
“Apa yang sebenarnya terjadi? Di studio kabar burung hilir-mudik seperti angin tapi satu pun tidak ada yang masuk akal,” Cyma mulai mengeluh, dan Morat tahu dia sedang membicarakan apa. “Aku tahu betul Aera. Jika ada yang paling dia benci di dunia. Itu adalah keluarga kerajaan. Kawin lari? Yang benar saja!”
Seketika, Morat terlonjak.
“Siapa yang membuat berita paling tidak masuk akal seperti itu?” tanya Morat tidak kalah sengit, dan Cyma terkejut. Tatapannya mengisyaratkan seolah dia bisa saja menelan tersangka bulat-bulat seperti donat madu, bukan karena lapar tapi karena nafsu.
“Aku ke sini buru-buru karena pengen nanya, siapa pencipta hoaks yang gak mutunya kebangetan.” Cyma mencebik. “Aku tahu banget semua media yang ada punya negara. Gak akan ada yang mau menerbitkan hoaks yang paling menjijikkan tanpa persetujuan pemerintah. Apa Neitherland sudah segila ini?” Cyma berlagak seperti artis sinetron. Dia berjalan ke kiri dan ke kanan setiap tiga langkah. Tidak lupa tangannya yang terbuka dan tertutup layaknya orang yang sedang berorasi.
“Memang Aera salah apa? Dia bahkan tidak duduk di kursi parlemen. Dia tidak bermain politik. Seumur hidupnya hanya di LAB dan mengukur cahaya atau frekuensi yang bagiku itu hanya elemen untuk menambah keindahan hasil photoshoot. Tapi, apa-apaan ini? Apa mungkin kuanta Fox juga terlibat dalam persaingan politik? Oh, tidak! Apa ini ulah Prof. Scotth?”
Morat menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Dia selalu heran dengan cara berpikir Cyma yang terlalu dramatis dan terkesan nyeleneh. Morat bahkan tidak yakin adiknya itu bisa menggunakan chip memory yang dimasukkan ke otak belakangnya--berisi ilmu pengetahuan. Chip itu harusnya bisa meringankan kerja otak kiri Cyma, sekaligus membantunya berpikir cerdas.
“Apa sekarang kauberalih profesi menjadi penulis novel?” Morat kembali menyandarkan punggungnya di kursi. Rasa malas tiba-tiba menyergapnya, setelah mendengar pidato Cyma yang salah persepsi.
Raut wajah Cyma masih sama kusutnya dengan pikirannya yang semakin ruwet. Gadis seusia Aera itu masih setia mondar-mandir seperti robot pembersih udara. Tentu saja, Cyma tak peduli dengan ledekan Morat.
“Aku tahu apa yang terjadi!” tukasnya antusias.
“Pasti ada proyek rahasia yang mereka kerjakan. Sialnya Aera yang terlampau cerdas karena ketularan aku sebagai sahabat tunggal tiada duanya, kembali berhasil sebelum Prof rabun bin cabul.” Bunyi petikan jarinya memenuhi ruangan. “Karena takut kehilangan kekuasaan, akhirnya sang Profesor menjebak Aera! yaa, pasti begitu!”
Telunjuknya bergoyang-goyang. Kepalanya mengangguk-angguk seolah berusaha meyakinkan dirinya sendiri.
Morat memejam. Sesaat kekhawatirannya pada Aera menghilang karena kicauan Cyma.
“Sebagai pelayan istana, kau harus menolong Aera. Jebakan apapun itu, katakan dia tidak bersalah.” Cyma menatap Morat penuh harap.
“Baiklah. Sekarang sebaiknya kau pulang. Istirahat. Mungkin Aera akan mencarimu.”
Seolah mendapat hidayah. Mata Cyma berbinar bahagia, “Benar! Kemana lagi dia kalau bukan ke rumahku!” Cyma menepuk jidadnya. “Baiklah aku harus kembali, mungkin saja dia telah menunggu lama,” tukas Cyma riang.
