
Waktu bergulir dengan cepat. Kurang dari dua puluh empat jam para prajurit hitam akan bersiaga sepanjang jalan menuju Istana Wazner. Drone kamera dari berbagai media pun telah menghiasi langit NU.
Aera sedang membuka bajunya dan menyisakan dalaman putih, membungkus tubuhnya dengan sempurna ketika Aiwan masuk dan tercengang. Butuh beberapa detik baginya untuk bisa memahami kondisi Aera yang membuatnya terpaku, hingga akhirnya berbalik menyembunyikan wajahnya yang bersemu malu.
"Maaf aku tidak melihat apapun," ucapnya canggung. Aera mengernyit, tidak mengerti. Ah. dia memang selalu lambat untuk segala hal yang berhubungan dengan hati dan pria.
"Apa yang membawamu kemari?" tanyanya tanpa repot kembali memakai baju luarnya.
Aiwan yang tersadar pada tujuannya seketika berbalik. Dia ingin melaporkan mengenai perubahan serangan mereka yang harus beralih ke rencana B, maka harus mengadakan rapat. Namun, pandangannya jatuh ke tempat yang tidak seharusnya. Di antara belahan d*da Aera, terlihat sebuah mata kalung yang familiar baginya.
Aera kembali mengernyit, matanya mengikuti arah pandang Aiwan. Spontan tangannya menutupi dadanya sembari melancarkan umpatan pada sang Mutan. "Aku pikir kau setia pada nenekku tapi lihatlah, matamu sangat memuakkan."
Mendengar celaan Aera, Aiwan seolah kembali sadar. Dia menggeleng, mencoba menjelaskan kesalahpahaman Aera setelah menyadari pandangannya berada di tempat yang tidak seharusnya, sekalipun fokusnya tidak ke sana. "Aku melihat kalungmu. Keri yang memberikannya?"
Kepala Aera sedikit menunduk, diraihnya kalung bermata wadah The Art peninggalan neneknya. "Maksudmu ini?" Aiwan mengangguk.
"Ini milikku." Ekspresi Aiwan menunjukkan keterkejutan. Apa yang salah dengan itu? Dia tidak sedang berpikir aku tidak mungkin memilikinya 'kan?"
Namun, alih-alih mengucapkan hal lainnya Aiwan justru mendekat. Kepalanya merunduk. "Aku yakin ini milik Keri. Pahatan ini." telunjuknya menyentuh sebuah goresan halus berleter 'Z'. "Aku yang mengukirnya dengan laserku."
Aera termenung. Kepalanya dipenuhi pertanyaan dan kesimpulan yang luar biasa dahsyat untuk bisa diaplikasikan lewat kata.
"Aku tidak pernah melihat Keri menggunakan kalung," gumam Aera entah pada Aiwan ataukan pada dirinya sendiri.
"Memang bukan kalung. Itu sumber energinya. Keri sebut sebagai The Art. Bukankah itu hanya tokamak yang materialnya hasil lelehan dari palladium dan unsur baru asteroid ...,"
"Kau tahu sampai ke titik itu?" terlalu takjub, tanpa sadar Aera memotong ucapan Aiwan. Gadis itu membuka tokamak the art yang di desain berbentuk heksagonal dengan tingkat transparansi di bagian tengahnya. Mata Aiwan memicing, silau. Dua buah The Art yang menempati sudut kanan kiri berkilau indah. Keri tidak pernah membuka tokamak yang tampak seperti berlian, ini kali pertama Aiwan melihat sumber energi yang disebut The Art.
"Ternyata itu alasan mengapa Keri mengatakan ada tiga lainnya yang entah di mana," seru Aiwan datar. Kini dia kembali dalam mode normal.
Ilmuan cantik itu tertegun dia menutup mulutnya mendengar pikirannya sendiri. Mungkinkah misi Keri adalah menyelamatkan nyawanya?
Mungkinkah dia yang telah membuat Keri di masa lalu? ataukah mungkin di masa depan lalu mengembalikannya ke masa lalu untuk memperbaiki keadaan yang dia harap tidak pernah terjadi?
