Neitherland

Neitherland
Season II, Tepi Sungai



Roschiil meredam amarahnya ketika melihat sebelah tangan Aera telah menyentuh wajah Henutsa. Dia kehabisan kata, emosinya tenggelam oleh rasa keterkejutan yang teramat sangat.


Bagaimana mungkin?


Entah berapa ribu kali dia memandang Henutsa tanpa bisa menyentuhnya. Kaca tebal yang menjadi menutup petinya bukan sembarang kaca yang bisa dibuka dan ditutup. Tujuannya agar jasad sang Kekasih dapat terawetkan dengan sempurna. Namun, apa yang dia saksikan saat ini berada di luar logikanya.


Matanya memicing ketika melihat gambaran Aera yang tangah menutup mata seolah tertidur, tanpa melepas sentuhannya kini menitikan air mata. Satu hal yang tidak tertangkap oleh kamera pengawasnya adalah pendaran the art yang mengitari mereka--Aera dan ibunya, Henutsa.


***


"Ulurkan tanganmu," pinta Khufu ketika Swaillyn membuka pintu kereta kuda. Empat hari setelah dia sadar dan dirawat oleh tabib, kondisinya sedikit lebih baik dan memungkinkan melakukan perjalanan. Kini nyaris seminggu mereka melalui pegunungan, hutan dan desa kecil agar dapat kembali ke ibu kota Cheops, Memphis. Terkadang mereka mampir mendirikan tenda dan terkadang mampir ke penginapan.


Ragu-ragu Swaillyn meraih tangan Khufu yang langsung menggenggamnya posesif. Sedang sebelah tangannya yang lain seketika melilit pinggang Swaillyn, menggendongnya turun dari kereta. Dengan wajah bersemu malu Swaillyn akhirnya menapaki tanah, dan menatap sekitar yang terperangah melihat tingkah sang raja.


Swaillyn sering mendengar percakapan para budak atau pelayan sang Raja selama mereka dalam perjalanan. Khufu memiliki dua istri. Pertama dinikahkan saat dia masih menjadi putra mahkota, yang ke dua ketika dia menaiki tahta. Namun, tidak satu pun dari istri-istrinya pernah mendapat perhatian darinya layaknya yang dia berikan kepada Swaillyn.


"Terima kasih, Yang Mulia," tuturnya, masih dalam pandangan merunduk.


Sebenarnya Swaillyn terlalu malu melihat wajah Khufu. Pria pertama yang menyentuhnya memang bukan dia, tetapi Khufulah yang pertama memperlakukannya dengan lembut setelah ayah dan kakaknya. Swaillyn berani mengangkat wajahnya ketika mendengar ******* dari Khufu. Wajah sang Raja Cheops tampak berpikir dalam.


"Yang Mulia ...." Keheningan yang seketika mengungkung mereka teredam oleh suara Monect.


"Katakan." Khufu menjawab setelah kembali mengembuskan napas dalam. Seolah ada beban berat yang sejak tadi bercokol di dadanya. Dan, semua itu tak luput dari perhatian Swaillyn.


"Jika setelah makan siang kita melanjutkan perjalanan, kemungkinan sebelum matahari tenggelam keesokan harinya kita bisa tiba di pinggiran Memphis."


Khufu tampak berpikir, kemudian mengangguk. "Lakukan seperti apa yang menurutmu baik. Jangan lupa periksa persediaan bekal dan minum bagi para prajurit dan pelayan. Saat tiba di Istana aku ingin mereka semua tetap sehat."


"Perintahmu adalah keberkahan bagi kami semua." Monect meletakkan telapak kanannya di dada, dan sedikit merunduk. Khufu hanya mengangguk.


"Tolong antarkan kami untuk menikmati hidangan siang ini."


"Seperti kehendakmu, Yang Mulia." Monect mengangkat tangan kirinya lurus ke depan mengarah pada jalan setapak, seolah menggantikan ucapan silahkan jalan.


Tanpa peduli merahnya wajah Swaillyn, Khufu berjalan sambil mengamit tangannya. Swaillyn tahu selama ini beberapa pelayan raja membicarakannya dengan cara yang buruk. Selain Khufu, Monect dan dua tabib plus budaknya tidak ada lagi yang tahu identitas Swaillyn. Tentu saja selain Arkham dan orang-orangnya. Namun, mereka telah tewas di medan perang, dan Arkham kabur entah ke mana. Beberapa pelayan yang terlanjur tahu telah disingkirkan dari dunia.


Isu yang tersisa mengenai Swaillyn hanya tentang apa yang Khufu ciptakan. Sedangkan kabar mengenai putri Dullogh yang terkenal cantik tetapi naas bertemu dengan Arkham kini telah wafat. Kini, Swaillyn hanyalah seorang gadis yang ditemukan ditengah hutan setelah pemakaman sang putri Dullogh. Gadis cantik yang terluka di mangsa hiparus.


Bukan tanpa alasan Khufu menciptakan rumor, hiparus sebagai pemangsa Swaillyn. Binatang buas yang dikenal langkah dan nyaris menjadi legenda itu hanya akan muncul sekali dalam seratus tahun.