“Apa mungkin semalam kau tidak pulang?”
Cyma mengangguk, “Kemarin aku mengambil gambar di atas kapal pesiar.”
“Kalau begitu mari kita pergi bersama.” Morat berdiri dan menarik jaketnya. Dia sungguh berharap Aera berada di apartemen Cyma yang letaknya di lantai atas apartemennya.
**
Hal pertama yang menghentak kesadaran Aera adalah rasa sakit di sekujur tubuhnya. Matanya mengerjap. Pelan-pelan dia menangkap cahaya yang meneduhkan. Batang pohon yang ujungnya bercengkrama dengan dasar tanah dan rerumputan adalah pemandangan pertama yang membuatnya terlena.
Matanya memejam, rasa sakit dan pusing di bagian kepalanya kian mengganas. Aera mencoba bangkit. Susah payah kepalanya di angkat. Tampak pohon-pohon raksasa yang ujungnya serupa langit hijau. Dahan rindangnya yang mengucurkan keringat dan entah sejak kapan membasahi wajahnya. Lalu guyuran angin yang membuatnya gigil tak tertahankan.
Kian berpikir, rasa pening kian mendera kepalanya. Namun, tangannya tidak kuasa berpindah untuk sekedar memijat pelipisnya. Hingga akhirnya dia menyadari posisi dan kondisinya yang ganjil. Ingatan-ingatannya pun berkelebat membuatnya bergidik ngeri lalu mengumpat dalam hati.
Sebuah kayu besar terbentang tepat di hadapannya. Kini dia menyadari ke dua tangannya diikat di sebuah kayu, begitu pun kakinya. Lalu tubuhnya melayang di udara karena kayunya dipasang terlentang. Posisinya persis seperti hewan buruan yang siap dipanggang.
“Tidak mungkin! Semoga mereka bukan kanibal,” lirihnya di tengah rasa dingin yang kian menggigit.
Kepalanya menoleh ke kiri dan ke kanan. Di sebelah kirinya, Gian dipasung seperti dirinya. Namun, mulutnya disumbat sesuatu yang tampak seperti kayu. Kedua netranya digenangi air yang siap jatuh kapan saja.
“Hei, apa mereka menyiksamu sampai patah tulang?” Energi Aera yang bahkan kurang dari satu persen membuat suaranya lenyap sebelum terbawa ke telinga Gian, “Sial!” Dia mencebik saat menyadari kondisinya yang terlalu menyedihkan.
Sedang di sebelah kanannya, sebuah gua yang mungkin saja merupakan rumah dari ke dua hewan buas serupa manusia purba, dan membuat mereka tampak lebih buruk dari binatang—tampak lenggang. Tiba-tiba gaya gravitasi berlaku padanya. Aera memejam tak mengerti apa yang terjadi, dia sungguh belum siap jika kembali membentur tanah. Namun, sebuah rengkuhan hangat terasa mencengkram lembut pundak dan lututnya.
“Kau baik-baik saja? Maaf aku terlambat.” Kedua kelopak Aera terbuka, ketika mendengar sebuah suara yang terasa familiar baginya.
Aera tersungging tipis, napasnya menghela lega, “Syukurlah, aku pikir hidupku akan berakhir di sini.”
Aiwan membawa wajahnya lebih dekat, menempelkan pipi kanannya ke jidat Aera. Sejenak jantung Aera seolah meloncat bebas. Selanjutnya berjoget lepas. Aera bahkan merasa ke dua pipinya seketika menghangat.
“39 derajat, kau demam,” pungkas Aiwan yang tak peduli mata Aera mendelik padanya.
Masih mencoba menenangkan detak jantungnya yang bekerja kelewat batas, Aera berdeham pelan. Sesaat otaknya lupa pada semua rasa sakit, karena memar yang menghias di sekujur tubuhnya.
“Apa kalian sedang syuting drama percintaan? atau sedang lomba adu tatap, mata siapa yang paling nakal?” cibir Keri sewot.
