Neitherland

Neitherland
33: Penjahat Gadungan



Sudah menjadi rahasia umum, penggulingan raja terdahulu dikarenakan peresmian undang-undang no. 39 pasal ketenaga kerjaan. Di mana, aturan itu jelas meniadakan sisi kemanusiaan bagi para budak. Namun, fakta semua aturan itu benar berasal dari sang raja atau bukan, bisa dibuktikan dari selembar kertas.


"Ketika proses kudeta raja terdahulu terjadi, Charlie yang bertugas mengamankan semua berkas kerajaan. Dia bekerja sama dengan pangeran Epraim untuk menjebak raja dan membuat semua rakyat setuju penobatan Raja Ibrael. Tapi baru satu Minggu birokrasi baru berjalan, orang-orang licik itu mulai bersitegang. Sepertinya mereka mempermasalahkan pembagian kekuasaan wilayah budak.


Charlie yang memang serakah dan licik ingin memanfaatkan yang mulia untuk kembali ke istana dan mengancam pangeran Epraim dengan bukti yang dia miliki. Karena itu, ketika kabar penyerangan tentara militer Neitherland terdengar. Pangeran Epraim bertindak lebih dulu."


Aiwan bergeming dengan wajahnya yang datar. Sedangkan Gian--ekspresinya sulit ditebak. Aera tampaknya mengerti apa yang Gian khawatirkan.


"Jadi Charlie yang asli ada di mana?" tanya Aera.


Ries menatap Moana, Moana dengan tatapannya yang tajam bergeming.


"Kau menggunakan wajahnya. Membawa kami ke mansionnya. Jangan katakan kau tidak tahu."


"Dia yang berhak menjawab," dagu Reis menunjuk Moana.


Moana menatap Aera--datar. Tangan kanannya terangkat, telapaknya melayang lalu membentuk pisau yang mengiris lehernya sendiri. Aera membeliak.


"Kau melenyapkannya?" Moana mengangguk tanpa ekspresi.


"Apa dia sebajingan itu?"


"Uh, Nona, dia bukan hanya bajingan. Tapi juga biadab, binatang, dan bedebah. Pokoknya semua hal buruk layak disematkan di jidadnya!"


"Bukankah melenyapkannya akan menimbulkan masalah baru?"


"Tergantung ceritanya seperti apa. Lagi pula, tenggat hidupnya yang kotor memang telah jatuh tempo. Malaikat mautnya juga berasal dari berbagai kalangan, kita hanya perlu memanfaatkan situasi dan membuat yang tersisa saling bersitegang."


"Ide bagus. Berarti kau telah menyiapkan segalanya dengan baik?"


Ries mengangguk. Dia menepuk dua kali, sebuah layar hologram muncul di hadapannya. Diatur hingga layar itu membesar serupa dinding dan di pindahkan ke tengah. Kini mereka seolah berkumpul di meja makan untuk menyantap pertunjukan menarik.


"Binggo, pemeran utamanya tiba," seru Ries ketika Pangeran Epraim memasuki kamar Charlie. Dia mendengus sat melihat potongan mayat Judith--istri Charlie yang sama biadabnya, berserakan di atas tempat tidur dan lantai.


Seolah potongan jari dan daging itu hanyalah debu yang tidak berarti apapun. Epraim terus merangsak masuk dan membongkar setiap lemari yang ada di sana. Dia jelas sedang mencari sesuatu, sayangnya dia tidak mengira, dia tidak akan mungkin menemukannya.


Lelah tanpa menemukan hasil. Epraim beranjak menuju ruang kerja. Kondisi di sana jauh lebih keji. Setengah badan Charlie rupanya masih utuh. Matanya terbuka seolah menantang Epraim yang tampak terkejut melihat ke dua mata tanpa jiwa.


"Kau sengaja membuatnya tampak seperti itu?" tanya Aera yang sengaja mengalihkan perhatiannya dari layar.


Ries kembali nyengir aneh, "Aku menempelkan bomnya di area kaki. Untuk Judith sengaja diarahkan ke bagian dadanya."


"Kenapa?" Aera terkejut


"Tentu saja untuk menutupi sayatan maut," Ries menjawab terlalu santai seolah yang dia bicarakan hanyalah masalah kecoak atau serangga lainnya.


Aera mengangguk, dia bisa menebak sebiadab apa Jendral bernama Charlie.


"Dasar kau, sialan!" umpat Aera saat menyadari sesuatu. "Itu berarti saat aku sedang asyik berendam ditemani aroma terapi, ruangan di sebelah telah berisi mayat?"


