Neitherland

Neitherland
38: Koloseum Neitherland



Hai para Readers tersayang, tolong bantu support Neitherland yaa, dengan like dan vote sebanyak-banyaknya. Dukungan kalian akan sangat berarti bagi Author yang capek menghadapi kenyataan hidup. wkwkkk


Kiss and hug for you all ❤️


******************************


°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°


Sepanjang perjalanan mata Aera ditutup dengan kain hitam. Dia merasa seperti terpidana mati yang dipapah menuju tiang gantung. Lantainya melahirkan bunyi ketukan setiap kali boot-nya melangkah maju. Hingga tiba di suatu tempat atau mungkin ruangan, Aera tidak bisa menebak, terdengar bunyi konfirmasi akses masuk diikuti terbukanya pintu ruangan. Aera merasa tangannya kembali di papah masuk, bunyi kursi roda yang sejak tadi berada disampingnya terdengar mengikuti sedikit di belakang.


"Lepaskan penutupnya." Sebuah suara terdengar mengintimidasi siapapun, dan Aera kini bisa melihat cahaya di sekitarnya. Matanya memicing, menyesuaikan jumlah cahaya pada retinanya lalu menatap ruangan yang tampak seperti kaca. langit-langitnya membentuk kubah terang berwarna biru seumpama pantai di siang hari. Lantainya tampak glossy seperti berlapis air. Dindingnya berbentuk kumpulan heksagon yang saling bercengkrama hingga menghasilkan permukaan unik; tampak seperti gua kristal.


Di sudut ruangan sebuah aquarium raksasa menarik perhatian Aera. Dia terpukau melihat betapa apiknya isi aquarium itu: diisi dengan berbagai jenis hewan kecil dan langkah mulai dari guppy, betta, ubur-ubur, hingga lobster yang semua berwarna biru terang. Kontras dengan warna hiasan aquariumnya yang tampak lebih gelap.


"Sudah kuduga, kau juga menyukai warna biru."


Aera mengalihkan perhatiannya. Menatap pria berpostur tegap dan berwajah rupawan. Dia mencoba menaksir usianya yang mungkin telah memasuki kepala empat. Prajurit di sekitarnya menunjukkan gestur takluk dan patuh. Aera mengernyitkan pandangannya.


"Kau yang bernama Roschiil?" tanyanya dengan wajah sebal.


Pria itu tersenyum bangga, "Salah satu orang yang tidak segan mengucapkan namaku tanpa embel-embel Tuan, atau yang mulia mungkin?" Dia tergelak.


Aera semakin merengut, dia tidak mengerti apa yang membuat pria itu tergelak bahagia. "Heh, bahkan orang yang jelas-jelas keturunan raja tidak pernah berharap dipanggil yang mulia olehku, lalu kau siapa?" Aera mengibaskan tangannya "Aku tahu namamu Roschiil, maksudku statusmu apa sampai bisa memiliki tempat yang dahsyat seperti ini bahkan prajurit terlatih yang menyebalkan mengalahkan prajurit istana. Aku bahkan yakin, namamu tidak ada dalam jajaran Mentri."


Roschiil kembali tergelak, seolah kalimat sarkars Aera adalah lawakan yang menggelitik nalurinya. "Kau tahu, persamaanmu dengan ibumu apa? kalian sama-sama tidak mengerti dunia politik. Karena kau tidak mengerti lebih baik kita menyaksikan hal yang mudah kau pahami saja." Roschiil menepuk dua kali, sebuah layar hologram muncul. Tanpa diperintah, beberapa prajurit dengan sigap menarik lemari yang permukaannya tidak berbeda dengan dinding. Menarik dua kursi dan meletakkannya di belakang Roschiil dan Aera.


Roschiil segera duduk, dengan tangannya menyuru Aera ikut duduk. Namun, baru saja Aera mendaratkan bokongnya di atas kursi hangat, seketika dia terlonjak melihat penampakan dalam layar. Gian yang wajahnya kini lebih bersih, Aiwan dengan kondisi siaga tempur, dan Morat yang tampak lebih kekar di banding pertemuan terakhir mereka.


***


Aiwan membuka matanya, seketika dia memindai ruangan kosong dengan nuansa putih biru bak di rumah sakit. Sebuah cermin besar mengambang di depannya. Dasarnya sedikit menggantung dari lantai dan atasnya tidak mengenai langit-langit kamar. Sebuah lukisan koloseum yang kini hancur akibat perang dunia ke tiga tergantung manis di belakangnya.


