
Dua laras panjang menempel di punggung Aera, sedangkan di sisi kiri dan kanan pinggangnya tersusun 'desert eagle mark XIX'. Dua di sisi kanan, masing-masing berisi delapan butir amunisi .44 Magnum. Sedangkan di sisi kirinya, amunisi .357 Magnum sejumlah 18 butir bercokol di dua pistol dengan daya tembak 2000 joule yang mampu meledakkan targetnya.
Seolah tidak cukup membawa enam senjata di tubuhnya, Aera masih menyelipkan pisau lempar fairbairn di dalam bootnya. Gian yang tadinya hanya mengambil satu revolver, mendapat hidayah dan ikut meraih machine gun, meski rautnya seolah mengatakan dia tidak yakin bisa menggunakannya.
Aera menghampirinya dengan menenteng dua tas besar. Satu berisi RPG-7 dilengkapi 5 rudal. Dan satunya berisi obat-obatan.
"Kau yakin bisa membawa semuanya?" Gian bertanya dengan wajah ngeri.
Ke dua tas itu ditempelkan ke dada Gian, "Ini bawaanmu pangeran tampan!" Aera mengedip jahil.
**
Di Pare, Aiwan langsung menemui para tetua dan anak Puang Hamid. Meminta mereka untuk tetap di dalam rumah. Tidak ke sawah, lembah apalagi ke pantai untuk menjaring ikan. Sialnya peringatan dari Aiwan datang terlambat. Lima pemuda Pare yang bertugas menjaring hari ini telah ke muara sejak pagi.
Peringatan dari Aiwan serupa kabar buruk yang memicu keriuhan di tengah warga Pare. Beberapa keluarga panik dan menyalahkan keluarga Hamid karena menerima rombongan Aiwan di sana, beberapa lainnya justru menerima saran Aiwan dan berterima kasih di saat yang sama meminta bantuan untuk dapat menemukan ke lima pemuda itu. Salah satu di antaranya adalah Rofid cucuk Puang Hamid.
Usai memasang kubah pelindung di sekitar pemukiman warga, Aiwan menuju muara. Saat itu dia menyadari, informasi yang mereka dapatkan terlalu terlambat. Beberapa kayu di dalam tungku batu bahkan masih membara. Tiga ekor ikan di atasnya telah berubah menjadi arang. Jaring mereka bahkan masih tergeletak di tepi sungai. Ke lima pemuda itu telah ditangkap militer Neitherland.
Gemuruh suara helikopter terdengar dekat. Aiwan menengadah, itu helikopter milik para alien yang menambang di pulau besar. Dia mendengus ketika menyadari semua semakin runyam. Sepertinya peradaban masyarakat Pare telah terendus, dan kini menjadi buruan. Aiwan hanya bisa berharap ke lima pemuda itu masih berada di pulau Pare.
Tanpa membuang waktu, dia menuju pantai. Harapannya terkabul. Dari dalam jubah dia bisa melihat ke lima pemuda itu ditawan di antara batas hutan kelapa. Tiga tentara di sekitar mereka siaga dengan senapan Laras panjangnya. Sedangkan di tebing, ke dua Helikopter berputar-putar mencari tempat yang pas untuk mendarat.
Aiwan memutuskan menyerang lebih dulu sebelum jumlah mereka bertambah banyak.
Zap!
Satu tembakan dengan peredam suara tepat mengenai tentara yang berjaga di bagian Utara. Tubuhnya terjatuh di antara ilalang. Pemuda yang paling janggkung di antara empat lainnya celingak-celinguk.
Zap! Zap!
Ke dua prajurit yang berada di arah Barat daya dan Timur tumbang dan bergulingan di pasir putih sebelum mereka sempat melakukan perlawanan. Para remaja itu terkejut dan ketakutan. Aiwan menampakkan wujudnya tepat di hadapan mereka. Melepas ikatan tangan dan kaki. Namun, sebelum dia bisa menyembunyikan mereka teriakan dari helikopter terdengar, disusul tembakan bertubi-tubi.
