Neitherland

Neitherland
9 : Teka-teki Detektif Swasta



Jet tempur siluman F-53 baru saja mengirimkan sinyal ke pangkalan utama—informasi misinya yang berakhir sukses. Sebelum, helm F-53 menangkap sinyal darurat. Dan sensor elektro-optiknya terus berkedip tanpa henti kurang dari semenit. Lalu ke dua mesin seketika mati. Jarum berhenti dan udara menghilang. Aiwan nyaris kehabisan nafas.


Pandangannya gelap. Semua sistem mati. Kini jet tempur yang memiliki fasilitas tercanggih menyempurnakan pendahulunya F-35—menukik tajam dari ketinggian 2.900 kaki di atas permukaan laut. Tekanan dalam pesawat menambah berat kondisi Aiwan. Namun, pesan Profesor Gabriel terngiang.


Aiwan memejam. Membiarkan indranya yang bekerja. Tangannya yang tadi bergerak liar, kini saling menggenggam. Meraba letak jam pemberian sang profesor. Tombol ditekan. Satu mesin kembali hidup. Tanpa pikir panjang, Aiwan melepas sabuk. Angka di helm jet mulai berjalan mundur—Aiwan tak mendapat waktu cukup menimbang hal terbaik. Dikencangkan helmnya yang kembali berfungsi dan membawanya ke kenyataan pahit—hidupnya berada di ujung waktu. Dia menarik sabuk—terpental dari dalam jet.


Hantaman dan dorongan dari ledakan besar yang berada jauh di bawahnya membuatnya pusing. Aiwan mengerjap. Kengerian dalam gelap yang pekat seketika berubah manjadi cahaya terang. Angin panas yang berembus mesra. Pohon-pohon yang bergoyang. Dan bunyi gemericik air. Aiwan berjalan mendekati sumber suara. Namun, memilih berbalik saat mendengar suara tawa para gadis. Mereka berkumpul memasak bersama, sambil bersukacita. Salah satu di antaranya menatapnya. Lesung pipitnya menambah pesona senyumnya. Tangannya melambai.


Aiwan tersipu. Dia menunduk dan berjalan maju—memenuhi panggilan sang gadis. Namun, jeritan pilu dan tangisan Kematian menyentak perasaannya. Dia menengadah. Tidak ada lagi kumpulan gadis yang berkumpul memasak bersama dan memberi sensasi keindahan tiada duanya di antara hutan belantara. Sepanjang mata memandang, hanya ada kobaran api yang mengganas dan semakin panas.


“Aiwaann!” pekikan sang gadis mengudara. Aiwan mencari sambil berlari, tapi seketika langkahnya terhenti ketika sebuah cekalan bercokol di tengkuknya. Badannya terangkat seiring suara tawa yang terdengar seperti lolongan srigala. Saat itu pun dia menyaksikan kehormatan sang Gadis dilucuti seumpama hewan. Sebelum pedang maha besar menyisikan tubuhnya menjadi tiga bagian.


**


“Hei, bangunlah kawan, hei!” Keri menggelitiki kaki Aiwan. Aera yang melihat itu segera mendekat. Dia menyaksikan sang humanoid yang tadi bertarung dengan gagah perkasa, kini terkapar tak berdaya. Keringat dingin membanjiri tubuhnya. Gerakannya terpatah-patah. Di sudut matanya setetes air mata bercokol di sana.


Aera mendekatkan wajahnya. Mengelap keringat sebesar biji jagung, yang menghiasi jidad hingga lehernya. Lalu mengangkat sebelah tangannya ke udara. Gian merunduk suram. Mungkin dalam benaknya, Aera akan mendekap Aiwan—hal yang tidak ingin dia saksikan. Namun, rasa penasarannya lebih besar dari pada prasangkanya. Setengah melirik, seketika Gian terbelalak. Aera melayangkan tinju tepat di dada Aiwan, kemudian menarik rambutnya kasar. Keri melongo tanpa kata, dan Aiwan seketika membuka mata.


Aera menyengir tanpa rasa bersalah, “Begini cara efektif membangunkan seseorang yang diserang sleep paralisys ...,” gumamnya sombong pada Keri yang selalu mengatakan tahu segalanya.


“Itu terlalu berbahaya,” Keri membantah.


“Apa yang berbahaya?” tanya Aiwan masih dengan nafas tersengal. Ke dua tangannya menangkup wajahnya yang tampak lelah.


