Neitherland

Neitherland
2 : Pangeran Luar Biasa?



Catatan Sejarah Terkelam Dunia


Sejak meletusnya perang dunia ke tiga—tahun 2025, yang didominasi oleh kekuatan nuklir. 75 % sumber daya alam bumi hancur dan terkontaminasi radiasi, sedangkan 80% populasi manusia musnah dengan cara paling licik. Namun, sang pencetus perang dan segenap jajarannya selamat bahkan membangun kerajaan besar. Seolah kehidupan dan peradaban kembali belajar berjalan—ditangannya. Di bawah kekuasaannya. Tentu saja, semua itu dia lakukan setelah menutup sumber pengetahuan tentang peradaban lampau.


Ah, bukankah terlalu naif mengatakannya sebagai hal lampau, karena pada dasarnya mereka yang hidup dan besar bersama peradaban yang nyaris musnah lima tahun lalu masih hidup dan baik-baik saja?


Bahkan bumi harus menangis dalam murka berkepanjangan, tetapi mereka dengan tanpa tahu malu berusaha menciptakan bumi baru, peradaban baru, agama baru.


AN. Bagian bumi yang diselamatkan dari kehancuran


23 April 2032


Pesan kaleng yang Aera temukan saat masih berusia 5 tahun. Pesan yang melatar belakangi keinginan Aera menciptakan mesin waktu.


“Ya, karena kau bukan pangeran biasa maka tugasmu mengantar ilmuan cantik sepertiku patut dibanggakan.”


Gain tergelak, “Apa Prof Scotth juga mengajarimu kalimat sarkas yang membuatku nyaris kehilangan kuasa?”


Kedua alis Aera berkerut, “Mengajari? Yang benar saja. Yang aku pelajari darinya adalah nyawa manusia yang di kelompokkan sebagai rakyat jelata tidak lebih berharga daripada gelas ukur dalam LAB.


Oh, ya, satu lagi, semua junior adalah budak nafsu yang bisa dilecehkan dan dibenarkan dalam hukum, apanpun, dan di mana pun di belahan Neitherland.


Pelajaran yang cukup mendefenisikan Neitherland itu seindah apa.”


Para robot yang bertugas menurunkan hujan telah kembali ke LAB pemulihan alam yang di bawahi langsung oleh departemen kimia. Air hujan buatan itu ditujukan untuk segenap tanaman dan tanah Neitherland yang kian detik kian butuh pertolongan untuk terus menjaga eksistensinya di planet biru.


Dengan kemajuan teknologi, Neitherland bisa menangkap nitrogen yang dihantarkan saat badai petir dan meneruskannya bersama hujan buatan yang berasal dari air sulingan laut.


Gian berbelok menuju jalan Dhong—jalan pintas menuju Kyosi Park, “Sebelum kau mengambil alih proyek kuantum, apa dia pernah melecehkanmu?”


Spontan Aera menatap Gian, pria yang pasti merupakan salah satu pangeran Neitherland itu terlihat fokus ke jalanan lenggang. Sorotnya tajam, ekspresinya dingin tak terbaca.


“Nanti saja terpesonanya, sebaiknya jawab dulu pertanyaanku,” goda Gian, dengan senyum menawan.


“Tidak diragukan lagi, pangeran Neitherland memang menyebalkan.”


“Apa itu berarti si mata rabun itu pernah melecehkanmu?,” Gian semakin meminta kepastian, yang entah mengapa itu terasa penting. Namun, bagi Aera hal itu terlihat seperti Gianlah yang sedang melecehkannya.


Menelanjanginya lewat pertanyaan yang mungkin terbilang wajar, tetapi tetap terasa tidak nyaman. Bukankah hal itu adalah pertanyaan privasi? Kenapa dia harus membahasnya dengan orang asing.


Sejumlah pertanyaan dan pernyataan berkelebat di benak Aera. Yang kemudian membuatnya terdiam tak tahu harus mengatakan apa.