Bukankah lebih masuk akal jika benar dia yang telah menciptakan AI luar biasa seperti Keri, mengingat Humanoid itu tidak segan memberikan sumber energinya menyelamatkan Aera di saat dia telah menyadari eksistensinya di dunia dan perannya yang jauh lebih super dibanding manusia. Dengan kemampuan Keri, mustahil baginya untuk berkorban jika bukan demi penciptanya. Akan tetapi mengapa dia tidak bisa menemukan memori ketika menciptakan Keri?
***
Tahun 2082 tepatnya setelah meteorit jatuh ke wilayah Mehm, kota terluar daerah NU.
Sebuah bus rombongan ilmuan KF departemen fisika dan kimia akhirnya terbelah menjadi dua bagian dan berguling dari tebing setinggi 850 meter di atas permukaan laut. Kepulan debu yang beterbangan menutupi jalanan curam setelah tujuh buah roket terus menyerang tanpa henti dan berhasil meluluhkan pertahanan bus para ilmuan tersebut.
Pandangan bahkan dengan bantuan mikroskop optik paling mutakhir sekalipun tidak akan mampu menembus tebalnya kepulan debu yang menutupi jalan dan sekitar tebing yang curam. Di ujung sana, api, darah dan potongan tubuh terurai di atas tanah, beberapa lagi di antara potongan besi badan bus. Mereka dalam perjalanan pulang setelah berhasil mengambil sampel daerah sekitar perbatasan yang terpapar radiasi nuklir lebih dari setengah abad lalu.
Potongan besi dan tubuh para ilmuan jatuh tepat di lembah baru karena pijakan segumpal meteorit. Laporan dari berbagai media elektronik dan KF yang bertugas mengamati benda langit menerbitkan berbagai macam laporan. Peristiwa yang kemudian menjadi topik hangat di wilayah Neitherland menutupi kecelakaan para Ilmuan, dimana ratu NU sebagai pemimpin rombongan terdaftar sebagai korban yang keberadaannya belum diketahui.
Di saat rombongan prajurit istana NU bekerjasama dengan kepolisian pusat NS untuk mengunjungi lokasi jatuhnya meteorit. Di tempat yang lain, salah seorang dengan seragam lengkapnya terlentang dengan luka parah di sekitar kepala dan tangannya. Darah segar mengalir tanpa henti. Namun, beberapa saat setelah dia merasa tubuhnya nyaris melemah sebuah dorongan yang entah berasal dari mana menggebrak kesadarannya.
Perlahan matanya terbuka, samar debu-debu yang mengepul di udara adalah pemandangan pertama yang tertangkap olehnya. Lalu getaran yang berasal dari dadanya, berfibrasi dengan material asing yang entah dari mana tetapi membuatnya mampu bergerak dan bangkit seolah getaran itu menjadi sumber energinya yang sempat hilang.
Gadis itu merunduk, darah yang mengalir dari kepalanya menetes. Menahan sakit, tangan kanannya yang sobek dari bahu hingga siku dia angkat menutupi luka yang berada tepat di kepalanya. Pecahan kaca yang tertancap dicabuti satu per satu.
Masih merasakan getaran yang sama, tangan kirinya meraih kalung yang ada di dadanya. Bagian tokamak itu bersinar indah. Wanita itu seolah bisa melihat gelombang berwarna ungu muda yang memancar bagai tali dari dalam tokamak menuju daerah depan yang tampaknya berubah menjadi kawah.
Tanpa peduli pada rintihan yang terdengar dari dalam bangkai bus, wanita itu berjalan mengikuti gelombang cahaya yang anehnya menimbulkan getaran indah. Bootnya melewati kawah tanpa ragu dan terhenti tepat di dekat sebuah batu hitam, permukaannya dikelilingi sinar ungu. Meteorid yang terjatuh beberapa waktu lalu, disiarkan langsung lewat satelit NS tampaknya tidak hanya mengandung logam tetapi juga unsur baru yang jauh lebih kuat dibanding besi atau nikel. Hebatnya unsur itu bersinergi dengan the Art dan membuat wanita yang mengenakannya selamat dari maut meskipun dalam kondisi menyedihkan.
Semakin mendekat wanita itu merasa sakit ditubuhnya semakin ringan. Tangan kirinya terjulur meraih meteorit itu, dalam sekejap mereka menghilang.