
"Kenapa kau berusaha sekuat ini padahal sejak dulu dia membencimu," pertanyaan Tuan Piller seketika menyelinap di antara dengungan telinga dan rasa panas yang masih menggelayut di pipi Aera.
Matanya terpejam, ketika sebuah spray membasahi wajahnya. Rasa panas yang tadi men.c.u.m.b.u.nya hilang berganti dingin. Iblis itu benar seorang psikopat. Setelah melukai anaknya dengan sengaja, lantas mengobatinya seolah dia sangat menyesal.
"Yang perlu kau lakukan hanyalah mengajari keponakanmu mantra kuno dan menyerahkan milikmu padaku."
Aera mengalihkan fokusnya pada ucapan Roschiil. Tadi dia bilang keponakan, dia sangat yakin jika berhubung dengan mantra kuno tentu saja maksud sang Lucifer, adalah dirinya. Tetapi Tuan Piller adalah pamannya? apakah itu berarti mereka bersaudara?
kandung?
bagaimana mungkin?
Aera yakin benar Roschiil berkebangsaan Pamanson, jauh sebelum perang dunia ke tiga mengubah dunia. Dan saat itu Tuan Piller bahkan sebagai Shadow Ekonomi negeri cinta, negara maju lainnya dengan sebuah menara indah bersanding sungai memukai sebagai landmark. Namun, jika benar mereka bersaudara mungkinkah tuan Piller pun berasal dari zaman yang jauh dari informasi pada big data. Persis seperti Roschiil.
"Heh, kemudian kau akan melenyapkannya sebagaimana kau membunuh Henutsa?" cibir Piller.
Henutsa ... bukan Henutsen? mungkinkah karena perbedaan dialek? Aera mendengus. Dia benci ketidaktahuan, karena rasa penasaran selalu berhasil menyiksanya hingga ke titik di mana mati rasanya lebih baik. Kenangan ibunya setelah berpindah dimensi belum sempat dia saksikan ketika prajurit hitam menariknya dengan kasar, dan menghempaskannya di lantai kotor.
"Bagaimana kau sangat yakin, kematian bisa menghapus rasa bencinya dan mulai mencintaimu?" provokasi Piller masih berlanjut.
"Lalu bagaimana jika dia benar kembali tapi yang terjadi justru sebaliknya, tidak ada yang berbeda seperti sebelumnya. Apa kau akan membunuhnya untuk kesekian kalinya? dan berapa kali kau harus membunuhnya?"
Wajah Aera semakin aneh, hal itu menular pada Roschiil. Kepalanya ditekuk seolah ingin menyembunyikan kekelaman pada matanya. Hal yang semakin jelas bagi Aera adalah, iblis itulah yang membunuh ibunya.
"Mengapa kau tidak pernah sadar, sesuatu yang kau sebut cinta hanyalah obsesi semata."
"Diamlah!" bentak Roschiil. Pupilnya bergetar menahan geram.
"Bagaimana mungkin aku diam, ketika darah daging dari istriku harus kembali menjadi korban dari kebiadabanmu!" suara Piller semakin menanjak. Rumor yang mengatakan dia bukanlah orang yang tunduk di bawah kuasa Roschiil ternyata benar.
Gema tawa sang Lucifer memenuhi ruangan. "Lalu kau bisa apa? The Art milikmu tidak bisa mengacaukan pikiranku." Roschiil mengejek. Kini Aera tahu hanya ada satu the Art di tangan Roschiil. Dia yakin berwarna merah. The Art Hitam yang berfungsi mengontrol pikiran di tangan Piller.
Fakta itu cukup menakjubkan bagi Aera. Pusaka milik para Imon sejak ratusan juta tahun yang lalu meraka bagi seolah permainan biasa. Akhirnya dia pun tahu alasan mengapa mereka harus selalu solid. Namun, Aera ingin memastikan satu hal.
Istri ...
Tadi Piller, jelas mengucapkan kata itu ... siapa?
"Dan satu lagi, jika kau masih menganggap dirimu sebagai suaminya ... perlu aku ingatkan tentang perselingkuhanmu. Setelah semua kebusukanmu terbongkar bukankah kalian resmi berpisah? dan siapa yang menyelamatkannya dari lubang kekecewaan yang amat dalam jika bukan aku?"
Drama apa ini?
