Neitherland

Neitherland
21 : Cemburu? Tidak Mungkin!



Gian melirik, lalu tersenyum kecut. Percakapannya dengan Aera kurang dari 24 jam yang lalu di tepi pantai Pare, terasa bagai omong kosong.


"Kenapa kau berpikir jika aku menyukai makhluk itu, heh?" tanya Aera menanggapi ucapan Gian sebelumnya.


"Tidak perlu dipikirkan tapi dirasakan. Bahkan dari tatapanmu, orang bodoh sekalipun tahu."


Aera tertawa sarkas, "Apa kau peramal? yang benar saja! aku tahu cinta itu dirasakan tapi menduga seseorang mencintai orang lain itu tidak butuh perasaan pihak ketiga, tetapi bukti. Seharusnya kau mencari bukti konkrit bahwa aku benar-benar mencintainya. Ada?"


Gian berpikir.


"Tentu tidak ada! Kau mungkin lupa kalau aku adalah cucuk nenek Zerah. Seorang pencetus virus Zerah." Aera menyeringai.


Gian masih berpikir. Dia mulai ragu saat Aera membawa hal mengenai virus Zerah. Siapa yang tidak tahu tentang itu? Hampir semua penghuni Neitherland tahu dan sialnya 80% populasinya menerima mentah-mentah, termasuk bibinya. Bibinya yang kini tiada. Dan yang membuat Gian lebih tidak mengerti lagi, mengapa nenek Zerah sampai melahirkan virus ideologi mengenai cinta itu, ketika dia memiliki Aiwan orang yang sangat mencintainya dan suami yang sangat mengaguminya?


"Sesuatu yang paling omong kosong dan bersifat khayal dengan frekuensi waktu paling singkat adalah cinta. Ketika seseorang mengucapkannya, itu bukan berarti dia menyerahkan hidupnya yang berharga, dan menerima semua kekuranganmu lalu siap mati karenamu. Konyol sekali dan hanya mereka yang kekurangan nutrisi yang berpikir begitu. Pada dasarnya cinta hanyalah reaksi kimia yang dihasilkan karena dorongan tingginya libido atau keinginan untuk membelah diri; melestarikan kehidupan umat manusia."


"Dengan tipu daya dopamin yang bekerja sama dengan oksitosin, **** seolah menjadi jalan buntu berhadiah surga. Ayolah, itu kondisi yang terlalu kuno. Kita berada di puncak teknologi di mana Sperm* sebagai komponen utama pasangan ovum untuk mendapatkan bayi bisa didapat tanpa melalui aktifitas menyebalkan yang terlalu menguras waktu. Maka dengan segenap hati saya ucapkan selamat datang di dunia merdeka yang jauh dari omong kosong!" pidato Zerah saat peresmian tekhnologi CRISPR-10 di Aula Kuanta Fox Neitherland.


Sebuah paradigma baru tentang cinta yang anehnya justru diapresiasi oleh kalangan muda, sebagian besarnya bangsawan. Lambat laun teori itu kemudian membuat sebuah pernikahan tidak lagi penting, terlebih hidup mandiri terasa lebih efektif dibandingkan bersanding dengan makhluk menyebalkan yang sok berkuasa bernama 'laki-laki'. Sebuah pernikahan dengan semua tekanan dan keegoisan di dalamnya, membuat wanita rentan menjadi korban, perlahan tetapi pasti mulai ditinggalkan.


Alih-alih bercinta wanita muda Neitherland lebih berminat meraih cita-cita. Kalaupun hasrat itu seketika datang, mereka lebih memilih bermain bersama pria biasa yang memiliki tampan rupawan, tentunya dengan bayaran yang tidak murah. Sejak itulah tradisi hiburan dengan boneka-boneka mose terlahir menambah panjang daftar bobroknya karakter Neitherland.


"Kau yakin?" Gian mencoba menggoda Aera. Gadis itu mengindik.


"Bagiku cinta itu terlalu absurd. Jika aku bertemu pria yang bisa lebih baik daripada nenek atau ibuku, mungkin aku akan berpikir untuk menyukainya. tapi tidak perlu mencintainya. Apa yang kau lihat hanya berupa euforia setelah sekian lama hidup sendiri. Kau tahu, semua keluargaku tidak lagi ada. Mengetahui Aiwan merupakan mantan calon kakekku itu membuatku merasa memiliki keluarga."


euforia ... Gian mengulang kata setelah mengingat kembali ucapan Aera kala itu. Dia kembali menunduk lalu menyeringai.


**


"Nenekku pasti tidak tahu kesulitan yang telah kaulalui," tutur Aera sembari melepas pelukannya. "Jika dia tahu, tentu dia akan ikut bersedih alih-alih mensugesti dirinya tentang ketidak bergunaan seorang pria dalam hidup atau tentang cinta yang terlalu omong kosong dibandingkan dengan kuda terbang yang mengangkut hadiah untuk anak manis."


"Aku mendengar kabarnya, tapi bagiku itu karena dia masih mencintaiku," ucapnya penuh percaya diri. Keanehan lainnya Aera tidak menyela itu. Dia hanya terdiam lalu berdehem.


"Baiklah, sambil menunggu waktu yang tepat bagaimana jika kalian berlatih ilmu bela diri dan menggunakan senjata dengannya?" Dagu Keri menunjuk Aiwan.


"Setuju, setidaknya kali ini aku harus bisa bertahan." Gian bangkit dan memasang kuda-kuda. "Yang disebut kuda-kuda ini seperti ini 'kan?"


"Kuda-kuda itu betarti ada lebih dari satu kuda. Kau bahkan tidak tahu itu," sela Aera.


Dia jelas sedang melawak dan Gian berusaha keras menahan ekspresinya agar tetap datar seperti Aiwan. Sang Pangeran sedang kesal entah karena apa. Namun, kemungkinan besar alasannya karena pelukan Aera yang terlihat mesra. Sayangnya Aera justru tidak peduli dan tidak tahu menahu perubahan emosi itu.


Dia sibuk menyelaraskan posisinya di dekat Gian. Tidak lebih dan tidak kurang dari dua meter, mengikuti instruksi Aiwan sebelumnya. Kemarin mereka telah belajar jurus dasar. Tidak sulit memahami gerakan-gerakan cepat itu, karena dalam chip memori Aera, jurus-jurus itu telah terdata di sana. Dia hanya perlu praktek dan ternyata cukup menyenangkan.


"Baiklah, kalian hanya perlu belajar teknik melumpuhkan musuh, lalu kita beralih ke pisau dan pistol."


"Tidak. aku tidak ingin pistol. Aku ingin machine gun atau dragunov." Aera memang suka ngeyel, terlebih jika yang berbicara adalah Aiwan. Menggoda mutan tampan itu adalah hobi baru yang menyenangkan baginya setelah beberapa Minggu tidak bisa ke LAB. Namun, untuk yang satu ini dia bersungguh-sungguh.


Gian langsung menatapnya, "Kau ingin memulai perang?"


Aiwan mengangguk, "Jika Roschiil adalah Serik. Sang Shadow Goverment, memenuhi undangannya berati perang. Jadi mari kita mulai sekarang."


Aiwan telah berdiri tegap di hadapan ke duanya. Namun Aera dan Gian seolah berada di dunia lain.


"Apa yang kalian lakukan? Fokuslah."


Aera berdehem, "Jawab dengan jujur, sekalipun kalian tidak datang ke rumahku saat itu apa aku tetap akan berurusan dengan makhluk sial*n itu?" tanyanya menatap Aiwan dan Keri.


"Iya. Jadi kali ini latihan dengan sungguh-sungguh."