Neitherland

Neitherland
39: Bukan Gladiator



"Jika sebelumnya para gladiator kita berasal dari prajurit hitam yang luar biasa, kali ini kita akan dihibur oleh para gladiator yang memiliki tampan rupawan dan otak cemerlang!" Kalimat pembuka dari seorang pria bersetelan putih, yang diduga sebagai pembawa acara menimbulkan keriuhan di sekitar koloseum.


Aiwan menatap tahta Roschiil, dia duduk bagaikan seorang kaisar. Semua tampak nyata, tetapi Aiwan tahu, itu hanyalah manipulasi gambar yang membuat seolah tahta itu benar ada. Sesungguhnya mereka hanya berada di sebuah ruangan yang entah di mana dan memandangnya dari layar hologram. Aiwan bisa melihat bias garis tebal di titik lensa mata Roschiil, sebelum sosok dirinya berdiri tegap menantang sang tuan rumah. Bias garis yang tebal menunjukkan ada sekat maya dengan jarak cahaya yang diberi jeda; dibatasi oleh ruang yang jelas beda.


Kepala Aiwan berputar, dia mencoba memindai setiap struktur meterial koloseum.


Jangan membuang daya untuk hal yang tidak penting, Koloseum itu benar-benar nyata. Para penontonnya juga. Hanya keberadaan Roschiil yang tidak. Namun, jangan lengah, dia menatapmu dari sebuah ruangan yang memiliki kontrol penuh terhadap AI dan semua teknologi istananya.


Keri kembali memberi peringatan.


Bertahanlah selama mungkin, aku tidak peduli apa kau harus membunuh lawanmu atau tidak, selama kauselamat itu menjadi hal yang baik.


Heh, saat memutuskan kami menjadi rekan harusnya Profesor membuat hierarki di antara kami, dan aku yang berada di posisi tertinggi. Jika seperti ini, aku merasa dipecundangi oleh makhluk yang bahkan tidak bisa merasakan asensi pertarungan itu seperti apa.


Jangan banyak mengeluh, aku hanya mencoba merealisasikan pesan baik dari Sun Tzu yang mengatakan, “kenali dirimu, kenali musuhmu, maka kau akan menemukan cara untuk menang dalam pertempuran." Ini bukan masalah siapa yang memerintah siapa, tetapi siapa yang lebih dulu menyadari ancaman dan langsung bertindak melindungi daerah kekuasaan.


Kita perlu membuat Roschiil merasa kita telah terjebak dan tidak berdaya hingga membuatnya lengah sebelum akhirnya bisa melumpuhkannya di dalam istananya sendiri. Dia telah mengenali sinyalku dengan membaca panjang gelombang radio ditiap gerakan yang mengarah ke big data. Karena itu aku menembus istananya dan membuat seolah mereka mampu mengunci pergerakanku.


Aiwan bergeming, enggan memuji dan mengakui kebenaran ucapan Keri tetapi tidak mencoba berdebat.


Aku harap kau tidak lagi bertanya kenapa harus mengunci kesadaranmu karena blokir yang mereka lakukan menunjukkan keterikatan sinyal di antara kita. Hanya masalah waktu mereka akan menemukanmu. Sejujurnya mereka membuka kode genetika lewat big data untuk bisa mengirimkan nanobot yang bisa mengendalikanmu. Mereka tidak berpikir kita adalah unsur yang berbeda. Heh, aku pikir otak mereka selangkah di belakang.


Aiwan tersenyum samar, Keri memang selalu bisa menemukan kalimat sarkas yang membuatnya terhibur. Namun, tatapannya masih menusuk ke arah Roschiil. Pria itu tidak berubah meski waktu telah berlalu 50 tahun lamanya.


“Kau tahu hal paling bodoh adalah menyerang tanpa strategi matang. Jadi, aku berharap kau benar memiliki rencana yang telah terstruktur rapi.”


Pada akhirnya Aiwan hanya bisa berharap Keri tidak salah langkah.


Aiwan tertegun, dia menanti penjelasan Keri, tetapi hingga pembawa acara kembali berpidato suara Keri menghilang tanpa jejak. Aiwan berpikir mengenai nanobot yang tadi Keri bicarakan. Dia berharap Keri bisa melumpuhkan sistemnya jika benar para kaki tangan Roschiil telah berhasil membidik nanobot itu kedalam tubuhnya.


