
Musik Jazz terdengar memekik saling sahut dengan jeritan para pemuja yang berbaris dalam gelap; mereka bernyanyi dan bercumbu berjemaah.
Sejak gambar pada layar menunjukkan gugurnya para gladiator, semua benda yang memancarkan sinar termasuk layar hologram di nonaktifkan. Satu-satunya penerang dalam kuil yang luas dan pengap itu hanyalah lilin yang mengelilingi tubuh tumbal, serta cahaya dari purnama yang nyaris sempurna.
Para ketua Loji ke sembilan naik, tatapan buasnya tertuju pada sembilan wanita yang terikat di kursi mengelilingi altar. Darah ratu dan perawan adalah puncak ritual setan. Roschiil sebagai pemimpin tertinggi sekaligus imam penyembah setan mengelilingi altar. Mulutnya melafalkan mantra dari kitab yang telah lahir sejak abad ke 13 silam; Codex Gigas.
Kemilau dari permukaan gladius yang disiram cahaya purnama, menyambar pandangan Morat dan Aiwan. Dalam gelap mereka memicing. Bulu roma mereka seketika meremang dengan perasaan aneh. Atmosfer yang mengelilingi kuil terasa menyeramkan di saat yang sama menjijikkan.
"In nomine Dei nostri Satanas Lucifer Excelsa! ...," pekik Roschiil memulai ritualnya. Hujatan pada Tuhan dan keagungan pada lucifer serupa mukadimah dalam memulai puncak purnama.
Suara ******* dan erangan dari para pengikut yang berbaris di belakang terdengar seperti musik pengiring. Mereka bercumbu berjemaah sebagai pelengkap ritual. Gila! Morat mulai muak ketika para ketua Loji mulai mencumbu para perawan yang juga ikut ditumbalkan; salah satunya adalah Cyma. Sahabat Aera, juga gadis yang berpikir dia adalah kakaknya. Wanita yang dia sayangi setelah Aera. Sialnya ke dua wanita itu kini menjadi korban kegilaan Roschiil---orang yang selama ini dia hormati.
"Lekh la azazel!" pekiknya sembari mengayunkan gladius yang dia rebut dari penjaga pintu. Serangannya membabi buta menerobos barisan menuju lingkar terdepan---menyelamatkan Cyma.
Jubah yang menutupi tubuh gadis itu kini terkoyak dan menyingkap kulitnya yang putih. Di belakang sana, puluhan anggota sekte satanic bertumbangan. Menambah volume darah yang menggenang di lantai kuil. Erangan kesakitan mereka serupa erangan ******* lainnya. Baik Roschiil atau para ketua Loji; ke sembilan orang lainnya, mungkin tidak mengira sebagian besar pengikutnya telah bertumbangan menjemput maut---lewat gladius anak buahnya sendiri.
Setiap detik berlalu, bertambah dua hingga tiga orang yang menjadi kurban kemarahan Morat. Ada yang perutnya sobek hingga dada, beberapa usus dan hatinya terburai ke lantai. Sebagian besar di tusuk dari belakang tembus ke depan bahkan sampai merobek perut pasangan s*xnya yang berada di bawah.
Sedang di sudut kuil, Aiwan masih terfokus pada energinya yang seketika menghilang. Bahkan perisainya yang terang seolah lenyap di telan purnama. Ada energi mistis yang menahan semua cahaya selain sembilan lilin yang mengelilingi kurban. Semua keanehan itu berjalan di luar logika.
Aiwan menutup matanya. Mencoba fokus dan mengalahkan energi negatif yang seketika menekannya. Dia tahu benar, sebelum perang dunia ke tiga meletus, ada banyak agama yang percaya pada Tuhan semesta alam. Namun, semua agama itu lenyap bersama kitab-kitabnya seiring bangkitnya Neitherland dengan peradaban terbaik sepanjang sejarah anak cucu nabi Adam.
Aku yakin Tuhan adalah mutlak. Tidak ada makhluk yang setara dengan-Nya bahkan para iblis beserta rajanya sekalipun tidak kuasa menolak perintah-Nya. Maka dengan kekuasaan-Mu kumohon beri aku kekuatan mengalahkan para pendusta.
Dengan cara ajaib Aiwan merasa lebih berenergi. Tepat ketika purnama sempurna; Roschiil mengangkat gladius dan menancapkannya di jantung sang Ratu.
Jerit sakit sang ratu di ikuti tarian pedang para ketua Loji yang juga berniat menyayat tubuh para perawan, sebelum akhirnya mereka nikmati sebagai perwakilan Lucifer sialan. Perisai cahaya Aiwan kembali berkibar.
Dengan nama Tuhan! Aiwan mengarahkan tembakan lasernya ke arah Roschiil yang tampak ingin menarik pedang; membelah tubuh sang Ratu.
Slaaashh! Tangan Roschiil terlepas dan tubuhnya terhempas dari altar membentur dinding berukir sosok Baphomet terkutuk. Sebuah perisai tak kasat mata mungkin pula sihir Lucifer melindungi tubuhnya. Aiwan berpindah dalam sekejap. Membelah tubuh para ketua Loji yang masih dalam ilusi ritual; tidak menyadari mereka tengah diserang.
Setelah tidak satupun ketua Loji yang tersisa, sihir gila itu seolah musnah. Mantra yang membuat mereka tidak lebih dari binatang buas menguap di lahap purnama. Kini, para pemuja setan itu histeris melihat sebagian besar temannya bertumbangan dengan kondisi memilukan. Beberapa masih hidup dan kini mengeluarkan suara tidak kalah horor karena sebagian urat lehernya telah terpotong. Di detik berikutnya suara horor yang terdengar mengorok itu pun lenyap berganti dengan teriakan histeris ketika semua lampu kembali menyala.
Morat sibuk membebaskan Cyma yang kini nyaris polos dengan beberapa luka sayatan. Gadis itu meringkuk menutupi dadanya sambil menangis menahan sakit. Sedangkan Aiwan kini berada di depan Roschiil. Pria itu telah berdiri tanpa luka sedikit pun.
"Heh, Kau akan mengganti semua kekacauan ini dengan hidupmu." ucapnya sebelum menghilang. Aiwan terkesiap, menghilangnya Roschiil di luar dugaannya. Dia telah siap menerkamnya dan ingin melenyapkan eksistensi pria tua itu, yang menurutnya lebih banyak mendatangkan mudarat ketimbang manfaat. Sesaat Aiwan tampak linglung; berpikir mencari ke mana.
"Yang Mulia!" teriakan Morat menyadarkan sang Mutan.