Dua pemuda terkena tembakan masing-masing di kaki dan bahu mereka. Aiwan melompat merebut senjata milik prajurit yang telah tewas.
Tarrr... traaatttt trraaaatttt trraaaatttt!
Dia balas menembak sambil berteriak, "Sembunyi di balik pohon kelapa!"
Kini posisi Aiwan terlihat jelas dari udara. Masih setia memuntahkan amunisinya untuk menghalau serangan lawan, Aiwan bisa melihat ujung senapan lainnya keluar dari pintu helikopter satunya.
Pesek, di mana kau!
**
"Aiwan dalam bahaya!" Keri menjerit, "Kita terlalu lama dia bahkan belum sempat berubah."
Gian berlari mendekat dari arah Timur pantai sembari menenteng RPG-7, dan bersiap membidik dari belakang helikopter.
"Berikan padaku," pinta Aera yang tahu Gian tak tahu cara menggunakannya. "Helikopter mana yang menjadi ancaman bagi Aiwan?" tanyanya terlalu santai seolah mereka sedang berada di tengah arena bermain.
"Paling ujung sisi pantai," jawab Keri cepat.
Dan, bom!
Helikopter itu benar-benar meledak.
Gian terperangah, kagum. Keri tersungging seram.
Bom!
Ketiganya terkejut.
Helikopter terakhir juga meledak seperti kembang api yang pecahannya beterbangan di sekitar pantai.
Belum sempat mereka merayakan keberhasilannya. Tiga buah pesawat tempur tepat berada di langit pare menjadi ancaman nyata. Mereka melakukan atraksi sebelum akhirnya memuntahkan rudal dan bom air mata. Aera yang menyaksikan hal itu berlari memasuki hutan kelapa.
"Kau mau kemana?" suara Keri kembali bergema di kepalanya. Langkahnya seketika terhenti. Menyebalkan! kenapa tidak bicara langsung saja! mendengar suara lain dalam kepalaku itu terlalu mengganggu. Kelunya ketika langkahnya terhenti karena suara Keri. Dengan wajah kesal dia berbalik.
"Kau ingin aku mati karena rudal sialan itu?" Aera menunjuk arah rudal yang mengambang di udara. Dia terperangah, kenapa tidak meledak?
"Di sini saja, sebentar lagi akan ada pertunjukan menarik," tutur Keri.
Seper-sekian detik kemudian, semua rudal itu kembali ke angkasa dan meledak seperti petasan tahun baru. Namun, sepertinya para pilot jet tempur telah mengetahui hal itu. Mereka segera beranjak pergi dari titik lokasi mereka memuntahkan rudal, hingga tidak satupun dari mereka yang berhasil diledakkan.
"Apa yang kalian lakukan di sana? cepatlah ke sini sebelum tentara mereka mendarat. Para pemuda ini harus diselamatkan."
Suara Aiwan bergema dalam kepala Aera dan Gian.
Keri melihat layar dan berseru, "Ada lima anak yang menjadi tawanan, dan dua tertembak. Kalian berdua cepatlah ke sini!" panggil Keri agar mereka dapat berteleportasi ke arah Aiwan dan ke lima pemuda Pare.
Jarak mereka saat ini tidak lebih dari 200 meter, tetapi curamnya rawa yang berada di belakang tebing, dan medan yang sulit ditempuh akan menguras waktu jika memilih berjalan kaki. Tepat saat mereka keluar dari dalam mantel Keri dan menghampiri para remaja Pare, pasukan terjun payung menghiasi langit Pare.
Aera menarik satu tas dari Gian, "Itu berisi perlengkapan medis." Tunjuknya mengarah pada tas yang tersisa pada sang Pangeran. "Bawa mereka ke pemukiman bersama yang lainnya. Aku dan Aiwan akan menahan mereka di sini," putusnya sembari menarik AK-87 miliknya. Dia siap kembali berperang.