Neitherland

Neitherland
47: Sebelum Purnama



Semakin mendekati barak Aiwan merasa energinya semakin melemah. Terlalu fokus pada paparan Aera dia lupa memastikan posisinya dan Keri yang masih cukup dalam jangkauan sinyalnya.


"Pesek, apa kau bisa memastikan posisimu dari ruang militer yang dimaksud masih cukup dekat?"


"Ya, tapi mungkin energi yang kau gunakan tidak akan bisa sekuat sebelumnya. Selain jaraknya yang nyaris diluar batas, pun karena tugasku sedikit lebih berat."


Aiwan memahami ucapan Keri. Usahanya memblokir semua sumber energi dan memanipulasi kekuatan elektromagnetik yang berada dalam kendali OSyN (Operating System Neitherland). Sebuah lembaga keamanan sistem informasi yang dibangun oleh Roschiil sejak tiga puluh tujuh tahun lalu.


Langkah sang Mutan terhenti ketika beberapa tembakan meluncur ke arahnya. Namun, dengan lihai medan elektromagnetik di sekitarnya menahan laju gerak puluhan amunisi. Hingga akhirnya melepaskan kembali dengan tenaga tiga kali lebih besar.


***


Sedangkan di bagian luar koloseum, Morat berjalan mengintai di balik pilar-pilar raksasa. Kurang dari lima puluh meter, sebuah pintu lain memasuki koloseum tampak dijaga tidak kurang dari sepuluh prajurit bersenjata lengkap. Morat tampak mengerutkan dahinya; berpikir. Cara tepat menyerang mereka ketika dia tidak memiliki senjata api.


Sejurus kemudian takdir seolah berpihak padanya. Seorang prajurit meninggalkan formasi--menuju WC. Tanpa membuang waktu, Morat menyerangnya dari belakang. Merapatkan tubuhnya ke dinding lalu memutar kepalanya. Melihat korbannya telah lenyap dengan cepat, Morat melucuti senjatanya.


Satu laras panjang di kalungkannya layaknya sebuah tas, dan dua buah pistol dengan daya ledak 900 Joule. Mourat tersenyum, rupanya pria ini adalah pimpinan tim. Dengan cepat dia kembali mendekat. Lalu membidik ke tiga titik yang dia yakini bisa menjangkau semua prajurit yang berjaga di pintu pertama dari delapan pintu masuk koloseum.


Duaarrr!


Duuuaaar!


Duaarrr!


Saat itu pula ledakan yang berakhir dengan kobaran api menjilat dinding dingin koloseum yang juga menghanguskan semua tubuh ke dua belas prajurit. Tatapan Morat tetap datar. Dengan segera dia berlalu menuju pintu masuk koloseum selanjutnya.


***


Sedangkan di bagian lain dari istana, Gian di tempatkan di ruang kendali.


"Kenapa hanya aku yang harus bersembunyi, apa bagi kalian aku hanya seorang pecundang?" lirihnya menahan kesal.


"Lalu kau ingin membunuh orang yang sejatinya hanya menjalankan tugasnya? atau kau ingin mati lebih dulu sebelum ibumu ditumbalkan?" sarkas Keri yang mampu membuat Gian berdecak lalu mengepalkan tangan.


"Tapi jika kau memaksa, aku punya tugas untukmu."


Gian bergeming dari raut kesalnya.


"Kau bisa memilih mem-back up Morat atau Aera. Mungkin saja mereka butuh bantuan karena telah lelah."


Gian menyeringai, dia langsung setuju dan memilih.


***


Nyaris dua puluh menit berlalu, Aera kini berdiri kaku menghadap dinding dingin istana Roschiil. Di belakang kepalanya ujung senapan masih setia mencumbu rambutnya, yang sudah empat hari tidak keramas. Aera melepas senjatanya. Bunyi dentingan karena benturan senapan dan lantai terdengar layaknya musik pengiring film horor yang membuat bulu kuduk seketika meremang.


"Diamlah! Jika bergerak sedikit saja, kepalamu akan meledak!" Suara itu kembali menghardik, ketika Aera hendak memutar tubuhnya; melihat wajah prajurit yang telah menangkapnya. Dalam hati dia mengumpat Keri yang seharusnya memberi tahu kedatangan orang itu.


"Angkat ke dua tanganmu lalu jalan!"


Aera merasa ujung senapan itu mendorongnya seperti hewan ternak yang digiring ke dalam kurungan. Dengan mendengus kesal dia melangkahkan kakinya.


"Belok kanan!"


Aera kembali mengikuti instruksi itu, tetapi seketika bunyi ledakan pistol terdengar. Prajurit yang menodongkannya senjata terlonjak kaget, hingga ujung senapan yang mengarah pada Aera terangkat ke atas. Tidak menyia-nyiakan kesempatan Aera berputar, dan menyerang sang prajurit yang was-was menatap ke arah belakang--arah tembakan berasal.


Buukkk!


Sambil memegang senapan yang tadi ditodongkan ke kepalanya Aera memutar tubuhnya agar menempeli sang Prajurit, membanting tubuh raksasa itu lalu menunci geraknya sebelum menembaknya dengan senjatanya sendiri. Namun, semua itu hanyalah angan yang berakhir dengan tembakan.


Ketika sang prajurit yang merasa geram karena telah diserang dari belakang, bahkan tembakan itu mengenai topinya yang kini terlepas. Sesaat setelah Aera menggenggam senjata Laras panjangnya dan berusaha mendekatinya. Spontan dia menarik pistol dan menarik pelatuknya.


Tubuh Aera membentur tubuh kekarnya. Sejurus kemudian lengannya yang kokoh layaknya baja merengkuh leher Aera; mengurangi masuknya pasokan oksigen. Dengan sedikit sesak dan tetap mencoba tenang, Aera merasakan sesuatu yang hangat mengalir dari pinggangnya. Setelah memegang perutnya yang terasa sakit Aera melihat darah segar di telapak tangannya.


Bukan begini seharusnya! sesalnya dalam hati mengingat rencananya yang dia pikir akan berjalan lancar seperti sebelumnya. Aera lupa memperhitungkan refleks sang Prajurit yang tentu akan lebih cepat karena masih dalam keadaan waspada, dan posturnya yang jauh lebih besar dibandingkan prajurit sebelumnya. Jangankan membantingnya menarik senjata dari genggamannya saja tadi dia tidak bisa.


Di saat pelukan di lehernya terasa semakin kuat, dan darahnya semakin terkuras, pandangan Aera kini samakin buram. Kepalanya mulai berat. Heh, inikah akhir hidupku? Ternyata keinginannya untuk mati setelah berkunjung ke beberapa galaksi; berjemur di dataran Mars; dan manikmati semangkuk oden ditemani latkes dengan saos mayonaise di Neptunus; sebelum akhirnya memastikan Cosmos Redshift mempunyai planet dengan kehidupan yang jauh lebih baik dapat terealisasikan. Namun, kini semua itu hanyalah angan yang akan segera menguap bersama ribuan debu kosmik, membentuk keseimbangan alam semesta.


Dooorrr!


Dan sebuah tembakan mengakhiri segalanya.