Neitherland

Neitherland
Season II, Epraim Majnun



Epraim menarik napas dalam lalu mengembuskan perlahan. Kedua tangannya bertumpuh pada pagar pembatas balkon kamarnya. Sosok Aera yang mengusik benaknya membuatnya sulit memejamkan mata. Maka di sinilah dia berakhir. Berdiri di balkon kamarnya yang gelap, sambil memandangi langit Neitherland yang dihiasi satelit.


Langit Mesphis apa kabarnya?


Tiba-tiba dia merindukan kota kelahirannya, kota di mana tahtanya berdiri dan berjaya, dan kota yang membuatnya berpikir masa 4000 tahun yang lalu adalah anugerah terbaik dari alam.


"Kau tidak bisa tidur?" Suara Aera mengintrupsi kesunyiannya, karena terkejut wajah Epraim tampak lucu dan mengundang gelak tawa Aera.


"Jika wajahmu disorot kamera, pasti gelar tampan sejagat raya perlahan goyah."


Epraim mendesis, "Kenapa kau belum tidur?"


"Kau sendiri kenapa belum tidur?" Aera balas bertanya sambi menengadah. Angin malam mengibarkan rambutnya dan membuat gaun malamnya melambai manja. Pemandangan yang membuat Epraim kembali teringat kejadian siang tadi.


Sialan!


"Kau ke sini berharap bisa bertemu denganku? toh sebentar lagi kita akan menikah, kau tidak perlu terburu-buru," goda Epraim, mencoba menenangkan perasaan yang menggeliat dalam dirinya.


"Kepercayaan diri yang luar biasa, tapi kau harus berhati-hati karena itu bisa membunuhmu." sarkas Aera sebelum beranjak menuju kamarnya.


"Kau terlalu malu dan sekarang ingin meninggalkanku? bukankah sudah terlanjur ketahuan? bagaimana jika kau tetap di sini menemaniku?" Kepala Epraim menyembul dari balik dinding pembatas.


"Cih, bilang saja kalau kau masih ingin bersama denganku lebih lama," cibirnya. Berbalik dan terkejut saat Epraim melompat ke arahnya. "Apa yang kau lakukan!" pekiknya tertahan ketika sang Pangeran semakin mendekat.


Epraim mengendus di sekitar Aera, "Hei apa kau anjing?!"


Baunya enak, "Kau memakainya," ucapnya ambigu. Aera mengerutkan keningnya. "Kau sengaja keluar dan memakai parfum yang menggoda untuk memancingku 'kan?"


"Ternyata kaumenyukai lotionku, aku punya banyak, mau aku ambilkan?" tawar Aera meledek. Namun, wajahnya berubah merah saat Epraim kembali menghimpitnya di dinding. "Cih, ternyata reputasi casanovamu bukan omong kosong. Apa kau selalu mengintimidasi wanita seperti ini?"


"Kau merasa terintimidasi?" Epraim menyeringai. Sejak tadi dia memang terganggu oleh kejadian siang tadi, dan aroma melati, cedar serta ember yang memberi kesan woody, segar, sensual yang kuat tetapi tetap lembut dan elegan persis seperti karakter Aera membangkitkan insting liarnya. Wajahnya semakin dekat dan aroma Aera semakin mengusiknya. Wanginya seolah berubah menjadi magnet yang menariknya semakin dekat dan dekat.


Uuugh!


Epraim tidak menduga Aera balik menyerang. Tangan kirinya diputar dengan cepat dan tubuhnya membentur tembok dengan keras. Tenaganya lumayan juga.


Kini posisi mereka terbalik, Aera yang berada di depannya dengan senyum kemenangan.


"Jangan membuatku tertawa, kau bertanya aku terintimidasi? jawabannya tidak sama sekali. Dan ...," ucapannya terjeda karena gerakannya yang semakin menghimpit Epraim. Kepalanya menengadah. Kini tatapan mereka bertemu dan saling mengunci.


"Jika semua wanita yang kautemui takluk dengan tingkah konyolmu ini, percayalah, aku justru merasa muak." Sorot matanya yang tajam membuat Epraim yakin ucapan gadis itu bukan omong kosong. Terlebih kilatan yang terlihat membara, dia ingin menerjemahkannya sebagai rasa cemburu?


"Semua? Menurutmu ada berapa wanita yang pernah sedekat ini denganku?" godanya berharap Aera kembali melunak.


Kepalanya ditarik mundur, tubuhnya menjauh, "Kau pikir aku peduli? itu bukan urusanku." Sebelum Aera berbalik tangannya kembali dicekal dan membuatnya kembali menatap mata sang Pangeran.


Gedubrak!


Pelukan mereka terurai, di depan pintu kamar Aera, Cyma mematung bagai melihat hantu. Cangkir Yang ada di tangannya terjatuh di atas matras, melahirkan bunyi yang mengejutkan mereka.