Ries menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Bagaimana mungkin kau tega padaku! Mereka semua berada di lantai bawah. Dan aku dilantai dua bersama para mayat!" Aera menutup ke dua matanya.


Aera terdiam, dia mencium pergelangan tangannya yang berada tepat di hadapannya. Wangi. Dia tersenyum lalu mengangguk. "Ya, wanginya sangat enak."


"Ya, karena aku pesan khusus untuk Nona pada dokter spesialis estetik terbaik di Neitherland. Aku masih punya beberapa, semuanya buat, Nona."


"Benarkah?" Heh, dia ingin menyogokku. Dia pikir aku apa!


"Aku juga punya rangkaian skin care dan maskernya!" Aera hanya menatap seolah mengatakan bodoh amet! Tatapan yang membuat Ries merinding setengah geli.


"Itu, produk langkah Dokter Kim Zena. Aku juga hanya punya dua, jika Nona mau aku akan berikan satu." tanpa ragu, dan tanpa berpikir lagi Aera memotong ucapan Ries.


"Setuju! aku satu, untuk kulit normal yaa." Aera merasa puas, dan kini Ries yang merasa terganggu. Siapa yang tidak kenal kehebatan Dok Kim Zena. Dia adalah dokter estetik terjenius sejak masih merangkak.


"Kau yang melenyapkannya?" Tiba-tiba Gian menyerobot masuk dalam percakapan dan membingungkan Ries dan Aera. Namun, tatapannya yang fokus pada layar yang menunjukkan potongan-potongan tubuh Charlie membuat mereka mengerti maksud pertanyaannya.


"Sebenarnya aku tidak keberatan. Tapi dia lebih berhak untuk itu." Ries menunjuk Moana dengan dagunya.


"Dia pelayannya?"


"Mungkin lebih buruk dari pada pelayan. Dia telah tinggal bersama Charlie dan Judith di mansion itu kurang lebih lima tahun. Tepatnya saat pertama Moana ditemukan oleh prajurit Neitherland yang tengah berpatroli di sebuah desa kecil, Korea Selatan.


Dan selama lima tahun itu adalah neraka baginya dan keluarganya. Ke dua orang tuanya di kirim ke kampung budak. Adiknya dua tahun yang lalu memilih bunuh diri dan di tahun ke lima, Moana berhasil mengakhiri kutukannya dengan menghabisi iblis yang mengutuknya."


Aera melirik Moana. Prajurit itu tetap bergeming. "Jika kau tidak keberatan, aku ingin berbagi kekejihan Charlie pada mereka. Kau tahu keuntungannya, semoga bisa membalaskan dendam adikmu." Moana tetap membisu, dia bangkit dan beranjak menuju tv.


"Apa mungkin dia bisu?"


Ries menggeleng dan menyengir aneh, "Dia bisa bicara, tapi suaranya akan menjadi keajaiban dunia ke delapan."


"Biar aku tebak, dia pasti menjadi pelampiasan nafsu pasangan bejad itu, termasuk pelecehan verbal, benar 'kan?"


"Bagaimana Anda tahu itu, Nona?"


"Heh, sekali lihat wajahnya yang cantik pastilah bajingan seperti Charlie terpesona. Dan juga, dia sangat membenci pria yang bersikap semena-mena." Aera menatap Gian.


"Hei, kau mengatakan aku bersikap semena-mena?" Gian tidak terima tuduhan Aera


"Kau lupa sikap burukmu di mansion Charlie tadi? Aku bahkan masih ingat setiap tuduhanmu pada Moana. Aku juga masih ingat pagaimana tatapan Moana yang bisa saja merobek mulutmu yang tidak tahu terima kasih."


Gian tergagap, lalu memilih berdehem panjang.


"Berarti Judith benar seorang Buci?"


"Kenapa harus Buci?" Aera merengut, dia mudah bosan jika lawan bicaranya mengalami proses angkut yang cukup lama.


"Bukankah lebih tidak mungkin jika Moana yang menyerang, mengingat dia adalah korbannya."


Ries mengangguk, "Tapi kau mengatakan hal itu, seolah-olah Moana adalah wanita."


Mendengar penuturan Ries, serempak mereka bertiga menatap dan menuntut penjelasan lebih. "Jadi, kalian benar-benar berpikir Moana adalah wanita?" Ries cekikikan tidak menyangka prajurit berwajah cantik benar bisa menjebak orang-orang luar biasa.