Terakhir kali hiparus muncul ketika sang nenek mengandung ayahnya, wanita itu nyaris mati setelah diterkam. Menurut rumor yang beredar, hiparus merupakan peliharaan Apophis yang sangat membenci Amun. Salah satu misinya adalah melenyapkan calon Imon terkuat dan terbaik yang membawa daerah kekuasaan Amun mencapai puncak kejayaan. Maka dapat dipastikan wanita yang diserangnya merupakan ibu dari calon Imon.


"Ingin berjalan-jalan ke sana?" Suara Khufu menyadarkan Swaillyn dari keterpukauannya pada lukisan alam yang ada di hadapannya.


Kini mereka duduk di atas sebuah tikar. Di sampingnya sebuah jalan kecil yang bersih tampaknya baru dibuat hari ini, menunjukkan liukan anak sungai yang jernih. Alirannya yang deras di antara bebatuan besar melahirkan musik alam semerdu harpa. Mengundang siapapun yang melihat, mendekat merasakan kesegarannya.


Banyak bunga-bunga liar indah menjadi pagar di tepi sungai. Kupu-kupu warna-warni pun beterbangan dari beberapa bunga menuju tengah sungai, mendarat di atas bebatuan seolah tengah beristirahat. Swaillyn menikmati semua itu sambil tersenyum cantik. Rupanya Khufu tangah memandangnya dan menyadari ketertarikannya.


Dia menatap sang Raja yang sebentar lagi akan dinobatkan sebagai Imon, perwakiran Amun. Dan tidak perlu ditanyakan lagi siapa yang akan menjadi Imona-nya, kan?


Swaillyn menggeleng tanpa mengenyahkan senyuman indahnya, "Hanya dengan menikmatinya dari sini, aku sudah sangat bersyukur. Tapi terima kasih atas perhatian yang mulia."


Khufu membalas senyumannya. Semakin lama mereka dalam perjalanan, memang semakin manis dan besar perhatian yang Khufu berikan. Jika pertama bertemu Khufu masih sedikit canggung dan menjaga jarak, saat ini dia lebih manis dan tak lagi sungkan tersenyum. Terkadang Swaillyn sampai lupa, pria itu hanya mencintai sosok yang dia sebut dengan nama Aera, bukan dirinya.


"Di Memphis ada banyak aliran anak sungai Nil yang tidak kalah indah. Saat tiba aku akan mengajakmu piknik di tepi sungai."


Mendengar tawaran manis Khufu senyuman Swaillyn semakin mengembang, hingga menampakkan deretan giginya yang putih dan rapi. Senyum yang seketika membuat wajah Khufu terpana lalu membuatnya kembali dicekam oleh rasa kerinduan. Wajahnya bahkan berubah murung.


Swaillyn yang menyadari ekspresi Khufu segera menghapus senyum di wajahnya. Dia memberanikan diri untuk bertanya. "Ada apa, Yang Mulia? Anda merasa ada yang sakit?" Kekhawatiran Swaillyn tampak jelas dari suaranya.


Khufu menatapnya lalu tersenyum hambar. Dia menggeleng pelan. Menandaskan isi gelas perunggunya, seolah air putih itu dapat mengisi kehampaan dadanya.


"Aku hanya tersadar, kami tidak mungkin lagi bertemu," gumam Khufu sebelum melahap makanannya dalam hening.


Swaillyn merasa dadanya disayat sesuatu. Sakit tapi tidak berdarah. Bahkan di saat dirinya berada di hadapannya, Khufu masih memikirkan Aera. Jelas dia merasa terluka, tetapi itu perasaan yang tidak seharusnya dia rasakan 'kan?


Kenapa kalian tidak lagi bisa bertemu? Tidak! Sebenarnya aku penasaran bagaimana kalian bertemu? Seperti apa Aera hingga membuatmu begitu memujanya?


Swaillyn melirik Khufu yang khidmat menyantap makanannya. Entah karena benar nikmat atau karena pikirannya melayang entah kemana. Pernyataan kedua, jelas Swaillyn tahu jawabannya. Dia hanya tidak ingin mengakuinya dan membuatnya tampak samar. Pertanyaan yang mengendap di dalam kepalanya kembali dilarungkan.


Belum saatnya. Dia meyakinkan dirinya sendiri untuk tidak bertanya. Diraihnya makanan yang nyaris dingin. Tidak ada lagi yang tersisa di antara mereka selain dentingan sendok dan piring perunggu. Ketika tangannya hendak menyuapkan sepotong ikan yang telah difermentasi beberapa bulan lamanya, hampir masuk ke dalam suapannya. Swaillyn seketika merasa perutnya bergejolak. Perasaan tidak enak menyesaki dadanya, dan penciumannya yang tiba-tiba sensitif membuatnya tidak tahan dan merasa mual.


"Ada apa denganmu?"


"Maafkan, Huuweek ... maaf, huweekk ...,"


Perasaan jijik itu semakin pekat dan sulit ditahan. Swaillyn memutuskan membersihkan tangannya. Sekuat tenaga dia menahan rasa mual yang meronta ingin keluar, dan bersegera menjauhi Khufu. Namun, baru berapa langkah potongan buah yang tadi di makannya kembali melewati kerongkongan, mulut dan hidungnya. Menyisakan rasa pahit dan sakit yang membuatnya terduduk lemas.


"Tabib! Monect segera bawa tabib!"