Aera melongok, lalu berkedip. “Ada Keri?” tanyanya sembari menyisir sekitar dengan matanya yang mulai berkunang-kunang.
Aiwan berjalan membawa Aera layaknya pengantin wanita. “Dia harus menggunakan mantel agar aman dari makhluk buas yang menangkap kalian.”
Aera menatap pria yang beberapa saat lalu lengannya berubah menjadi senjata. Dia diturunkan tepat dibawah pohon yang entah mengapa terasa hangat.
“Sebenarnya siapa yang menciptakan humanoid sesempurna itu,” Gumam Aera lemas. Dia bersandar di batang pohon. Beberapa saat kemudian Gian duduk di dekatnya.
“Terima kasih karena tetap hidup.” Pandangan Aera semakin berat. Kepalanya terasa panas. Dia bahkan tidak lagi mampu meneleng ke kiri—menatap wajah Gian.
“Kau sekarat sayang.” Suara Keri terdengar begitu dekat. Tiba-tiba sebuah pil seolah terlahir dari udara dan melayang ke arah Aera. “Makan ini agar kau bisa bertahan sampai kita kembali.”
Gian berbalik, tangannya mendarat ke dahi Aera. “Kau demam!” Wajahnya panik. Tangannya dengan sigap ingin meraih pil yang melayang dekat bibir Aera. Namun, seketika terpental. Gian mengaduh.
“Pangeran jorok deh! Kalau mau pegang makanan cuci tangan dulu.” Cecar Keri setelah berhasil menampik tangan Gian. Aera yang makin melemas nyaris tertawa. Sebelum akhirnya dia mendengar rauman dari manusia buas berbadan raksasa. Mereka mengamuk serupa banteng di Las Ventas, dan Aiwan sebagai torinos.
“Ke dua banteng itu dalam masalah, lihatlah! Aiwan tidak berubah.” Komentar Keri, setelah menyuapkan pil anti lapar, anti haus sekaligus meningkatkan daya tahan tubuh ke mulut Aera.
“Aku menemukan batas kesabaran Aiwan,” Keri masih setia mengoceh. Dia sedang menggoda Aera yang tengah menatap takjub. “Sebaiknya kalian menutup mata jika tidak ingin melihat sesuatu hal di luar batas. Sepertinya dia akan merenggangkan ototnya dan melatih kemampuan krav maga, ini adalah tontonan yang menarik. Sayang tidak ada popcorn dan soda.”
Serasa mendapat energi baru, Aera merasa jauh lebih baik. Matanya tidak seberat sebelum menenggak pil ajaib dari Keri. Dia bisa menyaksikan bagaimana Aiwan berlari menantang si Botak tanpa gentar.
Wajah bengis si botak meringis, kapaknya di ayunkan ke leher Aiwan. Dengan sigap, Aiwan menghindar. Mencengkram lengan lawannya, dan mendekat sebelum melayangkan sikunya ke dagu. Tanpa jeda, tinjunya menyusul ke arah leher.
Si botak melolong panjang. Sedang Aiwan melompat mundur, menghindari tebasan pedang si rambut panjang. Matanya berkilat marah. Sekali lagi pedangnya diayunkan dengan ganas ke arah Aiwan. Namun, secepat kilat Aiwan menangkap tangannya, merobohkannya ke dasar tanah.
“Aku tidak pernah mendengar ada ilmu bela diri—krav maga .... dalam program belajarku hanya ada pencak silat, karate, ninjutsu ...,” ucap Aera setengah berbisik. Dia mencoba membaca file seni bela diri yang terdata dalam chip memorinya.
“Krav maga merupakan seni bela diri untuk prajurit khusus. Mengadopsi gerakan paling mematikan dari semua seni bela diri yang kau sebutkan tadi. teknik yang dipelajari oleh para prajurit khusus untuk bertahan hidup. Diterapkan dalam peperangan, di mana hanya ada dua kondisi, dibunuh atau membunuh.”