"Kau sudah sadar?" suara Keri kembali terdengar. Aiwan mendengus.


Video yang dia tunjukkan hanyalah pengalihan agar bisa menghipnotis Aiwan dan mengunci kesadarannya. "Kau percaya padaku?"


Aiwan mengernyit, "Jika bukan kau aku harus percaya siapa lagi?" dia sedikit kesal tapi berusaha sabar menunggu penjelasan Keri. AI itu terkadang lebih drama dibanding wanita.


"Kau pasti lupa aku bisa membaca pikiranmu," Keri mencibir. "Sekali lagi kau samakan aku dengan wanita, aku akan mengunci kesadaranmu dan membuatmu terus tidur sampai dicium tikus."


Aiwan menahan keinginannya untuk tergelak dan mempertahankan tampang dinginnya.


"Jadi ini di mana? di mana Gian dan Moana?" Ingatan Aiwan hanya sebatas berada di apartemen Ries. Selebihnya dia tidak tahu karena terlelap dan berada di alam bawah sadar.


"Ries dan Moana aku tuntun ke mansion Tuan Piller. Mereka aman di sana, masalah kamera pengawas yang menunjukkan kebersamaan kalian sejak di apartemen hingga stasiun untuk sementara aman karena telah aku blokir, selanjutnya menunggu Ries. Semoga Tuan Piller masih bermurah hati memberinya fasilitas agar bisa memanipulasi informasi dari kamera pengawas." Aiwan tidak mengerti tetapi tetap diam menyimak penjelasan Keri.


"Gian kini telah berada di Koloseum Neitherland. Sedangkan Aera duduk manis bersama Roschiil. Jika kau ingin menyelamatkan mereka, maka kau harus bertahan hingga akhir. Setidaknya hingga aku menemukan titik lemah mereka."


"Alasan kau mengunci kesadaranku untuk semua ini?" tanya Aiwan kesal.


"Berdasarkan study kasus selama ini, aku mendapatkan metode terbaik dalam menyelesaikan masalah dengan Roschiil." Aiwan kembali mengerutkan dahinya. "Yaitu dengan cara langsung menghadapinya. Mari kita berjuang bersama dan menyelesaikannya dengan cepat." Aiwan memutar ke dua bola matanya, tetapi dia menyukai sikap optimis Keri.


"Jadi, selagi aku mencoba mencari letak server power mereka, kau harus bertahan sebagai gladiator." Belum sempat Aiwan menanyakan maksud ucapan Keri, pintu ruangan terbuka kasar.


"Heh, pangeran tidur kita ternyata telah bangun," dia melempar alat setrum ke lantai. "Jika tahu. aku tidak akan membawa-bawanya," dia mengeluh tanpa menatap Aiwan.


Jangan, kau harus bersabar jika tidak ingin Aera ditembak mati saat ini juga. Keri membujuk Aiwan yang tampak murka dan hendak menyerang sang prajurit. Sayang bujukannya mengandung bensin yang menambah kobaran api di dada Aiwan. Seketika sang mutan berubah wujud dengan tampilan siap perang. Perubahan yang cukup membuat sang prajurit terkejut dan sedikit gugup.


"Ayo ikut aku, kau harus menghibur para tamu malam ini." Sang prajurit langsung berjalan cepat tampak sungkan berada lama di dekat Aiwan. Cih, jika mentalnya serapuh kerupuk seharusnya mulutnya di lem seperti Moana. Suara gelak tawa Keri bergema di dalam kepalanya. Sialan! diam kau pesek!


Dan akhirnya Aiwan memutuskan mengikuti si Prajurit, ketika suara Keri kembali menyuruhnya segera beranjak.


Aiwan terpukau. Dia menatap keselilingnya. Keriuhan penonton, bahkan kondisi koloseum sangat identik dengan ampiteater dari dinasti Flavia. Mungkinkan Koloseum yang menjadi kebanggaan Roma di Italia dipindahkan oleh Roschiil dalam satu malam persis seperti istana Ratu Balqis di zaman Raja Salomon? Dia menengadah bahkan sebuah tahta Kaisar Trajan tampak berpindah dimensi dan kini ditempati oleh seseorang Pria menyebalkan yang ia yakin bernama Roschiil.


Pandangannya menyapu bagian setiap Koloseum, rupanya di sinilah semua shadow government itu bersembunyi.