“Kenapa kau butuh waktu lama untuk menjawab...,” Gian menggeleng frustasi “Aku bahkan tidak meminta laporan detilnya seperti waktu terjadinya perkara hingga bukti forensik yang bisa membawa si rabun itu ke tiang gantung. Kau hanya perlu menjawab ya atau tidak.” Lanjutnya menggerutu, kedua alisnya mengerut.


"Hei, sejak kapan pelaku cabul bisa berakhir di tiang gantung? helloo! ini Neitherland yang luar biadab..."


Hanya suara hati Aera yang gusar mendengar hukum dan pelaku cabul bersanding hanya dalam omong kosong persuasif.


“Kenapa kau sangat peduli? Kalaupun iya, itu tentu sudah sangat lama.” Mobil seketika terhenti mendadak. Aera menjerit karena hampir mencium dashboard, beruntung, tangan Gian bergerak lebih cepat. Maka bibir Aera pun mendarat sempurna di telapak tangan sang Pangeran.


Aera tersadar, dan segera menarik diri—kembali duduk tegap. “Hei, apa kau mabuk!” hardiknya setengah kesal dan setengahnya lagi entah harus disebut apa.


“Aku pastikan si rabun bodoh itu berakhir di tiang pancung!” Belum sempat Gian melakukan panggilan lewat smartwatch-nya, Aera segera melengser layarnya.


“Apa yang kau lakukan! Maksudku si brengsek itu tidak melakukannya. Ya, aku sungguh berharap dia melakukannya, agar aku punya alasan untuk menghancurkan tangannya yang terlalu biadab. Sayangnya dia tidak pernah.


Hmm... Ini sungguh aneh. Maksudku kenapa aku harus mengatakannya padamu!” Aera memijit pelipisnya. Tanpa sadar Gian tersenyum menatapnya.


Aera mengangkat wajahnya. Menatap Gian dengan sorot bimbang, “Sepertinya Neitherland belum punya putra mahkota ....” Gian tersenyum, mengedikkan bahu, lalu kembali menjalankan mobilnya.


“Apa kau benar-benar anak permaisuri? Tapi kenapa terasa familiar?” Aera mencoba mengingat lebih dalam.


“Kau tahu, pesonaku ini membuat semua wanita yang bertemu selalu merasa familiar.” Aera memutar bola matanya.


“Tepat di dekat kedai es krim itu, turunkan aku,” pinta Aera.


“Apa kau akan meloncat pagar?” tanya Gian setelah melihat situasi kompleks menuju apartemen Kyosi 3. Beberapa menit kemudian, mobil terhenti.


“Jangan turun. Aku tidak menerima tamu.” Aera melepas sabuknya. “Karena kau yang menawari, seharusnya tidak perlu berterima kasih. Tapi aku akan melakukannya, untuk menegaskan aku manusia beradab.”


Gian berusaha menahan tawa.


“Kau bisa menawariku lemon tea, sambil menunggumu mandi agar kembali segar,” usul Gian setengah menggoda.


“Sayangnya aku lupa beli lemon.” Sengaja Aera memajang wajah sesal yang berlebihan. Gian yang melihatnya hanya mengangguk dengan senyuman paling mawar. “Baiklah pangeran, terima kasih tumpangannya. Kuharap kita tidak perlu bertemu lagi," tandas Aera.


Pintu mobil ditutup. Aera berjalan lurus menuju lorong setapak yang dipayungi kanopi daun Ivy Varigata. Beberapa kali dia meyakinkan diri agar tidak berbalik dan berhenti. Namun, nyatanya tengkuknya terlalu pegal, matanya jauh lebih tidak sabar dari pada otaknya.


Aera berbalik setelah berjalan beberapa langkah. Dalam hati dia bersyukur karena yang terlihat hanyalah, anak-anak dalam antrian panjang, untuk membuang sebagian kecil kekayaan ibu mereka di kedai es krim, yang rasanya sangat menggoda.