Tunggu, tadi dia mengatakan mereka memindai kode genetika lewat big data? Ya, dia tahu. Saat ini dunia seolah berada dalam genggaman Roschiil. Kunci big data tentu saja jatuh di tangannya. Namun, bukan berarti dia bisa membuka semuanya. Setidaknya dia berharap seperti itu.


Seketika pikiran Aiwan terasa keruh. Bukankah itu berarti mereka bisa membungkus nanobot dengan sel yang identik dengan gennya hingga pemindaian Keri termanipulasi? mungkin ini alasan Keri tiba-tiba memutus komunikasi di antara mereka, karena khawatir percakapan mereka terekam dan keberadaannya terbongkar.


Jangan khawatir, aku hanya perlu menemukan plesk mereka dan memutus kontrol terhadap sinyal yang mereka tangkap dariku. Beri aku waktu lima belas menit. Itu ucapan Keri sebelum menghilang tanpa penjelasan lebih lanjut. Namun, benarkah menyelesaikan permasalahan dengan Roschiil semudah perintah Keri menunggunya.


Dia tahu siapa Roschiil. Dia iblis licik berhati dingin yang telah hidup lebih dari seabad. Bahkan Thanos masih jauh lebih baik darinya. Ya jika memikirkan tujuan Thanos, Roschiil seribu kali lebih buruk dari tokoh antagonis yang menjadi musuh Avengers, tetapi kini dia tidak punya ide lain selain mengikuti permintaan Keri.


Suara sang pembawa acara terdengar di antara keriuhan pononton, seketika ke dua sisi dinding: melayang mendekati Aiwan. Dia akhirnya menyadari posisinya berada di ruang hypogeum koloseum. Para penonton diminta memilih; mulai dari senjata hingga tingkat pertarungan. Aiwan terpukau saat tiba-tiba ruang kosong di hadapannya berubah menjadi layar hologram, lalu secara tidak sengaja menunjukkan batas ruang yang ternyata sempit.


Berikutnya grafik hasil voting dari para penonton tampil; tampak belum stabil. Tiga puluh lima persen penonton memilih gladius dengan tingkat pertempuran medium. Lima belas persennya memilih tombak, sisanya jenjang bertahap: di awal pertarungan dengan tangan kosong, dan poin tertinggi berhak memilih senjata.


Aiwan mengerutkan dahinya. Ternyata agama berbanding lurus dengan tingkat kecerdasan EQ manusia. Sekalipun waktu telah membawa semesta jauh dari awal mula Masehi terlahir ke bumi, nyatanya kini kejahiliaan dari peradaban kuno bersemi bahkan tumbuh subuh di era ini. Era di mana rovolusi industri 4.0 dan society 5 berada diujung takdir dan siap mengusung kegilaan yang jauh lebih tinggi.


Belum puas dia mencibir acara hiburan paling jadul di zaman serba cepat ini, tangan-tangan robot yang terlahir dari sisi dinding yang tadi merapat di sekitarnya mencengkram tangannya. Matanya terbelalak saat merasakan saraf telunjuknya seolah mengalirkan listrik. Lalu detak jantungnya berpacu lebih cepat. Sialnya tenaganya tidak mampu melepaskan cengkraman sang robot dari lengannya.


Aiwan berusaha melakukan perlawanan. Namun, rasa sakit yang menguliti organ dalamnya terasa mengganggu. Seketika dia merasa lelah dan kehabisan energi. Sebuah pelindung yang menutupi bagian matanya pun menghilang. Lengannya kembali berubah normal. Tidak ada lagi tangan yang bisa mengeluarkan medan energi luar biasa dahsyat. Juga tidak ada tangan yang bisa menembakkan misil pemusnah massal. Wujudnya kembali seperti semula dengan paksaan.


Ke dua matanya kembali terbuka. Rasa sakit yang menggerogotinya menghilang. Kesadarannya kembali membaik. Aiwan memandang tubuhnya. Sialan! bagaimana mereka melakukan ini? Pesek kau harus berhasil, jika tidak mungkin kiamat akan tiba lebih cepat.


Dalam kegamangannya, dinding-dinding yang mengelilinginya seketika berlari dan kembali ke sarangnya. Beberapa ruang kosong yang tampak seperti kubus seketika terurai. Lalu sesok pria muda dan tampan berdiri di hadapannya.