin aku akan mengenalinya sebagai sosok lain, dan jika Aku Swaillyn aku akan mengenalinya sebagai Putra Mahkota Cheops. Mungkin begitu maksud pertanyaannya.


"Aku mengenali Yang Mulia dari lukisan yang diberikan oleh Kakak hamba, Putra Mahkota Dullogh, Shimgyun."


Swaillyn bisa melihat raut Khufu menunjukkan kekecewaan. Dia seolah berusaha menolak fakta itu dengan memejam erat.


"Maafkan kelancangan hamba karena tadi masih bertanya. Hamba hanya ingin memastikan tidak salah orang karena sejak tadi yang mulia memanggilku dengan nama berbeda."


Khufu masih setia menunduk. Swaillyn menatapnya, mencoba membaca pikiran sang Putra Mahkota. Jari-jari kanan yang sejak tadi digenggamnya perlahan mengendur. Sosok tampan itu akhirnya menatapnya. Namun, sorotnya yang tadi keras seketika melunak saat pandangan mereka saling bertaut.


"Belum ada yang tahu aku telah menjadi raja."


Kalimatnya menggantung, dia tampak berpikir semua itu tidak luput dari perhatian Swaillyn.


"Tapi aku yakin Hittie tahu, karena itu dia melakukan ekspedisi menuju Cheops. Mungkin kau tahu tradisi raja Cheops, aku ingin melindungimu tapi selagi fakta kau bukan Aera tersebar itu akan menjadi sangat sulit."


Ada yang berdenyut di sudut hati Swaillyn. Ucapan Khufu barusan kembali membawa ingatannya pada malam paling krusial yang membuatnya berpikir mati lebih baik daripada hidup dalam nestapa. Jelas sang Putra Mahkota yang ternyata telah menjadi raja ingin menegaskan bahwa melepaskan jati dirinya sebagai Swaillyn, Putri Dullogh adalah yang terbaik jika masih ingin berada dalam lindungannya.


Pesan yang juga bermakna, kondisi hancurnya Dullogh dan putrinya di tangan Hittie telah menyebar hingga ke Cheops. Di mana tidak ada seorang pun putri atau bangsawan Dullogh yang bisa menjadi ratu atau selir Cheops.


Mungkinkah itu berarti dia akan menikahiku?


Swaillyn terperanjat oleh kesimpulannya sendiri. Bagaimanapun meminta perlindungan tidak selamanya harus dinikahi. Dia sadar kondisinya saat ini. Menikah dengan Raja Cheops seperti memberikan noda di atas tahtanya yang suci. Dia tidak layak, dan dia tahu itu. Cukup diberikan gelar atau pekerjaan yang baik, Swaillyn pasti akan sangat berterima kasih dan bersedia mengabdikan hidupnya pada Cheops.


Sekuat tenaga Swaillyn mengenyahkan pikirannya, dan mulai menyusun kata untuk menjawab pernyataan Khufu.


"Jadi, bisakah kau sejenak melupakan siapa dirimu yang sebenarnya jika ada orang lain di sekitar kita? jadilah Aera, cinta pertama sang Raja yang juga menjadi alasan tidak bisa menyentuh ke dua istrinya. Kau bisa kembali ke dirimu lagi jika hanya berdua denganku."


Ucapan Khufu yang begitu tulus berhasil membakar wajah Swaillyn. Kini wajah putihnya merona bagai dicabik panasnya mentari. Mereka baru saja bertemu, bahkan bersama tidak lebih dari satu waktu. Bagaimana mungkin sang Raja mampu melamarnya dengan kalimat yang begitu manis? Swaillyn kini ragu ucapan sang Kakak yang mengatakan Khufu merupakan pria baik, tidak pernah terlibat dengan urusan wanita. Kini pria itu justru terlihat seperti pemain ulung yang mampu mematahkan seratus hati wanita dalam satu malam.


Tatapan mereka kembali berpapasan. Sorot teduh yang teramat dalam dari Khufu, membuat Swaillyn menangkap kerinduan dan emosi yang kuat dari sang Raja. Namun, dia sedikit merasa kecewa bercampur sedih, karena semua itu bukan untuknya.


"Aku tidak bisa berjanji akan bersikap adil dengan tidak melihatmu sebagai Aera dan menerima dirimu yang sesungguhnya. Karena sejujurnya tawaran ini pun lahir karena wajah kalian yang tampak serupa dan itu cukup membuatku terluka di saat yang sama bahagia. Tapi aku berjanji akan memberimu kehidupan yang jauh lebih baik dan layak didapatkan oleh seorang istri raja."


Kejujuran yang membuat Swaillyn merasa janggal. Namun, ditutupi dengan senyum samar.


"Bahkan ketika aku telah hancur seperti saat ini?" suara Swaillyn tercekat.


Mengucapkannya dengan mulutnya sama seperti merendahkan dirinya sendiri, tetapi tidak mengakuinya juga tidak mengubah fakta yang sesungguhnya telah terjadi. Dan Swaillyn bukan orang yang terus berlari menghindari kenyataan sepahit apapun itu.


"Aku akan membantumu pulih hingga pecahan itu kembali terangkai dan hanya menyisakan garis halus yang akan terlupakan."


Indah. Ucapan terindah yang pernah dia dengar dan membuatnya sesegukan. Ragu-ragu Khufu menjulurkan tangannya, dan mengusap punggungnya.


"Terima kasih," tuturnya di sela isakannya yang kian menanjak.


****


Selamat merajut mimpi baru di tahun 2022 ya kawan, semoga segala keinginannya dapat terwujud dan impiannya tercapai. Untuk yang masih menikmati liburannya happy holiday, sehat dan bahagia selalu!