Aera bergidik mendengar kalimat terakhir Keri. Mungkinkan Aiwan akan membunuh mereka?
Tanpa menunda, Aiwan mengunci gerakan lawan. Mematahkan lengannya. Jeritannya mengudara. Menyayat siapapun yang mendengarnya. Namun, tangan kirinya mendarat tepat di belakang Aiwan. Aera sempat menjerit, dan Keri mengumpat.
Aiwan terhuyung, tetapi dengan cepat menyeimbangkan diri. Sebelum si rambut panjang berhasil mengangkat pedang dengan tangan kirinya, tendangan Aiwan lebih dulu mematahkan tulang lehernya. Mata si rambut panjang mendelik marah. Seketika Aiwan meluncurkan serangan bertubi-tubi tepat diwajahnya. Darah memercik ke segala arah. Aera dan Gian sama-sama mengalihkan pandangan. Adegan paling menguji adrenalin dan membuat mereka menarik kesimpulan, seperti apa Aiwan sesungguhnya.
Aiwan tampak masih segar bugar, sedangkan ke dua lawannya nyaris kehilangan nyawa. Si botak kembali bangkit, setelah bergulat dengan rasa sakit yang amat pada tulang lehernya. Tangannya hendak meraih kapak yang tadi terlepas. Naas, Aiwan yang melihatnya melayangkan tendangan maut dari arah belakang, dia tersungkur. Sebelum sempat bergerak Aiwan meloncat ke tubuhnya yang lebar, memutar kepalanya—mengakhiri hidup lawannya.
Si rambut panjang merangkak mundur—kengerian membayang di ke dua matanya yang penuh darah. Tangan kanannya telah patah. Tangan kirinya menyeret pedang. Namun, dia tidak berniat menantang Aiwan. Sebaliknya dia ingin kabur dengan kondisi wajah nyaris hancur. Susah payah dia bangkit lalu berlari.
Tepat di langkahnya yang ke sepuluh dia terhenti. Jatuh tersungkur. Aera terperangah, “Aiwan menembaknya dengan laser?” tanyanya pada Keri yang telah menampakkan wujudnya.
Bibir keri maju sepuluh senti. Kepalanya menggeleng. “Untuk apa menghabiskan energi dengan laser. Makhluk itu akan tetap mati karena fraktur servikal.” Aera masih dalam kondisi mangap, kepalanya mengangguk.
“Apa itu? Fraktik ...,” Gian ikut bertanya, yang langsung dipotong oleh Keri.
“Fraktur serviks." Keri membenarkan.
"Patah tulang leher.” Sambung Aera datar.
Pandangannya mengarah ke depan, bergantian mengamati Keri yang menghampiri Aiwan, dan Aiwan yang tengah memeriksa tubuh si botak.
“Dia menyerang tanpa ragu dan tahu titik lemah tubuh. Mungkinkah Aiwan salah satu prajurit khusus para Mentri?” Kening Gian berkerut. Namun, Aera tak kalah bingung.
“Bukannya dia temanmu? Tapi kenapa kau berbicara seolah tidak mengenalnya dengan baik?”
Gian meringis, “Ya, kami berteman. Hmmm ... Mungkin ....” Gian menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
Aera mengangguk. Mungkin dia mulai memahami kondisi 'pertemanan' di antara Aiwan dan Gian.
“Maaf,” tuturnya lirih. Gian termangu, pandangannya mengarah pada gadis yang tengah duduk di sampingnya.
“Maaf?” Gian meniru ucapan Aera.
“Maaf karena selama ini aku bersikap buruk padamu,” ucap Aera datar. Pandangannya lurus menatap Aiwan. Yang ditatap kembali menatapnya dan Gian melihat semua itu sebagai sesuatu hal—yang ... 'mengganggu'?
_________________________________
Hai readers kesayangan❤️
Happy EID Mubarak, ya, bagi yang merayakan🥳
tetap nantikan up Neitherland, sehat selalu❤️