"Kau yang membuat semuanya jadi berantakan!" Piller kehilangan ketenangan. Ada sesal, marah dan benci yang menghiasi wajahnya. Ajaibnya semua emosi itu lantas berpindah ke Gian, Leony dan para prajurit hitam yang sejak tadi berdiri mematung. Salah satu di antara mereka bahkan telah menyerang Roschiil.
Roschiil meringis ketika lengannya dicium timah panas. Namun, sebelum sang prajurit kembali menarik pelatuk, Roschiil menghilang, sesaat kemudian muncul di hadapan sang prajurit. Senjata yang tadi berada dalam genggamannya berbelok arah menodong pemiliknya. Detik berikutnya bunyi ledakan menjatuhkan sang prajurit dengan aliran darah yang amisnya menyeruak ke seluruh ruangan.
Luar biasa, maka wajar jika mereka berdua akhirnya memenangi setiap perang dunia yang ada. Satunya mampu mengendalikan pikiran lawan sedang satunya bisa mengendalikan segala benda. Mereka akan menjadi partner terkuat jika bersama.
Aera menatap Piller datar. Pria paruh baya itu tampak kesulitan menghentikan pikirannya sendiri. Lantas Roschiil muncul di belakangnya, dia kembali tertidur.
"Menyedihkan!"
"Tolong, hentikan sampai di sini," pinta Tuan Piller. Kepalanya masih merunduk, menyembunyikan matanya yang bersedih. Rupanya dia tidak tertidur pun pingsan. Namun suaranya lirih seolah kehilangan tenaga.
"Bukankah kau yang takut menghadapi kenyataan, ketika dia terbangun dan dia hanya melihatku karena mengingat mengkhianatanmu?"
Aera mengerutkan keningnya. Sebelumnya dia cukup putus asa pengetahui fakta, dia dan ibunya jatuh cinta pada pria yang sama. Ketika Khufu di sini dia memang dalam tubuh Epraim, tetapi perbedaan di antara mereka hanya terletak pada warna kulit dan mata. Selebihnya mereka seperti saudara kembar.
Jauh lebih penting adalah fakta, siapapun nama dan tubuhnya dia tetap saja Khufu. Aera mencintainya sebagai Epraim tunangannya. Dan Swaillyn mencintainya sebagai suaminya. Fakta anomali yang membuatnya sedikit bergidik geli, atau ngeri?
Sekarang, ada fakta yang jauh lebih drama lagi di banding cinta segi tiga dua dunia mereka. Ibunya yang sepertinya menjalin pernikahan dengan Piller, tetapi dicintai oleh iparnya Roschiil. Adakah kisah gila yang lebih gila dari semua ini? Aera menggeleng kepalanya seolah ingin melempar semua pikiran buruk yang ada.
Apa-apaan ini ...
"Kalian ...," suara Aera tercekat. Dia ingin segera mengakhiri rasa penasaran yang kian mencekiknya. "Jika kau adalah suami ibuku, lalu mengapa aku bisa menjadi anaknya?" sorotnya menunjuk Roschiil, yang justru tertawa sarkas.
"Sebenarnya apa yang ingin kau tanyakan?" Roschiil mencibir. Dia tahu benar Aera tidak sedang bertanya soal proses kelahirannya yang bahkan tidak butuh status 'suami'. Pun dengan kisah asmara mereka yang jauh lebih dramatis di banding Romeo dan Juliet. Jelas dia ingin memastikan sesuatu sayangnya Roschiil tidak bisa mengatakannya.
"Alasanmu yang sesungguhnya, mengapa harus ibuku?"
Seperti kata Piller. Aera pun tahu alasan cinta yang Roschiil utarakan terdengar tidak masuk akal. Persis seperti lelucon yang mengatakan drakula dan manusia srigala memiliki dimensi terdekat dengan manusia ketimbang makhluk immortal lainnya. Fakta cinta bagi Roschiil sama dengan mustahil. Jadi mungkinkah itu karena benci? tetapi Neitherland tidak akan pernah ada jika hanya karena benci bukan?
"Karena cinta," jawabnya kemudian. Alasan sama dengan sebelumnya. Sayangnya alasan itu pula yang membuat Aera bentanya karena dia tahu ada hal yang lebih tepat selain cinta.
"Omong kosong!" suara Piller kembali bergaung. Kepalanya terangkat. "Jika benar cinta. Maka lepaskan dia!" kali ini suaranya terdengar memelas.
Dia benar mencintai wanita itu.
Penilaian yang bisa Aera berikan pada Piller.