“Kau baik-baik saja? Apa kau mimpi buruk?” Aiwan yang masih dalam posisi bersandar di dinding gua terlonjak. Dia duduk tegap menatap Aera. Posisi wajah mereka nyaris tak berjarak karena gerakan Aiwan yang tiba-tiba. Aera berkedip tiga kali, dia mendehem lalu mundur perlahan.


“Apa aku mimpi buruk?” tanyanya tanpa peduli pada posisi wajahnya beberapa detik lalu. Sedikit canggung Aera mengangguk.


“Kau bahkan menangis dan berteriak, tidaaaakkkk!” Keri mulai membual dan melakukan atraksi, yang menunjukkan kemampuan aktingnya jauh lebih baik daripada manusia.


Gian tergelak, dia menggeser posisi duduknya sedikit lebih dekat. “Ada apa? Kau merasa tidak enak badan?”


Aiwan terpaku. Mungkin pikirannya kembali ke alam bawah sadar. Mengenang scene terburuk yang pernah dia lalui.


“Tidak usah pedulikan dia,” tutur Keri yang memahami kondisi Aiwan lebih dari siapapun. “Hal itu biasa terjadi jika dengan terpaksa dia harus membunuh seseorang. Sebaiknya kita bersiap, badai sudah hampir mereda.”


**


Sebuah rekaman yang diambil dari ruang pengawas Apartemen Kyosi diputar berulang-ulang.


Stego, pria berkulit gelap yang berprofesi sebagai detektif swasta, dengan kepopuleran yang melegenda seperti karakter fiksi Sherlock Holmes—menatap layar. Morat sengaja memanggilnya. Dia ingin menunjukkan rekaman, yang dia yakini bisa memberi informasi penting—sekalipun dia sendiri belum tahu informasi seperti apa.


“Ada yang janggal,” ujarnya setelah mengulang rekaman dua kali. “Lihatlah, 20 menit sebelum pangeran datang, pintu terbuka. Tapi tidak ada yang keluar, atau masuk. Hanya terbuka dan tertutup. Jika pintu dibuka dari dalam. Setidaknya orang yang membuka pintu akan keluar atau memunculkan kepalanya sebatas pintu—mengintip—misalnya, atau alasan apapun kenapa dia membuka pintu. Tapi jika dibuka dari luar. Kondisinya akan seperti ini.” Telunjuknya mengarah pada layar yang sedang memutar rekaman kamera pengawas. “Karena tidak ada bunyi bel yang terdengar, maka dipastikan sang tamu membuka pintu sendiri.”


Morat menatap layar tanpa kedip. Dia telah melihat rekaman itu entah untuk keberapa kalinya, tetapi dia tidak pernah bisa menemukan kejanggalan yang terjadi, meskipun intuisinya mengatakan ada yang tidak beres.


“Maksudmu, ada yang membuka pintu ini?”


Stego mengangguk, “Masalahnya, aku telah mengenakan aplikasi hyper optik yang bisa mendeteksi penampakan apapun yang menggunakan material nano seperti halnya kuantum stealth tapi anehnya tidak dapat digunakan dalam kasus ini.” Stego menarik bibir bawahnya ke dalam. Rautnya tampak berpikir.


“Bukankah tadi kau katakan, dia menggunakan teknologi terbaik melebihi teknologi militer milik Neitherland? Apa mungkin dia makhluk luar angkasa yang datang untuk menyelamatkan Aera?” Morat sungguh tidak menduga mendapat argumen seperti itu dari seorang Stego. Morat menatap Stego nyalang. Pria berkulit gelap dengan kacamata lebar itu mengindik santai.


“Dia seorang ilmuan cerdas. Penemu kuantum tunnel. Apa yang tidak mungkin? Kau tahu, dosenku selalu mengatakan dari ribuan galaksi di luar sana dia selalu berpikir bumilah pelanet dengan peradaban paling lamban yang bahkan belum bisa menemukan tol di ruang angkasa.”


Morat berdehem—kehabisan kata. Dia tidak tertarik membahas hal yang berhubungan dengan alien. Namun, kini dia mulai berpikir siapa sosok hebat tersebut?


“Kau mencurigai seseorang?”


Morat tersentak, isi pikirannya terucap tanpa sengaja. Ragu-ragu dia mengangguk.


“Siapa?”