**


“Sampai kapan kalian ingin menjadi makhluk astral?” tanya Gian di balik kemudi. Dia segera melaju setelah melihat punggung gadis berwajah indah itu lenyap di telan ujung jalan.


“Jangan pedulikan kami,” sahut Aiwan, yang sibuk dengan berita-berita barunya.


“Ya, kau menyetir saja, anggap kami tidak ada.”


Gemas, Gian berbalik, tangannya menjangkau sesuatu yang tidak tampak. Lalu menarik dengan kekuatan penuh. Aiwan memejam karena perbedaan cahaya, dan Keri menatap seisi mobil. Kapala kecilnya celingak-celinguk


.


“Aku masih tidak percaya kalian bisa menipu seorang Aera. Apa tadi dia benar-benar berpikir hanya ada kami berdua di dalam mobil?” Gian menyindir.


“Kami tidak menipu siapapun.” Aiwan menegaskan setelah berpindah duduk ke samping Gian. “Bagaimana menurutmu? Dia benar calon putri mahkota yang sempurna bukan?” tanyanya pada Gian. “Oh, aku rasa seorang ilmuan juga hanyalah manusia biasa. Bekas kursinya sangat panas. Rasanya bokongku akan hangus.”


Gain tidak berniat menimpali ucapan Aiwan. Sesekali dia hanya tergelitik mendengar ucapannya. Mengatur rute, lalu mengaktifkan kemudi mandiri. “Mengenai Aera. Apa kalian mencari tahu mengenai dia hanya melalui data lalu dengan mudahnya mengatakan dia yang terbaik menjadi putri mahkota, jadi kesetiaan kalian hanya sebatas itukah?”


“Jika ragu, tidak perlu mengikuti saran kami,” balas Aiwan datar. Matanya tidak lepas dari layar hologram yang menyajikan berbagai macam berita yang selama ini terpaksa dia lewati.


“Aiisszz ..., dasar menyebalkan, jika aku bukan putra mahkota, kalian pasti sudah berakhir di tiang pancung.” Gian mengubah setelan kursinya menjadi lebih santai. Menarik bantal yang berada di samping kanan kursi kemudi, dan menutup mata. “Bangunkan aku jika telah tiba di istana,” gumamnya sebelum terlelap.


Aiwan mengalihkan atensinya. Ke dua matanya menatap Gian yang sedang berjalan menuju lelap. “Keri, buka data tentangnya. Yang terbaru, sejak aku tidak sadarkan diri.”


“Silahkan di baca!” ucap Keri seperti biasa, setelah mengirim data yang dia ambil dengan menggunakan IP Gian. Kemudian mengirimkan ke server Aiwan, yang langsung bisa sahabatnya lihat melalui lensa optik yang membuat matanya seindah zamrud. Sementara itu, kedua tangannya sibuk menghentak, menjentik, bahkan memukul udara. Dia terobsesi membuat gamenya sendiri.


Aiwan menatap Gian yang telah pulas. Mobil sport-nya masih melaju dengan kecepatan konstan 90km/h, melewati tebing yang di bawahnya terdapat lautan kaya radiasi dengan penghuninya yang 95% nyaris mengalami mutasi gen secara alami.


Aiwan bersandar. Dia lelah berpura-pura tidak peduli, tetapi tidak tahu harus menunjukkannya pada siapa. Sudah hampir 50 tahun perang nuklir berlalu. Namun, dampaknya masih harus ditanggung oleh generasi saat ini. Tetapi semua semakin buruk, bukan hanya karena nuklir yang meledak 50 tahun lalu. Mungkin pula nuklir yang justru saat ini digunakan di berbagai industri dan teknologi dengan jumlah yang tidak kurang dari seribu.


Semua file yang nampak bersusun-susun membentuk puluhan hologram di dekat kepalanya, kembali ditutup. “Aku bisa membantumu, mewujudkan keinginanmu menjadi putra mahkota, tapi apa aku bisa percaya padamu?” Lirih ..., Aiwan bergumam.