"M-ma-maaf, aku tidak melihat apapun. Sumpah! Eh, sebenarnya aku sedang tidur. Jadi aku tidak akan ingat apapun. Kalian bisa lanjutkan tanpa rasa canggung." Dia berbalik dan terburu-buru pergi. Namun, baru berapa langkah dia kembali lagi, "Hmm, aku hanya sekedar mengingatkan sebagai sahabat. Kalian harus menjaga harkat dan martabat keluarga kerajaan, usahakan jangan sampai cekdung sebelum pernikahan digelar."


Epraim melihat wajah gadis di hadapannya telah berubah menjadi merah padam. Bibirnya dikulum dengan wajah mengerut. Dia berdehem panjang.


"Kau akan segera masuk tidur? atau ingin melanjutkan yang tadi?" tanyanya terlalu santai sambil merentangkan tangan.


***


Psikopat mesum sialan. Umpat Aera setelah menendang tulang kering sang Pangeran. Tanpa peduli ringisannya, Aera meninggalkannya dan menutup pintu kamar. Wajahnya memerah kesal, malu, dan satu entah apa namanya bercampur menjadi satu membuatnya merasa ingin menghilang dari dunia ini.


"Aaahh... kenapa aku harus menikah dengan orang aneh sepertinya!" gerutunya sambil memberontak di atas kasur.


"Bukankah kau tidak kalah aneh? kenapa berputar-putar di atas kasur? Kalau kau jatuh dan patah tulang bagaimana?"


Epraim!


"K-kau! apa yang kau lakukan di kamarku? bukankah tadi aku sudah menutup pintunya?"


Aera segera bangkit dan menengok ke arah pintu.


"Kau menutupnya tapi tidak menguncinya. Jadi aku simpulkan sebagai undangan darimu agar aku bisa masuk," jelas Epraim lalu duduk di pinggir kasur dan meraih remote kontrol kamar. Mengunci pintu, mengatur suhu ruangan menjadi normal, dan menampilkan acara tv lewat layar hologram.


"Kau mau keluar sendiri atau harus aku tendang dengan pistol?"


Setelah menemukan acara kartun, dia melepas sendalnya dan merebahkan diri di samping Aera. "Besok kita harus hadir dalam rapat penting dengan wajah segar. Izinkan aku tidur denganmu tanpa harus merindukan kampung halamanku," gumamnya sambil menarik tubuh Aera ke dalam pelukannya. Kedua matanya tertutup dan perlahan napasnya berjalan teratur.


Dasar gila! Rutuk Aera kesal. Ditatapnya wajah tidur sang Pangeran. Terlihat damai dan menggemaskan. Tanpa sadar dia tersenyum. Namun, senyumnya segera sirna ketika menyadari jarak wajah mereka tidak lebih dari sejengkal dan tubuhnya berada dalam dekapan si Pangeran Gila.


Tangannya melambai-lambai di depan mata Epraim yang tertutup rapat. Dia sudah tidur? Aera mendengus, dia yakin calon suaminya itu benar-benar upnormal, bagaimana mungkin ada pria normal yang bisa tidur nyenyak di dekat seorang wanita cantik seperti dirinya.


Terdengar bunyi pintu yang dibuka dari luar. Jantung Aera nyaris copot tapi setelah melihat lambang kunci pada remote kontrol telah aktif dia merasa lega. Pasti Cyma si Ratu Kepo matanya melirik jam yang berada di pojok kanan bawah layar hologram. Nyaris pukul dua belas. Pesan masuk dari smartwatch-nya berbunyi.


Benar saja, Cyma mengirimi pesan yang membuatnya ingin segera mencekik wanita itu.


..."Mentang-mentang diberi lampu hijau, langsung tancap gas aja. kalau tahu begini harusnya sore tadi aku melulurimu dan memcampur air rendamanmu dengan aromaterapi. Biar suasananya makin hot. Oh iya, untuk pertama jangan terlalu banyak gaya, aku khawatir besok kau tidak bisa jalan."...


"Aaahhh, dasar ratu mesum!!!" tanpa sadar Aera berteriak.


"Kau sangat berisik, ternyata tidur di sini bukan solusi yang tepat. Aku akan kembali ke kamarku." Epraim bangkit tanpa melihat wajah bingung Aera. Sebelum tangannya meraih knop pintu dia berbalik. "Saran temanmu untuk luluran dan berendan air aromaterapi itu adalah terbaik. Aku harap kau mau melakukannya di malam pengantin kita nanti." Epraim tersenyum jahil melihat wajah Aera yang memerah malu bercampur marah. Sebelum remote kontrol yang berada dalam genggaman tangan Aera melayang ke kepalanya, dia segera berlari kabur dan melompat ke balkon kamarnya.