Neitherland

Neitherland
35: Perbincangan Para Pria



Untuk para readers terima kasih setia menunggu, dan maaf karena up nya terlalu lama. Aku lagi berada di mana ngerasa waktu 24 jam itu kurang banget karena gak pernah sempet lanjutin ngetik buat up. kalau udah capek sempetnya cuman baca novel atau komik aja :D


************************


Di dalam kamar tamu apartemen Ries.


"Sebenarnya aku lebih bingung cara kita tidur, nantinya." Aiwan memulai percakapan sambil memilih duduk di kasur, sejak mengutus Keri mengecek wilayah sekitar Neitherland, kondisinya terasa aneh. "Kasur ini terlalu luas untuk sendiri, tapi akan terasa aneh jika digunakan berdua. Bagaiman jika kita menggoyang dadu untuk menentukan siapa yang tidur di kasur, kursi atau lantai?"


"Kenapa harus goyang dadu?"


Moana mengangguk tanda setuju.


"Heh, dasar kalian kekanak-kanakan!" Gian meledek. Sejak tadi dia merasa kesal, terlebih saat mendengar kondisi terkini di istana. Dia ingin marah entah pada siapa.


"Lalu apa kau ingin kita adu tinju? adu panco? atau bergulat? aku tidak masalah, lagi pula aku memikirkan kau yang bisa saja tidak punya pilihan dan pasti berakhir di lantai jika adu fisik." Aiwan menambahkan. Mendengar itu, Gian mendengus kesal.


"Daripada itu, aku jauh lebih penasaran pada suaranya," Gian tersenyum licik, tatapannya mengarah pada Moana.


Aiwan mengembus malas, dia lelah. 24jam terakhir adalah waktu paling random yang pernah dia lalui. Sejak memata-matai para alien, menyerang markas mereka, mengunjungi makam Hamid, berperang dengan para robot, dan siangnya menghadapi bom-bom serangga. Semua terjadi kurang dari 24 jam yang membuatnya kehabisan tenaga. Dia sudah mengisi perutnya, dan ini saatnya membiarkan matanya rehat barang sejenak.


Melihat Moana tetap berdiri tegap di sisi jendela, dan Gian duduk di sofa; masih mencoba mengajak Moana berbicara. Aiwan memutuskan merebahkan diri di atas kasur lalu memejam.


"Kualitas tidurmu harus baik biar bisa menerima energi maksimal, aku juga ingin istirahat. Sayangnya si cantik itu harus berada di sini." Mata Aiwan kembali terbuka. Setelah beberapa jam berlalu akhirnya suara Keri bergema.


"Bay the way, aku sudah menyelesaikan tugas. Ternyata Ries benar seorang wanita, wajahnya ayu tenan euy!" Aiwan mengerutkan dahi mendengar dialeg akhir Keri. Pasti dia telah menonton sejumlah dokumenter lama. "Mengenai Roschiil, ada yang aneh dari penjagaan di istananya."


Aiwan kembali memejamkan mata dia ingin melihat video yang terekam oleh kamera Keri


"Hei, dadunya belum di kocok! Enak aja maen tidur duluan, aku juga capek pengen tidur nyaman." Gian menendang-nendang kaki Aiwan yang terjuntai di kasur.


Bersamaan dengan gedoran pintu dari luar yang terdengar tidak sabaran. Moana yang berdiri paling dekat pintu sampai terperanjat.


"Buka, cepetan kita harus pergi dari sini!" Suara Ries terdengar dari balik pintu diiringi gedorannya yang makin berisik.


Aiwan mendengar semuanya, dia bahkan tahu ketika Moana membuka pintu kamar dan Gian menarik tubuhnya. Mengguncangnya keras agar tersadar. Namun, matanya tidak bisa dibuka. Dia seperti raga yang ditinggalkan sang jiwa ketika Keri memutar video dan semua kesadaran serta tenaganya terasa tersedot ke dalam.