Morat tidak yakin bisa mengatakannya atau tidak, “Entahlah, mungkin aku perlu memastikannya lagi.”


“Itu tugasku,” Stego menimpali, yang langsung membuat Morat yakin untuk tidak memberitahunya. Rupanya Stego jauh lebih ambisius dari dugaannya. “Hmmm... Tapi sepertinya kau sangat perhatian pada pangeran dan Aera. Sikap sia-sia untuk anjing setia Roschiil.”


Morat mendelik, “Kau, memeriksa latar belakangku?” tuduhnya sengit.


“Bukankah aneh jika aku tidak mengenal klienku? Lagi pula aku tidak akan sepopuler ini jika informasi seperti itu luput dariku.” Stego menyengir bodoh.


Morat mengutuki kebodohannya. Dia sendiri yang dengan sukarela berjalan ke sarang singa dan menjadi umpan menggoda. Jika nanti Aera bermasalah karena ketidak-mampuannya, mungkin dia tidak lagi mampu menunjukkan wajahnya di depan makam orang tuanya.


“Hhmmm ... baiklah, karena info terpenting sudah aku dapatkan, ini milikmu.” Morat menyodorkan sebuah koper hitam. Setelah diletakkan di atas meja, dekat komputer Stego, dia hendak membuka slot dengan sandi tetapi dicegah oleh Stego.


“Kau ingin mengakhiri penyelidikan sampai di sini?”


Morat menatap Stego datar, “Ya, aku sudah menemukan poinnya. Ada orang lain selain pangeran dan Aera. Dan aku harus menemukan mereka sesegera mungkin.


“Hhmmm.., tapi perjanjiannya tidak begitu. Kita harus menyelesaikannya, dan menemukan siapa makhluk tak kasat mata itu. Bukankah kau telah mencuriga seseorang?”


Morat menyeringai, “Apa masalahmu? Jika aku telah katakan selesai dan membayar upahmu, maka semua perjanjian berakhir.” Morat mulai kesal.


Stego mendengus, “Tentu jadi masalah, karena aku bukan orang yang sekedar menerima uang tanpa memastikan hasilnya sepadan.”


Morat menghela nafas panjang. Dia tahu ini tidak akan berakhir dengan mudah. “Kau yakin memiliki loyalitas pada klienmu?”


“Sebelum membuat perjanjian, seharusnya kau menaruh kepercayaan tinggi padaku.”


“Apa kau Sebastian?” sindir Morat menarik kursi, lalu merebahkan bokongnya dan bersandar malas.


Stego terbahak, “Aku anggap itu pujian.” Morat melunak, dan berpikir dia hanya perlu berhati-hati. “Tapi aku tidak akan menyamakanmu dengan Ciel—kau terlalu tua untuknya.”


Mereka tergelak bersama, “Mengenai teman pangeran Gian, bukankah dia orang yang paling layak dicurigai?” tutur stego.


Sesaat Morat menerawang ke dalam sorot Stego, mencari sesuatu hal yang mungkin membuatnya menemukan alasan untuk mengakhiri pembicaraan ini—nihil. Sorotnya terlalu dalam—membuatnya hanyut dan ikut dalam arus yang Stego ciptakan.


Morat sungguh berharap, Stego seorang profesional yang tidak berbahaya bagi siapapun yang ada di sekitarnya. Namun, dia penasaran dari mana detektif swasta itu, tahu mengenai tamu pangeran? Morat yakin hanya ada segelintir orang yang memiliki informasi itu—mereka yang ikut dalam operasi penyelamatan. Semua orang kepercayaan pangeran. Juga beberapa pelayan di kamar pribadi pangeran. Mungkinkan tanpa sadar pangeran memelihara tikus? Selain dia sendiri tentunya.


“Bisa aku tahu informan yang membocorkan masalah pangeran padamu? khususnya mengenai keberadaan tamunya?” tanya Morat pada akhirnya sebelum dia meninggalkan kantor Stego.


Pandangan pria berkulit gelap itu tak berpaling dari layar komputer. Sesaat hening meliputi mereka, hingga deheman panjang Stego menyelinap di antara detakan jarum jam yang terdengar senada dengan irama jantung mereka.


“Itu ... adalah kau.”


Morat mengernyit, “Maaf?” tanyanya, tidak yakin pada jawaban Stego.


“Ya, informanku adalah kau sendiri.”