***


Dia tersenyum saat menyadari server quantum tunnelnya jauh lebih jadul lagi. "Ada apa?" tanyanya mendekati Ries.


"Kurang dari 53 menit, mereka akan tiba di sini." Wajah Ries tampak khawatir.


"Siapa?" Aera mengamati layar, tapi tidak mengerti beberapa titik merah yang tampak melewati garis biru.


"Mereka adalah pasukan Roschiil. Aku memeriksa rute yang ada dalam mobil mereka, dan dua diantaranya menunjukkan titik lokasi kamarku." Raut Ries tampak kesal. Dia berdiri lalu berjalan menuju lemari tempatnya menyimpan topeng. Dengan cepat mengatur model wajahnya dan mengenakannya sebelum akhirnya mengganti piyamanya dengan sebuah kaus dan jaket lebar.


Aera masih bingung menyaksikan tingkah Ries saat bunyi alarm kembali menyentak kesadarannya.


"Sialan! jika begini kita tidak akan sempat menyelamatkan diri." Ries hendak berlari keluar kamar. Namun, dia berbalik menatap Aera yang masih bingung dan terdiam dengan menggunakan celana panjang katun dan tenktop hitam yang tampak seksi.


"Nona, kita dalam kondisi darurat, segeralah ganti baju. Di sana ada beberapa baju pria dan wanita, kau bisa memilih sesukamu. Aku akan memanggil para pria, semoga mereka masih terjaga," tuturnya menyadarkan Aera.


Aera yang merasa sangat lelah setelah melewati drama sejak 24 jam terakhir tanpa memberinya waktu untuk tidur mengembuskan napas dengan rasa frustasi. Bayangan penggerebekan yang dilakukan oleh pasukan militer tiga Minggu yang lalu ketika berada di apartemennya kembali teringat.


Sebelah alisnya terangkat, Aera beranjak menuju lemari yang tadi Ries tunjukkan. Dia memilih sebuah baju kaos lengan panjang berwarna putih, celana cargo hijau army, tidak lupa jaket berwarna senada dan sebuah topi hitam. Dia menarik sebuah topi yang sama dan membawanya keluar kamar.


"Ada apa dengannya?" tanya Aera ketika melihat Aiwan yang diseret oleh Gian dan Moana.


"Entah, aku pikir dia hanya ingin tidur tapi ternyata dia tidak bisa dibangunkan. Tapi jangan khawatir, jantungnya masih berdetak. Kau tidak mendapatkan hidayah apapun dari si monyet?" Gian tampak kewalahan memapah Aiwan yang tidak sadar. Aera menggeleng.


Dia mulai khawatir.


"Karena tidak bisa berteleportasi, maka kita harus menggunakan rencana ke dua," tutur Ries menatap Moana. Mengerti tatapan Ries, Moana langsung berlari menuju lemari ujung dekat mesin cuci, membuka lacinya dan meraih sebuah kunci. Truk militer hasil jarahan setelah berhasil melenyapkan Charlie.


"Ries, buka topengmu dan berikan pada Gian, suruh dia menggunakan wajah adik Moana." Aera menghampiri dan memberi perintah. Ries yang tidak mengerti sejenak terdiam. "Tolong percaya padaku, dalam rentang waktu kurang dari setengah jam kita harus bisa mengelabui mereka. Tidak ada yang tahu wajah aslimu. Dengan tampil tanpa topeng akan membuat mereka bingung dan kita bisa pergi sedikit lebih jauh sebelum mereka menyadari semuanya."


Ries tersenyum dan mengangguk lalu segera melepaskan topengnya.


" Tapi kenapa aku harus memakai wajah adiknya?" Gian mengajukan protes setelah meletakkan tubuh Aiwan di atas sofa.


"Setelah kita berhasil menjauh kau bisa mengubah dengan wajah apapun, bahkan bisa melepasnya," jelas Aera ketus. Melihatnya Gian memilih diam dan langsung menyambut topeng yang diberikan oleh Ries.